(tanpa judul)

Ruangan ukuran kira-kira 2,5 x 3 meter itu terasa sesak dengan 3 orang yang bertugas ditambah seorang koass ilmu kesehatan masyarakat. Ruangan itu berfungsi sebagai apotek puskesmas. Ada 1 meja yang dibuka dari sebuah rak almari obat. Ini adalah satu-satunya rak yang terbuat dari kayu dan menjadi center karena letaknya di tengah ruangan memanjang ini. Ada jajaran rak lain yang berderet di dinding sepihak. Rapi dengan nama-nama obatnya di toples-toples penyimpan. Di atas rak kayu itu bertengger sebuah kipas angin yang sepertinya sudah lelah berputar menerpakan angin ke penduduk ruangan yang selalu mengeluh kepanasan dan seringkali dimatikan karena akan mengacaukan susunan kertas pembungkus puyer. Sungguh dilema. Di pojok dekat jendela tralis sebuah komputer dengan rangkaian monitor cembung dan CPU yang kutaksir masih prosesor rendah itu difungsikan tidak lebih sebagai sarana main game. Entah apa namanya di hampir setiap ruang memiliki game ini. Bahkan tiap penghuni ruang, terutama yang jarang bekerja macam laboratorium sudah fasih memainkan hingga tamat.

Di ruang itu ada seorang asisten apoteker yang sepantaran aku. Hal ini kuketahui justru setelah aku keluar dari puskesmas. Pertama kali melihatnya aku bergeming. Ingin lari setelah menatap lama dan melihat sikapnya. Tapi bukankah aku harus menghadapi?
“maaf mbak, ini resepnya puyer, gimana cara mbuatnya ya?” tanyaku polos yang memang tidak tahu menahu dengan puyer
dengan sigap dia ambil kertas resep yang kebetulan dibuat rekanku di Balai Pengobatan Umum. Dengan senyum sinis dia berkata,
“kok pada ngawur ya buat resepnya, mbokya minta diajari seniormu itu,”
yang ia maksud senior adalah dokter yang bertugas disana dan kebetulan satu almamater denganku. Beberapa detik kemudian ia memperbaiki hitungan yang salah. Kelebihan dosis lah kurang lah bahkan salah tulis obat. Beginilah nasib koass.

Aku menatapnya lama. Kuperhatikan dengan seksama cara dia bicara dan kesinisan yang ditampakkan. Kenapa dengannya? Dia sungguh berbeda dengan yang lain, penolakan tanpa alasan jelas lebih karena ia tidak menyukai kekurangannya. Aku tertarik dengannya. Aku merasa melihat diriku dahulu.

Memang hanya beberapa kali aku berjaga di apotek dan bertemu dengannya selama 3 minggu bertugas di puskesmas itu. Setiap kali bersamanya di tak henti berceloteh, bercerita pada rekan seruangannya. Ruangan ini penuh gosip. Aku hanya bisa tersenyum memperhatikan. Tidak jelas.

Waah, menemukan profilnya di situs jejaring sosial, facebook. Ragu-ragu aku mencoba mengomentari statusnya atau mengirim wall sekedar menyapa. Dari info yang tertulis kuketahui bahwa mbak satu ini memiliki tanggal lahir hampir sama denganku. Ya, aku baru tahu bahwa kami sepantaran bahkan lebih tua aku empat hari. Surprise. Kuajukan statement ini padanya. Komentar awalnya pun tidak begitu simpatik. Tapi hatiku berkata dia adalah sahabat yang baik. Lebih surprise lagi rumah tempat tinggal kami tidak begitu jauh. Tetangga desa. Ini salah satu bukti bahwa dunia itu sempit.

Waktu berselang. Entah bagaimana ceritanya kami bisa merencanakan main bareng. Berdua. Perjalanan pertama kami ke candi ratu Boko. Inginnya melihat sunrise dari sana, tapi karena telat berangkat jadi hanya bisa menikmati dari jalan. Subhanallah indahnya ketika melihat matahari menyembul dengan sinar emasnya dari balik bukit di ufuk timur. Kebetulan aku berada di boncengan dia. Selalu begitu nantinya. Ya, lagipula aku tidak begitu mahir mengendarai motor. Dari dulu aku lebih sering jadi angka ikut kalau bepergian. Jarang bawa kendaraan sendiri. Sepanjang perjalanan dia lebih banyak cerita. Cerita yang berkisar pada dua hal. Puskesmas beserta derivatnya disana, terutama seniorku yang santer digosipkan dengannya, dan kuliahnya di farmasi. Aku mendengarkan dengan sesekali tersenyum dan tertawa. Wah, memang jago sekali cerita secara lisan. Aku kesulitan merangkai kata secara lisan seperti dirinya. Lebih suka menjadi pendengar dan memberi pendapat. Namun jika dalam hal tulis menulis seperti ini mungkin aku lebih menguasai keadaan. Ya, mungkin.

Sebelum naik ke candi yang pagi itu masih sepi kami menikmati pemandangan dari semacam anjungan yang sengaja dibuat untuk melihat keindahan alam. Dari tempat itu kami bisa melihat Prambanan dari jauh, menyemutnya gedung-gedung pertokoan Jogjakarta dan bangunan lain di wilayah selatan. Jauh di balik rimbunan pohon di bukit ini. Tidak lama kami di sana pun di kompleks candi karena ada remaja tanggung yang membawa sebotol Vodka. Ah, kami takut kalau dia mabuk dan mengamuk. Kompleks percandian masih sepi jadi sebaiknya pergi. Kami pun segera turun untuk makan pagi mencari warung buka di sepanjang jalan pulang. Akupun harus segera kembali ke Magelang. Saat itu aku sedang bertugas di RSJ Magelang.

Perjalanan kami selanjutnya sudah di bulan puasa. Buka puasa bersama dua kali dan taraweh di masjid kampus serta syuhada. Indah. Malam itu indah. Semoga malaikat mengiringi kami untuk beribadah dan mencari ilmuMu. Amiin ya Rabb…
Meski hujan deras mengguyur kami berdua tetap bersemangat menunaikan taraweh di masjid syuhada. Alhamdulillah sudah sampai tempat saat hujan tiba-tiba seperti dituangkan dari langit. Mendung gelap yang sedari tadi menaungi ternyata tumpah ruah seketika menuangkan curah hujan yang cukup tinggi. Berbasah-basah mengambil air wudhu dan masuk ke ruang sholat.

“aku iri padamu,” sebuah statement yang membuatku sontak terkaget-kaget tak percaya. Bengong.
“aku iri pada orang yang bisa membuatku tremotivasi,” aku tersenyum
“kebetulan semuanya, yang membuatku iri, adalah dokter,” lanjutnya,
“aku iri karena tidak bisa seperti itu…,” ini membuatku sedikit ingin membelalakkan mata tanda tak suka.
“semoga kamu terus bisa memberi manfaat untuk orang-orang sekitarmu…” aku hanya bisa mengamini.
Jika iri yang dimaksud bisa membuatmu termotivasi, aku setuju dan aku memang selalu berharap hidupku bermanfaat. Tapi jika iri yang dimaksud cenderung ke penyakit hati maka kumohon untuk menghapus kata itu. Bagiku tiap orang punya kekurangan dan kelebihan. Sudah selayaknya kelebihan kita kedepankan dan kurangi kelemahan yang bisa menjatuhkan. Memiliki tokoh idola yang bisa menginspirasi sangat baik untuk memperbaiki kualitas hidup, begitupun sebaliknya.

Di mataku, kamu menarik, entah dengan cara apa. Chemistry, mungkin. Kamu bisa menaklukkan “dunia” ini, kamu harus bisa, dan aku yakin kamu bisa. Dengan caramu sendiri. Semoga persahabatan kita diridhoi Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: