Pantang Berdiam

Cendhika. Iseng kuketik nama itu di search engine yang terpampang di layar laptopku. Maka keluarlah berbagai link yang menghubungkan dengan kata kunci yang kuketik, mulai dari website pribadi, twitter, facebook, youtube, behance.net, blogspot, fotolia, instagram, iPhonegram, foursquare, flickr, 500px, dan masih banyak lagi. Aku tersenyum. Rasanya dalam tiap sosial media atau media publikasi lain namanya selalu ada. Eksis adalah satu kata yang mewakili keberadaan Cendhika.

Ia seorang fotografer, desainer web, desainer kaos, juga penulis. Intinya, Ia seorang enterpreneur. Karena bagiku Ia memiliki 4 kategori unsur sesuai paparan Peggy dan Charles bahwa seorang enterpreneur haruslah memiliki kemampuan, keberanian, keteguhan hati, dan kreativitas.

Dalam mengembangkan usaha fotografi, Ia mampu belajar menggunakan kamera DSLR (Digital Single Lense Reflect) milik paman yang saat itu baru mampu membeli namun belum bisa memakai. Ia berani memampang iklan di media seolah-olah Ia adalah fotografer handal dan teguh hati menjalankan usaha fotografi rintisannya itu hingga memiliki nama Overloop yang cukup dikenal di Yogyakarta dan sekitarnya. Akhirnya, Ia bisa membeli 2 kamera DSLR kepunyaan sendiri. Keseluruhan usahanya di bidang fotografi adalah kreativitas yang luar biasa menurutku karena Ia tidak memiliki dasar ilmu di bidang itu. Masih berhubungan dengan dunia fotografi, Ia mencoba mendesain kaos berbau fotografi bernama Tee Shot kemudian menyerahkan urusan sablon dan pemasaran pada temannya yang pandai dalam pemasaran. Dalam hal ini Ia mampu menciptakan peluang usaha untuk temannya.

Status desainer web atau istilah kerennya web designer juga tidak instan Ia dapatkan. Proses hunting lomba dan proyek melalui internet rajin Ia lakukan. Dari proyek gratisan hingga ratusan bahkan ribuan dollar. Ya, kreativitas dan keteguhannya dalam bidang ini membuahkan hasil yang membanggakan. Ia mendapatkan pekerjaan tetap sebagai desainer web sebuah perusahaan di Amerika. Sudah dapat dibayangkan berapa Dollar yang Ia kantongi per minggunya. Belum lagi proyek freelance yang masih kerap Ia lakukan bila pekerjaan utama sudah Ia selesaikan.

Sebagai penulis, Ia adalah penulis amatir. Tulisannya di blog pribadi berisi paparan kegiatan fotografi mulai dari teknik membidik hingga proses suntingnya dan deretan perjalanan hunting serta perlombaan yang pernah Ia lakoni. Selain itu, blog dengan ribuan pengunjung itu juga kerap Ia isi dengan tulisan ceramah agama yang Ia hadiri. Ternyata Cendhika juga religius.

Melihat kemahirannya dalam berbagai bidang rasanya ingin aku menelusuri kembali masa lalu dan masa kecilnya. Adakah hubungan antara kesuksesannya sekarang dengan tingkah polah masa kecilnya?

***

Cendhika lahir 26 tahun yang lalu, lewat 1 bulan dari perkiraan. Kiranya kuasa Allah menepatkannya pada hari pendidikan nasional dan tetap dalam kondisi sehat wal afiat. Ia terlahir dari pasangan suami istri yang keduanya guru. Wajar bila namanya bernafaskan pendidikan. Ya, Cendhika yang berarti pintar. Aku yakin orangtuanya sama sekali tidak menyangka anak ini akan menjadi pengusaha, bukan guru atau akademisi seperti mereka.

 

Mengalah untuk Kakak

Langkah kakinya yang masih ragu memaksa setiap orang mengawasinya. Dengan khas anak baru belajar berjalan yang antusias dan senyum menghias wajahnya, Ia mendorong kursi ke segala arah semampunya. Si kakak yang usil pun dengan gemas ikut mendorong kursi itu hingga si adik terpental dan membentur pintu. Sontak tangis memecah keheningan rumah besar yang hanya dihuni 2 orang wanita dewasa, 1 orang gadis cilik dan 1 orang bayi lelaki itu. Anehnya yang menangis adalah si kakak yang merasa bersalah. Si adik hanya mengelus-elus dahinya yang benjol sembari meringis dan terus mendorong kursi. Langkahnya justru terhenti karena tangis si kakak dan Ia pun ikut menangis. Kedua wanita dewasa yang terdiri dari ibu kedua anak dan seorang pembantu tergopoh menenangkan keduanya. Tak berapa lama si adik diam dan justru mencium si kakak. Lucu dan menggemaskan. Mereka berdua pun bermain bersama kembali. Si adik mengalah untuk tidak menangis.

***

Ibu dan kedua kakak beradik Cendhika tinggal di rumah hanya ditemani seorang pembantu sementara Bapak bekerja jauh di luar kota. Dulu, seorang guru baru harus bersedia ditempatkan dimanapun. Itulah sebabnya keluarga kecil ini harus rela terpisah hingga beberapa tahun.

Tempat tidur di rumah itu tidak cukup besar untuk ibu dan 2 orang anak balita aktif. Si kakak yang manja tidak mau berpisah dari pelukan ibunya. Tanpa ingin membuat pertengkaran, si ibu bermaksud tidur di tengah dan berlaku adil bagi kedua anaknya. Namun si kakak ngambek karena merasa diduakan. Tak diduga dengan polosnya si adik berkata, “Aku tidur di kaki saja, ya…”, yang maksudnya adalah tidur melintang tegak lurus dengan kaki ibu dan kakak. Tangis haru sang ibu membuncah dan segera memeluk kedua buah hatinya. Dan begitulah adanya, si adik mengalah kembali untuk si kakak.

***

Lazimnya, seorang Ibu membeli baju baru untuk buah hatinya. Satu, dua, tiga, dan seterusnya tergantung jumlah anak. Namun ada pula masanya ibu hanya teringat pada anak pertama dan berpikir baju si kakak ada yang masih bagus dan bisa dikenakan si adik. Praktis dan hemat. Itu sering terjadi pada kakak beradik Cendhika. Ibu pulang dari belanja dan memberikan baju baru untuk kakak yang bersorak gembira. Si adik pun berucap polos, “Nanti adik pakai baju kakak yang sudah kekecilan ya, Bu.” Tanpa ba bi bu sang ibu memeluk dan mencium si adik seraya minta maaf. Tanggapan adik justru di luar dugaan, “Adik mau kok pakai baju bekas kakak. Bagus”, seraya tersenyum.

***

Adik mengalah sampai sudah dewasa. Bahkan untuk tempat kuliah Ia rela dekat dengan si kakak yang sedang sakit dan setia mengantar-jemput berobat padahal jarak tempat kuliahnya, rumah singgah, dan tempat kuliah si kakak sama sekali tidak bisa dibilang dekat. Butuh waktu 2 jam untuknya tiap pagi dan sore hari menjalani aktivitas itu. Tapi Ia tidak pernah mengeluh. Sama sekali tidak. Ia pun dengan sukarela melakukan itu semua. Prinsipnya Ia mengalah bukan untuk berkorban tapi untuk berani menjadi pemenang atas egonya sendiri. Hal ini sangat dibutuhkan oleh enterpreneur.

Enaknya ngapain gini ini?

Liburan telah tiba, Cendhika kecil bukannya senang, namun malah susah. Anak ini bukannya tidak bisa diam. Ia hanya tidak bisa tidak melakukan apa-apa. Setiap kehabisan ide apa yang harus Ia lakukan maka Ia akan bertanya dengan menggemaskan sembari melipat tangannya dan menghempaskan diri di kursi, “Enaknya ngapain gini ini?” Kalimat ini menjadi “trade mark” untuknya hingga saat ini dengan pengubahan kosa kata karena perbendaharaan kata yang bertambah.

Setiap pertanyaan itu terlontar dari mulut mungilnya, sang Ibu terpaksa memutar otak untuk memberinya kesibukan. Saat Ia berusia 2-3 tahun maka kesibukan yang Ibu beri mulai dari kegiatan memukul kaleng bekas, menyusun balok, bermain peran, naik mobil-mobilan, dan membelikan mobil plastik kecil beraneka ragam yang bisa berjalan. Karena kecil mobil-mobil itu diberi nama “si unthul”. Ibu juga seringkali mengajak Cendhika ke toko buku untuk membeli buku-buku cerita bergambar untuk Ia pilih dan Ibu bacakan ceritanya. Itu semua dilakukan bila Ia bosan bermain dengan si kakak atau bila si kakak tidak mau mengajak adiknya bermain.

Bukan Cendhika bila Ia tidak cepat bosan. Dalam sekejap Ia bosan bermain yang monoton. Akhirnya, saat berusia 3-5 tahun ibu memiliki ide untuk memberinya alat menggambar. Dengan crayon atau pensil warna dan media kertas Ia betah sekali duduk diam. Dari situ, terlihat bahwa Ia mampu bahkan pandai menggambar. Seiring berjalannya usia Ia pun bereksplorasi dalam penggunaan alat gambar. Dari pensil warna, crayon, spidol, cat air, cat minyak, cat dinding, pylok pernah Ia coba. Dari menggambar di dinding kamar, kertas, kaos, kaca sampai dengan tembok fasilitas umum Ia gunakan untuk menggambar grafiti atau mural.

Ketika Ia bosan mencorat-coret, Ia kembali bertanya gemas pada ibu, dan ibu pun selalu memberi solusi kreatif. Salah satunya adalah merekam suara dalam kaset. Jaman itu belum ada Hand Phone atau alat MP3 canggih untuk merekam. Dengan tape recorder dan kaset pita kakak beradik Cendhika beraksi. Mereka merekam cerita-cerita imajinatif yang lucu dan tentunya konyol. Masih teringat cerita lucu yang Cendhika pernah rekam di kaset. Sebuah cerita imajinatifnya tentang dinosaurus dan tentunya dengan gaya “pelo”-nya,

“Pada suatu hali ada dinosaulus blontosaulus dan tilanosaulus. Mereka belpelang…” tanpa mengalihkan mikrofon Ia bertanya pada bapak, “Tilanosaulus sama blontosaulus menangan mana?”

“Tyranosaurus, dek…” jawab Bapak.

“Ya enggak… kan besalan blontosaulus…. aeeekk (sendawa keras),” yang mendengar pun tertawa terbahak-bahak.

Lapo guyu[1]? Menangan Blontosaulus ya…” pungkasnya dan segera menyerahkan mikrofon pada kakak untuk ganti bercerita dan Ia pun pergi mencari permainan yang lain.

Ya, Cendhika memiliki pola pikir yang anti mainstream dan selalu menanggapi segala sesuatu bahkan kemustahilan pun menjadi hal positif dan solutif. Ia memilih jalan cerita Brontosaurus si herbivora (pemakan tumbuhan) yang menang karena badannya besar meski sebenarnya Tyranosaurus alias T Rex yang menurut sejarah adalah hewan karnivora (pemakan daging). Menang atau kalah bukanlah sebuah keniscayaan. Bisa jadi dalam pikiran si kecil Cendhika Brontosaurus menang karena ada pohon besar yang bisa ia tumbangkan dan tepat mengenai kepala T Rex atau T Rex jatuh ke jurang dan akhirnya mati. Siapa tahu, bukan?

Setelah bosan dengan cerita, Ia ingin bermain sepeda. Alih-alih hanya belajar mengendarainya, Cendhika kecil ikut-ikut memegang alat bengkel untuk memodifikasi sepeda BMX yang Bapak belikan untuknya. Hal pertama yang Ia lakukan adalah mengecat sepedanya dengan cat Chroom (dulu populer dengan istilah krum-krum-an). Ini terjadi saat Ia duduk di kelas 4 SD. Sepeda hasil kreasinya itu pun nantinya Ia jual dan Ia memakai sepeda bekas kakak yang sudah Ia modifikasi sendiri.

Ia sempat juga bereksperimen dengan magnet dan menarik mainan kapal “othok[2]” miliknya setelah diajari Bapak tentang kegunaan magnet. Ia pun mencoba kapal kertas yang ditarik magnet juga. Seru sekali Ia bermain dengan magnet.

Pernah juga Cendhika kecil ikut-ikutan kakak-nya berlenggak-lenggok ikut fashion show sampai jalannya bahkan bicaranya seperti perempuan. Bahkan Ia punya nama keren saat bermain peran dengan kakaknya. Namanya “Rita”. Entah dari mana dia dapat dan mengapa memilih nama itu.

Bila Ia terlampau lelah dengan kegiatan hariannya, Ia mencari kenyamanan dengan mengatur posisi tidur menempel ke dinding agar badannya dingin. Ketika ditanya apa yang Ia lakukan maka jawabnya, “Mengambil tenaga dingin,” sembari menyelipkan sebagian tubuh di bawah kasur dan menempelkan sebagian tubuh ke dinding. Ada ada saja.

Saat Ia lebih besar lagi Ia mulai belajar bermain alat musik. Itu terjadi ketika pertanyaan “Apa lagi yang bisa kulakukan?” memenuhi otak lateral-nya. Kusebut Ia memiliki kelebihan di kemampuan lateral otak kanan karena saking kreatifnya. Mulai dari bermain gitar, bass, drum, dan piano. Hanya satu kelemahannya di bidang musik. Suaranya tidak begitu bagus. Mungkin karena Ia “pelo”, ya? Walaupun begitu Ia tidak pernah menyerah untuk belajar mengucapkan huruf “r” sampai akhirnya “pelo”-nya sudah tidak begitu kentara.

Saking tidak bisa diamnya Ia juga aktif di kegiatan organisasi sejak duduk di Sekolah Dasar. Mulai dari Pramuka, PMR, ekstra musik, dan OSIS. Begitu banyaknya kegiatan sampai Ia sama sekali lupa untuk belajar. Anehnya Ia selalu santai dan nilai bagus selalu Ia kantongi. Bukannya belajar saat akan ujian, Ia kerapkali berucap pada Ibu atau kakaknya kurang lebih demikian, “Daripada Aku diam belajar, lebih baik bacakan untukku apa yang harus aku pelajari dan aku akan mengerjakan ini,” sembari menunjuk apa yang akan Ia lakukan.

Enterpreneur Kecil

Bakat Cendhika menjadi seorang enterpreneur sudah tampak sejak Ia masih kecil. Secara sederhana, entrepreneur adalah orang yang menciptakan pekerjaan yang berguna bagi diri sendiri. Entrepreneur berasal dari kata entrependere (bahasa Perancis) yang artinya sebuah usaha yang berani dan penuh resiko atau sulit.

Entrepreneur diartikan pula sebagai seseorang dengan kecakapan mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas. Definisi mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas menurut Ciputra terdapat tiga makna utama. Pertama adalah terjadinya sebuah perubahan kreatif yang berarti dari kotoran dan rongsokan yang tidak berharga dan dibuang orang menjadi sesuatu yang memiliki nilai yang lebih besar. Kedua hasil akhir dari perubahan memiliki nilai komersial, bukan hanya dianggap sebagai karya yang hebat namun juga memiliki nilai pasar yang tinggi. Ketiga untuk mendapatkan emas seorang entrepreneur bisa memulainya dari kotoran dan rongsokan yang tidak bernilai, dengan kata lain dengan modal nol[3].

Cendhika suka sekali mengotak-atik barang bekas sejak kecil. Setelah mencoba berkesperimen dengan kapal “othok” dan magnet, Ia memakai magnet bekas yang sudah patah milik Bapak meletakkan bagian kecil di perahu kertas dan menggunakan magnet patahan yang lebih besar untuk menarik perahu kertas buatannya. Hal ini Ia jadikan tontonan untuk teman-temannya yang pastinya belum paham tentang magnet. Ia buat sebagai aksi sulapan dan tentunya bukan hal gratis. Ini adalah salah satu contoh aksi enterpreneurship-nya penjelasan dari definisi pertama.

Hobinya menggambar membawanya pada ide untuk menjual hasil kreasinya. Ia suka menggambar wajah dan atau sesuai permintaan si pembeli gambar pada media kertas gambar. Ia jual seratus hingga lima ratus rupiah pada kawan-kawannya. Sungguh ide yang unik. Dalam hal ini Ia mengambil makna kedua dari definisi enterpreneur menurut Ciputra.

Selain menjual hasil karyanya Ia juga memiliki ide kreatif untuk menyewakan beberapa buku cerita koleksinya yang sudah bosan Ia baca bahkan menyewakan buku-buku koleksi Bapak dan kakak. Bukannya dipinjamkan saja secara percuma, Ia meminta uang sewa Rp. 25,00 per buku per tiga hari. Terinspirasi dari menyewa buku di perpustakaan ketika Ia sudah masuk SD (Sekolah Dasar). Ia mengambil makna enterpreneur dari definisi ketiga.

Saat Ia bisa membuat hasil karya lain seperti gelang dari tali yang dijalin, Ia pun menjualnya. Begitu pula dengan sablon kaos yang Ia lakukan dengan cat kayu, bukan cat khusus sablon kaos. Kreativitas besar seorang anak kecil. Tanpa Ia sadari kesemuanya membawanya pada mimpi dan pekerjaan masa depan yang besar dan menjanjikan.

Ketika Ia sudah bergelut di dunia Organisasi, Ia mulai berpikir untuk mencari sponsor-sponsor bila Ia akan mengadakan perhelatan. Di kota kecil saat itu belum populer ada sponsor. Kegiatan selalu diadakan kecil-kecilan dan apa adanya. Namun Ia tidak ingin demikian. Meski mendapat pertentangan dari pembinanya, Ia bersama teman-temannya membuat proposal dan bergerilya sampai ibu kota propinsi dan bisa mendapat sponsor dari perusahaan-perusahaan disana bahkan dari operator seluler dengan jaringan terluas di Indonesia. Ia menjadi pembuka jalan bagi adik-adiknya.

Menggapai Satu per Satu Mimpi

Ketika masih kecil anak-anak pasti ditanya apa cita-citanya. Lalu apakah cita-cita dan mimpi Cendhika? Laiknya anak-anak yang lain, Ia akan menjawab menjadi pilot, menjadi angkatan laut, pelukis, dan akhirnya Ia bercita-cita ingin bekerja santai tapi bayaran tinggi.

Aku tak pernah menyangka bahwa setiap cita-cita dan mimpinya akan Ia tuntaskan satu per satu. Dengan kata lain setiap apa yang Ia inginkan selalu di- dan ter-penuhi. Seolah alam raya turut meng-amin-i apa maunya.

Diawali dari demam yang selalu muncul bila Ia ingin sesuatu dan keinginan tidak terpenuhi, orang terdekatnya tidak pernah bisa tidak menuruti maunya. Bahkan Ia sendiri tak kuasa untuk tidak menuruti gerak hatinya. Herannya keinginannya selalu aneh alias di luar hal umum. Saat Ia ingin sepatu yang ada lampunya dan bisa menyala saat berjalan, misalnya, Ia demam dan menggigil sampai mengigau. Padahal hari itu adalah hari Raya Idul Fitri sehingga sudah dapat dipastikan toko-toko sepatu tutup. Akhirnya, Ia harus rela menunggu esok hari dan saat sepatu sudah Ia pakai demamnya sama sekali reda. Apakah ini yang disebut fever of unknown origin (demam tanpa sebab jelas)?

Cendhika ingin sepeda, Cendhika ingin punya gitar di usia-nya yang masih belia, Cendhika ingin ke luar negeri, Cendhika ingin pekerjaan yang santai tapi bayaran tinggi, Cendhika ingin punya kamera profesional sendiri, Cendhika ingin punya komputer canggih, Cendhika ingin punya mobil, bahkan sekarang Cendhika ingin punya rumah sendiri. Semuanya terwujud!

Ia selalu memikirkan apa yang Ia ingini, meyakini Ia akan bisa memenuhi. Kekuatan pikiran sangatlah mempengaruhi jiwa dan raganya untuk bergerak memenuhi semua dan ternyata itu semua sudah Ia lakukan sejak Ia kecil. Setelah aku belajar Ilmu Kedokteran aku mengerti bahwa gerak fikir yang terlalu tinggi akan mempengaruhi metabolisme tubuh untuk meningkat pula dan jadilah suhu tubuh meningkat. Demam!

Imbang Dunia-Akhirat

Selain getol membuka usaha dan mencari uang, Cendhika tidak pernah melupakan akhiratnya. Ia belajar mengaji kitab suci dan menghadiri ceramah-ceramah agama. Ia pun tidak pernah melupakan sedekah.

Kegemarannya sedekah sudah ada sejak Ia kecil. Pada orang yang mampu Ia berusaha bisa mendapatkan sepeser uang dengan “bisnis”-nya dan pada orang yang tidak mampu Ia gemar mengulungkan sebagian Rupiah yang Ia kumpulkan. Setiap ada pengemis lewat, Ia paling rajin memberi. Dulu ada tuna wisma yang amat kotor, baunya pun sudah bisa tercium dari beberapa meter. Tiap bau itu sudah bisa menyengat hidung pasti orang-orang sekitar tahu Ia akan lewat dan segera pergi menutup pintu. Cendhika pun tak ketinggalan berlari ke dalam rumah. Kupikir Ia takut tapi ternyata Ia mencari recehan dan segera berlari menyongsongnya, bahkan jajanan-nya Ia berikan untuk si kakek tua berbau khas itu. Tiap hari Ia tahu kakek itu lewat, reaksi sama Ia tunjukkan. Subhanallah.

Saat ini, Ia pasti menyisihkan keping-keping Dollar-nya yang tidak sedikit untuk membantu orang-orang kurang mampu mulai dari panti asuhan sampai korban bencana. Ia pun membuka peluang usaha untuk rekan-rekan yang membutuhkan. Prinsipnya, sedekah akan membuka pintu rejeki. Itu tidak bisa dielakkan lagi.

Kataku tentangmu

Tidak bisa diamnya anak-anak adalah baik. Karena tidak bisa diam bisa jadi pertanda seorang anak memiliki letupan ide dan energi yang berlebih untuk disalurkan serta potensi untuk dikeluarkan.

Tidak bisa diamnya remaja dan dewasa juga belum tentu salah. Karena orang dengan kreativitas tinggi dan tentunya lateralitas otak kanan pastinya tidak bisa hanya diam dan duduk manis. Mereka harus bergerak untuk melampiaskan segala kecamuk di kepala. Ya, apalagi kalau bukan hasil pemikiran mereka.

Dalam perjalanan hidupnya, Cendhika mampu mengasah semua potensi yang ada dalam dirinya sedari Ia kecil. Dulu, aku iri padanya. Aku sangat iri pada kelebihan-kelebihannya. Seringkali aku protes pada Tuhan kenapa aku tidak bisa sehebat dia. Namun sekarang aku justru sangat bangga padanya. Aku bangga bisa menjadi saksi hidupnya. Aku bangga menjadi kakaknya sebagaimana Ia bangga menjadi adikku meski aku tak bisa sehebat dia. Aku bangga padamu, Adikku. Teruslah berkarya dan menginspirasi sesama.

[1] Bahasa Jawa, artinya kenapa tertawa?

[2] Bahasa Jawa, untuk sebuah kapal mainan dari kaleng bekas yang diberi tenaga dari minyak tanah yang disulut api dan bunyinya othok-othok. Sekarang kapal mainan ini tinggal sejarah.

[3] http://www.ciputraentrepreneurship.com/entrepreneurship/mendalami-arti-entrepreneur

4 Comments (+add yours?)

  1. reny
    Aug 25, 2015 @ 01:05:32

    🙂

    Reply

  2. yudha prawira Wibisana
    Aug 25, 2015 @ 08:54:05

    beruntung yo mbak keluargane sampeyan🙂

    Reply

  3. mbakdhian
    Aug 30, 2015 @ 08:25:32

    Hmmm… ortunya pasti kereeen banget…
    Senang mengenalmu gustrin…ayu…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: