Mendadak jadi Duta

Aku masih mengantuk saat turun di bandara Melbourne setelah terbang selama 5,5 jam dari Denpasar. Kulirik arlojiku yang sudah kusetel waktu setempat di pesawat tadi menunjukkan pukul 04.15 am. Meskipun sudah pagi jam biologisku masih empat jam di belakang. Seharusnya aku masih berada di tempat tidur. Kurapatkan jaket tebalku dan mengambil posisi sedekap seraya setengah mati melawan dingin juga kantuk.

Kubaca nama bandara besar ini dan mengambil foto untuk kenangan meski ada peringatan dilarang mengambil gambar, sedikit bandel, bolehlah. Aku masih tak percaya aku berada di sini, Australia. Bersama seorang rekanku dari kampus ungu (julukan untuk tempat kuliahku karena bangunannya berwarna ungu), kami mewakili Indonesia tercinta dalam lomba informatika tingkat internasional. Bisa berada disini saja aku sudah bersyukur. Aku hanya berharap bisa mempersembahkan yang terbaik, bisa memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Menang atau kalah itu urusan nanti.
“Berapa derajat Celcius kira-kira, Hen?” tanyaku pada Hendra sambil meniup udara. Sebuah keasyikan tersendiri melihat uap-uap putih muncul dari mulut.
“Minus satu,” kelakar Hendra sambil membuat tanda minus di keningnya.
“Serius aku, Hen, katanya musim panas tapi kok dingin sekali ya?” sungutku sambil mengucek hidungku yang sudah mulai menunjukkan gejala rhinitis-nya.
“Maaf, Roy… Musim panas di sini jangan kau samakan lah dengan musim kemarau di tanah air kita. Ini kan negara empat musim. Hmm.. kupikir ini masih sekitar 8-10 derajat Celcius. Tapi jangan khawatir, nanti siang pasti sudah mencapai 16 derajat.” jelas Hendra sambil menepuk pundakku, “Kau aman,” lanjutnya dengan sedikit menyeringai seolah mengasihaniku.

Kami keluar dari terminal 2 bandara dan mencari taksi warna kuning seperti yang sering kulihat di film-film barat. Ah, masih saja ini terasa seperti mimpi.
“Please, take us to Travelodge hotel,” kata temanku pada sopir taksi yang berhenti.
“Alright, sir. Where are you all come from? I’m sure you’re not citizen,”
“We are Indonesian, Sir,” jawabku dengan masih menahan kantuk.
“Oh… Bali, right?” Kami hanya serempak menjawab iya karena sedang malas membahas lebih lanjut bahwa Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia dan Indonesia bukan hanya Bali. Nanti bila ada yang bertanya lagi aku pasti akan menjelaskan panjang lebar, janjiku dalam hati.

Dalam perlombaan besok kami mengusung judul “Gamelan Multitouch” yaitu seni tradisional gamelan yang dimainkan secara multitouch di layar sentuh. Kami tahu, kebutuhan akan simulasi musik pada media semacam komputer semakin meningkat. Hal ini dikarenakan akses yang semakin jarang terhadap alat musik tradisional, utamanya gamelan yang memiliki banyak ragam dan sulit dijumpai. Beberapa software developer sudah mengeluarkan aplikasi ini untuk dimainkan di komputer tentunya menggunakan mouse atau keyboard. Namun hal itu tentunya dianggap kurang praktis. Dengan munculnya teknologi multitouch, yaitu pengoperasian layar sentuh dengan banyak sentuhan jari, tidak hanya satu jari seperti pendahulunya, kami berupaya mewujudkan kepraktisan tersebut. Para pengguna nantinya hanya akan menggunakan jari-jarinya untuk menekan layar dan memainkannya bersama. Adapun layar sentuh yang kami gunakan adalah hasil rakitan kami sendiri. Kami tergabung dalam komunitas teknologi DIY (Do It Yourself) multitouch yang menggunakan kombinasi kamera dan infra merah dalam merangkai alat. Seluruh kemampuan multitouch seperti menerjemahkan gerak, rotasi, merubah ukuran bahkan interaksi banyak pengguna bisa diaplikasikan dalam alat buatan kami ini, sehingga selain bisa menciptakan interaksi langsung juga terkesan lebih intuitif dan natural dibandingkan menggunakan aplikasi komputer.

Sesampainya di hotel kami segera memasuki kamar yang sudah dipesan oleh panitia untuk delegasi Indonesia. Beruntung kami menginap di hotel yang dekat dengan stasiun kota tertua, Flinder Street, sehingga akses ke pusat kota lebih cepat.
“Roy, kita jalan-jalan dulu, yuk! Sepertinya banyak hal yang perlu kita telusuri di sini,” ajak Hendra.
“Ayo aja, siapa takut!” sahutku bersemangat. Kami pun tertawa bersama.

Lelah tiada terasa ketika melihat keindahan sungai Yarra yang membelah kota. Bersih dan Indah. Kubayangkan andai sungai-sungai besar di Indonesia seperti ini pasti tidak kalah indah. Kami harus menyeberang jembatan di atas sungai Yarra yang membelah kota untuk menuju Flinder street. Melihatnya di malah hari pasti akan lebih indah lagi dengan pantulan sinar di sungai dan gemerlap lampu-lampu gedung yang menjulang di tepian sungai Yarra.

Kami berjalan dengan leluasa di trotoar. Pejalan kaki bagaikan raja disini. Bebas hambatan. Para penduduk setempat gemar berjalan kaki karena memang tempat tujuan mereka lebih nyaman ditempuh dengan jalan kaki serta karena udara dingin yang memungkinkan keringat tidak bercucuran. Kubayangkan para pejalan kaki di Malioboro pasti sudah mandi keringat bila berjalan dari toko ke toko. Jika beruntung, di pinggir jalan dapat kita temui atraksi seperti akrobat, pantomim, sulap, musik, dan lain-lain. Saat itu kami beruntung bisa melihat suguhan musik dan sulap.
“Hen, coba bayangkan yang dimainkan itu kesenian tradisional kita..” ucapku pada Hendra, temanku.
“Iya, pasti tidak kalah bagus ya, Roy!” seru Hendra menimpali.
“Kita bisa menampilkan tarian, alat musik tradisional, seni bela diri, dan masih banyak lagi. Tarian misalnya Jaranan dari Jawa Timur, alat musik tradisional macam sasando, angklung atau bahkan gamelan. Pasti diminati bila dibuat seatraktif mungkin.” sambungku panjang lebar.

Baru beberapa jam disini sudah merindukan Indonesia. Sungguh, bila berada di luar negeri begini jiwa nasionalisme kita pasti muncul dengan sendirinya, mencuat maha dahsyat. Padahal sebelumnya aku lebih rela menghabiskan waktu menikmati kehidupan modern, seperti main di mall, mengurung diri di kamar dengan PlayStation-ku, dan makan di restoran cepat saji.
“Hei, bisakah kita bergabung dengan seniman di tepi sana untuk mewujudkan impianmu itu?” usul Hendra bersemangat demi melihat seniman perkusi di tepi berlawanan dengan tempat kami jalan.
“Maksudmu kita menari? Yang benar saja kau!” sangsiku.
“Aku serius, kita bisa berkolaborasi dengan mereka dan kita mainkan musik utama dari laptopku. Kita menari jaipongan!” aku pun hanya bengong dan menurut ketika Hendra dengan sigap menarik lenganku mencari tempat menyeberang.

Dalam hal unjuk kebolehan Hendra yang berasal dari Jawa Barat ini memang lihai. Dia pernah belajar menari dan bermain alat musik tradisional. Baiklah, mungkin dalam pertunjukan dadakan yang Hendra maksud aku bisa belajar cepat dengan meniru gerakannya dalam menari.

Hendra menyampaikan maksud kami kepada para pemain perkusi, tentunya setelah berkenalan dan basa-basi sekedarnya. Beruntung mereka menyambutnya dengan antusias dan mengajak kami bergabung. Hendra pun membuka laptopnya dan memperdengarkan irama musik yang akan kami gunakan. Seniman perkusi itu dengan sigap menyelaraskan dengan perkusi milik mereka. Aku hanya bisa diam dan membatin, seandainya kami membawa kostum pasti akan tampak lebih indah.
“Pakai kacamata hitammu, Roy, kita beraksi!” Hendra tidak kurang akal,
“Pakai juga topi ini,” sambungnya sambil mengangsurkan sebentuk topi dari karton yang mendadak Ia beli di toko belakang kami berdiri. Ia pun membentuk dua sosok kuda dari karton tersebut.

Tanpa malu kami bergerak ke sana kemari seperti menunggang kuda. Ya, kami menari jaranan. Aku salut dengan kepiawaian Hendra dalam menelurkan ide-ide kreatifnya. Beberapa pejalan kaki berhenti dan melihat kolaborasi unik kami dengan pemain perkusi setempat. Bahkan, mereka turut meneriakkan “Hei..hei..”

Tidak puas dengan tari Jaranan, Hendra mengajakku menirunya menari jaipong. Beberapa penonton turut serta menari. Hatiku semakin gembira tak kepalang. Aku berjanji akan lebih mencintai Indonesia lagi. Tak lupa aku menyampaikan sedikit orasi, bahwa tari yang kami bawakan berasal dari Indonesia, negara tetangga Australia, tepatnya dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Aku bersyukur mereka terhibur. Tampak beberapa dari mereka adalah warga negara Indonesia yang menuntut ilmu atau bekerja di sini. Seakan bertemu saudara rasanya.

Kamj mencari tempat makan yang menjual nasi setelah kelelahan menari tadi. Makan roti meskipun berbungkus-bungkus belum terasa mengenyangkan perut kami yang terlalu terbiasa menyantap nasi sebagai hidangan utama. Kami sepakat akan menggunakan uang tip hasil menari tadi. Setelah bertanya-tanya kami mendapatkan salah satu rumah makan padang. Ya, masakan padang merupakan salah satu kuliner khas Padang, Sumatra Barat, Indonesia yang kini mulai mendunia. Masakan andalannya adalah daging rendang. Bersyukur bisa mendapatkan masakan lezat itu disini.

Selain masakan padang, aku juga suka makan nasi goreng, mie Aceh, mie ongklok dari Wonosobo, nasi uduk khas Jakarta, gudeg Jogja, pecel Jawa Timur, sate ayam Madura, ayam Betutu Bali, ayam Taliwang, gulai, dan masih banyak lagi. Aku memang pecinta kuliner, dan berwisata kuliner di Indonesia pasti tiada habisnya karena tiap daerah punya kekhasan masing-masing. Tanpa terasa air liurku menetes hanya dengan membayangkan semua.
Tak terasa hari beranjak siang. Australia sedang musim panas. Bisa dipastikan hari berakhir pukul 9 malam dengan dikumandangkannya adzan Isya. Kami bergegas mencari masjid untuk sholat Dhuhur. Tentunya tidak mudah menemukan masjid di sini, tidak seperti di negara sendiri yang memiliki hampir 1000 masjid, bahkan masjid pun bisa jadi obyek wisata religi saking beragamnya. Masjid Lebanis, begitu orang setempat menyebut masjid tempat kami melaksanakan sholat. Disebut demikian karena pemiliknya adalah orang Lebanon.

Aku memutuskan berdiam di masjid sementara Hendra yang sudah kelelahan kembali ke hotel sendirian. Di tengah lamunanku ada seseorang menegurku.
“Excuse me, mister, where are you come from?” seorang remaja tanggung warga setempat menyapaku.
“Oh, I’m from Indonesia,” jawabku simpatik.
“Is it Bali?” tanyanya serupa dengan pertanyaan sopir taksi.
Aku memperbaiki dudukku dan bersiap menjawab. Kali ini aku tidak malas menjelaskan. Semangat nasionalisme memaksaku menjelaskan bahwa Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia dan Indonesia bukan hanya Bali. Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau sehingga seolah terpisahkan. Namun justru itu yang menyebabkan Indonesia kaya, baik kaya keindahan alam maupun budaya. Akupun menjelaskan bahwa keindahan Indonesia tidak hanya bisa dinikmati di Bali, pulau seribu pura itu.

Untuk wisata pantai, misalnya, semua pesisir di tiap-tiap pulau di Indonesia memiliki pantai yang indah dan memiliki ciri khas masing-masing. Pantai selatan Jawa khas dengan ombaknya yang menggulung indah menghantam karang-karang terjal nan kokoh. Aku teringat perjalanan wisataku ke pantai Klayar Pacitan yang dijuluki seruling laut saking indahnya suara hasil dentuman ombak ke karang yang ditiup angin, merdu sekali. Sedangkan pantai utara ombak lebih landai dan menurutku kurang begitu menantang. Pantai-pantai di pesisir Sumatera sejenis dengan pantai utara Jawa. Beberapa pantai di Indonesia bagian timur memiliki keindahan coral laut dan aneka binatang di dalamnya. Airnya masih sangat jernih sehingga tembus pandang.

Untuk wisata alam, Indonesia memiliki hutan hujan tropis yang indah, taman safari di Bogor dan Prigen, air terjun, gua, pegunungan dan dataran tinggi yang sejuk, gunung berapi, danau, bahkan tempat rekreasi buatan banyak juga didapat misalkan museum, kebun binatang, taman bermain, wisata budaya seperti pertunjukan Ramayana Ballet di Prambanan, pertunjukan di monumen Garuda Wisnu Kencana Bali, situs candi serta peninggalan purbakala. Jelasku antusias yang ternyata didengarkan tidak hanya oleh bocah penanya tadi. Beberapa orang yang memilih tinggal di serambi masjid menemaniku sembari mendengarkan ceritaku tentang negeriku. Mereka antusias pula mendengarkan ceritaku. Akupun menambahkan selain kekayaan obyek wisata Indonesia juga memiliki kekayaan budaya adat suku karena kontur geografis Indonesia yang terpisah sehingga berkembanglah adat budaya sendiri-sendiri. Berbagai cerita rakyat pun banyak tercipta. Permainan tradisional macam dakon, cublak suweng, gobak sodor, dan masih banyak lagi merupakan permainan unik yang harus dilestarikan. Aku bahkan mempraktekkan cara bermain cublak suweng dan merekapun tersenyum heran bercampur kagum. Remaja tanggung tadi sepertinya tidak puas dengan penjelasanku. Ia bahkan ingin berkunjung sendiri ke Indonesia bersama teman-temannya. Akupun dengan semangat menyambut. Kutawarkan ke Yogyakarta, tempat tinggalku, bila mereka berkenan mampir. Mereka berjanji suatu saat akan berkunjung.

Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Saatnya Ashar. Kami bangkit dan sholat berjamaah bergabung dengan jamaah lain yang baru datang. Aku puas dengan penjelasanku tadi dan percaya aku akan melalui hari presentasi esok dengan baik.

Sang fajar sudah menampakkan diri. Ah, cepat sekali malam berlalu. Setengah hati aku beranjak dari tempat tidur dan mengajak Hendra bersiap. Pihak panitia menghubungi kami agar datang lebih awal untuk pengecekan alat yang baru sampai dari Indonesia. Maklum, alat kami cukup besar sehingga harus dikirim terpisah lewat jasa pengiriman paket.

Setelah pengecekan alat dan memastikan alat kami berfungsi dengan baik kami berlatih terlebih dahulu. Kebetulan kami mendapat urutan tampil nomer 2, setelah delegasi dari Sri Lanka. Baiklah, masih ada waktu untuk sholat Dhuha sembari menenangkan hati yang mulai dag dig dug.

Gamelan adalah salah satu alat seni di Indonesia yang berasal dari Jawa. Begitu ungkapku mengawali presentasi. Gamel artinya memukul atau menabuh. Gamelan biasa dimainkan untuk mengiringi tarian ataupun wayang. Selain di Jawa, alat musik ini dimainkan pula di Madura, Bali, dan Lombok. Musik Gamelan merupakan gabungan pengaruh seni luar negeri yang beraneka ragam. Kaitan not nada dari Cina, instrumen musik dari Asia Tenggara, drum band dan gerakan musik dari India, bowed string dari daerah Timur Tengah, bahkan gaya militer Eropa yang kita dengar pada musik tradisional Jawa dan Bali sekarang ini. Gamelan hanyalah salah satu dari sekian banyak alat musik khas di Indonesia. Kami pilih gamelan karena banyak ragam yang dimainkan sehingga penggunaan multitouch akan terasa manfaatnya. Ragam tersebut antara lain dengung, gong, kendang, kenong, dan saron.

Aku dan Hendra mempraktekkan cara memakainya pada meja multitouch kami yang sebenarnya kurang praktis karena berukuran 100 cm x 60 cm x 70 cm dengan memainkan lagu gambang suling. Lagu gambang suling bermakna sebagai ungkapan kekaguman terhadap instrumen suling yang ditiup dengan merdu dan membentuk harmonisasi dengan instrumen lain (kendang dan ketipung). Hadirin dan juri mengangguk-angguk dan bertepuk tangan meriah. Salah satu dewan juri yang ternyata melihat tingkah kami di jalanan kemarin siang menantang kami untuk menari lagi. Dengan canggung kami mencoba menari yang kami bisa, jaranan dan jaipongan. Hadirin tampak terhibur. Kami pun puas sudah mempersembahkan yang terbaik.

Acara berjalan hingga malam, kami bergabung dengan delegasi dari negara-negara lain. Aku kagum dengan hasil karya mereka yang jauh lebih bagus dan inovatif. Dari delegasi Malaysia mempersembahkan karya yang serupa namun mereka menggunakan layar dan alat yang lebih kecil dan mudah dibawa. Aku bahkan sudah bisa menebak siapa yang akan menang di kategori multitouch.

Dan benar saja, delegasi Malaysia berhasil menyabet juara. Andaikan alat kami lebih kecil mungkin kami bisa menang karena kami yakin konsep yang kami usung tiada bandingannya. Tapi kami terkejut saat nama tim kami, Violet Boys, dipanggil ke atas pentas. Ah, ternyata kami mendapat juara favorit karena berhasil menghibur hadirin dan dewan juri. Kami pun tersenyum bangga. Inilah puncak dari kemilau warna-warni Indonesia yang tak henti kami tebar setibanya kami di Melbourne hingga puncak acara. Perwakilan Kedutaan Besar Indonesia yang hadir memberi ucapan selamat dan mempersilakan kami mampir ke kantor sebelum pulang. Ya, kami membayangkan hal yang lebih besar dan indah dari ini. Aku cinta Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: