Cintaku, Demi Allah

Senyumku terus mengembang sepanjang perjalananku pulang ke kampung halaman. Aku tidak sabar mempersembahkan hadiah kelulusanku pada Abah, panggilan dariku dan saudara-saudaraku untuk ayahanda tercinta. Ayahanda yang rela membanting tulang demi anak-anaknya, ayahanda yang tetap setia pada mendiang Ummi dan memilih menghabiskan sisa hidupnya di sebuah gubuk dalam area kebun sawit milik seorang majikan. Ya, rumah itulah tempat kami, aku dan dua adikku, berkumpul bersama Abah.

“Assalammualaikum, Abah…” salamku sambil menyongsong tangan Abah dan menciumnya takzim.
“Waalaikumsalam…. Bagaimana hasil kuliahmu?” tanya Abah tenang.
“Alhamdulillah Abah… Nisa lulus dengan hasil memuaskan… sebentar lagi Nisa bisa bekerja membantu Abah dan adik-adik,” jawabku bangga, tentunya dengan senyum yang masih belum pudar.
“Alhamdulillah. Abah bangga dan senang. Tapi…” kalimat Abah menggantung dan raut wajahnya tidak menampakkan bahwa beliau senang dengan pencapaian yang kuraih.
Melihat ekspresi Abah aku hanya bisa mengernyitkan dahi. Seketika juga senyumku memudar seiring dengan pen-tapi-an dari Abah. Impianku untuk mengajar agama di sekolah menengah mengabur meski belum tahu apa yang Abah maksudkan. Aku hanya diam menunggu kelanjutan kalimat Abah.
”Tapi… untuk bekerja… silakan nanti Nisa tanyakan pada suami Nisa.” Jawaban dari Abah sontak membuatku terkejut.
“Su… suami? Tapi Abah… Nisa… Nisa belum ingin menikah… Nisa… masih ingin menemani Abah… Nisa…” tak kuasa aku melanjutkan kalimatku.
Air mataku tak kuasa lagi dibendung. Saat itu aku tak tahu bahwa air mata ini akan terus mengiringi jalan hidupku selanjutnya. Impianku bukan hanya mengabur tapi luruh dalam tetesan air mata demi mendengar kalimat Abah. Aku yakin Abah sedang serius.
“Ada yang memintamu. Abah sudah tua. Ini adalah saat yang tepat. Dari tiga putri Abah, paling tidak Abah bisa menikahkan salah satunya. Biarlah dua adikmu nanti Abangmu yang menikahkan.”
Sudah cukup penjelasan Abah membuat impianku betul-betul sirna. Aku hanya bisa menjawab,
“InsyaAllah Abah bisa menikahkan kami bertiga… Abah panjang umur…” Abah pun tersenyum.
Aku tak pernah berani melawan Abah. Pun di hal yang menyangkut masa depanku. Aku hanya meyakini bahwa pilihan Abah pasti benar. Aku tidak ingin jadi anak durhaka. Setelah Ummi meninggal karena melahirkan adik bungsu, praktis Abah adalah Ayah sekaligus Ibu bagi kami. Meski akhirnya adik bungsu kami diminta oleh adik Ummi untuk diasuh, Namun setelah beranjak remaja, Nurma si bungsu, lebih memilih tinggal bersama Abah. Kami bertiga dekat dengan Abah karena serumah dan selalu bersama. Hanya Abang saja yang sudah merantau dan menikah nun jauh di luar Nangroe.
Cakap punya cakap calon suamiku adalah seorang prajurit. Dalam benak Abah, prajurit sudah pasti memiliki kepribadian yang baik, karena sebelumnya mereka sudah menjalani tes dan juga lolos dalam seleksi kesehatan, psikologi, dan sebagainya. Aku hanya berusaha untuk meyakini. Abah kerap mencontohkan Abang sepupu yang juga seorang prajurit, gagah, tampan, sopan, berprestasi, dan rajin beribadah. Rupanya Abah meminta abang sepupu untuk mencarikanku seorang prajurit pula. Paling tidak, Abah ingin cita-citanya menjadi prajurit bisa terwakili oleh menantunya.

***

Baiklah, hari untuk menyambut kedatangan keluarga calon suamiku tibalah saatnya. Maklum, seorang prajurit tidak punya banyak waktu di luar dinas jadi mereka baru datang 1 bulan setelah dikabari.
“Ronaldo,” demikian nama calon suamiku. Seperti nama pesepak bola bukan? Wajahnya tampan, ia tinggi besar, dan sopan. Setelah dites mengaji oleh Abah ia pun fasih dan tartil. Meski agak kurang yakin dengan namanya aku tetap berusaha memantapkan hati.
Sebulan dari pertemuan keluarga kami menikah. Nikah kampung, kata orang, karena kami harus melengkapi berkas-berkas yang cukup banyak dan dalam waktu lama untuk nikah kantor atau bahasa umumnya di kalangan prajurjt adalah menghadap nikah. Ya, kami dituntut untuk lapor akan menikah di satuan tempat kami berdinas, menghadap ke senior dan juga atasan. Sebuah perjalanan yang membuatku ingin mundur. Betapa tidak, aku mengenal suamiku baru 1 bulan yang lalu dan sekarang di usiaku yang masih ingin berkarya aku harus berada di lingkungan yang sama sekali berbeda dari impianku. Namun aku terus bersabar dan bersabar. Ku yakin kelak pasti akan kupetik hikmahnya.

***

Enam bulan setelah kami menikah secara resmi, aku hamil. Lazimnya dalam sebuah pernikahan kehadiran buah hati adalah hal yang sangat membahagiakan. Sayangnya tidak demikian dengan suamiku. Justru setelah tahu aku hamil perangainya berubah. Ia sering tidak pulang dengan alasan jaga atau ada tugas ke luar. Akupun tipe penurut yang tidak pula banyak bertanya. Aku selalu percaya pada suamiku. Bersyukur di asrama kompi yang padat kegiatan jadi aku tidak merasa sepi. Sebelum aku hamil aku aktif bermain volley, bahkan aku menjadi tim inti, namun setelah aku hamil aku hanya bisa mengisi posisi wasit sembari membawa gorengan dan es campur untuk dijual. Kata ibu-ibu di asrama jajanan buatanku sangat enak. Alhamdulillah.

***

“Bunda… buatkan kopi, kepalaku pusing sekali…” pinta suamiku saat pulang dari kegiatan kompi.
“Eh… Ayah, tumben sudah pulang?” sambutku berseri dan segera menyongsongnya, mencium tangannya seperti bagaimana aku kepada Abah.
“Iya,” jawabnya singkat tanpa gairah sedikitpun.
“Ini kopinya,” kataku sambil mengangsurkan gelas kopi, “Enak, Yah?” Sambungku segera setelah suamiku meneguk kopinya tak sabar dan meletakkan gelas kosong di meja. Ia hanya menganggukkan kepala dan bersandar.
“Ada apa rupanya, Yah? Apakah Ayah memikirkan persalinanku nanti?”
“Sedikit…” menghela nafas, “Aku akan pikirkan cara untuk mendapatkan uang tambahan,”
“Maaf Yah kalau boleh Bunda tahu uang gaji Ayah kemana selama ini Yah? Kenapa Bunda hanya menerima 1 juta tiap bulannya? Bunda sudah lama ingin tanyakan ke Ayah tapi baru bisa terucap sekarang. Jujur Bunda bingung mengelola keuangan Yah… Anak kita belum lahir… bagaimana bila sudah, Yah?”
“Aku ada hutang karena uang dipinjam teman Ayah untuk berbisnis namun bisnisnya gagal. Maafkan Ayah ya Bunda sayang… percayalah Ayah akan usahakan yang terbaik untuk kita sekeluarga,” janjinya diiringi senyum.
Iya Yah aku akan selalu percaya padamu. Meski keadaan ekonomi sulit suamiku pun melarangku bekerja karena ia gampang sekali cemburu. “Awas ada yang sampai mendekatimu saja, kulibas.” Ancamnya kali itu menakuti. Namun begitu aku sangat senang ia melarang. Katanya cemburu tanda cinta.

***

Anak pertama kami lahir. Cantik dan mungil. Melati namanya. Semoga laksana bunga melati yang suci dan harum. Lengkap sudah kebahagiaanku. Namun sekali lagi sepertinya tidak bagi suamiku. Semakin jarang ia pulang dan tiap kutanya selalu mencari uang tambahan jawabnya. Pernah aku bertengkar karena uang yang ia cari nihil. Tak pernah ada. Tapi aku selalu mencoba percaya apa kata suamiku. Aku bersyukur karena Abah masih sering menjenguk ke asrama dan membawakan beberapa kebutuhan jadi aku bisa agak hemat. Dan lagi remunerisasi yang jumlahnya lumayan untuk mencukupi kebutuhan mendadak.

***

“Bu, sudah dengar berita beberapa prajurit tertangkap basah sedang konsumsi narkoba?” tanya seorang ibu tetangga
“Masya Allah, belum dengar, Bu.”
“Iya, Bu Ronal. Lihat saja di penjara kesatrian. Siapa tahu Om Ronaldo ada disana.” Pungkas ibu tetangga sambil tersenyum sinis dan pamit pergi.
Aku memang tidak begitu dekat dengan Ibu-ibu asrama. Seperlunya saja aku berinteraksi. Bukan apa-apa, aku hanya takut akan banyak mengeluh. Tapi kali ini aku merasa mereka semua menjauhiku dan memojokkanku. Ada apa ini? Tak bisa dipungkiri aku betul-betul memikirkan perkataan ibu tetangga. Suamiku? Narkoba? Rasanya memang pas jika dihubungkan dengan jarang pulang dan tidak punya uang. Namun aku msih memendam inginku untuk membuktikan kebenaran datang ke jaga satri. Tunggu besok. Masih berharap berita itu bohong belaka.

***

“Ayah jahat…!! Ayah tidak sayang sama Bunda dan Melati!” Aku menangis sejadi-jadinya setelah berhasil menemui suamiku di balik jeruji.
“Ayah sayang… Tapi Ayah ditipu… Ayah dijebak untuk memakai narkoba dan akhirnya keterusan. Percayalah, Ayah sayang kalian. Maafkan Ayah… Ayah janji tak akan mengulangi ”
Akupun diam dan berusaha percaya.
“Sabar ya Bunda… setelah Ayah keluar kita buka lembaran baru…” aku mengangguk.

***

Tahun berganti. Alhamdulillah Ayah Melati sudah membuktikan janjinya. Ia menjadi Ayah dan suami yang baik. Sampai akhirnya pada suatu malam suamiku tak kunjung pulang. Melati yang dekat sekali dengan Ayahnya tidak bisa tidur dan meraung ingin bertemu Ayah. Hujan turun cukup deras. Tanpa sadar aku tergerak mengambil payung dan menembus hujan berjalan ke jaga satri sambil menggendong Melati yang saat itu berusia 2 tahun. Aku teringat dengan kejadian kala itu.
“….” hening.
Aku kaget, sedih, hancur, kecewa, marah demi melihat suami yang sangat kupercaya terduduk di balik jeruji.
Prak!! Kulempar jeruji dengan payung. Suamiku terkejut dan segera bersimpuh saat tahu akulah yang megejutkannya.
“Ayah pasrah Bunda mau beranggapan apa. Ayah hanya ingin bilang Ayah sayang…”
“Stop! Jangan bilang kata-kata itu lagi,” potongku,”Seperti ini namanya sayang? Seperti ini janji manismu? Kenapa tidak kau ceraikan saja aku sekalian?” Aku murka.
Melati menangis dan menjerit. Akhirnya petugas piket mengamankan kami di ruang sebelah. Setelah tenang aku kembali lagi dan berusaha mendengarkan penjelasan suamiku.
“Aku dijebak,” aku hanya diam dan membatin, dari dulu dijebak melulu. Bodoh sekali bukan?
“Aku diminta membawa kereta ini pergi. Aku tak tahu kalau ini kereta curian.” Mungkin aku lebih bodoh lagi karena aku percaya saja dengan alasannya. Selalu saja ada maaf dariku untuknya.

***

Sebulan kemudian suami tak kunjung pulang padahal rekan lain yang terlibat sudah dibebaskan.
“Tolong suami saya, Pak, ia dijebak. Suami saya sudah bertobat Pak… ia sudah jadi orang baik,” pintaku pada Bapak Danki (Komandan Kompi).
“Iya, Bu Ronal… saya paham dengan keadaan Ibu. Istri yang baik pasti percaya dan melindungi suaminya. Tapi saya juga tidak bisa percaya dari satu pihak. Biar hukum yang menentukan. Benar atau salah. Besok suami Ibu akan dibawa ke Polisi Militer untuk ditindaklanjuti.” tegas Bapak Danki.
“Ini tidak adil, Pak! Temannya sudah bebas kenapa suami saya belum?” Tuntutku sambil menangis.
Ya, aku sudah tak tahan lagi untuk tidak menangis. Melati juga ikut menangis. Kurasa ia sudah mulai paham. Maafkan kami, Nak
“Saya berusaha untuk adil, Bu. Tapi bukti menunjukkan keterlibatan suami Ibu dalam bisnis narkoba.”
“Suami saya pasti dijebak, Pak. Dia sudah tobat, Pak.”
“Sebaiknya Ibu pulang saja dan menenangkan diri. Berdoa yang terbaik.” pungkas Bapak Komandan Kompi yang membuatku terdiam membisu.

***

Langit mendung kala itu menjadi saksi kepergianku dari kompi. Sudah jelas hukuman apa yang akan diterima prajurit yang melanggar disiplin.

***
Ya Allah….
Mungkin inilah caraMu menyayangiku, membiarkanku mengaplikasikan ilmu agama yang kupelajari.
Ya Allah….
Aku masih berharap semoga setelah sekian kalinya kelakuan suamiku yang menjengkelkanku masih ada saatnya nanti ia berubah menjadi suami yang baik, penyayang, dan sholeh. Semoga Engkau berkenan membalikkan hatinya.
Ya Allah…
Aku akan terus bertahan. Semampuku bertahan. Aku akan tetap tegar dan berdiri tegak. Karena cintaku, demi Engkau, ya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: