Fenomena Me-Latah

Indonesia sebagai negara besar dan berpenduduk majemuk ini seharusnya memiliki ide yang majemuk juga. Namun nyatanya kenyataan tak seperti yang diharapkan.

Gejolak ekonomi yang menghimpit dan tuntutan pemenuhan kebutuhan yang besar membuat kebanyakan orang ingin mendapat uang secara instan. Secepatnya dan semudah-mudahnya. Budaya hedon, konsumerisme, kapitalisme, dll yang ujung-ujungnya siapa ber-uang (ups bukan hewan ya…) berkuasa menjadikan mayoritas penduduk di dunia ini secara sadar atau tidak sadar berlomba untuk menumpuk pundi-pundi uangnya. Dengan dalih “tuntutan hidup” segala cara dihalalkan. Mengemis, mencuri, menipu sudah tidak asing lagi masuk ke pemberitaan media. Bahkan, mencuri secara elite pun bisa. Korupsi.

Lalu tuntutan hidup macam apa yang banyak dibicarakan? Ya kebutuhan hidup yang harganya makin melonjak akhirnya membuat mayoritas penduduk kesulitan memenuhi kebutuhannya. Atau bisa juga tuntutan hidup yang dimaksud adalah tuntutan dari diri sendiri untuk memenuhi standar hidup sesuai gaya orang lain. Dan anehnya lagi sudah enak-enak hidup di desa masing-masing (paling tidak tuntutan hidup tidak begitu tinggi) kok ya malah latah pindah ke kota besar yang jelas pemenuhan kebutuhan lebih sulit. Jelas permasalahan lebih kompleks. Dalih mereka, mencari kerja. Ujung-ujungnya menjadi beban pemerintah kota. Tidak sedikit yang mengakhirkan hidup mereka menggelandang bekerja sebagai pemulung (agak mending), pengemis (MasyaAllah), bahkan pencopet (kelewataannn) walau ada juga yang sukses dalam kariernya. MasyaAllah.

Itu fenomena latah yang pertama. Latah mencari penghidupan di kota demi mendapat uang.

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi latah 1/la·tah / a 1 menderita sakit saraf dng suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; 2 berlaku spt orang gila (msl krn kematian orang yg dikasihi); 3 meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain.

Latah yang akan saya bahas disini bukan definisi nomer 1 dan 2. Khusus definisi nomer 3 saja.

Lanjut ke contoh latah selanjutnya. Dalam ide berdagang misalnya. Hanya segelintir orang yang mempunyai ide brilian selaku pembaca tren. Contoh kasus batu akik. Sedemikian menjamurnya pedagang batu akik sekarang dan sebagian besar adalah pedagang ikut-ikutan karena tergiur untung besar-besaran. Selanjutnya pedagang buah atau cinderamata di sepanjang jalan. Entah siapa yang jual pertama tetangga-tetangganya ikut-ikutan demi ampiran kendaraan. Hebatnya di Indonesia ya berdagang kiri kanan sama tapi tidak ada yang sampai sikut-sikutan. Malah saling membantu melariskan jualan teman-temannya. Hebat.

Fenomena latah selanjutnya adalah MLM. Apapun produk yang dijual selalu diiming-imingi untung besar. Tapi namanya juga sales kalau tidak getol promosi dan ajak-ajak orang mana bisa jalan usahanya. Mana bisa naik levelnya. Mana bisa cair bonusnya. Itulah yang sering membuat orang-orang terhasut untuk bergabung dan terhasut untuk keluar pula. Pembuat tren lah yang akan untung besar. Pengikut? Ya untung-untungan.

Fenomena latah selanjutnya adalah siaran TV. Contoh konkrit sekarang adalah serial India dan Turki. Di negara asal kurang booming malah di Indonesia naikkan rating. Begitu ramahnya orang Indonesia. Asal bau luar negeri uda heboh aja. Hmm.. kualitas? Sama aja ah sama sinetron Indonesia yang kurang mendidik itu. Begitupula acara reality show, acara music show dengan host yang stasiun TV nya latah pake itu itu aja… simak juga tuh alay’ers nya… jangan-jangan juga itu-itu ajaa… hee.

Belum lagi setelah acara TV populer maka diciptakanlah baju bertuliskan serial TV itu. Satu produksi lainnya ikut-ikutan. Dari yang official sampai yang abal-abal. Keren euy.

Next, latah itu sendiri. Mpok Atik latah karena memang kelainan. Ee ada segelintir orang yang ikutan latah demi popularitas. Demi digodain. Demi jadi seru-seruan. Demi dianggap ada (nah lho sebelumnya apa ndak keliatan?? jangan-jangaaan…. upss…).

Apapun itu, kalau me-latah itu baik, silakan… (seperti tren baju syar’i semoga bisa menginspirasi banyak muslimah untuk syar’i beneran bukan cuma tren-tren-an—- termasuk gue nih hakjleb), Allah akan mengubah keadaan kaum jika berusaha. Tapi, berusahalah di jalan yang baik dan diridhoi Nya. Allah sudah mengatur rejeki masing-masing. Ga usah bingung. Mintanya sama yang di Atas… Yang Maha Kaya bukan sama orang kaya. Banyak shalat Dhuha dan berdoa bukan malah ngalap berkah atau cari pesugihan. Namun.. alangkah lebih baiknya bila kita adalah pencipta tren (penggebrak ide) bukan pengikut tren. Ya kan?

Bagaimana menurut kalian? Fenomena me-latah apalagi yang ada di sekitaran?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: