cerita tentang IRT….

Pekerjaan rumah tangga jika dilakukan adalah hal biasa namun jika sebaliknya menjadi luar biasa. Apa sajakah pekerjaan rumah tangga? Hal-hal sepele sebenarnya semisal memasak (bisa skip jika beli diluar atau catering), mencuci baju sampai menyeterika (bisa skip jika laundry atau punya tukang cuci), menyapu rumah, mencuci piring, mengisi air, membereskan rumah dst sampai hal sepele mengganti seprei yang kena ompol si buah hati.

Tugas siapa? Biasanya sih menjadi tugas istri si ibu rumah tangga yang menjadi manajer, sekretaris, partner, asisten bahkan pelayan dari si bapak rumah tangga yang bertindak sebagai kepala rumah tangga. Subhanallah yaa tugas istri itu… belum lagi mengurus keperluan si bapak dan anak-anak… belum lagi yang juga bekerja… Subhanallah… makhluk paling perkasa adalah seorang ibu… yang bisa multifokus dalam mengerjakan sesuatu. Memasak sambil menyambi mencuci piring sekaligus menyambi momong bukan hal yang asing. Sholat sambil menggendong anak yang rewel kadang tidak bisa dielakkan. Menahan hajat ke belakang saat anak masih ingin menyusu juga tak jarang terjadi. Dan masih banyak contoh lain.

Dari kesemua tugas rumah tangga tersebut hal yang paling menyita ribuan fokus alias ribuan perhatian adalah tugas momong (menjaga, mengasuh, mendidik) anak. Kenapa begitu? Karena anak apalagi usia balita sedang “kritis” berkembang jadi perlu didampingi dengan sepenuh hati. Akan banyak keingintahuan yang ia tunjukkan. Mulai dari pertanyaan apa ini? Untuk apa ini? Siapa ini? Dst yang direpetisi tanpa lelah. Belum lagi fokus saat dia bereksperimen di tempat-tempat yang membahayakan. Mata kita tidak bisa lepas dari penjagaan. Waktu tidur balita kadang menjadi momen emas untuk seorang ibu untuk merampungkan tugas rumah tangga. Alhasil mengurangi waktu istirahat ibu. Terkadang lelah dan marah datang menghampiri. Sesekali bentakan pada anak dan ucapan “ibu capek” tak bisa dihindari. Kalau anak sudah mandiri dan bisa main sendiri dengan pengawasan sih oke ya moms… tapi kalau anak yang maunya ditemani mungkin agak repot… bahkan ada anak yang “tersinggung” bila tahu ibunya capek dan akhirnya menangis.

Hmm… tipikal ibu pun macam-macam… ada yang tidak gampang capek ada pula yang fisiknya lemah bahkan ngga ngapa-ngapain muncul memar di kaki (oh no… its me…) jadi harus sering istirahat. Sebuah dilemma ketika mengasuh anak sendirian yang superaktif dikombinasi fisik ibu lemah. Semoga Allah memberikan kesabaran dan kekuatan ekstra. Saat terlepas amarah jangan lupa untuk ucapkan maaf dan alasan kenapa kita marah padanya niscaya anak akan mengerti dan tidak membalas dengan amarah pula. Ingat moms, hati anak sangat lembut. Jadi bila sedikit saja kita kasar padanya tanpa penjelasan… ia belajar dan kelak akan berlaku sama. Jadi berfikir gimana kalau anak dititipkan sama orang lain dan si orang itu lagi jengkel sama anak kita ya… marah ya marah aja alhasil anak kita tergores hatinya dan merekam jenis emosi yang diterimanya.

Menurut saya, solusinya (tentu bagi ibu yang bekerja seharian), gunakan waktu saat anda bersama dengan anak (sesedikit mungkin waktu itu) jangan libatkan asisten atau pengasuh yang lain (neneknya, kakeknya, dst) agar mereka juga istirahat dan me refresh jiwanya. Capek loh moms mengasuh anak itu. Lebih capek daripada bekerja. Karena mengasuh anak melibatkan fikiran, tenaga, hati sekaligus yang fokus ketiganya harus penuh. Kalau bekerja kita masih kadang bisa melamun, kadang bisa alih perhatian, atau karena memang passionnya di kerjaan tinggi jadi tiada rasa capek menggayut. Nah, saat anak berdua dengan moms ajak ia bercengkrama, bercerita tentang hari yang ia lalui juga hari yang ibu lalui termasuk menanyakan bagaimana perasaannya dan utarakan perasaan ibu. Kangenkah dia sama ibunya? Bapaknya? Seindah apa hari yang dilaluinya atau malah buruk baginya… sampai masalah sepele, seperti sudah pup belum? Berapa lama tidur siang dst. Selalu sampaikan alasan kenapa moms tidak bisa menemaninya sehari penuh. Jangan utarakan karena cari uang karena ia kelak akan berorientasi pada pentingnya materi saja. Coba jelaskan bahwa bekerja itu selain untuk menambah pemasukan juga karena kewajiban (jika memang wajib dan tidak bisa ditinggalkan ibu demi anaknya sekalipun). Maaf sebelumnya, tapi saya rasa tetap ada alasan untuk keluar kerja bila keluarga adalah orientasi utama. Saya mengenal beberapa orang ibu yang rela keluar dari kerja setaraf PNS, dokter, pegawai bank, dosen, perawat, bidan, guru demi keluarga. Dan pastinya bekerja bukan hanya mencari materi ya moms namun lebih ke penyaluran ilmu, pemanfaatan sumber daya yang baik, aktualisasi diri. Karena materi atau rejeki itu Allah yang mengatur.Kalau bagi saya pribadi yang penting pas. Pas butuh pas ada. Hehe…

Pada beberapa wanita, bekerja sangat diperlukan untuk bisa lebih percaya diri dan dalam pengasuhan anak lebih maksimal pula karena lebih tertata waktunya. Lebih disiplin. Namun ada juga wanita yang memaksa kerja sedangkan ia sebenarnya kurang bisa membagi waktu. Alhasil semua bidang dalam kehidupannya amburadul. Moms sendiri yang bisa menilai kapabilitas diri dan tentukan pilihan agar lebih bahagia menjalani hidup tanpa keluhan. Hal ini (bercengkrama dengan anak) sepele moms tapi bisa membentuk ikatan yang lebih kuat antara ibu dan anak.

Nah, sudah bisa dibayangkan bukan menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten rumah tangga bukanlah tidak bekerja. Tapi justru banyak sekali pekerjaan yang bahkan tanpa henti dari bangun pagi sampai bangun pagi lagi. Apalagi yang menambah aktivitasnya dengan bekerja diluar dan anaknya titip di day care selama bekerja.

Tentunya semua aktivitas yang dilakukan supermom (istilahku untuk ibu tanpa asisten) seringkali mengesampingkan “me time”. Me time adalah istilah untuk seseorang merefleksikan diri, menyalurkan hobi atau membahagiakan dirinya dengan sejenak menyendiri paling tidak agar pikiran dan jiwa refresh kembali.

Baiklah, bila tidak sempat atau anak tidak kooperatif untuk melakukan hobi ibu gunakan critical time saat anak tidur tadi. Pilah pilih mana aktivitas yang bisa dilakukan bersama anak. Misalkan menyapu kita bisa mengajak anak ikut menyapu atau bersih bersih rumah berbekal sapu kecil, mencuci piring juga jadi aktivitas menyenangkan untuk anak loh moms (pilihkan untuknya bahan plastik untuk ikut dicuci), mencuci pakaian juga pasti mengasyikkan untuknya (pada anak yang lebih besar tentunya… kalau anak di bawah 2 tahun cenderung ikut masuk ke bak cuci ya kan? Hee), dll ibu sendiri yang bisa menilai kesiapan anak diajak “bekerja” membantu ibu. Kalau setrika dan mengepel sepertinya masih beresiko bagi batita. Jadi sebaiknya hal-hal seperti inilah yang dilakukan saat critical time sebelum ibu juga ikut beristirahat atau sekedar me time. 15 menit cukup untuk me time ekspress. Cukup dengan mendengarkan musik favorit, membaca buku ditemani segelas teh atau jus dengan santai tanpa fokus. Bisa juga kita ajak anak melakukan hal-hal yang kita sukai loh… berkebun, mendengarkan musik bersama, main musik bersama, menggambar bersama dll. Libatkan anak sebagai kawan bukan beban. InsyaAllah hari moms sekalian lebih menyenangkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: