Mengenal Diriku (2)

Masih ingat postingan tahun-tahun ke belakang bertajuk Mengenal Diriku?

Jaman segitu ya begitulah adanya diriku. Aku terkaget-kaget karena banyak yang komentar bahkan berlanjut ke obrolan lebih dalam lagi. Eh, ternyata banyak yang idem sifat dasarnya sama aku loh. Temperamental. Salam kenal teman-teman se-anugerah-anku (–>aku bilang gini karena bagiku karakter atau watak adalah anugerah dari Allah, karena tidak bisa diubah hanya bisa diperbaiki). ^_^

Diriku masih sama seperti yang dulu (eciyeh kayak lagu aje), hanya saja aku yakin akan adanya perubahan yang (insyaAllah) ke arah yang lebih baik. Pasti banyak yang kepo (penasaran) kan kok bisa beranjak untuk memulai perubahan sedang di tulisan terdahulu bingung berubah dari mana? Ihiiirr ihiiirr…  #geerModeOn

Yups. Yang jelas sesuai ending tulisan bertahun yang lalu itu aku berdoa bukan? Begitulah seharusnya kita memohon bantuan pada Yang Memiliki Hidup. Alhamdulillah diberikan jalan. Setelah beberapa kali “gagal” membina hubungan pertemanan maupun pertaarufan (heehee..) akupun dipertemukan dengan seorang sahabat yang bertanggal lahir dekat denganku, berkarakter hampir sama dan saling mengerti. Kemudian akupun dinikahi oleh seorang pria yang super sabar. Darinya pula aku belajar untuk sedikit bersabar meski emosi masih sering juga meletup. Namanya juga proses. Proses pun juga butuh kesabaran. Dan.. Allah mencintai proses ke arah kebaikan.

Teringat pada uraian komentar dari salah satu komentator tulisanku terdahulu bahwa karakter ini bisa karena pengalaman masa lalu meski kecil namun berdampak serius karena diendap dalam pikiran. Iya, bisa jadi pola asuh yang overprotektif menyebabkan kurangnya percaya diri dan menimbulkan karakter temperamen ini terjadi pada khususnya individu introvert. Kenapa begitu? Karena sikap overprotektif dari orang yang lebih berpengaruh (bisa orangtua, suami/istri, atasan, dst) menghambat letupan keinginan dari dalam diri (bahasa jawanya “ngempet”/”mendem”) sehingga tanpa sadar mengambil bagian di alam bawah sadar jika saat “penekanan” terlalu berat dirasakan maka akan muncul emosi berlebih yang pasang surut. Kecepatan pasang surutnya tentu sangat terpengaruh oleh pengendalian diri. Pengendalian diri sangat dipengaruhi oleh emotional quotient (kecerdasan emosi) yang bisa dilatih, juga oleh spiritual quotient (kecerdasan spiritual) yang bisa diasah. Seringnya pada individu berkepribadian introvert karena kecenderungannya menutup diri. Beda hal nya dengan ekstrovert yang bila dirinya “tertekan”/stress meluapkannya dengan terbuka. Apa adanya. Semua orang bisa tahu. Setelah meluap emosinya ya sudah. Tidak ada ganjalan yang bisa sewaktu waktu meledak pasang surut.

Kesimpulannya karakter temperamen bisa dilatih dan diasah agar tidak terlalu “heboh” (–> keinget ngga gaya si mbek iklan wimcycle jaman dulu? Ada yang belom lahir jangan2… hee..) seiring dengan matangnya EQ dan SQ. Belajar. Terus belajar. Percaya bahwa tiada hal yang tidak mungkin jika ada niat/passion (–> jangan lupa baca tentang hal ini di judul “Long long way to go” yaa…) pasti ada jalan. InsyaAllah.

Next step, di samping berdoa kita juga harus berusaha. Berusaha gimana? Ya itu tadi meningkatkan EQ dan SQ. Bagaimana cara melatih EQ? Dengan banyak-banyak menghadapi situasi yang butuh kesabaran ekstra. Kebetulan aku dalam posisiku sebagai pendamping suami sebagai perwira TNI AD banyak situasi yang menghadapkanku ke arah itu. Melatih SQ ya dengan mendekatkan diri ke Sang Maha Pencipta. Caranya gimana mendekat? Allah itu dekat bahkan lebih dekat dari yang kita bayangkan. Hanya saja seringkali kita tidak (mau) menyadarinya. Sebut nama Allah di setiap hela nafas, di setiap denyut jantung niscaya kita akan merasakan betapa dekatnya Ia. Jangan lupa untuk terus memohon ampun (istighfar) dan evaluasi diri (muhasabah). Maka cintaNya akan terasa melingkupi jiwa kita.

Langkah terakhir adalah tawakkal, pasrah akan ketetapanNya. Pasti yang Ia berikan adalah yang terbaik untuk kita. Kewajiban kita hanyalah mengharap ridho Nya, bukan memaksakan hasil akhir sesuai harapan kita. Kemudian, bersyukur. Bukankah Allah akan menambah nikmat hambaNya yang bersyukur?

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: