Loh… dokter kok…

“Dokter kok ngga praktek? Sayang kan ilmunya… mahal pula nyekolahinnya… ngga kasihan sama orangtua?”

Sudah kesekian kali komentar semacam itu tercetus. Dan kesekian kali aku merasa bimbang ke arah mana aku akan melangkah. Baiklah kucoba telaah satu per satu.

****

1. Dokter kok ngga praktek? Sayang kan ilmunya…

Penjelasan: meski tdk membuka praktek resmi insyaAllah ilmu yang saya dapatkan selalu saya usahakan agar bermanfaat… dalam hal penyuluhan ke ibu-ibu anggota Persit KCK yang berada di bawah asuhanku, mengikuti baksos membantu dokter Polban, memeriksa dan memberi anjuran terapi pada yg menanyakan padaku hal sakit mereka, konsulen kehamilan dst… semuanya tanpa dipungut biaya dan atas dasar senang membantu saja.

2. Mahal sekolahnya…

Penjelasan: mahal itu relatif… (mohon maaf sebelumnya bila saya sebut nominal… bukan bermaksud apa-apa, hanya share pengalaman saja) Alhamdulillah saya dulu diterima di UMY program PBUD gelombang 1 yang bebas tes dan dikenai shodaqoh jariyah minimal (saat itu 30 juta) dan bisa cicil 3 kali tempo 3 semester. Menilik istilah yang digunakan, shodaqoh jariyah, semoga menjadi amal shodaqoh bagi kedua orangtuaku. Amiin. Biaya kos dan makan tidak ada karena aku tinggal bersama kakek (alm) dan keluarga paman. Aku pun bekerja sambilan sebagai editor hand out seangkatan yang mendapat komisi cukup untuk sekedar beli bensin motor dan jajan.

Biaya semester 2-5 juta tergantung beban SKS dan praktek. Alhamdulillah aku bisa selesaikan kuliahku dalam 8 semester dengan remidi hanya sekitar kurang dari 10 blok dalam 8 semester (1 semester terbagi dal 3 blok) jadi sekira 4 tahun butuh sekitar 40 juta.

Biaya koas (program profesi) 24 juta, kos 1 tahun di kontrakan bersama teman-teman sebulan 200.000 jadi setahun 2.400.000 sisanya aku tinggal di mess di dalam Rumah Sakit biar hemat dan sering puasa biar ngga mikir makan.

Bila dikalkulasi sekira 100 juta untuk kuliah sampai koas dan lulus. Belum biaya uang saku dan lain-lain. Tapi tetap jauh lebih sedikit dibanding kuliah di FK jaman sekarang. Alhamdulillah aku bisa menempuh kuliah dengan lancar dan lulus dengan predikat cumlaude.

3. Ngga kasihan sama orangtua..?

Penjelasan: Iya.. saya kadang merasa bersalah tidak bisa bekerja dan jadi dokter yang sukses seperti idaman dan harapan mereka.

Namun… sebagai istri saya harus patuh pada suami yang ingin selalu ditemani sedangkan dinasnya berpindah pindah sehingga untuk meniti karier sendiri saya tidak punya waktu… saya juga kasihan pada pengasuhan buah hati, yang jelas saya tidak rela bila dititipkan pada siapapun di tanah asing.

Alhamdulillah, kedua orangtua ikhlas dan tidak mempermasalahkan keputusan tersebut…

InsyaAllah bapak dan ibu sudah melakukan yang terbaik dan membanggakan… (karena memang orangtua lah yang selalu mendukung dan menopang sepenuh jiwa dalam keadaan apapun putra putrinya…) meski sama sekali dalam cita-cita hidupku, dalam gairah hidupku tergerak untuk menjadi dokter… takdir lah yang membawa saya kuliah di kedokteran.

Untuk jalan ke depan.. pastinya Allah pula lah yang menentukan kemana ilmu ini… kemana hidup ini akan diabdikan… insyaAllah itulah yang penuh keberkahan… doa restu bapak ibu selalu saya harapkan… agar bahagia hidup ini… dunia… akhirat.

Hope the true “passion” will “come out” and bring much more benefit around.

_2bcont.._passion_

1 Comment (+add yours?)

  1. drwox
    Aug 27, 2015 @ 22:15:17

    luar biasa… joss! inspiratif

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: