Buku Panduan Menghadap… (untuk calon anggota Persit KCK)

Assalammualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirobbilalamin, puji syukur penulis panjatkan atas terselesaikannya buku panduan bagi calon anggota Persit Kartika Chandra Kirana ini. Buku ini jauh dari sempurna dan bukan merupakan buku pokok organisasi. Buku ini hanyalah pengantar bagi ibu-ibu sekalian sebagai calon anggota Persit agar ke depannya memiliki gambaran untuk bisa mengerti sedikit demi sedikit dan akhirnya memahami inti dari organisasi Persit KCK sehingga bisa menyatu dan menyayangi antaranggota.

Persit merupakan salah satu organisasi wanita terbesar di Indonesia di bawah naungan Dharma Pertiwi (untuk lebih jelasnya baca AD ART/Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persit KCK). Persit bukanlah organisasi paksaan, namun sebaliknya organisasi sukarela yang otomatis diikuti oleh setiap istri prajurit TNI AD. Setelah surat perjanjian di atas materai yang akan ibu-ibu tandatangani nanti selesai dan disahkan dengan terbitnya SURAT IJIN NIKAH (SIN) maka ibu-ibu telah sah menjadi anggota Persit KCK. Dengan begitu lencana telah sah ibu-ibu kenakan di seragam Persit, kemudian segala hak dan kewajiban siap mengikuti. Apa saja kewajibannya? Antara lain mendampingi suami dimanapun ditugaskan, mengikuti kegiatan Persit yang berlaku dan ditetapkan di satuan masing-masing. Apa saja haknya? Antara lain memiliki KPI dan KTA, menerima tunjangan, dsb.

Seyogyanya ibu-ibu bersedia menikah dengan prajurit berarti bersedia hidup dalam kesederhanaan dan ikatan kuat dalam organisasi Persit, serta bersedia pula untuk belajar hidup berorganisasi. Bila ibu-ibu tidak sanggup silakan balik kanan dari sekarang sebelum menyesal di kemudian hari. Bila siap untuk meninggalkan hingar bingar masa muda dan indahnya hidup bersama orangtua maka selamat bergabung, kami siap merangkul ibu-ibu, sesuai prinsip di organisasi yaitu KEKELUARGAAN, saling menghargai dan menghormati antaristri senior maupun junior tanpa kesewenang-wenangan membawa jabatan suami.

Demikian, semoga bermanfaat. Kritik dan saran sangat saya nantikan.

Wassalammualaikum Wr.Wb.

Penyusun,

Ny. Virlani Arudyawan

Sejarah Persit

Persit (Persatuan Istri Prajurit) Kartika Chandra Kirana dalam pertumbuhannya tidak dapat dipisahkan dari perkembangan TNI AD. Kelahirannya didorong oleh kesadaran bela negara dan ingin ikut serta berjuang mendampingi suami sesuai dengan sifat kewanitaannya. Kegiatan dapur dan palang merah merupakan pilihannya dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Dengan didasari rasa senasib seperjuangan, maka di beberapa tempat istri prajurit TNI AD membentuk organisasi lokal dengan nama yang berbeda-beda. Diawali dengan dibentuknya Persatuan Kaum Ibu Tentara (PKIT) tanggal 3 April 1946 di Purwakarta Jawa Barat oleh Ny. Ratu Aminah istri dari Kolonel Hidayat Kepala Staf Komandemen yang kemudian beliau dikenal sebagai pendiri Persit dan tanggal 3 April dijadikan Hari Ulang Tahun Persit. Di Serang, Jawa Barat berdiri organisasi dengan nama Persatuan Istri Tentara (PIT) diketuai oleh Ny, Suhadi. Di Malang Jawa Timur organisasi serupa berdiri dengan ketuanya Ny. SR Lasmindar.

Untuk menghadapi tantangan perjuangan yang makin berat maka pada tanggal 15 Agustus 1946 PKIT mengadakan Konferensi di Garut, Jawa Barat guna mempersatukan organisasi-organisasi serupa yang ada di daerah-daerah. Dalam konferensi tersebut PKIT diubah namanya menjadi PIT (Persatuan Istri Tentara) atas usulan Ny. Hamara Efendi. Selanjutnya kegiatan Persit pad atanggal 17 Agustus 1946v semakin meningkat seiring dnegan perkembangan TNI AD. Untuk itu beberapa Kongres telah diselenggarakan untuk membahas kebijakan-kebijakan organisasi.

  • Kongres I tahun 1950 diadakan di Semarang dipimpin oleh Ny. AH Nasution yang menghasilkan ketetapan sbb:
    • Adanya pembagian tingkat kepengurusan (baca lebih lanjut di AD ART)
    • PIT diubah menjadi Persit (Persaudaraan Istri Tentara)
    • Penetapan tanggal 3 April sebagai HUT
    • Penetapan lambang Persit
  • Kongres II tahun 1951 di Bandung
  • Kongres III tahun 1953 di Denpasar
  • Kongres IV tahun 1955 di Yogyakarta
  • Kongres V tahun 1958 di Malang menyepakati Vandel Persit
  • Kongres VI tahun 1960 di Magelang
  • Kongres VII tahun 1963 di Jakarta
  • Kongres VIII tahun 1964 di Jakarta merupakan Kongres darurat karena dikhawatirkan masuknya unsur-unsur non Pancasila. Keputusan penting:
    • Persaudaraan Istri Tentara diubah menjadi Persatuan Istri Prajurit (Persit) Kartika Chandra Kirana
    • Pemimpin dijabat oleh istri pimpinan TNI AD secara fungsional.
  • Kongres IX tahun 1967 diperbarui lambang Persit hasil karya Mayor Caj. Tranggono
  • Kongres X tahun 1962 himne dan Mars ditetapkan diciptakan oleh A. Tampubolon.

Selanjutnya kongres dilakukan secara periodik, dan pada tahun 1974 Kongres diganti istilahnya menjadi Rapat Kerja (Raker). Raker kemudian diubah namanya menjadi Mupus (Musyawarah Pusat) yang diadakan 3 tahun sekali sejak tahun 1978. Sedangkan istilah Raker sendiri berada di bawah Mupus (buka AD ART halaman 14). Mupus terakhir di tahun 2015 dengan tajuk Mupus XI: dengan semangat kebersamaan Persit Kartika Chandra Kirana Meningkatkan Mutu Pendidikan, Kesejahteraan, dan Kepedulian Sosial bagi Keluarga Besar TNI AD.

Sambutan Ketua Umum dalam Mupus XI antara lain:

  • Perhatikan penggunaan atribut sesuai aturan, karena penggunaan yg tidak sesuai mengurangi citra organisasi
  • Bentengi diri dan keluarga dengan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME
  • Segala aktivitas Persit hendaknya diarahkan untuk peningkatan mutu pendidikan, kesejahteraan, dan kepedulian sosial bagi keluarga besar TNI AD
  • Di tengah kesibukan tetap utamakan pembinaan dan pendidikan anak-anak , para penerus bangsa.
  • Pesan yang lain lebih ditujukan kepada jajaran pimpinan. ^^

Lagu Persit

”MARS PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA”

By : A Tampubolon 4/4 , bersemangat dengan perasaan

Bersatulah Kartika Chandra Kirana

Membantu Memupuk Membangun

Mendorong Suami ke Medan Juang

Untuk Nusa Dan Bangsa

Berikanlah Semangat Kepada Tugasnya

Mempertahankan Indonesia

Hiduplah Kartika Chandra Kirana

Hiduplah Bersaudara

Untuk S’lama-lamanya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hymne PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA”

By : A Tampubolon, 4/4, Con Espressione

Marilah Kita Bersatu Berjuang

Persit Kartika Chandra Kirana

Mengawal Prajurit memupuk Tunas

Untuk Keluhuran Nusa Dan Bangsa

Pancasila Undang Undang Dasar Empat Lima

Dasar Negara Republik Indonesia

Bersama Membangun Cita-Cita Pahlawan

Tuhan Selalu Beserta Kita.

Sifat dan Watak Persit

Silakan lihat di buku AD ART halaman 4. ^^

Seragam Persit

Sesuai yang termaktub dalam AD ART Persit KCK, Persit memiliki seragam antara lain:

  1. PSK (Pakaian Seragam Kerja) digunakan dalam setiap kegiatan resmi Persit seperti arisan, paguyuban, kunjungan kerja, dll
  2. PSU (Pakaian Seragam Upacara) digunakan sebagai jas luaran PSK untuk menghadiri upacara, antara lain upacara serah terima jabatan, upacara HUT, dll
  3. PSR (Pakaian Seragam Resmi) digunakan 1 kali dalam setahun sebagai kebaya untuk memperingati HUT Persit tanggal 3 April.
  4. PSL (Pakaian Seragam Lapangan) digunakan dalam acara tinjau lapangan. Merupakan seragam yang mirip dengan PSK hanya saja memakai celana panjang (muslim dan nonmuslim)

Tanda Pengenal

Persit juga memiliki 2 tanda pengenal sebagai bukti diri:

  • KPI (Kartu Penunjukan Istri) yang berguna untuk mengurus tunjangan terutama bila suami sudah pensiun/meninggal. KPI diurus di Bamin.
  • KTA (Kartu Tanda Anggota)

Struktur Komando

Sebuah Batalyon dipimpin oleh seorang Komandan Batalyon (Danyon) dan diwakili oleh Wakil Komadan (Wadan) serta dibantu oleh Komandan Kompi (Danki) juga beberapa staf (perwira staf 1/intel beserta anggota, perwira staf 2/operasional beserta anggota, perwira staf 3/personalia beserta anggota dan perwira staf 4/logistik beserta anggota). Batalyon dibawah komando dari Korem (Komando Resimen Militer) dengan pemimpin yang disebut Danrem beserta jajarannya. Seharusnya Batalyon berada di bawah Brigade bukan satuan teritorial (kalau bingung tanyakan pada calon suami agar tidak buta amat dengan kedinasan) tetapi apabila Mako Brigade belum ada maka batalyon-batalyon masih di bawah Korem. Di atas korem ada Kodam yang dipimpin oleh Pangdam beserta jajaran. Di bawah Korem ada Kodim yang membawahi Koramil Koramil. Nah, itu semua adalah satuan satuan teritorial. Masih ada satuan tempur (batalyon dan derivatnya), satuan pendidikan/satdik mulai dari akmil, rindam, dikpassus dan lain2 yang banyak terkonsentrasi di Jawa Barat. Sedangkan Rindam ada di setiap Kodam. Di Rindam lah tentara non perwira diterima dan dididik. Kembali ke Kodam. Di Indonesia ada beberapa Kodam yang dipimpin langsung oleh KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat). KSAD sejajar dengan KASAU (Kepala Staf AU) dan KASAL (Kepala Staf AL) di bawah Panglima TNI. Disini saya tidak menjabarkan tentang satuan elite seperti Kopassus, KOSTRAD, dan sejenisnya. Ibu-ibu cukup tahu dengan kedinasan calon suami saja, namun apabila ingin tahu silakan bertanya pada calon suami sekalian menguji penguasaan kedinasan mereka.

Notes: : :

Pangkat dalam TNI AD juga diperhatikan ya Ibu-ibu agar tidak salah panggil perwira dengan Om terbalik dengan Bintara dan Tamtama yang dipanggil Bapak. Sebaliknya yaa….

Untuk tanda garis/balok/batang warna merah adalah lambang untuk Tamtama, semakin banyak balok maka pangkat semakin tinggi.

Untuk tanda bengkok seperti huruf V warna kuning adalah lambang bintara, semakin banyak bengkok semakin tinggi pangkat.

Untuk tanda pangkat di kerah leher adalah perwira, mulai dari balok 1 adalah Letda (letnan dua) hingga 3 balok yang disebut Kapten. Jangan salah nanti ada lambang bunga 1 atau bintang 1 tidak lebih rendah dari balok 3 yaa…. hehe… tanyakan lebih jelas ke calon suami masing-masing. Pesan saya, jangan sampai salah panggil dan salah sikap.

Struktur Organisasi Persit

Seperti disebutkan dalam hasil MUPUS maka pimpinan di Persit adalah istri pimpinan TNI AD fungsional. Tertinggi adalah Ketua Umum yang dijabat oleh istri KSAD dengan penasehat Ibu Panglima TNI, kemudian di daerah ada Ibu Pangdam sebagai ketua daerah, dst bisa dilihat lebih jelas di buku AD/ART.

Intinya, pada tiap tingkat kepengurusan selalu memiliki Seksi Organisasi, Seksi Ekonomi, Seksi Kebudayaan, Seksi Sosial, bendahara, dan sekretaris yang menggerakkan roda organisasi. Dan beberapa didampingi oleh keberadaan pengurus yayasan kartika jaya dan kartika asih (lebih lengkap tentang kepengurusan di Persit ini akan dijabarkan sendiri di lain topik).

Etika Persit

Menurut para ahli, etika tidak lain adalah ilmu (maka bisa dipelajari) yang mempelajari aturan perilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk sesuai dengan adat setempat.

TUJUAN MEMPELAJARI ETIKA

Untuk mendapatkan konsep yang sama mengenai penilaian baik dan buruk bagi semua manusia dalam ruang dan waktu tertentu.

PENGERTIAN BAIK

Sesuatu hal dikatakan baik bila ia mendatangkan rahmat, dan memberikan perasaan senang, atau bahagia (Sesuatu dikatakan baik bila ia dihargai secara positif)

PENGERTIAN BURUK

Segala yang tercela. Perbuatan buruk berarti perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku

Secara tidak sadar dalam kehidupan sehari hari kita sudah beretika. Etika bertetangga, berkeluarga, profesi, dan lain lain. Lalu bagaimana dengan etika persit? Etika persit sama saja dengan norma etika yg lain, mengedepankan azas sopan santun, saling menghormati dan menghargai terlebih karena di lingkungan Persit ada unsur senior junior (sebenarnya saya kurang sreg dengan sebutan senior junor… kan yang ada senioritas seperti itu dinasnya bukan kita… kita sebagai istri mengikuti saja unsur itu agar seimbang dan tujuannya menghargai suaminya). Kepada senior kita hendaknya menghormati, kepada junior menghargai. Jika etika ini diterapkan maka niscaya tidak ada kesenjangan dan kesewenang-wenangan diantara ibu-ibu persit. Saya pribadi sangat berharap organisasi tercinta ini ke depannya menjunjung tinggi Etika yg normatif dan berakhlak mulia. Makanya ibu-ibu sekalian jangan lelah dan bosan untuk belajar belajar dan belajar. Pelajaran ini tidak tertulis namun tersirat dalam sosialisasi kita. Semakin banyak kita bersosialisasi maka makin banyak kita bisa belajar tentang etika. Pergunakan etika yang baik dan tinggalkan yang tidak baik.
Etika dalam persit (juga dalam kehidupan sosial yang lain) ada bermacam macam, etika berbicara, etika bersikap, etika menulis baik dalam surat, BBM, SMS, WA, Facebook dan media sosial lainnya. Hendaknya kita menonjolkan keanggunan seorang wanita yang jarang mengeluh namun tangguh. Berikut beberapa contoh etika yg hendaknya diterapkan.

  1. Etika berbicara

Dalam berbicara kepada senior umumnya dan pada ketua khususnya harus menggunakan kata “Ijin ibu” sebagai pengganti universal atas kata2 permisi (nyuwun sewu dalam bahasa Jawa dll) yang berbeda beda tiap suku. Selanjutnya pergunakan bahasa baku.

Misal mau ijin tidak kegiatan maka bahasanya: Ijin Ibu, saya sedang sakit, mohon ijin untuk tidak ikut kegiatan, ijin petunjuk Ibu?

Misal ijin bertanya; ijin Ibu, menanyakan apakah kami sudah bisa memulai membuat prakarya, ijin petunjuk ibu? Atau Ijin Ibu, apakah ibu berkenan sholat dahulu?

Misal ijin saran: ijin ibu, menyarankan bagaimana kalau kantor persit diberi karpet, mohon petunjuk ibu?

Misal ijin memberitahu: ijin Ibu, ijin menyampaikan bahwasanya bidan desa tidak bisa mendampingi kita posyandu bulan depan, mohon petunjuk ibu apakah kita undur saja posyandunya?

Dan lain-lain…

  1. Etika bersikap

Banyak hal yang sering kita lupakan tentang bagaimana bersikap yang sopan dan santun. Gunakan kata hati untuk merasakan dan akal untuk memikirkan bagaimana seharusnya bersikap sehingga tidak menyakiti hati orang.
Contoh2:
– bila ada pertemuan semisal paguyuban atau arisan bulanan hendaknya datang sebelum ketua datang, bila tidak bisa hadir atau terlambat ada ijin, tidak berbicara sendiri dalam pertemuan resmi, bila akan keluar angkat tangan untuk memberi kode ijin keluar, dilarang memangku kaki (jigrang) bila duduk bersama senior,
– bila bertamu pilih waktu yang tidak mengganggu istirahat siang atau malam, kalau penting sekali usahakan sms atau telfon terlebih dahulu, jangan duduk sebelum tuan rumah duduk atau kita dipersilakan duduk apalagi mencicipi hidangan, duduk jangan angkat kaki, jangan memotong atau menyela jika senior sedang bicara untuk saran atau membantah

– bila kebetulan antri belanja atau beli sesuatu senior datang apabila kita tdk terburu buru maka persilakan senior duluan, bila terburu maka sampaikan maaf dengan kata : ijin Ibu mohon maaf sy ijin mendahului begitu jg saat pamit duluan.
– bila senior duduk di lantai jangan duduk di atas kecuali ada penyampaian maaf.
– jika ada yang mengantar makanan piring kembali diisi makanan
– dan masih banyak lagi etika pergaulan sehari hari yang wajib dipelajari.

Dengan begini bukan berarti senior semena mena pada junior, gunakan asas kekeluargaan dan menyayangi di dalam bergaul agar tenang dan nyaman hidup berorganisasi. Baik-baiklah dengan junior. Ingat, meski senior sangat baik sebagai junior jg harus tahu diri dan jaga sikap gunanya jg utk menghargai diri kita sendiri.

  1. Etika menulis

Dalam etika menulis tetap gunakan bahasa baku dan jelas bukan bahasa gaul meski ibu ketuanya gaul abiss.. hehe.. di media sosial saya tekankan untuk mengangkat citra positif dan baik persit bukan tukang ngeluh atau marah2. Alangkah lebih baik sarana media sosial utk menjalin hubungan baik, saling menasehati jangan sampai menimbulkan masalah gara2 status di media sosial. Bila berjualan perhatikan etika berjualan, jangan sampai sikut sana sikut sini dengan sesama persit. Dsb.

Etika Selanjutnyada adalah etika terhadap diri sendiri. Pantaskanlah diri sebagai pendamping suami sesuai tingkatan masing-masing.

Sekali lagi, belajar belajar dan belajar. Jadilah pembelajar seumur hidup, jadilah diri sendiri. Salam super!!

Penutup

Demikian sedikit yang bisa saya jabarkan secara tertulis, mohon maaf bila banyak kekuranagan karena ini semua sebatas pengetahuan saya. Saya harap ibu-ibu sekalian bisa belajar secara langsung pada senior-senior atau kakak-kakak yang ada di sini. Semoga buku kecil ini membantu dan bermanfaat. Selamat melanjutkan perjuangan. Semoga sukses dan lancar. Kelak, bisa menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah dan bisa terlibat aktif dalam organisai. Amiin YRA.

INGAT!! Istri yang baik belum tentu bisa menaikkan pangkat dan jabatan suami, tetapi istri yang dipandang tidak baik oleh atasan bisa mempengaruhi komando atas dalam menentukan jabatan suami.

Advertisements

(tanpa judul)

Ruangan ukuran kira-kira 2,5 x 3 meter itu terasa sesak dengan 3 orang yang bertugas ditambah seorang koass ilmu kesehatan masyarakat. Ruangan itu berfungsi sebagai apotek puskesmas. Ada 1 meja yang dibuka dari sebuah rak almari obat. Ini adalah satu-satunya rak yang terbuat dari kayu dan menjadi center karena letaknya di tengah ruangan memanjang ini. Ada jajaran rak lain yang berderet di dinding sepihak. Rapi dengan nama-nama obatnya di toples-toples penyimpan. Di atas rak kayu itu bertengger sebuah kipas angin yang sepertinya sudah lelah berputar menerpakan angin ke penduduk ruangan yang selalu mengeluh kepanasan dan seringkali dimatikan karena akan mengacaukan susunan kertas pembungkus puyer. Sungguh dilema. Di pojok dekat jendela tralis sebuah komputer dengan rangkaian monitor cembung dan CPU yang kutaksir masih prosesor rendah itu difungsikan tidak lebih sebagai sarana main game. Entah apa namanya di hampir setiap ruang memiliki game ini. Bahkan tiap penghuni ruang, terutama yang jarang bekerja macam laboratorium sudah fasih memainkan hingga tamat.

Di ruang itu ada seorang asisten apoteker yang sepantaran aku. Hal ini kuketahui justru setelah aku keluar dari puskesmas. Pertama kali melihatnya aku bergeming. Ingin lari setelah menatap lama dan melihat sikapnya. Tapi bukankah aku harus menghadapi?
“maaf mbak, ini resepnya puyer, gimana cara mbuatnya ya?” tanyaku polos yang memang tidak tahu menahu dengan puyer
dengan sigap dia ambil kertas resep yang kebetulan dibuat rekanku di Balai Pengobatan Umum. Dengan senyum sinis dia berkata,
“kok pada ngawur ya buat resepnya, mbokya minta diajari seniormu itu,”
yang ia maksud senior adalah dokter yang bertugas disana dan kebetulan satu almamater denganku. Beberapa detik kemudian ia memperbaiki hitungan yang salah. Kelebihan dosis lah kurang lah bahkan salah tulis obat. Beginilah nasib koass.

Aku menatapnya lama. Kuperhatikan dengan seksama cara dia bicara dan kesinisan yang ditampakkan. Kenapa dengannya? Dia sungguh berbeda dengan yang lain, penolakan tanpa alasan jelas lebih karena ia tidak menyukai kekurangannya. Aku tertarik dengannya. Aku merasa melihat diriku dahulu.

Memang hanya beberapa kali aku berjaga di apotek dan bertemu dengannya selama 3 minggu bertugas di puskesmas itu. Setiap kali bersamanya di tak henti berceloteh, bercerita pada rekan seruangannya. Ruangan ini penuh gosip. Aku hanya bisa tersenyum memperhatikan. Tidak jelas.

Waah, menemukan profilnya di situs jejaring sosial, facebook. Ragu-ragu aku mencoba mengomentari statusnya atau mengirim wall sekedar menyapa. Dari info yang tertulis kuketahui bahwa mbak satu ini memiliki tanggal lahir hampir sama denganku. Ya, aku baru tahu bahwa kami sepantaran bahkan lebih tua aku empat hari. Surprise. Kuajukan statement ini padanya. Komentar awalnya pun tidak begitu simpatik. Tapi hatiku berkata dia adalah sahabat yang baik. Lebih surprise lagi rumah tempat tinggal kami tidak begitu jauh. Tetangga desa. Ini salah satu bukti bahwa dunia itu sempit.

Waktu berselang. Entah bagaimana ceritanya kami bisa merencanakan main bareng. Berdua. Perjalanan pertama kami ke candi ratu Boko. Inginnya melihat sunrise dari sana, tapi karena telat berangkat jadi hanya bisa menikmati dari jalan. Subhanallah indahnya ketika melihat matahari menyembul dengan sinar emasnya dari balik bukit di ufuk timur. Kebetulan aku berada di boncengan dia. Selalu begitu nantinya. Ya, lagipula aku tidak begitu mahir mengendarai motor. Dari dulu aku lebih sering jadi angka ikut kalau bepergian. Jarang bawa kendaraan sendiri. Sepanjang perjalanan dia lebih banyak cerita. Cerita yang berkisar pada dua hal. Puskesmas beserta derivatnya disana, terutama seniorku yang santer digosipkan dengannya, dan kuliahnya di farmasi. Aku mendengarkan dengan sesekali tersenyum dan tertawa. Wah, memang jago sekali cerita secara lisan. Aku kesulitan merangkai kata secara lisan seperti dirinya. Lebih suka menjadi pendengar dan memberi pendapat. Namun jika dalam hal tulis menulis seperti ini mungkin aku lebih menguasai keadaan. Ya, mungkin.

Sebelum naik ke candi yang pagi itu masih sepi kami menikmati pemandangan dari semacam anjungan yang sengaja dibuat untuk melihat keindahan alam. Dari tempat itu kami bisa melihat Prambanan dari jauh, menyemutnya gedung-gedung pertokoan Jogjakarta dan bangunan lain di wilayah selatan. Jauh di balik rimbunan pohon di bukit ini. Tidak lama kami di sana pun di kompleks candi karena ada remaja tanggung yang membawa sebotol Vodka. Ah, kami takut kalau dia mabuk dan mengamuk. Kompleks percandian masih sepi jadi sebaiknya pergi. Kami pun segera turun untuk makan pagi mencari warung buka di sepanjang jalan pulang. Akupun harus segera kembali ke Magelang. Saat itu aku sedang bertugas di RSJ Magelang.

Perjalanan kami selanjutnya sudah di bulan puasa. Buka puasa bersama dua kali dan taraweh di masjid kampus serta syuhada. Indah. Malam itu indah. Semoga malaikat mengiringi kami untuk beribadah dan mencari ilmuMu. Amiin ya Rabb…
Meski hujan deras mengguyur kami berdua tetap bersemangat menunaikan taraweh di masjid syuhada. Alhamdulillah sudah sampai tempat saat hujan tiba-tiba seperti dituangkan dari langit. Mendung gelap yang sedari tadi menaungi ternyata tumpah ruah seketika menuangkan curah hujan yang cukup tinggi. Berbasah-basah mengambil air wudhu dan masuk ke ruang sholat.

“aku iri padamu,” sebuah statement yang membuatku sontak terkaget-kaget tak percaya. Bengong.
“aku iri pada orang yang bisa membuatku tremotivasi,” aku tersenyum
“kebetulan semuanya, yang membuatku iri, adalah dokter,” lanjutnya,
“aku iri karena tidak bisa seperti itu…,” ini membuatku sedikit ingin membelalakkan mata tanda tak suka.
“semoga kamu terus bisa memberi manfaat untuk orang-orang sekitarmu…” aku hanya bisa mengamini.
Jika iri yang dimaksud bisa membuatmu termotivasi, aku setuju dan aku memang selalu berharap hidupku bermanfaat. Tapi jika iri yang dimaksud cenderung ke penyakit hati maka kumohon untuk menghapus kata itu. Bagiku tiap orang punya kekurangan dan kelebihan. Sudah selayaknya kelebihan kita kedepankan dan kurangi kelemahan yang bisa menjatuhkan. Memiliki tokoh idola yang bisa menginspirasi sangat baik untuk memperbaiki kualitas hidup, begitupun sebaliknya.

Di mataku, kamu menarik, entah dengan cara apa. Chemistry, mungkin. Kamu bisa menaklukkan “dunia” ini, kamu harus bisa, dan aku yakin kamu bisa. Dengan caramu sendiri. Semoga persahabatan kita diridhoi Allah SWT.

Mendadak jadi Duta

Aku masih mengantuk saat turun di bandara Melbourne setelah terbang selama 5,5 jam dari Denpasar. Kulirik arlojiku yang sudah kusetel waktu setempat di pesawat tadi menunjukkan pukul 04.15 am. Meskipun sudah pagi jam biologisku masih empat jam di belakang. Seharusnya aku masih berada di tempat tidur. Kurapatkan jaket tebalku dan mengambil posisi sedekap seraya setengah mati melawan dingin juga kantuk.

Kubaca nama bandara besar ini dan mengambil foto untuk kenangan meski ada peringatan dilarang mengambil gambar, sedikit bandel, bolehlah. Aku masih tak percaya aku berada di sini, Australia. Bersama seorang rekanku dari kampus ungu (julukan untuk tempat kuliahku karena bangunannya berwarna ungu), kami mewakili Indonesia tercinta dalam lomba informatika tingkat internasional. Bisa berada disini saja aku sudah bersyukur. Aku hanya berharap bisa mempersembahkan yang terbaik, bisa memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Menang atau kalah itu urusan nanti.
“Berapa derajat Celcius kira-kira, Hen?” tanyaku pada Hendra sambil meniup udara. Sebuah keasyikan tersendiri melihat uap-uap putih muncul dari mulut.
“Minus satu,” kelakar Hendra sambil membuat tanda minus di keningnya.
“Serius aku, Hen, katanya musim panas tapi kok dingin sekali ya?” sungutku sambil mengucek hidungku yang sudah mulai menunjukkan gejala rhinitis-nya.
“Maaf, Roy… Musim panas di sini jangan kau samakan lah dengan musim kemarau di tanah air kita. Ini kan negara empat musim. Hmm.. kupikir ini masih sekitar 8-10 derajat Celcius. Tapi jangan khawatir, nanti siang pasti sudah mencapai 16 derajat.” jelas Hendra sambil menepuk pundakku, “Kau aman,” lanjutnya dengan sedikit menyeringai seolah mengasihaniku.

Kami keluar dari terminal 2 bandara dan mencari taksi warna kuning seperti yang sering kulihat di film-film barat. Ah, masih saja ini terasa seperti mimpi.
“Please, take us to Travelodge hotel,” kata temanku pada sopir taksi yang berhenti.
“Alright, sir. Where are you all come from? I’m sure you’re not citizen,”
“We are Indonesian, Sir,” jawabku dengan masih menahan kantuk.
“Oh… Bali, right?” Kami hanya serempak menjawab iya karena sedang malas membahas lebih lanjut bahwa Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia dan Indonesia bukan hanya Bali. Nanti bila ada yang bertanya lagi aku pasti akan menjelaskan panjang lebar, janjiku dalam hati.

Dalam perlombaan besok kami mengusung judul “Gamelan Multitouch” yaitu seni tradisional gamelan yang dimainkan secara multitouch di layar sentuh. Kami tahu, kebutuhan akan simulasi musik pada media semacam komputer semakin meningkat. Hal ini dikarenakan akses yang semakin jarang terhadap alat musik tradisional, utamanya gamelan yang memiliki banyak ragam dan sulit dijumpai. Beberapa software developer sudah mengeluarkan aplikasi ini untuk dimainkan di komputer tentunya menggunakan mouse atau keyboard. Namun hal itu tentunya dianggap kurang praktis. Dengan munculnya teknologi multitouch, yaitu pengoperasian layar sentuh dengan banyak sentuhan jari, tidak hanya satu jari seperti pendahulunya, kami berupaya mewujudkan kepraktisan tersebut. Para pengguna nantinya hanya akan menggunakan jari-jarinya untuk menekan layar dan memainkannya bersama. Adapun layar sentuh yang kami gunakan adalah hasil rakitan kami sendiri. Kami tergabung dalam komunitas teknologi DIY (Do It Yourself) multitouch yang menggunakan kombinasi kamera dan infra merah dalam merangkai alat. Seluruh kemampuan multitouch seperti menerjemahkan gerak, rotasi, merubah ukuran bahkan interaksi banyak pengguna bisa diaplikasikan dalam alat buatan kami ini, sehingga selain bisa menciptakan interaksi langsung juga terkesan lebih intuitif dan natural dibandingkan menggunakan aplikasi komputer.

Sesampainya di hotel kami segera memasuki kamar yang sudah dipesan oleh panitia untuk delegasi Indonesia. Beruntung kami menginap di hotel yang dekat dengan stasiun kota tertua, Flinder Street, sehingga akses ke pusat kota lebih cepat.
“Roy, kita jalan-jalan dulu, yuk! Sepertinya banyak hal yang perlu kita telusuri di sini,” ajak Hendra.
“Ayo aja, siapa takut!” sahutku bersemangat. Kami pun tertawa bersama.

Lelah tiada terasa ketika melihat keindahan sungai Yarra yang membelah kota. Bersih dan Indah. Kubayangkan andai sungai-sungai besar di Indonesia seperti ini pasti tidak kalah indah. Kami harus menyeberang jembatan di atas sungai Yarra yang membelah kota untuk menuju Flinder street. Melihatnya di malah hari pasti akan lebih indah lagi dengan pantulan sinar di sungai dan gemerlap lampu-lampu gedung yang menjulang di tepian sungai Yarra.

Kami berjalan dengan leluasa di trotoar. Pejalan kaki bagaikan raja disini. Bebas hambatan. Para penduduk setempat gemar berjalan kaki karena memang tempat tujuan mereka lebih nyaman ditempuh dengan jalan kaki serta karena udara dingin yang memungkinkan keringat tidak bercucuran. Kubayangkan para pejalan kaki di Malioboro pasti sudah mandi keringat bila berjalan dari toko ke toko. Jika beruntung, di pinggir jalan dapat kita temui atraksi seperti akrobat, pantomim, sulap, musik, dan lain-lain. Saat itu kami beruntung bisa melihat suguhan musik dan sulap.
“Hen, coba bayangkan yang dimainkan itu kesenian tradisional kita..” ucapku pada Hendra, temanku.
“Iya, pasti tidak kalah bagus ya, Roy!” seru Hendra menimpali.
“Kita bisa menampilkan tarian, alat musik tradisional, seni bela diri, dan masih banyak lagi. Tarian misalnya Jaranan dari Jawa Timur, alat musik tradisional macam sasando, angklung atau bahkan gamelan. Pasti diminati bila dibuat seatraktif mungkin.” sambungku panjang lebar.

Baru beberapa jam disini sudah merindukan Indonesia. Sungguh, bila berada di luar negeri begini jiwa nasionalisme kita pasti muncul dengan sendirinya, mencuat maha dahsyat. Padahal sebelumnya aku lebih rela menghabiskan waktu menikmati kehidupan modern, seperti main di mall, mengurung diri di kamar dengan PlayStation-ku, dan makan di restoran cepat saji.
“Hei, bisakah kita bergabung dengan seniman di tepi sana untuk mewujudkan impianmu itu?” usul Hendra bersemangat demi melihat seniman perkusi di tepi berlawanan dengan tempat kami jalan.
“Maksudmu kita menari? Yang benar saja kau!” sangsiku.
“Aku serius, kita bisa berkolaborasi dengan mereka dan kita mainkan musik utama dari laptopku. Kita menari jaipongan!” aku pun hanya bengong dan menurut ketika Hendra dengan sigap menarik lenganku mencari tempat menyeberang.

Dalam hal unjuk kebolehan Hendra yang berasal dari Jawa Barat ini memang lihai. Dia pernah belajar menari dan bermain alat musik tradisional. Baiklah, mungkin dalam pertunjukan dadakan yang Hendra maksud aku bisa belajar cepat dengan meniru gerakannya dalam menari.

Hendra menyampaikan maksud kami kepada para pemain perkusi, tentunya setelah berkenalan dan basa-basi sekedarnya. Beruntung mereka menyambutnya dengan antusias dan mengajak kami bergabung. Hendra pun membuka laptopnya dan memperdengarkan irama musik yang akan kami gunakan. Seniman perkusi itu dengan sigap menyelaraskan dengan perkusi milik mereka. Aku hanya bisa diam dan membatin, seandainya kami membawa kostum pasti akan tampak lebih indah.
“Pakai kacamata hitammu, Roy, kita beraksi!” Hendra tidak kurang akal,
“Pakai juga topi ini,” sambungnya sambil mengangsurkan sebentuk topi dari karton yang mendadak Ia beli di toko belakang kami berdiri. Ia pun membentuk dua sosok kuda dari karton tersebut.

Tanpa malu kami bergerak ke sana kemari seperti menunggang kuda. Ya, kami menari jaranan. Aku salut dengan kepiawaian Hendra dalam menelurkan ide-ide kreatifnya. Beberapa pejalan kaki berhenti dan melihat kolaborasi unik kami dengan pemain perkusi setempat. Bahkan, mereka turut meneriakkan “Hei..hei..”

Tidak puas dengan tari Jaranan, Hendra mengajakku menirunya menari jaipong. Beberapa penonton turut serta menari. Hatiku semakin gembira tak kepalang. Aku berjanji akan lebih mencintai Indonesia lagi. Tak lupa aku menyampaikan sedikit orasi, bahwa tari yang kami bawakan berasal dari Indonesia, negara tetangga Australia, tepatnya dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Aku bersyukur mereka terhibur. Tampak beberapa dari mereka adalah warga negara Indonesia yang menuntut ilmu atau bekerja di sini. Seakan bertemu saudara rasanya.

Kamj mencari tempat makan yang menjual nasi setelah kelelahan menari tadi. Makan roti meskipun berbungkus-bungkus belum terasa mengenyangkan perut kami yang terlalu terbiasa menyantap nasi sebagai hidangan utama. Kami sepakat akan menggunakan uang tip hasil menari tadi. Setelah bertanya-tanya kami mendapatkan salah satu rumah makan padang. Ya, masakan padang merupakan salah satu kuliner khas Padang, Sumatra Barat, Indonesia yang kini mulai mendunia. Masakan andalannya adalah daging rendang. Bersyukur bisa mendapatkan masakan lezat itu disini.

Selain masakan padang, aku juga suka makan nasi goreng, mie Aceh, mie ongklok dari Wonosobo, nasi uduk khas Jakarta, gudeg Jogja, pecel Jawa Timur, sate ayam Madura, ayam Betutu Bali, ayam Taliwang, gulai, dan masih banyak lagi. Aku memang pecinta kuliner, dan berwisata kuliner di Indonesia pasti tiada habisnya karena tiap daerah punya kekhasan masing-masing. Tanpa terasa air liurku menetes hanya dengan membayangkan semua.
Tak terasa hari beranjak siang. Australia sedang musim panas. Bisa dipastikan hari berakhir pukul 9 malam dengan dikumandangkannya adzan Isya. Kami bergegas mencari masjid untuk sholat Dhuhur. Tentunya tidak mudah menemukan masjid di sini, tidak seperti di negara sendiri yang memiliki hampir 1000 masjid, bahkan masjid pun bisa jadi obyek wisata religi saking beragamnya. Masjid Lebanis, begitu orang setempat menyebut masjid tempat kami melaksanakan sholat. Disebut demikian karena pemiliknya adalah orang Lebanon.

Aku memutuskan berdiam di masjid sementara Hendra yang sudah kelelahan kembali ke hotel sendirian. Di tengah lamunanku ada seseorang menegurku.
“Excuse me, mister, where are you come from?” seorang remaja tanggung warga setempat menyapaku.
“Oh, I’m from Indonesia,” jawabku simpatik.
“Is it Bali?” tanyanya serupa dengan pertanyaan sopir taksi.
Aku memperbaiki dudukku dan bersiap menjawab. Kali ini aku tidak malas menjelaskan. Semangat nasionalisme memaksaku menjelaskan bahwa Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia dan Indonesia bukan hanya Bali. Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau sehingga seolah terpisahkan. Namun justru itu yang menyebabkan Indonesia kaya, baik kaya keindahan alam maupun budaya. Akupun menjelaskan bahwa keindahan Indonesia tidak hanya bisa dinikmati di Bali, pulau seribu pura itu.

Untuk wisata pantai, misalnya, semua pesisir di tiap-tiap pulau di Indonesia memiliki pantai yang indah dan memiliki ciri khas masing-masing. Pantai selatan Jawa khas dengan ombaknya yang menggulung indah menghantam karang-karang terjal nan kokoh. Aku teringat perjalanan wisataku ke pantai Klayar Pacitan yang dijuluki seruling laut saking indahnya suara hasil dentuman ombak ke karang yang ditiup angin, merdu sekali. Sedangkan pantai utara ombak lebih landai dan menurutku kurang begitu menantang. Pantai-pantai di pesisir Sumatera sejenis dengan pantai utara Jawa. Beberapa pantai di Indonesia bagian timur memiliki keindahan coral laut dan aneka binatang di dalamnya. Airnya masih sangat jernih sehingga tembus pandang.

Untuk wisata alam, Indonesia memiliki hutan hujan tropis yang indah, taman safari di Bogor dan Prigen, air terjun, gua, pegunungan dan dataran tinggi yang sejuk, gunung berapi, danau, bahkan tempat rekreasi buatan banyak juga didapat misalkan museum, kebun binatang, taman bermain, wisata budaya seperti pertunjukan Ramayana Ballet di Prambanan, pertunjukan di monumen Garuda Wisnu Kencana Bali, situs candi serta peninggalan purbakala. Jelasku antusias yang ternyata didengarkan tidak hanya oleh bocah penanya tadi. Beberapa orang yang memilih tinggal di serambi masjid menemaniku sembari mendengarkan ceritaku tentang negeriku. Mereka antusias pula mendengarkan ceritaku. Akupun menambahkan selain kekayaan obyek wisata Indonesia juga memiliki kekayaan budaya adat suku karena kontur geografis Indonesia yang terpisah sehingga berkembanglah adat budaya sendiri-sendiri. Berbagai cerita rakyat pun banyak tercipta. Permainan tradisional macam dakon, cublak suweng, gobak sodor, dan masih banyak lagi merupakan permainan unik yang harus dilestarikan. Aku bahkan mempraktekkan cara bermain cublak suweng dan merekapun tersenyum heran bercampur kagum. Remaja tanggung tadi sepertinya tidak puas dengan penjelasanku. Ia bahkan ingin berkunjung sendiri ke Indonesia bersama teman-temannya. Akupun dengan semangat menyambut. Kutawarkan ke Yogyakarta, tempat tinggalku, bila mereka berkenan mampir. Mereka berjanji suatu saat akan berkunjung.

Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Saatnya Ashar. Kami bangkit dan sholat berjamaah bergabung dengan jamaah lain yang baru datang. Aku puas dengan penjelasanku tadi dan percaya aku akan melalui hari presentasi esok dengan baik.

Sang fajar sudah menampakkan diri. Ah, cepat sekali malam berlalu. Setengah hati aku beranjak dari tempat tidur dan mengajak Hendra bersiap. Pihak panitia menghubungi kami agar datang lebih awal untuk pengecekan alat yang baru sampai dari Indonesia. Maklum, alat kami cukup besar sehingga harus dikirim terpisah lewat jasa pengiriman paket.

Setelah pengecekan alat dan memastikan alat kami berfungsi dengan baik kami berlatih terlebih dahulu. Kebetulan kami mendapat urutan tampil nomer 2, setelah delegasi dari Sri Lanka. Baiklah, masih ada waktu untuk sholat Dhuha sembari menenangkan hati yang mulai dag dig dug.

Gamelan adalah salah satu alat seni di Indonesia yang berasal dari Jawa. Begitu ungkapku mengawali presentasi. Gamel artinya memukul atau menabuh. Gamelan biasa dimainkan untuk mengiringi tarian ataupun wayang. Selain di Jawa, alat musik ini dimainkan pula di Madura, Bali, dan Lombok. Musik Gamelan merupakan gabungan pengaruh seni luar negeri yang beraneka ragam. Kaitan not nada dari Cina, instrumen musik dari Asia Tenggara, drum band dan gerakan musik dari India, bowed string dari daerah Timur Tengah, bahkan gaya militer Eropa yang kita dengar pada musik tradisional Jawa dan Bali sekarang ini. Gamelan hanyalah salah satu dari sekian banyak alat musik khas di Indonesia. Kami pilih gamelan karena banyak ragam yang dimainkan sehingga penggunaan multitouch akan terasa manfaatnya. Ragam tersebut antara lain dengung, gong, kendang, kenong, dan saron.

Aku dan Hendra mempraktekkan cara memakainya pada meja multitouch kami yang sebenarnya kurang praktis karena berukuran 100 cm x 60 cm x 70 cm dengan memainkan lagu gambang suling. Lagu gambang suling bermakna sebagai ungkapan kekaguman terhadap instrumen suling yang ditiup dengan merdu dan membentuk harmonisasi dengan instrumen lain (kendang dan ketipung). Hadirin dan juri mengangguk-angguk dan bertepuk tangan meriah. Salah satu dewan juri yang ternyata melihat tingkah kami di jalanan kemarin siang menantang kami untuk menari lagi. Dengan canggung kami mencoba menari yang kami bisa, jaranan dan jaipongan. Hadirin tampak terhibur. Kami pun puas sudah mempersembahkan yang terbaik.

Acara berjalan hingga malam, kami bergabung dengan delegasi dari negara-negara lain. Aku kagum dengan hasil karya mereka yang jauh lebih bagus dan inovatif. Dari delegasi Malaysia mempersembahkan karya yang serupa namun mereka menggunakan layar dan alat yang lebih kecil dan mudah dibawa. Aku bahkan sudah bisa menebak siapa yang akan menang di kategori multitouch.

Dan benar saja, delegasi Malaysia berhasil menyabet juara. Andaikan alat kami lebih kecil mungkin kami bisa menang karena kami yakin konsep yang kami usung tiada bandingannya. Tapi kami terkejut saat nama tim kami, Violet Boys, dipanggil ke atas pentas. Ah, ternyata kami mendapat juara favorit karena berhasil menghibur hadirin dan dewan juri. Kami pun tersenyum bangga. Inilah puncak dari kemilau warna-warni Indonesia yang tak henti kami tebar setibanya kami di Melbourne hingga puncak acara. Perwakilan Kedutaan Besar Indonesia yang hadir memberi ucapan selamat dan mempersilakan kami mampir ke kantor sebelum pulang. Ya, kami membayangkan hal yang lebih besar dan indah dari ini. Aku cinta Indonesia.

Pantang Berdiam

Cendhika. Iseng kuketik nama itu di search engine yang terpampang di layar laptopku. Maka keluarlah berbagai link yang menghubungkan dengan kata kunci yang kuketik, mulai dari website pribadi, twitter, facebook, youtube, behance.net, blogspot, fotolia, instagram, iPhonegram, foursquare, flickr, 500px, dan masih banyak lagi. Aku tersenyum. Rasanya dalam tiap sosial media atau media publikasi lain namanya selalu ada. Eksis adalah satu kata yang mewakili keberadaan Cendhika.

Ia seorang fotografer, desainer web, desainer kaos, juga penulis. Intinya, Ia seorang enterpreneur. Karena bagiku Ia memiliki 4 kategori unsur sesuai paparan Peggy dan Charles bahwa seorang enterpreneur haruslah memiliki kemampuan, keberanian, keteguhan hati, dan kreativitas.

Dalam mengembangkan usaha fotografi, Ia mampu belajar menggunakan kamera DSLR (Digital Single Lense Reflect) milik paman yang saat itu baru mampu membeli namun belum bisa memakai. Ia berani memampang iklan di media seolah-olah Ia adalah fotografer handal dan teguh hati menjalankan usaha fotografi rintisannya itu hingga memiliki nama Overloop yang cukup dikenal di Yogyakarta dan sekitarnya. Akhirnya, Ia bisa membeli 2 kamera DSLR kepunyaan sendiri. Keseluruhan usahanya di bidang fotografi adalah kreativitas yang luar biasa menurutku karena Ia tidak memiliki dasar ilmu di bidang itu. Masih berhubungan dengan dunia fotografi, Ia mencoba mendesain kaos berbau fotografi bernama Tee Shot kemudian menyerahkan urusan sablon dan pemasaran pada temannya yang pandai dalam pemasaran. Dalam hal ini Ia mampu menciptakan peluang usaha untuk temannya.

Status desainer web atau istilah kerennya web designer juga tidak instan Ia dapatkan. Proses hunting lomba dan proyek melalui internet rajin Ia lakukan. Dari proyek gratisan hingga ratusan bahkan ribuan dollar. Ya, kreativitas dan keteguhannya dalam bidang ini membuahkan hasil yang membanggakan. Ia mendapatkan pekerjaan tetap sebagai desainer web sebuah perusahaan di Amerika. Sudah dapat dibayangkan berapa Dollar yang Ia kantongi per minggunya. Belum lagi proyek freelance yang masih kerap Ia lakukan bila pekerjaan utama sudah Ia selesaikan.

Sebagai penulis, Ia adalah penulis amatir. Tulisannya di blog pribadi berisi paparan kegiatan fotografi mulai dari teknik membidik hingga proses suntingnya dan deretan perjalanan hunting serta perlombaan yang pernah Ia lakoni. Selain itu, blog dengan ribuan pengunjung itu juga kerap Ia isi dengan tulisan ceramah agama yang Ia hadiri. Ternyata Cendhika juga religius.

Melihat kemahirannya dalam berbagai bidang rasanya ingin aku menelusuri kembali masa lalu dan masa kecilnya. Adakah hubungan antara kesuksesannya sekarang dengan tingkah polah masa kecilnya?

***

Cendhika lahir 26 tahun yang lalu, lewat 1 bulan dari perkiraan. Kiranya kuasa Allah menepatkannya pada hari pendidikan nasional dan tetap dalam kondisi sehat wal afiat. Ia terlahir dari pasangan suami istri yang keduanya guru. Wajar bila namanya bernafaskan pendidikan. Ya, Cendhika yang berarti pintar. Aku yakin orangtuanya sama sekali tidak menyangka anak ini akan menjadi pengusaha, bukan guru atau akademisi seperti mereka.

 

Mengalah untuk Kakak

Langkah kakinya yang masih ragu memaksa setiap orang mengawasinya. Dengan khas anak baru belajar berjalan yang antusias dan senyum menghias wajahnya, Ia mendorong kursi ke segala arah semampunya. Si kakak yang usil pun dengan gemas ikut mendorong kursi itu hingga si adik terpental dan membentur pintu. Sontak tangis memecah keheningan rumah besar yang hanya dihuni 2 orang wanita dewasa, 1 orang gadis cilik dan 1 orang bayi lelaki itu. Anehnya yang menangis adalah si kakak yang merasa bersalah. Si adik hanya mengelus-elus dahinya yang benjol sembari meringis dan terus mendorong kursi. Langkahnya justru terhenti karena tangis si kakak dan Ia pun ikut menangis. Kedua wanita dewasa yang terdiri dari ibu kedua anak dan seorang pembantu tergopoh menenangkan keduanya. Tak berapa lama si adik diam dan justru mencium si kakak. Lucu dan menggemaskan. Mereka berdua pun bermain bersama kembali. Si adik mengalah untuk tidak menangis.

***

Ibu dan kedua kakak beradik Cendhika tinggal di rumah hanya ditemani seorang pembantu sementara Bapak bekerja jauh di luar kota. Dulu, seorang guru baru harus bersedia ditempatkan dimanapun. Itulah sebabnya keluarga kecil ini harus rela terpisah hingga beberapa tahun.

Tempat tidur di rumah itu tidak cukup besar untuk ibu dan 2 orang anak balita aktif. Si kakak yang manja tidak mau berpisah dari pelukan ibunya. Tanpa ingin membuat pertengkaran, si ibu bermaksud tidur di tengah dan berlaku adil bagi kedua anaknya. Namun si kakak ngambek karena merasa diduakan. Tak diduga dengan polosnya si adik berkata, “Aku tidur di kaki saja, ya…”, yang maksudnya adalah tidur melintang tegak lurus dengan kaki ibu dan kakak. Tangis haru sang ibu membuncah dan segera memeluk kedua buah hatinya. Dan begitulah adanya, si adik mengalah kembali untuk si kakak.

***

Lazimnya, seorang Ibu membeli baju baru untuk buah hatinya. Satu, dua, tiga, dan seterusnya tergantung jumlah anak. Namun ada pula masanya ibu hanya teringat pada anak pertama dan berpikir baju si kakak ada yang masih bagus dan bisa dikenakan si adik. Praktis dan hemat. Itu sering terjadi pada kakak beradik Cendhika. Ibu pulang dari belanja dan memberikan baju baru untuk kakak yang bersorak gembira. Si adik pun berucap polos, “Nanti adik pakai baju kakak yang sudah kekecilan ya, Bu.” Tanpa ba bi bu sang ibu memeluk dan mencium si adik seraya minta maaf. Tanggapan adik justru di luar dugaan, “Adik mau kok pakai baju bekas kakak. Bagus”, seraya tersenyum.

***

Adik mengalah sampai sudah dewasa. Bahkan untuk tempat kuliah Ia rela dekat dengan si kakak yang sedang sakit dan setia mengantar-jemput berobat padahal jarak tempat kuliahnya, rumah singgah, dan tempat kuliah si kakak sama sekali tidak bisa dibilang dekat. Butuh waktu 2 jam untuknya tiap pagi dan sore hari menjalani aktivitas itu. Tapi Ia tidak pernah mengeluh. Sama sekali tidak. Ia pun dengan sukarela melakukan itu semua. Prinsipnya Ia mengalah bukan untuk berkorban tapi untuk berani menjadi pemenang atas egonya sendiri. Hal ini sangat dibutuhkan oleh enterpreneur.

Enaknya ngapain gini ini?

Liburan telah tiba, Cendhika kecil bukannya senang, namun malah susah. Anak ini bukannya tidak bisa diam. Ia hanya tidak bisa tidak melakukan apa-apa. Setiap kehabisan ide apa yang harus Ia lakukan maka Ia akan bertanya dengan menggemaskan sembari melipat tangannya dan menghempaskan diri di kursi, “Enaknya ngapain gini ini?” Kalimat ini menjadi “trade mark” untuknya hingga saat ini dengan pengubahan kosa kata karena perbendaharaan kata yang bertambah.

Setiap pertanyaan itu terlontar dari mulut mungilnya, sang Ibu terpaksa memutar otak untuk memberinya kesibukan. Saat Ia berusia 2-3 tahun maka kesibukan yang Ibu beri mulai dari kegiatan memukul kaleng bekas, menyusun balok, bermain peran, naik mobil-mobilan, dan membelikan mobil plastik kecil beraneka ragam yang bisa berjalan. Karena kecil mobil-mobil itu diberi nama “si unthul”. Ibu juga seringkali mengajak Cendhika ke toko buku untuk membeli buku-buku cerita bergambar untuk Ia pilih dan Ibu bacakan ceritanya. Itu semua dilakukan bila Ia bosan bermain dengan si kakak atau bila si kakak tidak mau mengajak adiknya bermain.

Bukan Cendhika bila Ia tidak cepat bosan. Dalam sekejap Ia bosan bermain yang monoton. Akhirnya, saat berusia 3-5 tahun ibu memiliki ide untuk memberinya alat menggambar. Dengan crayon atau pensil warna dan media kertas Ia betah sekali duduk diam. Dari situ, terlihat bahwa Ia mampu bahkan pandai menggambar. Seiring berjalannya usia Ia pun bereksplorasi dalam penggunaan alat gambar. Dari pensil warna, crayon, spidol, cat air, cat minyak, cat dinding, pylok pernah Ia coba. Dari menggambar di dinding kamar, kertas, kaos, kaca sampai dengan tembok fasilitas umum Ia gunakan untuk menggambar grafiti atau mural.

Ketika Ia bosan mencorat-coret, Ia kembali bertanya gemas pada ibu, dan ibu pun selalu memberi solusi kreatif. Salah satunya adalah merekam suara dalam kaset. Jaman itu belum ada Hand Phone atau alat MP3 canggih untuk merekam. Dengan tape recorder dan kaset pita kakak beradik Cendhika beraksi. Mereka merekam cerita-cerita imajinatif yang lucu dan tentunya konyol. Masih teringat cerita lucu yang Cendhika pernah rekam di kaset. Sebuah cerita imajinatifnya tentang dinosaurus dan tentunya dengan gaya “pelo”-nya,

“Pada suatu hali ada dinosaulus blontosaulus dan tilanosaulus. Mereka belpelang…” tanpa mengalihkan mikrofon Ia bertanya pada bapak, “Tilanosaulus sama blontosaulus menangan mana?”

“Tyranosaurus, dek…” jawab Bapak.

“Ya enggak… kan besalan blontosaulus…. aeeekk (sendawa keras),” yang mendengar pun tertawa terbahak-bahak.

Lapo guyu[1]? Menangan Blontosaulus ya…” pungkasnya dan segera menyerahkan mikrofon pada kakak untuk ganti bercerita dan Ia pun pergi mencari permainan yang lain.

Ya, Cendhika memiliki pola pikir yang anti mainstream dan selalu menanggapi segala sesuatu bahkan kemustahilan pun menjadi hal positif dan solutif. Ia memilih jalan cerita Brontosaurus si herbivora (pemakan tumbuhan) yang menang karena badannya besar meski sebenarnya Tyranosaurus alias T Rex yang menurut sejarah adalah hewan karnivora (pemakan daging). Menang atau kalah bukanlah sebuah keniscayaan. Bisa jadi dalam pikiran si kecil Cendhika Brontosaurus menang karena ada pohon besar yang bisa ia tumbangkan dan tepat mengenai kepala T Rex atau T Rex jatuh ke jurang dan akhirnya mati. Siapa tahu, bukan?

Setelah bosan dengan cerita, Ia ingin bermain sepeda. Alih-alih hanya belajar mengendarainya, Cendhika kecil ikut-ikut memegang alat bengkel untuk memodifikasi sepeda BMX yang Bapak belikan untuknya. Hal pertama yang Ia lakukan adalah mengecat sepedanya dengan cat Chroom (dulu populer dengan istilah krum-krum-an). Ini terjadi saat Ia duduk di kelas 4 SD. Sepeda hasil kreasinya itu pun nantinya Ia jual dan Ia memakai sepeda bekas kakak yang sudah Ia modifikasi sendiri.

Ia sempat juga bereksperimen dengan magnet dan menarik mainan kapal “othok[2]” miliknya setelah diajari Bapak tentang kegunaan magnet. Ia pun mencoba kapal kertas yang ditarik magnet juga. Seru sekali Ia bermain dengan magnet.

Pernah juga Cendhika kecil ikut-ikutan kakak-nya berlenggak-lenggok ikut fashion show sampai jalannya bahkan bicaranya seperti perempuan. Bahkan Ia punya nama keren saat bermain peran dengan kakaknya. Namanya “Rita”. Entah dari mana dia dapat dan mengapa memilih nama itu.

Bila Ia terlampau lelah dengan kegiatan hariannya, Ia mencari kenyamanan dengan mengatur posisi tidur menempel ke dinding agar badannya dingin. Ketika ditanya apa yang Ia lakukan maka jawabnya, “Mengambil tenaga dingin,” sembari menyelipkan sebagian tubuh di bawah kasur dan menempelkan sebagian tubuh ke dinding. Ada ada saja.

Saat Ia lebih besar lagi Ia mulai belajar bermain alat musik. Itu terjadi ketika pertanyaan “Apa lagi yang bisa kulakukan?” memenuhi otak lateral-nya. Kusebut Ia memiliki kelebihan di kemampuan lateral otak kanan karena saking kreatifnya. Mulai dari bermain gitar, bass, drum, dan piano. Hanya satu kelemahannya di bidang musik. Suaranya tidak begitu bagus. Mungkin karena Ia “pelo”, ya? Walaupun begitu Ia tidak pernah menyerah untuk belajar mengucapkan huruf “r” sampai akhirnya “pelo”-nya sudah tidak begitu kentara.

Saking tidak bisa diamnya Ia juga aktif di kegiatan organisasi sejak duduk di Sekolah Dasar. Mulai dari Pramuka, PMR, ekstra musik, dan OSIS. Begitu banyaknya kegiatan sampai Ia sama sekali lupa untuk belajar. Anehnya Ia selalu santai dan nilai bagus selalu Ia kantongi. Bukannya belajar saat akan ujian, Ia kerapkali berucap pada Ibu atau kakaknya kurang lebih demikian, “Daripada Aku diam belajar, lebih baik bacakan untukku apa yang harus aku pelajari dan aku akan mengerjakan ini,” sembari menunjuk apa yang akan Ia lakukan.

Enterpreneur Kecil

Bakat Cendhika menjadi seorang enterpreneur sudah tampak sejak Ia masih kecil. Secara sederhana, entrepreneur adalah orang yang menciptakan pekerjaan yang berguna bagi diri sendiri. Entrepreneur berasal dari kata entrependere (bahasa Perancis) yang artinya sebuah usaha yang berani dan penuh resiko atau sulit.

Entrepreneur diartikan pula sebagai seseorang dengan kecakapan mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas. Definisi mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas menurut Ciputra terdapat tiga makna utama. Pertama adalah terjadinya sebuah perubahan kreatif yang berarti dari kotoran dan rongsokan yang tidak berharga dan dibuang orang menjadi sesuatu yang memiliki nilai yang lebih besar. Kedua hasil akhir dari perubahan memiliki nilai komersial, bukan hanya dianggap sebagai karya yang hebat namun juga memiliki nilai pasar yang tinggi. Ketiga untuk mendapatkan emas seorang entrepreneur bisa memulainya dari kotoran dan rongsokan yang tidak bernilai, dengan kata lain dengan modal nol[3].

Cendhika suka sekali mengotak-atik barang bekas sejak kecil. Setelah mencoba berkesperimen dengan kapal “othok” dan magnet, Ia memakai magnet bekas yang sudah patah milik Bapak meletakkan bagian kecil di perahu kertas dan menggunakan magnet patahan yang lebih besar untuk menarik perahu kertas buatannya. Hal ini Ia jadikan tontonan untuk teman-temannya yang pastinya belum paham tentang magnet. Ia buat sebagai aksi sulapan dan tentunya bukan hal gratis. Ini adalah salah satu contoh aksi enterpreneurship-nya penjelasan dari definisi pertama.

Hobinya menggambar membawanya pada ide untuk menjual hasil kreasinya. Ia suka menggambar wajah dan atau sesuai permintaan si pembeli gambar pada media kertas gambar. Ia jual seratus hingga lima ratus rupiah pada kawan-kawannya. Sungguh ide yang unik. Dalam hal ini Ia mengambil makna kedua dari definisi enterpreneur menurut Ciputra.

Selain menjual hasil karyanya Ia juga memiliki ide kreatif untuk menyewakan beberapa buku cerita koleksinya yang sudah bosan Ia baca bahkan menyewakan buku-buku koleksi Bapak dan kakak. Bukannya dipinjamkan saja secara percuma, Ia meminta uang sewa Rp. 25,00 per buku per tiga hari. Terinspirasi dari menyewa buku di perpustakaan ketika Ia sudah masuk SD (Sekolah Dasar). Ia mengambil makna enterpreneur dari definisi ketiga.

Saat Ia bisa membuat hasil karya lain seperti gelang dari tali yang dijalin, Ia pun menjualnya. Begitu pula dengan sablon kaos yang Ia lakukan dengan cat kayu, bukan cat khusus sablon kaos. Kreativitas besar seorang anak kecil. Tanpa Ia sadari kesemuanya membawanya pada mimpi dan pekerjaan masa depan yang besar dan menjanjikan.

Ketika Ia sudah bergelut di dunia Organisasi, Ia mulai berpikir untuk mencari sponsor-sponsor bila Ia akan mengadakan perhelatan. Di kota kecil saat itu belum populer ada sponsor. Kegiatan selalu diadakan kecil-kecilan dan apa adanya. Namun Ia tidak ingin demikian. Meski mendapat pertentangan dari pembinanya, Ia bersama teman-temannya membuat proposal dan bergerilya sampai ibu kota propinsi dan bisa mendapat sponsor dari perusahaan-perusahaan disana bahkan dari operator seluler dengan jaringan terluas di Indonesia. Ia menjadi pembuka jalan bagi adik-adiknya.

Menggapai Satu per Satu Mimpi

Ketika masih kecil anak-anak pasti ditanya apa cita-citanya. Lalu apakah cita-cita dan mimpi Cendhika? Laiknya anak-anak yang lain, Ia akan menjawab menjadi pilot, menjadi angkatan laut, pelukis, dan akhirnya Ia bercita-cita ingin bekerja santai tapi bayaran tinggi.

Aku tak pernah menyangka bahwa setiap cita-cita dan mimpinya akan Ia tuntaskan satu per satu. Dengan kata lain setiap apa yang Ia inginkan selalu di- dan ter-penuhi. Seolah alam raya turut meng-amin-i apa maunya.

Diawali dari demam yang selalu muncul bila Ia ingin sesuatu dan keinginan tidak terpenuhi, orang terdekatnya tidak pernah bisa tidak menuruti maunya. Bahkan Ia sendiri tak kuasa untuk tidak menuruti gerak hatinya. Herannya keinginannya selalu aneh alias di luar hal umum. Saat Ia ingin sepatu yang ada lampunya dan bisa menyala saat berjalan, misalnya, Ia demam dan menggigil sampai mengigau. Padahal hari itu adalah hari Raya Idul Fitri sehingga sudah dapat dipastikan toko-toko sepatu tutup. Akhirnya, Ia harus rela menunggu esok hari dan saat sepatu sudah Ia pakai demamnya sama sekali reda. Apakah ini yang disebut fever of unknown origin (demam tanpa sebab jelas)?

Cendhika ingin sepeda, Cendhika ingin punya gitar di usia-nya yang masih belia, Cendhika ingin ke luar negeri, Cendhika ingin pekerjaan yang santai tapi bayaran tinggi, Cendhika ingin punya kamera profesional sendiri, Cendhika ingin punya komputer canggih, Cendhika ingin punya mobil, bahkan sekarang Cendhika ingin punya rumah sendiri. Semuanya terwujud!

Ia selalu memikirkan apa yang Ia ingini, meyakini Ia akan bisa memenuhi. Kekuatan pikiran sangatlah mempengaruhi jiwa dan raganya untuk bergerak memenuhi semua dan ternyata itu semua sudah Ia lakukan sejak Ia kecil. Setelah aku belajar Ilmu Kedokteran aku mengerti bahwa gerak fikir yang terlalu tinggi akan mempengaruhi metabolisme tubuh untuk meningkat pula dan jadilah suhu tubuh meningkat. Demam!

Imbang Dunia-Akhirat

Selain getol membuka usaha dan mencari uang, Cendhika tidak pernah melupakan akhiratnya. Ia belajar mengaji kitab suci dan menghadiri ceramah-ceramah agama. Ia pun tidak pernah melupakan sedekah.

Kegemarannya sedekah sudah ada sejak Ia kecil. Pada orang yang mampu Ia berusaha bisa mendapatkan sepeser uang dengan “bisnis”-nya dan pada orang yang tidak mampu Ia gemar mengulungkan sebagian Rupiah yang Ia kumpulkan. Setiap ada pengemis lewat, Ia paling rajin memberi. Dulu ada tuna wisma yang amat kotor, baunya pun sudah bisa tercium dari beberapa meter. Tiap bau itu sudah bisa menyengat hidung pasti orang-orang sekitar tahu Ia akan lewat dan segera pergi menutup pintu. Cendhika pun tak ketinggalan berlari ke dalam rumah. Kupikir Ia takut tapi ternyata Ia mencari recehan dan segera berlari menyongsongnya, bahkan jajanan-nya Ia berikan untuk si kakek tua berbau khas itu. Tiap hari Ia tahu kakek itu lewat, reaksi sama Ia tunjukkan. Subhanallah.

Saat ini, Ia pasti menyisihkan keping-keping Dollar-nya yang tidak sedikit untuk membantu orang-orang kurang mampu mulai dari panti asuhan sampai korban bencana. Ia pun membuka peluang usaha untuk rekan-rekan yang membutuhkan. Prinsipnya, sedekah akan membuka pintu rejeki. Itu tidak bisa dielakkan lagi.

Kataku tentangmu

Tidak bisa diamnya anak-anak adalah baik. Karena tidak bisa diam bisa jadi pertanda seorang anak memiliki letupan ide dan energi yang berlebih untuk disalurkan serta potensi untuk dikeluarkan.

Tidak bisa diamnya remaja dan dewasa juga belum tentu salah. Karena orang dengan kreativitas tinggi dan tentunya lateralitas otak kanan pastinya tidak bisa hanya diam dan duduk manis. Mereka harus bergerak untuk melampiaskan segala kecamuk di kepala. Ya, apalagi kalau bukan hasil pemikiran mereka.

Dalam perjalanan hidupnya, Cendhika mampu mengasah semua potensi yang ada dalam dirinya sedari Ia kecil. Dulu, aku iri padanya. Aku sangat iri pada kelebihan-kelebihannya. Seringkali aku protes pada Tuhan kenapa aku tidak bisa sehebat dia. Namun sekarang aku justru sangat bangga padanya. Aku bangga bisa menjadi saksi hidupnya. Aku bangga menjadi kakaknya sebagaimana Ia bangga menjadi adikku meski aku tak bisa sehebat dia. Aku bangga padamu, Adikku. Teruslah berkarya dan menginspirasi sesama.

[1] Bahasa Jawa, artinya kenapa tertawa?

[2] Bahasa Jawa, untuk sebuah kapal mainan dari kaleng bekas yang diberi tenaga dari minyak tanah yang disulut api dan bunyinya othok-othok. Sekarang kapal mainan ini tinggal sejarah.

[3] http://www.ciputraentrepreneurship.com/entrepreneurship/mendalami-arti-entrepreneur

Tekdung (la..la..la)

Kok belum hamil juga si A aja belum nikah udah bisa hamil (oh..noo…)? Ngapain ditunda tunda keburu tua? (Gue udah tua keleess)

“Elu pikir kayak niup balon gitu bisa dicepet2in? Enak aje… ” (sebel juga ye sama orang-orang yang hobinya nanya ga pake mikir perasaan yang ditanya).

Anak adalah titipan Illahi bukan semata-mata hasil konsepsi. Bikin anak nggak semudah bikin martabak sis…  ! sini gue jelasin, simak baek-baek. Yang kurang jelas angkat tangan yee…!

       ♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡

–Anak itu rezeki dari Allah–

Iya… Allah telah menjamin rezeki tiap makhlukNya dan semua telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh, termasuk ketetapan terhadap harta, istri, anak, termasuk hal-hal kecil lainnya. Dan tiap rezeki yang kita punya akan dihisab kelak di akhirat. Harta…Sudahkah dikeluarkan zakat terhadapnya? Anak… Anak adalah salah satu rezeki yang dikaruniakan Allah kepada kita yang kelak juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Begitu juga dengan istri2 para suami… (intinya kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita pimpin seperti tertera pada hadits di bawah)

“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.”(Muttafaqun alaihi)

Maka.. Allah sudah pasti sangat sayang kepada kita jika kita tidak kunjung mendapat rezeki yang kita harap. Loh kok bisa? Namanya sayang bukannya dikasih apa yang dimau? Allah Maha Tahu… manatau ternyata kita bila diberi rezeki sesuai harapan kita malah bisa menjauh dari Nya (sibuk mengurusi rezeki tersebut, misal kalau jadi orang kaya sibuk mengurusi sampai lupa waktu, kalau punya anak sibuk sama anak sampai menafikkan waktu-waktu ibadah, dst) atau misal diberi justru rezeki kita tersebut menyesatkan kita masuk ke neraka (misal, punya anak ee malah durhaka, punya pasangan hidup ee sukanya maksiat dst). Ingat!! Apa yang baik menurut kita belum tentu baik di hadapan Allah. Keep positive thinking sama Allah.

Bisa jadi juga kita ada salah yang bertumpuk yang kita tidak sadari sehingga Allah menjauhkan rezeki dari kita. Maka, tiada salahnya untuk kita memohon ampun, beristighfar padaNya. Konsisten pula sholat Dhuha.

“Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai “ (Nuh (71) :10-12). Subhanallah.

–Kehamilan menurut medis–

Hamil itu hanya akan bisa dialami jika ada pasangan dan sehat. Nah lho… si A belum punya pasangan kok malah sudah hamil yaa? Aku yang nikah udah bertahun-tahun kok malah belum dikasih yaa? Wallahua’lam. Bisa jadi kehamilan itu hukuman dari Allah yang harus ia tanggung karena berbuat kelewat batas. Tentunya lebih ke hukuman moral ya… dan yang belum hamil bisa jadi itu ujian terhadap iman.

Kedua belah pihak juga diharuskan sehat. Baik fisik maupun mental.

1. Fisik haruslah bugar (ada orang yang membatasi olahraga karena program hamil, aah ngga bener juga… semakin banyak olahraga justru peredaran darah semakin lancar dan kita jadi bugar maka rahim pun akan semakin kuat). Disini juga termasuk tidak terlalu gemuk, tidak terlalu kurus. Karena terlalu gemuk dan terlalu kurus berhubungan dengan hormon. Kehamilan butuh keseimbangan hormon estrogen dan progesteron. Kalau lebih salah satu ga bisa hamil tuh. Tidak kecapean termasuk bugar juga loh…

2. Tidak ada penyakit dalam organ reproduksi. Misal kista pada indung telur,  mioma pada rahim. Dengan adanya penyakit tentu akan menyulitkan adanya konsepsi. Pada kista misalnya, sel telurnya aja tidak bisa masuk ke rahim karena terbendung bagaimana bisa hamil? Sedangkan pada mioma rahimnya dipenuhi benjol2 mana bisa melekat hasil konsepsi (pertemuan sperma dengan sel telur). Kalau dari segi pria: sperma nya kurang banyak diproduksi, mana bisa menghamili? Kurang kentalnya sperma bisa juga karena merokok (pada sebagian orang,  coba deh stop dulu rokoknya udah jelas juga di bungkusnya merokok menyebabkan IMPOTENSI. Selain tidak merokok aktif sebisanya hindari jadi perokok pasif yang suka dikebul kebulin asap sama perokok). Oleh sebab itu check up kehamilan diperlukan saat sudah menikah dan tinggal bersama selama 1 tahun kok belum juga hamil. Sssttt jangan check up ke dukun yee ntar dikasi pula anak jin… naudzubillah.

3. Tepat dilakukan hubungan saat masa subur. Masa subur artinya masa saat ovulasi (si sel telur lagi jalan ke rahim). Dan masanya hanya 2 hari. Cara ngitungnya: untuk yang periode mens nya teratur 28 hari masa subur tepat di pertengahan (hari ke 14) plus minus 1 hari sebelum dan sesudah. Kalau siklus selain 28 hari silakan hubungi saya secara personal untuk konsultasi (ee ciyeeh) bukan apa2 ribet njelasinnya. Hehe… Terus jangan lakukan (maaf) hubungan tiap hari ya… nanti kualitas sperma jadi jelek. Paling tidak 2 hari sekali, seminggu 2-3 kali saja jangan sehari 3 kali… ups… banyak orang salah kaprah semakin sering maka kemungkinan makin besar padahal sebaliknya. Makanya itu yang “kecelakaan” bisa hamil karena ngelakuinnya pas banget sama ovulasi dan pastinya kecelakaan ga tiap hari kan? Hee…

4. Gizi tercukupi

Untuk laki-laki banyak makan daging, telur sama brokoli hijau dan buah-buahan yang mengandung vit C (antioksidan). Wanita banyak makan tauge, sayur hijau, buah-buahan, dll produk nabati. Kalau perlu wanita minum susu prakehamilan.

5. Tidak stress

Semakin kita berfikir kenapa ga hamil juga aku/istriku maka kita akan stress (tertekan). Orang stress stabilitas hormon terganggu makanya susah hamil. Islam sudah mengajarkan kita untuk sabar (sampai kapaaannn? Loh namanya sabar kan tidak ada batasnya…) juga tawakkal (pasrah akan ketetapanNya) tentunya setelah berusaha dan berdoa. Coba deh rileks kan pikiran lagi bersama pasangan dengan honey moon kedua selama masa subur. Kalau masih stress juga sama omongan orang perbanyak sholat Tahajud… banyak istighfar.

Seperti anak kecil yang cari perhatian orang tuanya kalau minta sesuatu. Kita boleh dong cari perhatian sama Allah kalau minta sesuatu. Gimana caranya? Ya dekati Allah. Kan Allah lebih dekat dari diri kita sendiri. Gimana cara dekati Allah? Ya beribadah dong… beramal, bersedekah. Lakukan apapun sebisa kita. Tapi hati-hati sama niat ya. Lillahi ta ala pokoknya. Sering denger kan keajaiban sedekah? Coba deh…

Fenomena Me-Latah

Indonesia sebagai negara besar dan berpenduduk majemuk ini seharusnya memiliki ide yang majemuk juga. Namun nyatanya kenyataan tak seperti yang diharapkan.

Gejolak ekonomi yang menghimpit dan tuntutan pemenuhan kebutuhan yang besar membuat kebanyakan orang ingin mendapat uang secara instan. Secepatnya dan semudah-mudahnya. Budaya hedon, konsumerisme, kapitalisme, dll yang ujung-ujungnya siapa ber-uang (ups bukan hewan ya…) berkuasa menjadikan mayoritas penduduk di dunia ini secara sadar atau tidak sadar berlomba untuk menumpuk pundi-pundi uangnya. Dengan dalih “tuntutan hidup” segala cara dihalalkan. Mengemis, mencuri, menipu sudah tidak asing lagi masuk ke pemberitaan media. Bahkan, mencuri secara elite pun bisa. Korupsi.

Lalu tuntutan hidup macam apa yang banyak dibicarakan? Ya kebutuhan hidup yang harganya makin melonjak akhirnya membuat mayoritas penduduk kesulitan memenuhi kebutuhannya. Atau bisa juga tuntutan hidup yang dimaksud adalah tuntutan dari diri sendiri untuk memenuhi standar hidup sesuai gaya orang lain. Dan anehnya lagi sudah enak-enak hidup di desa masing-masing (paling tidak tuntutan hidup tidak begitu tinggi) kok ya malah latah pindah ke kota besar yang jelas pemenuhan kebutuhan lebih sulit. Jelas permasalahan lebih kompleks. Dalih mereka, mencari kerja. Ujung-ujungnya menjadi beban pemerintah kota. Tidak sedikit yang mengakhirkan hidup mereka menggelandang bekerja sebagai pemulung (agak mending), pengemis (MasyaAllah), bahkan pencopet (kelewataannn) walau ada juga yang sukses dalam kariernya. MasyaAllah.

Itu fenomena latah yang pertama. Latah mencari penghidupan di kota demi mendapat uang.

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi latah 1/la·tah / a 1 menderita sakit saraf dng suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; 2 berlaku spt orang gila (msl krn kematian orang yg dikasihi); 3 meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain.

Latah yang akan saya bahas disini bukan definisi nomer 1 dan 2. Khusus definisi nomer 3 saja.

Lanjut ke contoh latah selanjutnya. Dalam ide berdagang misalnya. Hanya segelintir orang yang mempunyai ide brilian selaku pembaca tren. Contoh kasus batu akik. Sedemikian menjamurnya pedagang batu akik sekarang dan sebagian besar adalah pedagang ikut-ikutan karena tergiur untung besar-besaran. Selanjutnya pedagang buah atau cinderamata di sepanjang jalan. Entah siapa yang jual pertama tetangga-tetangganya ikut-ikutan demi ampiran kendaraan. Hebatnya di Indonesia ya berdagang kiri kanan sama tapi tidak ada yang sampai sikut-sikutan. Malah saling membantu melariskan jualan teman-temannya. Hebat.

Fenomena latah selanjutnya adalah MLM. Apapun produk yang dijual selalu diiming-imingi untung besar. Tapi namanya juga sales kalau tidak getol promosi dan ajak-ajak orang mana bisa jalan usahanya. Mana bisa naik levelnya. Mana bisa cair bonusnya. Itulah yang sering membuat orang-orang terhasut untuk bergabung dan terhasut untuk keluar pula. Pembuat tren lah yang akan untung besar. Pengikut? Ya untung-untungan.

Fenomena latah selanjutnya adalah siaran TV. Contoh konkrit sekarang adalah serial India dan Turki. Di negara asal kurang booming malah di Indonesia naikkan rating. Begitu ramahnya orang Indonesia. Asal bau luar negeri uda heboh aja. Hmm.. kualitas? Sama aja ah sama sinetron Indonesia yang kurang mendidik itu. Begitupula acara reality show, acara music show dengan host yang stasiun TV nya latah pake itu itu aja… simak juga tuh alay’ers nya… jangan-jangan juga itu-itu ajaa… hee.

Belum lagi setelah acara TV populer maka diciptakanlah baju bertuliskan serial TV itu. Satu produksi lainnya ikut-ikutan. Dari yang official sampai yang abal-abal. Keren euy.

Next, latah itu sendiri. Mpok Atik latah karena memang kelainan. Ee ada segelintir orang yang ikutan latah demi popularitas. Demi digodain. Demi jadi seru-seruan. Demi dianggap ada (nah lho sebelumnya apa ndak keliatan?? jangan-jangaaan…. upss…).

Apapun itu, kalau me-latah itu baik, silakan… (seperti tren baju syar’i semoga bisa menginspirasi banyak muslimah untuk syar’i beneran bukan cuma tren-tren-an—- termasuk gue nih hakjleb), Allah akan mengubah keadaan kaum jika berusaha. Tapi, berusahalah di jalan yang baik dan diridhoi Nya. Allah sudah mengatur rejeki masing-masing. Ga usah bingung. Mintanya sama yang di Atas… Yang Maha Kaya bukan sama orang kaya. Banyak shalat Dhuha dan berdoa bukan malah ngalap berkah atau cari pesugihan. Namun.. alangkah lebih baiknya bila kita adalah pencipta tren (penggebrak ide) bukan pengikut tren. Ya kan?

Bagaimana menurut kalian? Fenomena me-latah apalagi yang ada di sekitaran? 🙂

indahnya QS Ali Imran 190-194

Semua yang ada, tersurat dan tersirat dalam Al Qur’an itu indah. Namun aku punya beberapa ayat dalam surat yang jadi favoritku. Salah satunya QS Ali Imran ayat 190-194. Sebenarnya konten dari surat ini semuanya menarik karena banyak pesan dari seorang ayah yang sholeh kepada anaknya. Bahkan, ada ayat-ayat yang baik dibaca ketika sedang menyusui (ayat 1-5 dan ayat 17 yang dibaca bergantian saat menyusu di PD kanan dan kiri). Lalu… Kenapa aku mengkhususkan ayat 190-194? Ada 3 alasan,

1. Berisi doa-doa, salah satunya adalah agar tidak “dihinakan” di hari kiamat. Semoga Allah menghimpun kita dalam kelompok yang mendapat syafaat. Amiin.

2. Merupakan peringatan untuk tidak berhenti “berfikir”. Mentafakuri segala penciptaan Allah. Bahwa tiada yang sia-sia. Dengan demikian kita selalu mengingat Allah. Kemudian hikmahnya kita selalu bersyukur bukan mendengkur eeh takabur maksudnya.

3. Kalau dibaca dengan lantunan qiroati begitu syahdu dan menyayat hati (meski ayat-ayat lain juga begitu adanya). Tak jarang air mata mengalir saat membacanya sebab mengetahui artinya.

Untuk bacaan, terjemah dan tafsirnya lengkap silakan dilihat sendiri ya di AlQuran dan buku tafsir masing-masing… Yuk terangi hidup kita dengan Al Quran… ^__*

Previous Older Entries