“Telon-telon” dan “Mitoni”

Alhamdulillah sudah hamil (#tepokjidat blog tentang perkembangan kehamilan belum nongol..)…. Alhamdulillah dedek janin sehat dan semoga Allah selalu memberikan penjagaan atasnya…๐Ÿ™‚

Namun, apakah kurang doa, dzikir, senandung Al-quran serta sholat-sholat yang Abi-Uminya dirikan? Beserta sebentuk kepasrahan kepada Illahi Robbi…? Iya, begitulah menurut adat Jawa…. ada tradisi yang “dipercayai” harus dilakukan bila tidak akan menimbulkan ketidakselamatan, atau bilasaja kita tidak percaya tapi tradisi adalah tradisi yang harus dilakukan demi kita menghormati tetua pun sesepuh. Begitukah…? Baiklah, mereka bilang tidak akan sepenuhnya tradisi Jawa, pengajian saja…. Heumm..bukankah semacam bid’ah..?

Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di hati akhirnya akupun mencari jawaban dengan menggunakan search engine Google. Adapun pembahasan berikut ku jiplak dari sebuah alamat:ย http://matahari-bunda.blogspot.com/2012/01/selamatan-nujuh-bulanan-dalam-pandangan.htmlย (mohon maaf asal copas, semoga empunya berkenan….)

Entah apa yang harus kulakukan atau bagaimana caraku menyikapi agar tidak menyakiti bila dihadapkan dengan “pemaksaan” untuk hal tersebut….. Laa khaula wa laa quwwata illa billah…๐Ÿ˜ฆ

*****

Selamatan kehamilan, seperti 3 bulanan (telon-telon) atau 7 bulanan (mitoni) [*], tidak ada dalam ajaran Islam. Itu termasuk perkara baru dalam agama.ย Dan semua perkara baru dalam agama adalah bidโ€™ah, dan semua bidโ€™ah merupakan kesesatan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ูˆูŽุฅููŠูŽู‘ุงูƒูู…ู’ ูˆูŽู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุงุชู ุงู„ู’ุฃูู…ููˆุฑู ููŽุฅูู†ูŽู‘ ูƒูู„ูŽู‘ ู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุฉู ุจูุฏู’ุนูŽุฉูŒ ูˆูŽูƒูู„ูŽู‘ ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ูŽุงู„ูŽุฉูŒ
“Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bidโ€™ah, dan semua bidโ€™ah merupakan kesesatan”.
(HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al โ€˜Irbadh bin Sariyah).

Kemudian, jika selamatan kehamilan tersebut disertai dengan keyakinan akan membawa keselamatan dan kebaikan, dan sebaliknya jika tidak dilakukan akan menyebabkan bencana atau keburukan, maka keyakinan seperti itu merupakan kemusyrikan. Karena sesungguhnya keselamatan dan bencana itu hanya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Allah berfirman:

ู‚ูู„ู’ ุฃูŽุชูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ูŽ ู…ูู† ุฏููˆู†ู ุงู„ู„ู‡ู ู…ูŽุง ู„ุงูŽ ูŠูŽู…ู’ู„ููƒู ู„ูŽูƒูู…ู’ ุถูŽุฑู‹ู‘ุง ูˆูŽู„ุงูŽ ู†ูŽูู’ุนู‹ุง ูˆุงู„ู„ู‡ู ู‡ููˆูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู…ููŠุนู ุงู„ู’ุนูŽู„ูŠูู…ู

‘Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa’at?”. Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’. (QS Al Maidah:76).

Demikian juga dengan pembacaan dibaโ€™ pada saat perayaan tersebut, ataupun lainnya, tidak ada dasarnya dalam ajaran Islam. Karena pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, diba’ itu tidak ada. Dibaโ€™ yang dimaksudkan ialah Maulid Ad Daibaโ€™ii, buku yang berisi kisah kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pujian serta sanjungan kepada Beliau. Banyak pujian tersebut yang ghuluw (berlebihan, melewati batas). Misalnya seperti perkataan:

ููŽุฌู’ุฑููŠูู‘ ุงู„ู’ุฌูŽุจููŠู’ู†ู ู„ูŽูŠู’ู„ููŠูู‘ ุงู„ุฐูŽู‘ูˆูŽุขุฆูุจู * ุงูŽู„ู’ูููŠูู‘ ุงู„ู’ุฃูŽูŽู†ู’ูู ู…ููŠู’ู…ููŠูู‘ ุงู„ู’ููŽู…ู ู†ููˆู’ู†ููŠูู‘ ุงู„ู’ุญูŽุงุฌูุจู *

ุณูŽู…ู’ุนูู‡ู ูŠูŽุณู’ู…ูŽุนู ุตูŽุฑููŠู’ุฑูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽู„ูŽู…ู ุจูŽุตูŽุฑูู‡ู ุฅูู„ูŠูŽ ุงู„ุณูŽู‘ุจู’ุนู ุงู„ุทูู‘ุจูŽุงู‚ู ุซูŽุงู‚ูุจูŒ *

Dahi Beliau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) seperti fajar, rambut depan Beliau seperti malam, hidung Beliau berbentuk (huruf) alif, mulut Beliau berbentuk (huruf) mim, alis Beliau berbentuk (huruf) nun, pendengaran Beliau mendengar suara qolam (pena yang menulis taqdir), pandangan Beliau menembus tujuh lapisan (langit atau bumi).
(Lihat Majmuโ€™atul Mawalid, hlm. 9, tanpa nama penerbit. Buku ini banyak dijual di toko buku-toko buku agama).

Kalimat โ€œpendengaran Beliau mendengar suara qolam (pena yang menulis taqdir)โ€, jika yang dimaksudkan pada saat miโ€™raj saja, memang benar, sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits-hadits tentang miโ€™raj. Namun jika setiap saat, maka ini merupakan kalimat yang melewati batas. Padahal nampaknya, demikian inilah yang dimaksudkan, dengan dalil kalimat berikutnya, yaitu kalimat โ€œpandangan Beliau menembus tujuh lapisan (langit atau bumi)โ€. Dan kalimat kedua ini juga pujian ghuluw (melewati batas). Karena sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara ghaib. Yang mengetahui perkara ghaib hanyalah Allah Azza wa Jalla . Allah berfirman:

ู‚ูู„ ู„ุงูŽู‘ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ู…ูŽู† ูููŠ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู’ู„ุฃูŽุฑู’ุถู ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุจูŽ ุฅูู„ุงูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ูŠูŽุดู’ุนูุฑููˆู†ูŽ ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู†ูŽ ูŠูุจู’ุนูŽุซููˆู†ูŽ
‘Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan’. (QS An Naml:65).

โ€˜Aisyah Radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah menerima tuduhan keji pada peristiwa โ€œhaditsul ifkโ€. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui kebenaran tuduhan tersebut, sampai kemudian turun pemberitaan dari Allah dalam surat An Nuur yang membersihkan โ€˜Aisyah dari tuduhan keji tersebut. Dan buku Maulid Ad Daibaโ€™ii berisi hadits tentang Nur (cahaya) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang termasuk hadits palsu.

Dalam peristiwa Baiโ€™atur Ridhwan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui hakikat berita kematian Utsman bin โ€˜Affan Radhiyallahu ‘anhu , sehingga terjadilah Baiโ€™atur Ridhwan. Namun ternyata, waktu itu Utsman Radhiyallahu ‘anhu masih hidup. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan RasulNya untuk mengumumkan:

ู‚ูู„ ู„ุขุฃูŽู‚ููˆู„ู ู„ูŽูƒูู…ู’ ุนูู†ุฏูู‰ ุฎูŽุฒูŽุขุฆูู†ู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽู„ุขุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุจูŽ

‘Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaibโ€. (QS Al Anโ€™am:50).

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, bagaimana mungkin seseorang boleh mengatakan โ€œpandangan Beliau menembus tujuh lapisan (langit atau bumi)โ€?

Kesimpulan yang dapat kita ambil, bahwa selamatan kehamilan [1] dan pembacaan dibaโ€™ termasuk bidโ€™ah.

!!!!!PERHATIAN!!!!!!
[*] Mitoni/Telonan dan tingkepan (tujuh bulanan) yang sering kita jumpai di tengah-tengah masyarakat adalah termasuk tradisi agama hindu (ini kesaksian mantan Pendeta Hindu yang masuk Islam).

Upacara ini dalam rangka memohon keselamatan anak yang ada dalam rahim (kandungan). Upacara ini biasa disebut GARBA WEDANA. Garba artinya perut, Wedana artinya yang lagi mengandung.

Selama bayi dalam kandungan di buatkan TUMPENG selamatan telonan, tingkepan. Ini terdapat dalam kitab UPADESA halaman 46.
Adapun intisari sesajinya antara lain :

a. Pengambean, yaitu upacara pemanggilan atman (urip)
b. Sambutan, yaitu acara pembetulan letak cabang bayi
c. Janganan, yaitu suguhan terhadap EMPAT SAUDARA yang menyertai kelahiran sang bayi. yaitu : Darah, Air (ketuban), barah dan ari-ari (masyimah/tembuni).

[1] termasuk selamatan 4 bulanan

ย ******

Astaghfirullahaladziim (3x)…. Dari sini aku belajar…. Lebih baik DIAM daripada melakukan yang tidak kamu ketahui dasar hukumnya yang bahkan cenderung mengada-ada. Wallahua’lam bish showab…. Semoga Allah SWT menjagaku dan keluargaku dari bahaya syirik… Amiin Yaa Rabb.

3 Comments (+add yours?)

  1. ayuseite
    Jan 16, 2013 @ 05:35:17

    Reply

  2. susi
    Mar 21, 2013 @ 01:07:40

    Hehe rupanya anda memiliki pendirian yang tidk teguh, jadi akhirnya maju tdk mundur tdk, menurut saya lakukan saja apa yg hrs anda lakukan sepanjang itu demi kebaikan..kalo anda banyak aturan,,takut ini takut itu apa yg akan trjadi?? jelas keraguan dlm setiap langkahmu, kalo aku berpikir bijak saja, lakukan sepanjang itu ta brisiko negatif bagi kita dan keluarga juga orang lain.

    Reply

  3. aza
    Feb 09, 2014 @ 23:34:18

    gini lo mbak, kita ini orang jawa, bukan orang arab…d jawa ada adat2 istiadat di arb ada juga adat, jadi bila kita merubah adat jawa menjdi adat arab 100% apakah itu indah?…ibarat ikan air tawar dipaksa hidup di air laut…agama itu indah, hati yang bersih, menghrb ridhoNYA agama bukan perselisihan dan bukan bahan perdebatan, laksanakan islam dg hatimu yg ikhlas niscaya kan kau temukan islam yg sbenarnya..tradisi jawa itu indah dan patut di lestarikan,islam itu agama suci..dan keduanya tidk brtentangan.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: