The Last Afternoon….

Sore yang cerah, angin sepoi-sepoi membelai lembut wajahku… Sembari menunggu seluruh anggota Persit batalyon tempat suamiku ditugaskan selesai bermain volly pulang ke rumah masing-masing, aku duduk menemani ibu ketua cabang, istri komandan batalyon. Beliau yang memulai pembicaraan, sepertinya tahu bahwa aku masih kaku dan kikuk untuk berucap dan beramah tamah. Terhitung baru hari ke-6 aku mengikuti kegiatan Persit yang cukup padat di sini, sejatinya sesuai rencana adalah 12 hari karena perubahan jadwal mendadak dari kerja suami, aku harus turut serta dan sekalian pulang. Pulang? Iya… Aku masih tinggal berjauhan dengan suami akibat kontrak kerja yang sudah kutandatangani. Sedih rasanya, tapi aku harus kuat..

***

Meskipun terhitung dari tanggal 15 Juni 2011, saat surat izin menikah alias SIM yang dikeluarkan oleh DanRem Lilawangsa Lhokseumawe maka saat itu pula aku diizinkan masuk menjadi anggota Persit Kartika Chandra Kirana dengan segala tugas dan tanggungjawabnya, namun aku belum sepenuhnya bisa melaksanakan.

Aku harap, organisasi besar ini mampu menjadi pengayom anggotanya, istri-istri tentara, yang notabene ‘merana’. Kekeluargaan yang dijadikan asas utama semoga mampu membuat seluruh anggotanya merasakan hikmah kekeluargaan itu, menjadikan hubungan kakak-adik dan ibu-anak yang menenteramkan, membuat nyaman untuk bergerak bersama, bersatu demi kemajuan bersama bukan mengedepankan junior-senior yang lebih merujuk pada feodalisme, bukan mengada-ada namun benar-benar menjunjung tinggi etika ketimuran. Masalah etika seperti halnya etika profesi kedokteran yang masuk dalam Kodeki (kode etik kedokteran Indonesia) mengatur hubungan person to person dalam suatu organisasi, sifatnya tertulis dan hukuman minimalnya teguran demi perbaikan. Hal ini absurd karena penetapannya selalu mengalami evaluasi dan revisi. Kode etik organisasi ini aku belum tahu dengan jelas, masih meraba-raba dan berusaha menerima hal yang asing dalam keseharianku. Ya, belajar dan belajar, adaptasi terhadap segala aturan baru yang ternyata tidak mutlak, tidak tertulis tapi harus dipahami semua anggota. Hukumannya sanksi sosial.  Aku dan segala idealismeku berharap semoga semuanya bisa lebih baik lagi. Ya… Semoga…

“Selalu biasakan yang benar, jangan membenarkan yang biasa….”

***

 Tak terasa, kegiatan volly sore ini, menjadi kegiatan terakhir yang kuikuti selama kunjungan triwulan pertama.

“Lama-lama juga bisa, Dek, main volly…” ucap bu ketua dengan senyum ramah dan menenangkan setelah melihatku main volly bersama tim yang baru saja kukenal dan tiada bola yang berhasil kukembalikan… Yaah maklum, pengalaman pertama…

“siap, Bu…” ucapku masih malu dan ragu

“di sini banyak belajar ya, Dek…. Belajar ngomong juga… Nggak gampang lho ngomong ke anggota, banyak yang tidak mengerti juga… Mereka bukan tentara yang benar-benar bisa “siap”, kita harus bisa mengarahkan mereka… Kegiatan kita ya seperti ini saja (senam, volly, tennis, di samping rapat-rapat Persit beserta kegiatan rutin lainnya) fungsinya ya sebenarnya cuma satu, agar kita bisa berbaur… Saling berbagi…,” aku hanya bisa mendengarkan dengam seksama dan merekamnya dalam hati…

“besok jadi berangkat jam berapa..?” kembali ucap beliau penuh perhatian…

“insyaAllah selepas Dhuhur, Ibu…”

“ya.. Sampai bertemu lagi suatu saat nanti, rencana kapan lagi ke sini…?” masih dengan perhatian yang penuh,

“izin Ibu, rencana tiap 3 bulan, tapi nanti menyesuaikan…” masih… Kujawab dengan patah-patah dan terbata… Dan sepertinya beliau merasakan auraku…

“orang baru itu ya kegiatannya hanya mengamati, belajar… Bersosialisasi dan berorganisasi..” tutup beliau kemudian memanggil istri perwira yang lain untuk berkumpul dan membahas kegiatan-kegiatan esok hari.

Rasanya, ingin terus di sini bersama mereka dan tentunya bersama suamiku tercinta…

Hari mulai semakin gelap, matahari sudah terbenam hampir seluruh, adzan Maghrib akan segera berkumandang, setelah pamit pada semua dan janji akan kesini lagi, khusus pada ibu ketua janji untuk membelikan krupuk upil (krupuk khas yang digoreng dengan pasir) akupun melangkahkan kaki pulang ke rumah dinas yang akan kusinggahi terakhir kali pada kesempatan ini. Segera masak makan malam dengan persediaan bahan masak penghabisan dan menyantapnya habis berdua… Aah tidak, bertiga dengan kucing kelaparan…

 **eN**

 

 

2 Comments (+add yours?)

  1. Indah
    Aug 09, 2014 @ 16:35:34

    Salam kenal mba🙂 saya dulu jg pernah di aceh, yonif 111, dibawah korem 011 Lw jg, mba di batalyon brp? Barangkali dulu kita pernah ketemu hihi..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: