ToUr dE bAL!

Tidak ada rencana jauh hari sebelumnya… Kurang dari 1 bulan rencana berangkat, baru diajak mertua. Ini acara piknik semacam perpisahan karena sudah pensiun bersama anggota 1 kantor. Dan, tidak seperti biasanya aku menyambut antusias. Belum pernah menginjakkan kaki ke pulau dewata ini. Semacam impian yang terwujud…🙂

Empat hari perjalanan dijadwalkan. Berangkat pukul 3 sore awal bulan, sedangkan pagi sampai siang tidak istirahat ada acara halal bihalal di rumah mertua, sibuk masak dari pagi dan menemui tamu.

Sepanjang perjalanan, berhenti dari pom ke pom… Buang air kecil bersama-sama (ups bukan bersama dalam satu toilet tapi hasratnya barengan..:-D)…. Atau sholat… Jadi tahu fasilitas masing-masing pom… Malah ada pom yang memenangkan golden award di daerah Grati…. Tersedia toilet harga 1000 sampai 5000 (toilet vip bo… Ada air panasnya…), ada restaurant, rest area, dan penginapan lengkap dengan fasilitas lahan parkir luas. Ckckck…

Sayang sekali aku melewatkan pemandangan kerlip lampu yang dikatakan indah di Paiton karena keasikan tidur. Heum…. Semoga waktu pulang bisa terjaga…

 

Pukul 02.45 sampai pelabuhan Ketapang, penyeberangan perdanaku ke pulau dewata dimulai… Antusias, aku naik ke deck paling atas yang bisa dinaiki, di deck nahkoda kapal. Angin dingin berhembus dan membuatku menggigil, ditemani adik iparku menikmati laut di malam hari lengkap dengan dinginnya angin laut dan hawa malam.

Pukul 04.00 kapal ferry merapat dan kami bersegera kembali ke bus. Bus yang mengangkut kami pun bergerak turun, tidak bisa tidur sepanjang perjalanan, menikmati suasana Bali yang asing. Keluar dari gerbang  pelabuhan ada pemeriksaan KTP, seharusnya diperiksa KTP per orang tetapi dengan lobi perwakilan kami bisa keluar dengan mudah. Perjalanan berlanjut, di setiap rumah ada pura kecil tempat sembahyang dan anjing-anjing berkeliaran. Hemm.. Belum lagi kera-kera bertebaran mencari mangsa di tepian hutan.

Perjalanan pertama ke pantai Lovina, awalnya mau menikmati sunrise disana, tapi sayang jam 7 WIB baru sampai, sedangkan di Bali sudah jam 8 WITA. Walhasil hanya sarapan, mandi, dan foto-foto saja. Pantai yang termasuk dalam deretan pantai utara dengan pasir putih ini cukup sepi dan tenang.

Banyak kapal nelayan berlabuh di tepian, dan tidak lupa banyak anjing-anjing kudisan berjalan malas mencari makan.

Kami sarapan di bawah rimbunnya pohon kelapa, memakan bekal dari rumah yang pastinya sudah dipersiapkan. Tidak ketinggalan sambel pecel yang belum dihancurkan. Hemm… Apapun nikmat rasanya kalau dimakan bersama-sama saat kelaparan dan sedang menikmati pemandangan alam. Subhanallah…

Selesai sarapan, ada kejadian aneh. Seorang dari rombongan kami sedang dipijat oleh penduduk lokal, seharusnya paket yang pemijat tawarkan 15 menit saja. Berbekal minyak zaitun, kacamata hitam, dan alat pijat dari kayu serupa cerutu ia beraksi. Ditambah ngobrol sana ngobrol sini, bercerita bahwa ia tidak punya saudara dan yatim piatu, kasian juga ya… Gurauan-gurauan yang diharapkan bisa menyemarakkan suasana pun terlontar. Tak terasa hampir satu jam, si pemijat pamit, saat akan diberi uang ia terjatuh dan seolah kejang. Semua mata tertuju padaku seakan bertanya meminta penjelasan. Lhoooh… Blank mode.on…. Ini orang kenapa ya (kata batinku), beberapa menanyakan apakah ayan dan apakah harus ditolong? Saat itu kujawab biarkan saja, ia tidak kejang dan sepertinya bukan ayan. Aku malah mengiyakan pendapat bahwa si pemijat ini terkena imbas ilmu hitam yang ia pelajari dan ia tidak kuat (OMG….. Helloo Ayu…. ~~”). Sekarang baru aku sadar orang itu memang ayan… Serangan yang bernama tonic-clonic seizure DDx complex partial seizure (merujuk pada mulut komat-kamitnya dan bingung post kejadian…)

setelah kejadian itu kami beringsut membereskan perbekalan dan tikar tempat duduk. Saatnya meneruskan perjalanan ke Bedugul, sebuah dataran tinggi, jadi ingat Dieng-Wonosobo… Hawa dingin namun hangat matahari mewarnai siang itu. Hemm… Tidak menikmati liku-liku perjalanan karena tidur pulas. Bangun-bangun sudah hampir sampai. Melihat banyak yang muntah-muntah bisa dipastikan jalanan sungguh mengocok perut. Alhamdulillah aku tertidur jadi nggak ikut mabuk.

Bedugul, danau dengan pura-pura di tepinya. Sempat melihat para warga desa yang sedang sembahyang dalam Pura terdekat dengan danau. Entah itu kenapa banyak pura yang pastinya lengkap dengan sarung kotak hitam putih. Ada yang berkomentar, bebatuan di Bali itu punya malu, semua pakai sarung. He he he…

Setelah puas foto-foto dan menikmati pemandangan nan elok, kami beranjak pergi, sebelumnya mencari makan dulu. Alhamdulillah di depan lokasi ada warung muslim yang menjual masakan khas Jawa-Lombok. Cukup banyak pengunjungnya, semua dipastikan dari Jawa.

Perjalanan dilanjutkan, sejatinya mau ke alas Kedaton, tapi karena petunjuk jalannya tidak jelas tidak jadi deh. Turun ke Denpasar, mencari penginapan.

Setelah bersih diri dan istirahat sejenak, kami makan malam dan foto-foto di lingkungan hotel. Lagi-lagi, banyak pura, dan di sini bahkan ada bangunan megah, hanya untuk menyimpan abu pembakaran pemilik hotel dan terpajang foto keduanya. Sungguh, banyak lahan yang sayang sekali terbuang untuk tempat-tempat seperti ini. Yah, kita hormati saja.

Pulang ke hotel, diajak pergi lagi bersama rombongan kecil melihat lokasi bom Bali 1 di Legian. Jalanan kecil padat kendaraan. Itulah kotanya Bali. Pusat hedonisme di Bali. Sepanjang jalan bernama Legian ini, banyak toko-toko serupa boutique menjual produk kelas internasional seperi rip curl, roxy, planet surf dan lain-lain, tiap brand mendirikan satu toko, jalan terus ada deretan cafe, bar, lounge, pub, menawarkan produk-produk haram dan mayoritas pengunjung adalah WNA. Hemm… Seperti berada tidak di Indonesia. Sampailah di depan lokasi bom Bali 1, di depannya banyak yang sedang menikmati beer, menari-nari dalam mabuknya. Astaghfirullah, pantas saja ada yang gemas meledakkan bom di sini. Ini seperti bukan Indonesia… Jalan terus ke pantai Kuta, di depannya ada hard rock cafe yang mentereng dengan gitar raksasa andalannya, tidak tertarik, aku lebih tertarik pada Pizza Hut di sebelahnya. Belum sempat mampir, hanya sempat ambil foto dan kamipun masuk ke pantai Kuta yang konon katanya indah di malam hari…. Singgghhh biasa saja, rasi bintang bahkan tertutup awan, banyak pengunjung berdua-duaan di bibir pantai. Huaah… Rasanya ingin segera kembali ke hotel dan tidur saja… Alhasil, sepanjang perjalanan pulang ke hotel aku terlelap. Huwee jadi tidak melihat Denpasar di malam hari (aah biarlah, paling juga gitu-gitu aja…).

Hari telah berganti, masih lelah badan ini tapi semangat untuk melanjutkan perjalanan membakar motivasi bangkit dari tempat tidur meski pilek sudah menyerang dan menstruasi beserta dismenore melanda. Minum obat deh… Semoga cepat teratasi dan bisa menikmati perjalanan.

Etape pertama, belanja di pasar sukawati. Hemm… Ditraktir serba-serbi daster untuk honeymoon kedua sama suami bulan depan… Hwaahwaa…

Etape kedua, naik gunung ke uluwatu… Semacam kaliurang di Jogja, tapi entah kenapa hutan ini gersang (ya iyalah kemarau…), banyak monyet nggak sopan tapi pinter lho.. Masak cuma mau makan makanan enak, dikasi kacang udah nggak mau dia, kita coba cicip kacang yang dijual di sana notabene “untuk ngasi makan monyet” seharga 5000 (kalau di Jawa kena tuh 500 perak), melempem… Mana iya manusia ngga mau dikasi ke monyet? Ya ngga mau juga lah… (tuuh gaya banget kan si monyet), terus masalah kacamata nih, sudah diberi peringatan ngga boleh pakai kacamata, masih juga ada yang nekat pakai. Bisa ditebak, kacamatanya diambil, dipatah-patahin. Dengan menyesal si pemilik menyatakan harga. Sejuta.

Etape ketiga, pantai sanur. Pantai nan panas dan gersang. Asyiknya di sini naik perahu boat ke pulau terdekat, tapi karena ombak lagi tinggi nggak jadi deh. Walhasil hanya menikmati degan di rimbunnya pohon seharga 8000 rupiah saja. Sebelumnya menyisir pantai mencari kerang yang bisa membentuk namaku dan suami. (Hemm… Jadi kado ultah suamiku ah…🙂 )

Etape keempat, belanja ke Joger, toko kaos pabrik kata-kata nan terkenal itu. Serupa pasar, berdesak-desakan dan semrawut. Produk ini sepertinya serupa Dagadu di Jogja. Puas belanja, terjebak kemacetan lalu lintas Denpasar akhir pekan. Akhirnya, sampai di hotel sudah cukup malam, jam 21.00 WITA. Lelah, tidur pulas untuk menyambut perjalanan terakhir esok pagi dan langsung pulang. Rencananya, belanja di pusat oleh-oleh Bali, museum perjuangan Bali serupa monumen jogja kembali di jogjakarta, lanjut ke Sangeh, Kuta dan terakhir ke tanah lot, tapi karena waktu terlalu singkat akhirnya hanya ke pusat oleh-oleh, museum, dan tanah lot. Hemm… Dipikir-pikir perjalanan kali ini didominasi sama belanja-belanji ibu-ibu… Hohoo… (menghabiskan uang.com).

Oke, di pusat oleh-oleh, serupa mirota batik di Jogja (walah… Dari kemarin membandingkan dengan Jogja melulu ya… Jogja minded forever, menunjukkan bahwa tiap kota wisata seperti itu ya?) tidak banyak menilik, malah mengincar ke luar, mencari waralaba penjual makanan kecil. Dan tidak ketinggalan foto-foto di lokasi semi etnis dan herannya dominan ke ornamen Jawa.

Selanjutnya, museum perjuangan rakyat Bali yang bangunannya mirip Pura atau semacam kerajaan Bali, namun dalamnya cukup modern. Keunikan bangunan ini memiliki 4 pintu di 4 sisi, di bagian tengahnya ada kolam dengan ikan hias besar-besar lengkap dengan penjual makanan ikan. Kolam ini mengelilingi sebuah tangga ulir menjulang ke atas, ke puncak bangunan berbahan kayu jati kokoh. Barangsiapa sedang menstruasi dilarang naik ke atas. Entah kenapa. Agak mistis mungkin. Padahal menurut yang sudah naik hanya menara, bisa melihat kota Denpasar serupa monas yang bisa digunakan melihat Jakarta dengan hiruk pikuknya. Kemudian di ruang-ruang antara pintu-pintu terdapat museum dan penjual karya seni lukisan. Di salah satu sudut ruang, dengan susunan memutar 2 saf terdapat diorama perjuangan rakyat Bali semenjak jaman Pithecanthropus erectus hingga mengisi kemerdekaan. Bisa ditebak, diorama ini sudah tidak berbunyi, serupa diorama di museum dirgantara ataupun monumen Jogja kembali Jogjakarta. Puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan selama 1,5 jam ke pantai selatan, Tanah Lot. Agak mabuk, aku memilih minum dimenhydrinat dan tidur.

Tanah lot, di sepanjang pintu masuk berdiri banyak toko penjual cindera mata bahkan toko-toko merk terkenal seperti Ralph Lauren dan Crocs. Maklum, pengunjungnya banyak WNA… Dan harga cinderamata pun tertular harga mahal. Ada satu baju yang kutaksir seharga 5O-75ribu ditawarkan dengan harga 300ribu pas 200ribu. MasyaAllah. Dan banyak contoh lainnya.

Puas berfoto-foto di pantai nan indah berombak sedang dengan pulau kecil yang dibangun 2 meter dari bibir pantai, lengkap dengan pura-pura serta balairung di tepian pantai. Sejatinya indah kalau melihat sunset di sini, tapi karena waktu kami harus segera kembali ke Jawa. Menurutku, pantai-pantai selatan di Bali tidak jauh beda dengan pantai selatan gunung kidul Jogja macam Kukup, Krakal, Ngrenehan, Ngobaran, dan lain-lain. Aah… Jogja… Selalu ku merindukannya. Seperti hatiku masih tertinggal di sana dan selalu ada tempat untuk kembali. Love Jogja so much…

Baiklah, perjalanan pulang dimulai dengan sisa-sisa tenaga yang ada ditambah perut sakit karena belum terisi makanan ‘berat’ bertambah perih karena banyak makan makanan kemasan.

Tertidur sampai di pelabuhan. Penyeberangan kali ini cukup ramai, harus rela merogoh kocek lebih biar bisa menyeberang lebih dulu. Alhamdulillah ada bakso+lontong di atas kapal, jadi itulah menu makan soreku. Semoga bisa mengganjal perut hingga esok hari. Nyatanya, demikian adanya, tertidur terus di perjalanan pulang, bangun sebentar karena dibangunkan di Paiton dengan keindahan kerlip lampunya. Subhanallah, ribuan lampu entah fungsinya apa membuat indah pemandangan malam.

Namun, dalam sekejap kemudian aku tertidur kembali hingga sampai rumah kembali. Heum… Belum tuntas juga rasanya, setelah mandi mengangkat selimut menutupi badan membayar sisa lelah sampai tengah hari.

Dan aku tersadar… Kulitku kelihatan sedikit lebih gelap… Tanning nih di Bali… Ckckck… Padahal cuma 3 hari di sana….

-eN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: