Shaf dan Sajadah

Entah sudah shalat Jamaah keberapa… Kalau di desa (kadang juga di kota besar…. intinya….pada kebanyakan masjid atau musholla) seringkali begini kasusnya. ..

“Maaf mbak (sesekali, Bu atau Dik), geser sini ya, biar rapat…” ucapku sambil tersenyum,

“Oh… Iya…” geser sedikit…. menepi di ujung sajadah mendekat ke arahku, Alhamdulillah batinku… tetapi ternyata sajadah si mbak/adik/ibu itu terlalu lebar sehingga tetap saja tidak rapat… kalaupun rapat kepadaku tidak kepada jamaah sebelah lainnya…

***

Hukum meluruskan shaf dalam sholat berjamaah

Diantara hal yang menyempurnakan sholat berjamaah adalah lurus dan rapatnya shaff (barisan) karena ia merupakan kewajiban meskipun jika para jamaah tidak memenuhinya atau shaff mereka tidaklah rata maka sholat mereka tetap dikatakan sah, sebagaimana pengingkaran Anas bin Malik terhadap perbuatan penduduk Madinah dalam hal shaff sholat ini. Dari Busyair bin Yasar al Anshori dari Anas bin Malik bahwa dia datang ke Madinah dan dikatakan kepadanya,”Apakah yang engkau ingkari pada kami sejak engkau bersama Rasulullah saw ? dia menjawab,’Aku tidak mengingkari sesuatu kecuali bahwa kalian tidak meratakan shaf-shaf.” (HR. Bukhori)

Bentuk shaf didalam sholat berjamaah seharusnya :

  1. Mengisi celah-celah dalam shaf, artinya jangan dibiarkan ada bagian dari shaf tersebut yang tidak terisi (kosong)
    Dari Nu’man bin Basyar berkata bahwa Nabi saw bersabda,”Ratakanlah shaff (barisan) kalian atau Allah menjadikan berselisih antara wajah kalian.” (HR. Bukhori)
  2. Shaf tersebut haruslah rata tidak belok-belok atau tidak boleh sebagian agak lebih maju atau lebih mundur dari sebagian yang lainnya dan juga harus rapat.
    Dari Anas bin Malik berkata,”Iqomat untuk sholat telah dilakukan kemudian Rasulullah saw menghadap kepada kami dengan wajahnya seraya bersabda,”Ratakanlah shaf dan rapatkanlah, sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku.” (HR. Bukhori)
  3. Menempelkan bahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki dalam shaf tersebut.
    Dari Anas bin Malik dari Nabi saw berkata,”Luruskanlah shaf-shaf kalian, sesungguhnya aku menyaksikan kalian dari belakang punggungku. Dan salah seorang dari kami menempelkan bahunya kepada bahu temannya dan kakinya kepada kaki temannya.” (HR. Bukhori)

Dari Abil Qosim al Judaliy berkata,”Aku mendengar anNu’man bin Basyir berkata,’Rasulullah saw menghadapkan wajahnya kehadapan manusia dan bersabda,’Luruskanlah shaf-shaf kalian (3X). Demi Allah hendaklah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menjadikan hati kalian berselisih.” Ia (an Nu’man bin Basyir) berkata,’Sungguh aku melihat orang diantara kami menempelkan pundaknya kepada pundak temannya dan mata kakinya kepada mata kaki temannya.”(HR. Abu Daud)

 ***

Hemm… aku bingung harus bagaimana cara menegurnya… padahal begitu hukumnya…. kadang sajadah “kebesaran” menjadi kambing hitam dari ketidakrapatan shaf…kadang memang tidak tahu….kadang tidak mau tahu….bahkan terakhir kali hal aneh yang kulihat berdiri di belakang shaf jamaah wanita, beberapa gelintir bapak-bapak…. *gedubraaaak….Astaghfirullah….*

Ironisnya, sang imam yang berdiri di depan, sudah meminta “rapatkan shaf” sesekali ada yang benar-benar melihat barisan shaf dan mengaturnya demi sempurnanya shalat, tetapi… hanya untuk jamaah pria… bagaimana dengan yang wanita…? siapa yang berkewajiban mengatur…? padahal shaf paling berantakan seringkali shaf ibu-ibu (beserta putri-putrinya…) kebanyakan karena SAJADAH TERLALU LEBAAAARRR….. ~~”

Bagaimana komentar anda…?

Wallahu A’lam

Source: http://www.eramuslim.com/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: