Siapa terbaik..?

“Sesungguhnya calon yang ideal belum tentu tepat bagimu, sebab engkau sendiri bukanlah termasuk sosok yang ideal. Calon yang optimal yang sesuai dengan keadaanmulah yag justru paling tepat buatmu….”

Terkait pilah-pilih pasangan hidup kiranya kita bisa merenungi isi dialog guru dan murid, Plato dan Aristoteles, di bawah ini.

Plato                      : kenapa kau masih juga sendiri?

Aristoteles          : aku hanya sedang menunggu jodoh yang terbaik dalam hidupku

Plato                      : kau tak boleh diam menunggu. Kau harus berusaha!

Lalu diajaklah Aristoteles ke lading jagung.

Plato                      : petiklah jagung yang terbaik menurutmu!

Lading itu begitu luas. Baru selangkah, Aristoteles sudah menemukan jagung yang menurutnya sangat bagus. Tapi beberapa langkah berikutnya ia menemukan yang lebih menawan dari yang pertama ditemukannya. Kejadian serupa terus berulang seiring langkah kakinya memasuki lading. Tapi kemudian justru ia keluar lading tanpa membawa apa-apa!

Plato                      : kenapa kau keluar dengan tangan kosong?

Aristoteles          : aku pikir di depanku lading ini masih ada dan ukira masih akan ada yang lebih baik lagi. Tak tahunya ladang ini berakhir dan aku tak endapatkan apa-apa.

Salah satu hikmah yang dapat kita petik dari dialog di atas adalah bahwa kita jangan hanya berpikir untuk mencari yang terbaik. Sebab, yang terbaik itu jarang atau bahkan belum tentu ada. Selalu saja ada yang lebih dan lebih baik daripada sebelumnya. Karena itu carilah pasangan yang baik untuk kemudian dijadikan yang terbaik.

Sekarang , cobalah engkau renungkan, koreksi diri sendiri. Apakah engkau masih memakai standar yang tinggi dalam memilih pasangan hidup? Tidak salah memang jika engkau memilih pendamping hidup dengan standar yang tinggi. Bukan hanya agamanya yang baik, tapi juga fisik, status social, pendidikan, pendapatan dan keturunan semuanya baik, pokoknya best of the best.

Akan tetapi, dalam hal ini engkau tidak boleh buta. Engkau juga harus menilai dirimu sendiri. Berpijaklah pada realita yang ada! Apakah engkau secantik, sekaya dan sesalehah Khadijah sehingga engkau berhak mendapatkan Muhammad?

Ini  bukan lantas engkau harus mengubah haluan dengan meminimalkan kriteria yang dipatok. Tapi cobalah untuk bersikap realistis sadarlah bahwa setiap manusia pasti punya kekurangan sekaligus kelebihan. Mereka yang menikah adalah orang-orang yang berani menerima kekurangan pasangannya, bahwa mereka bukanlah orang yang sempurna. Maka berpikirlah realistis terhadap orang yang akan melamarmu adalah yang terbaik, seperti prinsip sebagai berikut.

“Aku ingin menikah, menikah secara Islam. Harusnya kini tidak penting kita mau menikah dengan siapa. Yang penting disini adalah menikahnya, dimana di situ kita bisa membina keluarga secara islami. Siapa orangnya, yang penting akidahnya lurus dan akhlaknya baik, serta mempunyai cita-cita yang sama, pastilah urusan rumah tangga bakal nyambung.

(diambil dari Teman dalam Penantian, Mas Udik Abdullah, Pro U media)

Notes:

Bismillahirrahmanirrahiim….

Dengan ini aku menerima lamaranmu…..

Kau yang terbaik untukku dan akulah yang terbaik untukmu…

Mulai detik ini aku hanya akan merasa bahagia…

Selalu tersenyum demi bahagia kita…

Kita saling mencintai karena Allah…

Semoga Allah meridhoi langkah kita…

Detik ini dan selamanya….

You are my HERO start from yesterday, this day, everyday…. FOREVER….. Amiiin…. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: