Sebuah episode yang patut dikenang…

Tiga April 2011 adalah hari bersejarah sebagai tonggak baru dalam hidupku dan rekan-rekan sejawatku yang bisa dilantik sekaligus di-sumpah sebagai dokter. Pagi itu tak hanya mendung, hujan deras sepanjang hari namun tak menyurutkan arus peserta dan undangan acara ceremonial ini. Acara yang Alhamdulillah berlangsung khidmat dan mengharukan. Bahagia dan sedih bercampur jadi satu. Entah perasaan apa yang berkecamuk itu. Yang ingin kurasakan hanya aku bahagia. Euforia sebuah “kesuksesan”.

Sumpah dokter merupakan final dari perjuangan dalam pendidikan profesi dokter tapi sama sekali bukan apa-apa dibandingkan perjuangan yang akan kami tempuh. Selanjutnya tidak bersama-sama lagi, tidak bersama kawan-kawan lagi. Sumpah dokter adalah kontrak sosial, kontrak seumur hidup antara kami dan Allah. Sebuah kontrak yang hanya akan berakhir dengan kematian (belum pernah tahu kan ada dokter yang pensiun? Kecuali pensiun karena PNS-nya..). Dan aku sudah mengambil sumpah itu, maka aku harus menjalankan dan sebisanya mematuhi janji yang tertuang dalam naskah itu. Berat, tapi semua akan ringan dengan ridhoNya, semoga barokah, Amiin.

***

Saat ini, bagiku adalah masa transisi yang cukup menyita pikiranku. Pertama, perubahan dari status mahasiswa menjadi dokter. Kadang aku tak percaya aku sudah menjadi dokter. Keseharianku, aku masih sama seperti dulu. Belum berubah. Belum bisa meyakinkan orang (bahkan diriku sendiri) bahwa aku adalah dokter. Yaa mungkin juga karena status ini belum berlaku mutlak, aku belum bekerja. Kedua, aku (seharusnya) sudah bekerja, sudah lepas dari tanggung jawab orangtua untuk membiayai dan untuk diperhatikan lebih. Nyatanya, aku masih seperti itu, masih sebagai seorang anak manja yang belum bisa lepas dari orangtua, belum berani mengambil langkah pasti untuk bekerja. Ketiga, sewajarnya aku memang sudah berkeluarga. Usiaku…sudah hampir 26 tahun. Nyatanya, kesiapanku perlu dipertanyakan. Dari sini aku merenung tiga hal:

  1. Siapkah aku bekerja, mengabdi, beramal sebagai seorang dokter… Long life contract and be a long life learner?
  2. Siapkah aku benar-benar mandiri?
  3. Siapkah aku untuk menikah, menjadi istri dan ibu yang baik di samping tetap menjalankan kontrak sosialku?

Stagnan… adaptasi selalu membuatku stagnan. Aku terlalu sensitif dengan hal yang berbau perubahan, namun aku memang selalu ingin ada perubahan karena sifat mudah bosanku. Hal yang ironi bukan? Unik bin aneh. Itulah aku dengan segala pemikiranku yang kadang aku tak mengerti juga polanya. Fiuuh…. Rasanya, belajar tentang diri sendiri, tentang hidup dan kehidupan saja terasa sangat absurd bagiku. Bagaimana aku bisa menjadi seperti yang kumau? Bagaimana dengan waktu yang terus berlalu…sedetikpun tak akan berhenti menemani stagnansiku. Tidak ada kata lain selain harus bergerak dan bergerak. Selalu menjadi lebih baik agar tak merugi. Selalu berusaha dalam petunjuk dan ridhoNya. Nyatanya, jiwa dan ragaku masih terlalu “malas” untuk bangkit dan berjuang. Mencari dan menggapai semangat dalam gelap. Dalam ketidaktahuan dan kebingungan. Ya…yang sebenarnya kuciptakan sendiri. Jika memang semua yang berlaku menyesuaikan dengan pola pikir maka aku hanyalah seorang yang terjebak dalam pusaran pikirku sendiri jika masa transisi itu terjadi. Setiap terjadinya.

Inna sholati wa nusuki wa makhyaayaa wa mamaati lilla hirobbil’alamiin…

2 Comments (+add yours?)

  1. swear
    Apr 04, 2011 @ 14:45:55

    Go a head Trin..I’m so proud of having friend like u…U r the one among few who manage to make their dreams come true..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: