Siapa terbaik..?

“Sesungguhnya calon yang ideal belum tentu tepat bagimu, sebab engkau sendiri bukanlah termasuk sosok yang ideal. Calon yang optimal yang sesuai dengan keadaanmulah yag justru paling tepat buatmu….”

Terkait pilah-pilih pasangan hidup kiranya kita bisa merenungi isi dialog guru dan murid, Plato dan Aristoteles, di bawah ini.

Plato                      : kenapa kau masih juga sendiri?

Aristoteles          : aku hanya sedang menunggu jodoh yang terbaik dalam hidupku

Plato                      : kau tak boleh diam menunggu. Kau harus berusaha!

Lalu diajaklah Aristoteles ke lading jagung.

Plato                      : petiklah jagung yang terbaik menurutmu!

Lading itu begitu luas. Baru selangkah, Aristoteles sudah menemukan jagung yang menurutnya sangat bagus. Tapi beberapa langkah berikutnya ia menemukan yang lebih menawan dari yang pertama ditemukannya. Kejadian serupa terus berulang seiring langkah kakinya memasuki lading. Tapi kemudian justru ia keluar lading tanpa membawa apa-apa!

Plato                      : kenapa kau keluar dengan tangan kosong?

Aristoteles          : aku pikir di depanku lading ini masih ada dan ukira masih akan ada yang lebih baik lagi. Tak tahunya ladang ini berakhir dan aku tak endapatkan apa-apa.

Salah satu hikmah yang dapat kita petik dari dialog di atas adalah bahwa kita jangan hanya berpikir untuk mencari yang terbaik. Sebab, yang terbaik itu jarang atau bahkan belum tentu ada. Selalu saja ada yang lebih dan lebih baik daripada sebelumnya. Karena itu carilah pasangan yang baik untuk kemudian dijadikan yang terbaik.

Sekarang , cobalah engkau renungkan, koreksi diri sendiri. Apakah engkau masih memakai standar yang tinggi dalam memilih pasangan hidup? Tidak salah memang jika engkau memilih pendamping hidup dengan standar yang tinggi. Bukan hanya agamanya yang baik, tapi juga fisik, status social, pendidikan, pendapatan dan keturunan semuanya baik, pokoknya best of the best.

Akan tetapi, dalam hal ini engkau tidak boleh buta. Engkau juga harus menilai dirimu sendiri. Berpijaklah pada realita yang ada! Apakah engkau secantik, sekaya dan sesalehah Khadijah sehingga engkau berhak mendapatkan Muhammad?

Ini  bukan lantas engkau harus mengubah haluan dengan meminimalkan kriteria yang dipatok. Tapi cobalah untuk bersikap realistis sadarlah bahwa setiap manusia pasti punya kekurangan sekaligus kelebihan. Mereka yang menikah adalah orang-orang yang berani menerima kekurangan pasangannya, bahwa mereka bukanlah orang yang sempurna. Maka berpikirlah realistis terhadap orang yang akan melamarmu adalah yang terbaik, seperti prinsip sebagai berikut.

“Aku ingin menikah, menikah secara Islam. Harusnya kini tidak penting kita mau menikah dengan siapa. Yang penting disini adalah menikahnya, dimana di situ kita bisa membina keluarga secara islami. Siapa orangnya, yang penting akidahnya lurus dan akhlaknya baik, serta mempunyai cita-cita yang sama, pastilah urusan rumah tangga bakal nyambung.

(diambil dari Teman dalam Penantian, Mas Udik Abdullah, Pro U media)

Notes:

Bismillahirrahmanirrahiim….

Dengan ini aku menerima lamaranmu…..

Kau yang terbaik untukku dan akulah yang terbaik untukmu…

Mulai detik ini aku hanya akan merasa bahagia…

Selalu tersenyum demi bahagia kita…

Kita saling mencintai karena Allah…

Semoga Allah meridhoi langkah kita…

Detik ini dan selamanya….

You are my HERO start from yesterday, this day, everyday…. FOREVER….. Amiiin…. ^_^

Sejuta Kenangan di Kota Purbalingga

Magang ini dijadwalkan dimulai tanggal 4 Oktober 2010 dan berakhir pada tanggal 24 Desember 2010. Di akhir magang akan ada ujian komprehensif. Itu berarti ada pengurangan jatah magang. Yah, lumayan walau agak lebih berat juga sebenarnya.

***

Sore itu tiga orang diantara kami termasuk aku berangkat ke Purbalingga naik salah satu travel yang menyediakan jasa. Pukul empat tepat travel berangkat dengan pesan kami yang akan menuju Banjarnegara dan Purbalingga akan di-oper ke mobil yang lain nanti sewaktu transit di Magelang. Sampai Magelang satu jam setelahnya. Kami pikir sepuluh menit dari itu akan berangkat lagi, tapi ternyata kami salah besar. Karena sopirnya belum ada maka satu jam kemudian mobil baru dikemudikan bergerak meninggalkan pool di Magelang. Aku sudah tidak tahu daerah mana yang kulewati itu. Yang kutahu saat aku membuka mata pemandangan sungguh indah di tepian. Yah, dari situ saja aku tahu kami sudah sampai Kledung. Temanggung. Mataku kembali terpejam. Hampir ¾ perjalanan kuhabiskan dengan tidur. Pengaruh Antimo® sepertinya. Sampai di gerbang selamat datang di Purbalingga aku terbangun dan tidak bisa tertidur lagi. Ingin melihat kota yang akan kusinggahi selama 3 bulan kedepan yang baru malam ini aku melihatnya. Sepi. Lengang. Mobilpun beranjak ke desa Wirasana tempat rumah sakit umum daerah berada. Kubaca lamat-lamat “RSUD dr. R. Goeteng  Tarunadibrata Purbalingga”. Ah, sudah sampai. Besar dan indah kulihat rumah sakit ini. Saatnya memasuki jalanan kecil dan berbatu tempat perumahan medis berada. Di gang kedua larik kedua nomor dua rumah dinas untuk kami berada.

Kami memasuki rumah dengan sambutan penuh kecriaan dari teman-teman yang datang lebih dulu dan membiarkan kami bertiga berkeliling dan membantu berbenah. Sempit dan panas. Tapi dengan adanya kipas angin, kulkas, dispenser, dan televisi di ruang utama sedikit membuat kami sumringah walau setelah dinyalakan semua listrik tidak kuat. Alias “njeglek”. Apalagi kalau magic com dan dispenser penghangat menyala. Wah, selamat tinggal. Hehe..

Kami akan tinggal bersepuluh dalam tujuh kamar selama kami magang. Agak menyalahi aturan, kami terpaksa tinggal campur cowok-cewek  karena asrama yang satunya rusak parah. Dan, itu sebenarnya mengurangi kengerian kami karena bisa kumpul semua di bangunan lama tak ditinggali ini, bangunan yang sederhana dan di lingkungan yang sepi. Hanya ada beberapa tetangga yang bekerja sebagai perawat di RSUD yang mereka pun berkisah bahwa perumahan ini horor. Audzubillah….

Aku sekamar dengan seorang teman yang belum pernah dekat sebelumnya, beda home based pula. Tapi Alhamdulillah kami sudah pernah satu kelompok saat di Magelang dan membuatku sedikit tahu karakternya. Berbagi ruang dengan seorang yang sama sekali baru memberiku pelajaran baru.

Setelah berbenah sebentar ingin rasanya langsung tidur. Tapi… rasa panas dan tidak biasa dengan suasana baru membuatku sulit terpejam atau mungkin juga karena di perjalanan terlalu banyak tidur.  Malam sudah semakin larut dan tanpa sadar aku bisa tertidur, bangun saat sahur. Itu berarti aku hanya tidur tiga jam dengan kualitas buruk. Dan begitulah selanjutnya, aku baru bisa tidur tengah malam, terbangun jam 5.00 karena tidak dengan adzan subuh dengan kelelahan tersisa. Jika tidak dapat giliran jaga malam tertidur lagi selepas Shalat sampai fajar menyingsing pukul 07.00. Terbuang impian untuk jogging dan setidaknya berlama-lama berdzikir ba’da Subuh.

Paginya harus orientasi dulu di rumah sakit. Tidak seperti yang kami kira, orientasi hanya butuh 2 jam kurang sehingga saat adzan Dhuhur kami sudah selesai. Kamipun merencanakan pergi rekreasi ke Owabong (obyek wisata Bojangsari) yang letaknya sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi kami tidak punya kendaraan. Naik angkot. Itulah keputusan kami. Walau mendung dan aku serta seorang teman dalam keadaan puasa tidak menyurutkan niat kami. Kelelahan naik travel yang getarannya karena bermesin diesel masih kurasa dan lemas karena puasa tetap saja membuatku ikut semangat untuk melihat tempat baru.

Sesampainya di Owabong dan membeli tiket kamipun masuk dan jeprat-jepret dengan kamera Handphone, seadanya, dan aku yang sedang bersikukuh tidak mau difoto sibuk mencari obyek tanpa subyek yang membuat teman-teman menggerutu karena tidak masuk kamera. Aah…narsis juga mereka.

Setelah berdiskusi apa yang akan kami lakukan pertama kali, kami berganti pakaian. Dan yang paling awal akan kami lakukan adalah masuk ke kolam anak dan berfoto disana. Aneh memang. Kemudian naik ke tower tertinggi untuk meluncur dalam kolam waterboom. Aku yang notabene sama sekali takut mencebur ke air nekat saja ikut euforia teman-teman untuk meluncur. Bajuku yang lengkap dari ujung kepala sampai kaki membuatku kesulitan meluncur. Sesampainya di ujung aku baru menyadari ketakutanku. Dan…… Byuuuuurrrrrr…..kecipak-kecipak….tanganku berusaha menggapai udara mencari sesuatu untuk pegangan, tapi semua air. Air yang aku takutkan. Mungkin sudah seliter air aku minum sampai megap-megap. Beberapa detik kemudian dengan satu tangan dari belakang menjorokkanku ke depan dan membuat kakiku menapak lantai, sang Life Guard menyelamatkanku. Hal yang kusadari adalah…kolam ini tidak dalam. ~~,

Setelah bisa menguasai keadaan seorang teman terbengong-bengong dan berjalan menggapaiku. Akupun memeluknya dan minta bantuannya untuk berjalan ke tepian. Hakaka… how fool am I…. dan yang lebih “fool” lagi, dua orang lelaki yang sejatinya akan meluncur di belakangku mengurungkan niat untuk meluncur hanya karena melihatku dengan kekonyolanku itu. Mereka takut. Sungguh aneh bukan? Hehee….

Selesai berceburan dan gemetaran karena takut kami berdelapan beranjak ke wahana berikutnya, yaitu kolam arus. Di sini kami naik perahu karet yang akan berjalan mengikuti arus. Masalah di sini uang kami terbatas dan kebanyakan sudah masuk ke dompet di loker. Jadi hanya 3 ban yang disewa, konsekuensinya ada yang berenang mendorong perahu. Banyak hal lucu terjadi termasuk terceburnya perahu kawan yang didesak-desak. Jeritan-jeritan histeria terjadi, naik lagi, jatuh lagi…. seru ya? Di muara ada tiang berdiri di atasnya bediri sebuah gentong berayun yang diisi air. Mekanisme kerjanya jika penuh si gentong akan menumpahkan isinya ke bawah. Sengaja, kami mengapung-apung di bawahnya. Menunggu penuh dan…..byuuurrrr diiringi teriakan aaaaahhhh lanjut ketawa bersama, mengulangi lagi. Hal yang kusadari adalah puasaku batal teman… huff…

Lelah bermain air kami dengan basah kuyupnya semakin basah dengan hujan yang turun. Beranjak ke bawah, mencari pemandian air hangat dan terapi air serta ikan. Mandi air hangat lumayan meredakan kedinginan yang kuderita. Seperti biasa migrain sudah mulai menyerang dan cukup membuatku kehilangan tenaga apalagi ceritanya aku puasa nih, belum makan. Tapi demi keriangan semuanya, aku bertahan. Selesai dan puas main air dan ikan kami mandi dan sholat. Hujan semakin deras tapi tak menyurutkan keinginan kami untuk segera pulang melepas lelah. Untuk hari kedua ini aku bisa tidur nyenyak. Alhamdulillah.

Hari pertama jaga aku mendapat shift malam bersama seorang rekan cowok. Di hari pertama ini supervisor kami seorang dokter baru juga. Baru 2 bulan dinas di RSUD ini. Masih fresh. Jadi seperti ngobrol dengan kakak kelas juga. Sejatinya dia pendiam dan peragu kulihat. Tapi dengan berjalannya waktu yakin dia sangat berusaha berubah dan menutupi semuanya. Good job then.

Hari berlalu, terapi masih diberikan oleh supervisor jadi kami berlaku masih seperti koass, berhenti sampai diagnosis. Maklum, ini IGD RSUD, kami harus melakukan yang terbaik dan respon time yang cepat. Butuh jam terbang dong ya, apalagi aku yang sering lambat dan terlalu pemikir. Sejak hari pertama aku selalu menghindari “hecting” seperti yang kulakukan dulu saat koass. Masih teringat aku baru pegang jarum sekali. Hanya sekali dan cukup. Entah kenapa aku sangat malas berdiri lama merawat luka dan menjahitnya. Dan tentang kasus gawat darurat yang lain betapa aku masih belum bisa menggerakkan kaki cepat dan tanggap. Yah, butuh waktu. Dan yang kusadari sampai bulan berganti aku masih belum banyak mengalami perubahan berarti. Masih belum mendekat pada kasus hecting dan masih “bersembunyi” jika kasus gawat darurat.

Akhir minggu pertama, aku sengaja minta libur dan pulang. Ya, aku ingin melewati pergantian usiaku di tempat aku dilahirkan. Yogyakarta tercinta. Surprise ada orangtuaku. Senang bisa kumpul berempat dan jalan bareng. Di saat makan malam di salah satu Resto di mall terbesar Yogyakarta, adikku tersayang mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya dan mengatakan itu hadiah buatku. Saat kubuka…..iPod touch yang dulu pernah sangat kuinginkan sampai aku menabung dan berniat beli sebelum akhirnya hape lamaku rusak dan kupendam dalam lubuk hati keinginan mustahil tersebut. Dan kini, saat aku sudah tidak memikirkan itu lagi. Saat aku memang membutuhkan karena headsetku rusak, iPod ini boleh aku miliki. Aku sangat terharu dan spontan memeluk adikku tersayang bergantian pada ayah-ibuku. Semua ini kuasa Allah, Ia tahu kapan hambaNya benar-benar layak dan membutuhkan. Let things fall correctly in their place. Yah, smua ada waktunya.

Keesokan hari kebersamaan kami diakhiri dengan nonton bareng di kamar, sebuah film lama “emak ingin naik haji”. Aku menangis tertahan, menangis dan menginginkan hal yang sama. Naik haji. Sekali lagi, menunggu waktu dan ijinNya. Kemudian tiba-tiba sepi dan seorang teman menelponku meminta segera kembali ke Purbalingga karena dokter pembimbing ingin bertemu semuanya. Ah, masa bodoh, ini masih hari ultahku yang akan kuisi dengan kebersamaan bersama orang-orang tercinta. Agenda selanjutnya dengan sahabatku yang berulang tahun 4 hari setelahku. Kami berencana pergi ke sebuah cafe yang menawarkan hidangan coklat. Dan di sanalah kami sampai terlewat adzan Maghrib. Mengejar waktu sholat ke Masjid Kampus tercinta, tempatku beritikaf semalaman saat Ramadhan. Rindu sekali saat-saat itu. Selesai shalat kami berdiam diri sampai Isya datang dan kami tunaikan di sana berjamaah. Lengkap sudah kesyukuranku di hari ini. Keinginanku untuk berdiam di Masjid walau hanya sekejap terlaksana sudah. Selesai Isya lapar lagi, mencari makan di tempat yang belum pernah kukunjungi. Makan sambil tukar kado dan berfoto. It’s a great memory. Kapan lagi aku bisa seperti itu. Menikmati sungguh hari aku dilahirkan penuh kesyukuran. Satu agenda yang terlewat. Mengunjungi panti asuhan dan berbagi disana. Semoga lain waktu bisa. Amiin…

Kado yang kudapat sebuah buku berjudul Dahsyatnya Sabar. Ya, sahabatku ini tahu benar jika aku sedang belajar sabar. Sabar dari cobaan, ujian….semoga bukan adzab. Aku belum tahu tentunya jika buku itu nantinya yang akan menuntunku bangkit. Aku belum tahu.

Keesokan hari masih agenda pergi bersama sahabtku. Kali ini menuruti inginnya ke Kaliurang, ingin memancing. Masih teringat itu tanggal 12 Oktober 2010. Belum tahu jika beberapa saat kemudian Merapi ber-status siaga bahkan awas dan akhirnya meletus di tanggal 26 Oktober 2010. Yang aku tahu saat itu, perasaanku tidak enak. Kami makan di Boyong Kalegan, main rakit di sana, tidak jadi memancing dan saat aku  bulan kedua aku berada di Purbalingga  rumah makan itu sedang tertutup abu meletusnya Merapi. Sorenya, dengan kelelahan dan tak rela kembali bertugas harus segera kembali ke perantauan. Malam tiba di asrama, disambut teman-teman dan bercerita. Selanjutnya aku insomnia. Aku tak tahu jika kasus ini akan berlarut beberapa hari kemudian. Tak tahu jika jaga malam berikutnya menjadi sangat berat dan memberikan efek insomnia berlebih.

Akhir minggu kedua, diajak refreshing berlima. Rutenya dari kebun strawberry yang tidak bisa kami masuki karena hujan deras, baturaden, dan purwokerto. Menyenangkan bisa keluar sejenak dari rutinitas, tapi hal yang kusadari adalah aku kelelahan. Dan ini memperburuk keadaan. Jam biologisku semakin kacau dengan lanjut jaga malam. Keesokan hari tidak bisa membalas waktu tidur karena rekan yang maju presentasi kasus. Demikian terjadi 2 kali pasca aku jaga malam.

Hari libur keduaku dan aku memutuskan tidak pulang ke Yogyakarta. Ingin meredakan lelahku dan menenangkan diriku yang kusadari sedang di atas angin… unstable… betapa “adaptasi” belum bisa kulakukan dengan cepat. Adaptasi terhadap lingkungan dan pekerjaan ini, perubahan ritme biologis.

Dua minggu telah berlalu dan kini menginjak minggu ketiga. Dan satu hal yang kusadari bahwa aku kehilangan semangatku. Beberapa penyakit lamaku kambuh karena stress akut yang kuderita. Insomnia, palpitasi dengan VES (Ventrikel Extra Systole), dysmenorrhea, dan yang paling parah rasa malas serta bosan. Dua terakhir yang mengkhawatirkanku. Karena dengan keberadaan dua momok itu membuat semangatku semakin tersingkir dan tak mau kembali. Merenung. Berpikir. Aku lelah fisik dan psikis, ya… mungkin butuh istirahat, tapi pikiranku tak mau berhenti juga berpikir. Perfeksionisme membuatku selalu berpikir untuk tidak gagal. Jujur aku takut, takut tidak bisa menangani  pasienku dengan baik. Walau… bukan aku dokter utama tapi beban calon dokter selalu menghantui. Jika… aku tak bisa melakukan dengan baik maka aku berpikir aku tak layak jadi dokter. Stagnansi…. pikiranku stagnan dan aku bosan. Lelah. Menyadari bahwa aku belum bisa apa-apa dan cenderung menghindari kasus sulit membuatku ingin lari saja. Tapi aku tak bisa lari.

Baiklah…. lingkungan ini cukup ramai untukku menemukan duniaku. Duniaku yang penuh kesendirian untuk membaca dan menulis. Aku kehilangan waktu untuk menuangkan pikiranku, untuk berkhayal sendiri dan sejenak menjauh dari dunia nyata yang menjemukan. Atau… berlama-lama bercerita padaNya, memohon, dan meminta. Aku ingin waktu tambahan… waktu bisa tidur malam dengan nyenyak tanpa insomnia dan paginya VES mendera. Hmppff… apa aku kurang bersyukur? Rasanya percuma berusaha mengobati orang lain tapi kesehatan diri terabaikan. Aku lupa, aku sempat melupakan diriku dan aku merasa bersalah. Yeah…lost my “me time” i guess….

Saatnya re-charge energy….. menyusun startegi baru… semoga minggu-minggu ke depan jauh lebih baik dari minggu yang kutinggalkan. Menyadari aku sudah seperempat abad juga, harus belajar lebih dewasa. Jadi ingat saat seorang yang lebih muda dariku berkata, “tua itu pasti tapi menjadi dewasa adalah pilihan”. Lama sekali aku merenungi kata-kata itu…. pun hingga detik ini…

Ya, sudah minggu kelima ini. Sudah 4 minggu berlalu. Aku sudah melewati masa stagnanku yang sempat kuceritakan itu. Alhamdulillah. Justru aku bisa menemukan energi dari kesibukan lain dan dari buku yang kubaca, hadiah dari sahabatku yang sempat kuceritakan sebelumnya. Selanjutnya, aku bisa menyempatkan diri ke Masjid Agung di kota ini. Betapa damainya hatiku. Bateraiku sudah kembali full dan semangatku mulai bersemi. Terimakasih pada seorang rekan juga yang sudah berbaik hati mengambil 2 jatah malam-ku agar aku bisa istirahat dan selalu akan berada di sampingku sampai magang ini  berakhir. Saat itu aku belum tahu akan ada perasaan yang lebih dan hubungan yang lebih. Terima kasih pada seorang yang lain yang memberikanku pelajaran berharga bahwa orang di dunia ini ada yang sulit diatur. Mungkin membuatku untuk lebih bersabar meski hari-hariku dengannya penuh ke-“jengah”an dan penuh teguranku untuknya, dari bahasa terhalus yang kubisa hingga teriakan tidak suka, dari bahasa tubuh sekedar menghindar sampai sengaja menjauhinya dan menyatakan tidak suka.

Di asrama ini, aku belajar banyak hal, banyak karakter. Hidup bersama 10 orang dengan kepentingan berbeda. Secara alamiah aku selalu berusaha menjadi “leader”, memutuskan yang harus diputuskan dan seolah menjadi kepala rumah tangga. Itu terjadi beberapa saat, saat aku memulihkan diri dan menyibukkan diri di dapur sebagai “koki”. Harus memastikan mereka semua bisa makan walau serba kekurangan. Alhamdulillah, mereka “manut” padaku, paling tidak mau mendengar apa yang kubilang dan kami semua bisa sharing demi kebaikan bersama. Alhamdulillah kami semua saling pengertian. Senang bisa disatukan dengan mereka. It’s so dynamic group i’ve ever had.

Rekan sekamarku termasuk orang yang keras wataknya sehingga cenderung melakukan dan mempertahankan pendapatnya yang menurut dia benar, memberikan alasan pendukung dan lain sebagainya. Tapi dia baik, teman sekamar yang baik. Tidak neko-neko dan sesuai aturan. Pacarnya juga keras dalam mempertahankan pendapat. Pintar, dia ex-anggota divka yang satu tim denganku. Cukup tahu banyak tentangnya. Meski mereka berdua cenderung ingin enaknya sendiri, mereka cukup lihai membalut kepentingan pribadi dalam keharmonisan tim dan tentunya dengan dalih yang masuk akal.

Tetangga kamarku dua  orang cewek, mereka sudah lama kukenal dan seorang darinya pernah satu mess di wonosobo. Rekan ex-sekamarku itu tergolong rajin, suka membantu dan jarang mengeluh. Tubuhnya kecil tapi makannya banyak. Aku sering geli sendiri melihatnya. Dia pernah menciptakan olahan roti tawar isi “fla” ala dia dan kami sepakat menyebutnya Roti Dokter Magang Purbalingga. Roti favorit kami. Seorang lain home based di Temanggung, sama seperti teman sekamarku dan pacarnya. Ia masuk Purbalingga karena calon suaminya orang Purbalingga. Ia murah hati dan jago masak juga, masakan ‘kota’ yang penuh bumbu-bumbu asing bagiku. Saat itu menu andalan yang diperkenalkan pada kami Jamur Asam Manis yang melegenda.

Tetangga sebelah kanan ada si Kwik. Tidak perlu banyak cerita tentangnya, dia salah satu orang yang selalu di sampingku dan koki paling handal di asrama ini. Seberang kamarnya ada kamar pacar rekan sekamarku dan seorang lain yang aku sering jaga bersamanya, sering gantian jaga, dan sering ngobrol berdua bahkan sampai larut malam. Orang ini yang paling baik padaku dan yang kubilang selalu ada untukku.  Kesannya padaku “galak, sadis, dan raja tega” hihihiii geli aku mendengarnya memberikan penilaian padaku. Aku melihatnya terlalu sabar, sensitif, terlalu baik, suka mengeluh, dan terlalu mudah terbawa arus. Tipe bahaya juga ini orang. Pasti kesulitan jika jadi pemimpin. Dia sangat cocok jadi asisten karena sifat penurut yang dia punya. Dia sama sepertiku dan seorang cowok lain, dari Jawa Timur. Bedanya dia asli Banyuwangi. Seorang lagi jebolan Darul Ulum Jombang dan asli sana. Ini orang berfilosofi kura-kura. Jalan lambat, tapi sampai tujuan dengan selamat. Diam-diam dia juga ingin jadi ahli bedah dan berbakat jadi pemimpin, meski aku yakin tak sebaik tetangga kamarnya, seorang ex-ketua BEM, masih muda tapi berwajah tua yang membuatku termenung dengan kata-katanya tempo hari (tua itu pasti tapi dewasa adalah sebuah pilihan). Memang sering begitu, kata-katanya benar-benar tertata rapi dan enak didengarkan. Ia sama denganku, perfeksionis, jago berkata-kata dan berdiplomasi. Bedanya dia lebih baik dariku. Dan dialah yang terkenal teliti dan pintar. Aku sempat mengaguminya sebelum aku tahu bahwa dia sama juga keras kepala.

Kamar paling pojok dihuni oleh seorang yang selalu membuatku bersitegang. Seorang dengan egonya yang tinggi. Tidak banyak yang bisa kukatakan, takutnya malah menjelekkan karena belum tentu juga aku baik. Namun yang terpenting bagiku, hikmah dari mengenalnya adalah membuatku lebih tersadar bahwa ada jenis manusia seperti dia di dunia ini dan memaksaku untuk bersabar bukan emosi. Yah, semoga Allah memberiku kekuatan. Amiin ya Rabb….

Setelah rutinitas di minggu ke-empat berlalu, tak terasa ini sudah awal minggu ke-lima, awal bulan baru. Aku mendapat jatah istirahat 2 hari. Libur. Dan seperti biasanya sakitku muncul jika aku bisa istrirahat. Sakitku mulai bergejala saat aku sudah pasrah mau bagaimana. Payah. Doppingku sudah tidak berguna, terpaksa minum obat flu yang berefek samping mengantuk. Ya, dengan begini aku bisa istirahat total. Berdiam di kamar saja.

***

Teman-teman terbaikku. Suatu saat seorang dari kami yang paling santai dan gokil memberi nama PEDAGANG (persatuan dokter magang) pada kelompok kami. Kelompok magang yang paling solid saat bekerja. Pedagang Purbalingga. Nama yang unik bukan?

Dan kita akan tetap bersatu, tetap bekerjasama, belajar bersama untuk menempuh UKDI. Dan hasilnya, kita bisa teman… Kita bisa solid lulus semua. Proud of us.

Terimakasih untuk kebersamaan ini. Selama kita bersama aku menemukan persahabatan yang luar biasa yang kuharap selamanya…

***


Pernahkah kau merasa…

Pernahkah kau merasa…

begitu mengharapkan dan mencintai hingga yakin akan bisa memiliki?

Pernahkah kau merasa…

ia yang kau cinta akan menjadi yang terakhir diantara sekian pengkhianatan cinta?

Pernahkah kau merasa…

ia takkan pergi dan rela berkorban apapun untukmu?

Dan nyatanya… Tak pernah nyata?

Harapankah yang terlalu besar?

Tuntutankah keniscayaannya?

Ia pergi dengan sisa cinta dan memasrahkan semua begitu saja…

Pernahkah kau merasa…

Ketika semua itu terjadi cinta yang kau rasa berubah menjadi benci dan luka?

Atas apa? Ini bukan pengkhianatan… Hanya sebuah elegi yang dibuat sendiri…

Lalu…

Kamu mendendam…

Kamu ingin melampiaskan dendam itu…

Bersyukur jika ternyata yang kau punya energi posotif untuk selalu bangkit lagi dan terus berusaha menunjukkan sisi terbaikmu untuk dirimu sendiri…

Duka itu tak boleh bertahan…

Dan tahukah kamu? Aku mengalami hal itu semua…

kesekian kalinya kegagalanku… Aku tersenyum, masygul…

Masih adakah cinta yang tulus kepadaku? Adakah cinta yang tak pernah berakhir? Selalu untuk selamanya…

***

 

Di ujung penantian..

mulai meraba sisi terdalam sebuah rasa…

kutemui firasat…

pahit yang akan kutelan.

bias-bias harapan mulai sirna…

tergantikan isakan tangis tak bertuan…

dan

rindu yang tiada kesampaian,

serpihan kenangan yang buyar dalam kehampaan..

 

rasa ini sama seperti sebelum-sebelumnya…

sebelum aku kehilangan,

sebelum kesedihan itu menjadi nyata…

dan

menjadi mimpi buruk berikutnya

 

di ujung penantian…

aku ragu

bila semua akan baik-baik saja…

dan

menjadi lebih indah…

Yogyakarta, 6 April 2011 (23.30 WIB)

Sebuah episode yang patut dikenang…

Tiga April 2011 adalah hari bersejarah sebagai tonggak baru dalam hidupku dan rekan-rekan sejawatku yang bisa dilantik sekaligus di-sumpah sebagai dokter. Pagi itu tak hanya mendung, hujan deras sepanjang hari namun tak menyurutkan arus peserta dan undangan acara ceremonial ini. Acara yang Alhamdulillah berlangsung khidmat dan mengharukan. Bahagia dan sedih bercampur jadi satu. Entah perasaan apa yang berkecamuk itu. Yang ingin kurasakan hanya aku bahagia. Euforia sebuah “kesuksesan”.

Sumpah dokter merupakan final dari perjuangan dalam pendidikan profesi dokter tapi sama sekali bukan apa-apa dibandingkan perjuangan yang akan kami tempuh. Selanjutnya tidak bersama-sama lagi, tidak bersama kawan-kawan lagi. Sumpah dokter adalah kontrak sosial, kontrak seumur hidup antara kami dan Allah. Sebuah kontrak yang hanya akan berakhir dengan kematian (belum pernah tahu kan ada dokter yang pensiun? Kecuali pensiun karena PNS-nya..). Dan aku sudah mengambil sumpah itu, maka aku harus menjalankan dan sebisanya mematuhi janji yang tertuang dalam naskah itu. Berat, tapi semua akan ringan dengan ridhoNya, semoga barokah, Amiin.

***

Saat ini, bagiku adalah masa transisi yang cukup menyita pikiranku. Pertama, perubahan dari status mahasiswa menjadi dokter. Kadang aku tak percaya aku sudah menjadi dokter. Keseharianku, aku masih sama seperti dulu. Belum berubah. Belum bisa meyakinkan orang (bahkan diriku sendiri) bahwa aku adalah dokter. Yaa mungkin juga karena status ini belum berlaku mutlak, aku belum bekerja. Kedua, aku (seharusnya) sudah bekerja, sudah lepas dari tanggung jawab orangtua untuk membiayai dan untuk diperhatikan lebih. Nyatanya, aku masih seperti itu, masih sebagai seorang anak manja yang belum bisa lepas dari orangtua, belum berani mengambil langkah pasti untuk bekerja. Ketiga, sewajarnya aku memang sudah berkeluarga. Usiaku…sudah hampir 26 tahun. Nyatanya, kesiapanku perlu dipertanyakan. Dari sini aku merenung tiga hal:

  1. Siapkah aku bekerja, mengabdi, beramal sebagai seorang dokter… Long life contract and be a long life learner?
  2. Siapkah aku benar-benar mandiri?
  3. Siapkah aku untuk menikah, menjadi istri dan ibu yang baik di samping tetap menjalankan kontrak sosialku?

Stagnan… adaptasi selalu membuatku stagnan. Aku terlalu sensitif dengan hal yang berbau perubahan, namun aku memang selalu ingin ada perubahan karena sifat mudah bosanku. Hal yang ironi bukan? Unik bin aneh. Itulah aku dengan segala pemikiranku yang kadang aku tak mengerti juga polanya. Fiuuh…. Rasanya, belajar tentang diri sendiri, tentang hidup dan kehidupan saja terasa sangat absurd bagiku. Bagaimana aku bisa menjadi seperti yang kumau? Bagaimana dengan waktu yang terus berlalu…sedetikpun tak akan berhenti menemani stagnansiku. Tidak ada kata lain selain harus bergerak dan bergerak. Selalu menjadi lebih baik agar tak merugi. Selalu berusaha dalam petunjuk dan ridhoNya. Nyatanya, jiwa dan ragaku masih terlalu “malas” untuk bangkit dan berjuang. Mencari dan menggapai semangat dalam gelap. Dalam ketidaktahuan dan kebingungan. Ya…yang sebenarnya kuciptakan sendiri. Jika memang semua yang berlaku menyesuaikan dengan pola pikir maka aku hanyalah seorang yang terjebak dalam pusaran pikirku sendiri jika masa transisi itu terjadi. Setiap terjadinya.

Inna sholati wa nusuki wa makhyaayaa wa mamaati lilla hirobbil’alamiin…