Selagi masih bernafas kita bisa membersihkan dosa..

Segala puji bagi hanya milik Allah. Dialah Yang Maha Menyibak segala kegalauan jiwa, Yang Maha Menghilangkan segala duka dan lara, Yang Maha Menutup setiap cacat dan kekurangan manusia, Yang Maha Menerima tobat hamba-Nya.

Setiap manusia tidak luput dari dosa, kecuali insan pilihan yang memang “terjaga”. Hawa nafsu merajalela, membelenggu makhluk yang awalnya berjanji untuk mengesakan Tuhannya. Semakin banyak ia terbelenggu dalam dosa dan nista, semakin ia merasa sudah tak ada harapan untuk mendapatkan ampunan Tuhannya. Hal ini membuat mereka semakin jauh terperosok ke dalam lubang yang dalam dan enggan untuk bertobat. Bersyukurlah kepada yang masih mendapat hidayah beserta kesempatan untuk bertobat, kembali ke jalanNya.

Allah berjanji yang pasti Ia penuhi, “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nisa: 110)

Rasulullah saw.bersabda: “Allah berfirman, ‘Dan wahai anak Adam, jika Engkau datang kepadaKu dengan dosa-dosa yang memenuhi bumi, kemudian engkau menemui-Ku sebagai seorang yang tidak menyekutukan-Ku, sungguh Aku akan menjemputmu dengan ampunan yang memenuhi bumi’.” (HR at Tirmidzi).

Sebab-sebab Diampuninya Dosa

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Anas bin Malik berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda,

“Allah SWT berfirman, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memohon dan mengharap kepada-Ku, sungguh Aku ampuni apa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli (sebanyak apapun dosa yang telah kau lakukan). Wahai anak Adam, jika engkau datang kepadaKu dengan dosa-dosa yang memenuhi bumi, kemudian engkau menemuiKu sebagai seorang yang tidak menyekutukanKu, sungguh Aku akan menjemputmu dengan ampunan yang memenuhi bumi.” (HR at Tirmidzi).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Akhsan as Sudusiy. Ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi dzat yang memegang jiwaku, kalaupun kamu berdosa hingga memenuhi langit dan bumi, kemudian kamu mohon ampun (istighfar) kepada Allah swt, maka sungguh Allah swt mengampunimu.”

Dari hadits-hadits di atas dapat disimpulkan bahwa ada tiga sebab diampuninya dosa.

Doa dengan penuh harapan

Berdoa harus dibarengi dengan harapan akan dikabulkan, karena doa itu diperintahkan sekaligus dijanjikan untuk dikabulkan, sebagaimana disebutkan dalam ayat ke 60 surat Ghaafir, “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepadaKu niscaya akan kuperkenankan bagimu…”

Agar doa dikabulkan, maka hadirkanlah hati pada saat berdoa, seperti diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Abu Hurairah RA, nabi bersabda, “Berdoalah kepada Allah swt dengan hati yakin akan dikabulkan. Sesungguhnya Allah swt tidak menerima doa dari orang yang hatinya lalai.”

Begitu pentingnya kehadiran hati dalam berdoa, sehingga seorang hamba dilarang berkata di dalam doanya: “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau berkehendak.” Berdoa harus dilakukan dengan serius dan yakin akan dikabulkan karena Allah SWT tidak pernah terpaksa untuk memberi dan mengampuni hambaNya.

Berdoa terus menerus

Selama seorang hamba berdoa terus-menerus dan tidak putus berharap kepada Allah SWT maka sesungguhnya dia telah mendekati saat dikabulkannya doa. Barangsiapa yang terus-menerus mengetuk maka dia akan segera dibukakan pintu.

Allah SWT berfirman dalam QS Al Araf 56:

“…Dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik…”

Diganti dengan yang lebih baik

Salah satu bukti kasih sayang Allah kepada hambaNya adalah jika seorang hamba berdoa meminta kebutuhan dunia, maka Allah SWT akan menggantinya dengan yang lebih baik, dengan hikmah diantaranya sebagai berikut:

  • Menjaganya dari keburukan
  • Menyimpannya di akhirat
  • Diampuni dosanya

Sebab utama diampuninya dosa

Seorang hamba yang melakukan dosa, jika tidak pernah memohon ampunan kecuali kepada Allah SWT dan hal ini dilakukan dengan terus-menerus dan penuh harapan akan dikabulkan, maka ia akan mendapatkan ampunan yang dimintanya, seperti firman Allah, “Aku sesuai prasangka hamba kepadaKu, maka berprasangkalah kepadaKu sesuka hatimu..”

Allah juga berfirman, “Sesungguhnya tidaklah engkau memohon ampun dan mengharapkanKu, kecuali Aku ampuni dosamu seberapapun jumlahnya.”

Istighfar (memohon ampunan)

Makna istighfar

Istighfar berarti memohon ampunan (maghfirah). Maghfirah adalah proteksi dari keburukan yang ditimbulkan oleh dosa. Istighfar banyak disebutkan dalam Al Quran dan bahkan merupakan bagian dari perintah Allah SWT.

“…Dan mohonlah ampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (Al Muzammil 20).

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepadaNya..” (Hud 3).

“Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Ali Imran: 135)

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nisa: 110)

Istighfar dan tobat

Pada banyak tempat, penyebutan kata istighfar selalu disertai dengan tobat, karena istighfar bermakna memohon ampunan dengan lisan, sedangkan tobat adalah upaya meninggalkan dosa yang dilakukan oleh hati dan anggota badan.

Seseorang yang berdoa, “Ya Allah ampunilah aku” berarti ia memohon ampunan kepada Allah swt. Statusnya doa ini sama seperti doa-doa yang lain. Jika Allah swt menghendaki, Dia akan mengampuninya terutama jika berdoa dari dalam hati dengan pengakuan dosa atau bila melakukannya pada waktu-waktu mustajab, seperti pada waktu sahur dan sesudah shalat.

Imam Al Hasan berkata, “Perbanyaklah istighfar di rumah, dalam jamuan, di jalan, di pasar, saat pertemuan, dan dimana saja kalian berada karena kalian tidak mengetahui kapan ampunan itu diturunkan.”

Seseorang hamba yang berdosa, selama ia mau beristighfar dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatannya, niscaya Allah swt akan mengampuni dosanya.

Hadits nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas menyebutkan, “Orang yang bertobat dari dosa itu bagaikan orang yang tidak memiliki dosa, sedangkan orang yang memohon ampun dari dosa tapi tetap melakukan dosa itu, bagaikan orang yang menghina Tuhannya.”

Imam Dhahak mengatakan bahwa ada tiga orang yang tidak diterima doanya. Dua diantaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, seorang laki-laki yang tinggal bersama wanita dan melakukan zina, setelah melampiaskan syahwatnya ia berkata, “Ya Allah, ampuni aku atas apa yang telah aku lakukan pada wanita ini.” Allah berkata, “Berpalinglah darinya, Aku ampuni dosamu. Tetapi jika kamu tetap melakukannya, maka (kamu) tidak akan Aku ampuni.

Kedua, seorang laki-laki yang membawa harta umat, tetapi ia pakai untuk menafkahi keluarganya, kemudian ia berkata, “Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang telah aku makan.” Allah swt berfirman, “Kembalikan kepada mereka, Aku ampuni dosamu, sedangkan yang tidak engkau kembalikan, Aku tidak akan mengampunimu.”

Istighfar yang sempurna berbuah maghfirah

Istighfar yang sempurna adalah istighfar yang diiringi dengan kesadaran penuh untuk tidak mengulangi perbuatan dosa. Seseorang yang berkata, “Astaghfirullah (saya memohon ampun kepada Allah swt)”, sama dengan ketika dia berkata “Allahummaghfirlii (Ya Allah, ampunilah aku).”

Orang-orang yang berdusta dalam tobatnya, sebenarnya mereka belum bertobat seperti yang diyakini oleh kebanyakan manusia, karena di dalam tobat itu harus ada komitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Istighfar yang utama dan berapa kali?

Istighfar seseorang akan menjadi sempurna dan utama jika diawali dengan memuji Allah, kemudian mengakui perbuatan dosa yang telah dilakukan kemudian diikuti dengan permohonan ampunan kepada Allah swt.

Istighfar sehari minimal 100  kali.

Istighfar obat segala dosa

Secara umum, istighfar adalah obat penawar seluruh dosa yang telah dikerjakan oleh manusia. Maka rasulullah dalam riwayat Abu Hurairah bersabda, “Bahwasanya setiap penyakit itu ada obatmya dan sesungguhnya obat dosa itu adalah istighfar.”

Tauhid

Barangsiapa hidup di dunia tanpa tauhid, maka jangan harapkan mendapatkan maghfirah (ampunan). Sebaliknya, barangsiapa yang menjaga dan memelihara tauhid, maka dia benar-benar telah mengantongi sebab utama diberikannya ampunan.

Wallahua’lam bi showab..

 

Disarikan dari buku Dosamu pasti diampuni karya Imam Al Qabuni; Ibnu Rajab Al Hanbali

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: