Delisa…

20160510_144220Delisa, anak kecil usia 6 tahun itu,,, bisa menegurku dengan ceritanya. Ah, lebih tepatnya Tere-Liye sang pengarang lah yang membuatku tertunduk untuk berpikir. Untuk merenungkan tentang hidup dan kehidupan, mati dan kematian. Hanya itu intinya tapi bisa diinterpretasikan banyak hal. Bagi orang-orang yang mau berpikir, bagi orang yang mau merenungi ayat-ayat ALLAH baik yang tersurat maupun tersirat.

Aku tertohok, yang pertama masalah niat. Ya, masalah sesederhana itu. Untuk apa semua yang kulakukan selama ini? Nihil rasanya, jika semua hanya semata untuk memuaskan ego menjadi yang terbaik, mendapat hadiah, mendapat pujian… Bukan lillahita’ala. Astaghfirullah… 25 tahun ini serasa aku hanya berjalan tanpa arah. Dan ini adalah titik dimana aku mulai mencari sejatinya akan kemana aku, sejatinya apa yang kucari.

Hidup bisa saja hanya berjalan, wasting time, semua pasti akan berakhir. Karena begitulah sifat dasar hidup. Hidup itu fana. Akan tetapi, bukankah lebih indah jika kita bisa memaknai hidup yang sederhana ini tanpa memperunyam menjadi lebih enak dan barokah untuk dijalani? Ya Rabb, aku baru tersadar karena Delisa. Kuharap bukan semata kesadaran semu. Aku ingin ini titik balikku menuju fitrah, mulai dari NOL meniatkan semua tindak dan sikap hanya untukMu, karenaMu, dan hanya mengharap ridhoMu. Sehingga ikhlas, sabar, dan syukur dekat dengan hidup dan kehidupanku. Amiin ya Rabb.

Tiada kata terlambat untuk sesuatu yang belum terlanjur. InsyaAllah….

Masalah kedua adalah tentang bagaimana menghargai hidup dan kehidupan itu sendiri. Memaknai hidup dengan sederhana membuat hati kita jauh lebih bisa ikhlas dan syukur. Tapi bagaimana dengan kesabaran untuk menjalaninya? Sabar untuk menerima kebaikan lebih mudah daripada sabar dalam menjalani kepahitan. Keceriaan dan kebahagiaan sebenarnya adalah ulah hati. Tetapi manusia pasti memiliki saat untuk “jatuh” saat dimana ia akan lupa terhadap semua hakikat. Walau demikian pasti bisa kembali ke jalan yang lurus lagi dengan hidayah Allah, hanya tergantung pada kita bagaimana memaknainya. Bagaimana bisa selalu menjaga hati dan berkompromi sebaik-baiknya.

Ini berhubungan dengan kemunafikan. Benar atau salah, sadar atau tidak kita sering terperosok dalam jurang yang kita buat sendiri. Perangkap yang kita tak sadari. Sebuah kebohongan yang akan dilanjutkan kebohongan lain, dst.

Yang lainnya adalah rasa cemburu, iri dan dengki. Bisa menutup ke kebaikan yang lain apalagi diikuti permusuhan dan ini pasti niat sudah salah. Audzubillahimindzalik.

Hidup ini fatamorgana, hidup ini penuh dengan tipuan memang… Tapi tak selayaknya kita tertipu dan menipu. Tak selayaknya kita membenci dan menyalahkan keadaan.

Kita hidup, kita menjalani kehidupan karena Allah. Jadi, kembalikan semua urusan padaNya, mulai dari niat hingga pengharapan. Maka masalah di dunia ini selesai.

Bukan, bukan kematian yang menyelesaikan. Karena hakikat mati dan kematian hanya memisahkan kita dengan dunia. Karena tiap jiwa pasti akan mati. Tiap kita pasti akan dimintai pertanggungjawaban saat kita menjalani hidup dan kehidupan. Itu berarti masalah belum usai kecuali kita bisa kembali pada Allah, hanya pada Allah… Tanpa mengharapkan apapun dari manusia lain. Tanpa takut kehilangan orang lain, apapun di dunia ini fana…

Meski sulit, kita pasti bisa. InsyaAllah bisa. Karena tidak ada yang tidak mungkin bagiNya… Semestapun bertasbih, meng-amin-i… Subhanallah…walhamdulillah…walailahailallah…allahuakbar… Dengan cara mereka sendiri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: