Stagnan.. again n again..

Pagi ini libur keduaku dan aku memutuskan tidak pulang ke Yogyakarta. Ingin meredakan lelahku dan menenangkan diriku yang kusadari sedang di atas angin… unstable… betapa “adaptasi” belum bisa kulakukan dengan cepat. Adaptasi terhadap lingkungan dan pekerjaan ini, perubahan ritme biologis.

Dua minggu telah berlalu dan kini menginjak minggu ketiga. Dan satu hal yang kusadari bahwa aku kehilangan semangatku. Beberapa penyakit lamaku kambuh karena stress akut yang kuderita. Insomnia, palpitasi dengan VES (Ventrikel Extra Systole), dysmenorrhea, dan yang paling parah rasa malas serta bosan. Dua terakhir yang mengkhawatirkanku. Karena dengan keberadaan dua momok itu membuat semangatku semakin tersingkir dan tak mau kembali. Merenung. Berpikir. Aku lelah fisik dan psikis, ya… mungkin butuh istirahat, tapi pikiranku tak mau berhenti juga berpikir. Perfeksionisme membuatku selalu berpikir untuk tidak gagal. Jujur aku takut, takut tidak bisa menangani  pasienku dengan baik. Walau… bukan aku dokter utama tapi beban calon dokter selalu menghantui. Jika… aku tak bisa melakukan dengan baik maka aku berpikir aku tak layak jadi dokter. Stagnansi…. pikiranku stagnan dan aku bosan. Lelah. Menyadari bahwa aku belum bisa apa-apa dan cenderung menghindari kasus sulit membuatku ingin lari saja. Tapi aku tak bisa lari.

Baiklah…. lingkungan ini cukup ramai untukku menemukan duniaku. Duniaku yang penuh kesendirian untuk membaca dan menulis. Aku kehilangan waktu untuk menuangkan pikiranku, untuk berkhayal sendiri dan sejenak menjauh dari dunia nyata yang menjemukan. Atau… berlama-lama bercerita padaNya, memohon, dan meminta. Aku ingin waktu tambahan… waktu bisa tidur malam dengan nyenyak tanpa insomnia dan paginya VES mendera. Hmppff… apa aku kurang bersyukur? Rasanya percuma berusaha mengobati orang lain tapi kesehatan diri terabaikan. Aku lupa, aku sempat melupakan diriku dan aku merasa bersalah. Yeah…lost my “me time” i guess….

Saatnya re-charge energy….. menyusun startegi baru… semoga minggu-minggu ke depan jauh lebih baik dari minggu yang kutinggalkan. Menyadari aku sudah seperempat abad juga, harus belajar lebih dewasa. Jadi ingat saat seorang yang lebih muda dariku berkata, “tua itu pasti tapi menjadi dewasa adalah pilihan”. Lama sekali aku merenungi kata-kata itu…. pun hingga detik ini…

 

1 Comment (+add yours?)

  1. Wening
    Oct 26, 2010 @ 04:09:17

    Kamu pasti bisa!
    Kamu hebat!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: