Cerita tentang Wonosobo…

Tak terasa dua tahun sudah aku bersama timku menimba ilmu di RSUD Wonosobo, tandanya akan segera berakhir perjuangan kami di sini. Ada rasa suka karena tugas telah diselesaikan tepat waktu namun juga sedih akan berpisah dengan hal-hal yang kami akrabi selama 2 tahun terakhir hidup kami. Tentunya, banyak kenangan baik suka dan duka yang telah terjadi, mengisi memori.

Flashback…

Koas tujuh, sebutan bagi tim kami sendiri. Hanya karena kami bertujuh, bersatu karena keadaan, dan berujung menjadi kompak. Tak ada latar belakang kami memilih Wonosobo sebagai home base yang akan menjadi kawah candradimuka kami menuntut ilmu preklinik.

Ingin kami ke Purworejo hanya karena alasan dekat dari Jogja, bisa sering pulang. Home base yang dibuka saat itu ada Temanggung, Salatiga, Purworejo, Wonosobo, Bantul, dan Wirosaban. Khusus Bantul dan Wirosaban diperuntukkan bagi koasisten (dokter muda) yang juga mengambil S2 MMR. Sehingga pilihan tinggal 4 tempat.

Saat undian tiba. Bisa ditebak peminat RSUD Purworejo membludak. Jauh melebihi kuota yang 40 orang saja. Sedangkan kami semua berjumlah lebih dari 100 calon dokter muda. Tim kami kalah undian, masuk ke undian Temanggung-Wonosobo. Dan jadilah kami bertujuh resmi menjadi salah tujuh dari 26 dokter muda yang akan dikirim ke RSUD Wonosobo. Pilu, sedih, meratap, tak terima, jengkel dan lain sebagainya perasaan itu berkecamuk di dada kami masing-masing. Menangis dan menangis meratapi nasib. Sialkah kami?

Banyak sekali kabar miring tentang Wonosobo. Dokternya galak lah, kotanya tak aman lah, dan lain-lain. Maklum, tiada satupun dari kami pernah melihat bagaimana Wonosobo. Bayangan tak baik saja yang melintas. Tahu kotanya dingin dan cukup jauh dari Jogja saja sudah membuatku ragu. Tak mau berangkat rasanya. Tak mau koas di sana.

Setelah melihat sendiri bagaimana Wonosobo itu, indahnya alam yang menyejukkan, akupun jatuh cinta. Tiap pagi bisa melihat indahnya pegunungan nun jauh disana, kehijauan menyejukkan hati. Ya hanya itu hiburanku. Melihat keindahan alam di tengah kepenatan dan hiruk pikuk dunia per-koas-an. Beberapa segmen tentang dunia kecilku itu telah kutuliskan. Aku memulai menulis di tahun keduaku. Karena alasan tertentu, keterpurukanku di tahun pertama akibat sebuah relasi tak sehat dengan seseorang, aku enggan mengekspose kisahku. Intinya, aku sangat tidak bisa menikmati stase besar karena hati yang sedang terusik. Semoga tetap menjadi pelajaran yang indah bagiku walau tidak untuk diingat lagi… Menguatkan mental dan meneguhkan iman yang masyaAllah sepertinya aku sudah futur 2 tahun ini…. Entah bagaimana cara kembali dan menjadi lebih baik lagi… Memang manusia begitu ya, iman naik-turun, jatuh-bangun, kapok lombok –tiap taubat ngulangi lagi- (upz, menyimpang dikit bahasannya..hehe), kadang merasa munafik… di blog-ku ini aku menulis banyak artikel religi tapi nyatanya jauh aku dari itu… justru semua jadi bumerang bagiku, ujian hidupku, dan sepertinya aku tak lulus. Astaghfirullah…. Naudzubillahimindzalik…. Audzubillah….

Info tentang Wonosobo…

Kabupaten Wonosobo, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Wonosobo. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang di timur, Kabupaten Purworejo di selatan, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara di barat, serta Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal di utara.

Kabupaten Wonosobo berdiri 24 Juli 1825 sebagai kabupaten di bawah Kesultanan Yogyakarta seusai pertempuran dalam Perang Diponegoro. Kyai Moh. Ngampah, yang membantu Diponegoro, diangkat sebagai bupati pertama dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Setjonegoro. Inilah sebab RSUD-nya bernama RSUD Setjonegoro, untuk mengenang nama bupati pertama yang bertitah di Wonosobo.

Kata Wonosobo berasal dari bahasa JawaWanasaba, yang secara harafiah berarti: “tempat berkumpul di hutan”. Bahasa Jawa sendiri mengambilnya dari Bahasa Sansekertavanasabhā yang artinya kurang lebih sama. Kedua kata ini juga dikenal sebagai dua buku dariMahabharata: “Sabhaparwa” dan “Wanaparwa“.

Sebagian besar wilayah Kabupaten Wonosobo adalah daerah pegunungan. Bagian timur (perbatasan dengan Kabupaten Temanggung) terdapat dua gunung berapi: Gunung Sindoro (3.136 meter) dan Gunung Sumbing (3.371 meter). Daerah utara merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng, dengan puncaknya Gunung Prahu (2.565 meter). Di sebelah selatan, terdapat Waduk Wadaslintang.

Ibukota Kabupaten Wonosobo berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten, yang merupakan daerah hulu Kali SerayuWonosobo dilintasi jalan provinsi yang menghubungkan SemarangPurwokerto.

Tempat wisata yang BISA dikunjungi : Kawasan Wisata Dieng, Waduk Wadaslintang, Agrowisata Tambi, Air Terjun Sikarim, Telaga Menjer, Pemandian Wisata Kalianget, Wisata Religi, Curuk Winong, Pemandian dan kolam renang Mangli, Pemandian Air panas Kebrengan.

Aku tuliskan kata BISA disana karena belum pernah satu-pun kukunjungi, kecuali Dieng… itupun sudah di penghujung akhir aku disana dan dengan bekal kenekatan.

Apa makanan khasnya? Mi Ongklok yang entah kenapa sampai saat ini masih sulit menyukai selain karena rasanya manis juga karena kuahnya yang kental karena terbuat dari tepung, coba deh agak asin, Tempe Kemul yang menjadi makanan favorit bersama gorengan lain dan enak juga jika dimakan dengan nasi Megono (nasi yang dicampur dengan sayuran), Opak Singkong, Keripik Jamur, Dendeng Gepuk, Teh Tambi, Emping Mlinjo, Carica (manisan dari buah Carica yang mirip pepaya mini), Purwaceng

Kemudian, tentang keamanan yang ditakutkan, tidak jua seseram yang dipikirkan. Memang benar ada daerah rawan dan preman yang berkuasa. Namun, asal tidak mengganggu kita aman. Asal masih berada pada koridor yang benar kita selamat. Hal yang sangat akrab terlihat adalah fenomena merokok dan minum miras. Jangan kaget banyak wanita berkerudung adalah perokok. Dan jangan kaget banyak pemuda tersungkur di jalan, dibawa ke RS dengan kondisi mabuk. Sebenarnya ini adalah kenyataan yang membuatku terkaget-kaget dan belajar menerima bahwa ternyata dunia itu tak semulus yang kubayangkan, ternyata kehidupan beraneka ragam dan cukup keras. Aku hanya bisa bersyukur dengan apa yang kuterima…

Kedisiplinan di lingkup dunia per-koas-an juga membuat mental kami membaja. Attitude dan dedikasi menjadi 2 senjata utama agar bisa sukses di dalamnya. Alhamdulillah, asal trias koas dijalankan semua terasa lebih baik… (kata-kata yang sudah menjadi hapalan kami….: iya, maaf, terimakasih….)

Inilah kisahku hidup di sebuah wilayah selama 2 tahun lamanya yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Banyak suka dan duka. Banyak kenangan yang patut dikenang dan ada pula yang wajib dilupakan. Semua indah. Menjadi bagian dalam perjalanan hidupku.

Ayo berpetualang lagi…. melatih kecepatan adaptasi dan eksistensi…. semangaaattt…

Source: wikipedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: