Firasat…

kemarin kulihat awan membentuk wajahmu

desau angin meniupkan namamu

tubuhku terpaku

semalam

bulan sabit melengkungkan senyummu

tabur bintang serupa kilau auramu

akupun sadari kusegera berlari..

cepat pulang cepat kembali jangan pergi lagi…

firasatku ingin kau tuk cepat pulang cepat kembali jangan pergi lagi…

Petikan lagu Marcell berjudul Firasat di atas menggambarkan seorang yang mendapatkan firasat tentang kekasihnya. Apa sih firasat itu?

Firasat, menurut Ibnul Qayyim adalah cahaya yang Allah berikan ke dalam hati hambaNya yang sholeh/hah. Cahaya itu menjadikan seorang hamba dapat menduga sesuatu yang akan terjadi pada dirinya, atau menjadikannya dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. (Ar-Ruh, 234).

Meski sama-sama lintasan hati, firasat yang dalam bahasa lain disebut premonition atau precognition tentu bukan su’udzon atau buruk sangka. Firasat tumbuh dari kebersihan hati karena kedekatan seseorang kepada Allah. Sebaliknya buruk sangka tumbuh dari kekotoran hati dan kejauhan hubungan dengan Allah.

Sabda Rasulullah saw, “Takutlah kalian dengan firasatnya orang mu’min karena ia melihat dengan cahaya Allah.” (HR. Turmudzi). Dalam sebuah hadits Qudsi yang shahih, Rasulullah menyebutkan, “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku yang lebih Aku cintai dari melakukan apa yang telah Aku wajibkan. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaku dengan mengerjakan perintah yang sunnah, kecuali Aku pasti mencintainya. Dan bila aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku akan menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat. Aku akan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul. Aku akan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dengan-Ku lah ia mendengar, melihat, memukul dan berjalan.”

Hadits qudsi ini sekaligus menyebutkan korelasi yang kuat antara kedekatan seorang hamba dan Allah, dengan cahaya Allah yang akan menjadikannya mampu memiliki firasat yang benar.

Premonition atau precognition menurut sumber lain ditandai dengan sensasi seperti kecemasan, kegelisahan, perasaan samar-samar dari bencana yang akan datang keresahan yang menimbulkan halusinasi visual atau pendengaran. Firasat kadang-kadang disebut sebagai tingkat perasaan. Sensasi cenderung terjadi sebelum bencana, kecelakaan, kematian, hal traumatis dan peristiwa emosional.

Setiap orang insyaAllah pernah mendapat firasat namun kita baru tahu kebenarannya setelah terjadi. Dan tentunya kita takkan bisa mencegah hal itu. Firasat bisa tentang diri sendiri atau orang-orang yang memiliki hubungan batin dengan kita. Bisa baik bisa buruk.

Berkali-kali dalam hidupku aku pernah berfirasat. Kadang aku ingin sebaiknya aku tak merasai apa yang belum terjadi. Contohnya waktu gempa Jogja, sehari sebelumnya aku sama sekali tak bisa tenang, ingin marah, gelisah, perasaanku tak jelas kenapa. Di hari saat Bapak kecelakaan, terpeleset dari kereta api setelah mengantarkan tasku ke atas gerbong, aku melihat aura yang aneh di wajah Bapak dan aku seolah melihat hal buruk akan terjadi tapi aku tak tahu itu apa. Setelah itu perutku tiba-tiba sakit dan keesokan harinya baru dikabari kalau Bapak terpeleset dan tangannya patah. Di hari yang sama Ibu kecopetan. Momen itu adalah keberangkatanku UM UGM. Firasat tak diterimakah?

Beberapa bulan kemudian pengumuman UM dan memang demikian hasilnya. Aku menangis tentunya. Aku tak ingin kuliah di tempat lain kecuali Jogjakarta. Ya sudah ikhtiar cari PTS. Pada hari itu ada expo pendidikan di Jogja Expo Centre, bulik mengajakku kesana dan menyebut nama UMY yang baru kali ini kudengar. Apa salahnya mencoba, pikirku. Jam 17.00 saat itu dengan mata masih sembab menuju ke JEC diantar bulik. Sampai di depan gerbang aku minta putar balik. Namun beberapa detik kemudian aku sadar aku tak boleh putus asa. Masuk ke anjungan JEC, disambut oleh seorang ukhti yang manis senyumnya menyambut kami di stand UMY. Keluargaku ingin aku masuk FK, kebetulan ada PBUD (penerimaan bibit unggul daerah). Bulik bersemangat menanyakan syarat dan lain sebagainya. Aku malah asik sendiri melihat brosur FISIPOL Hubungan Internasional yang kuimpikan sejak masih duduk di bangku SMP hanya gara-gara ingin pergi ke luar negeri dan pikiranku saat itu kerja jadi Ambassador. Keren. Tapi mendengar masuk FK UMY bisa tanpa tes dan gratis uang gedung, tertarik pula aku. Baiklah, kuambil berkas dan kukirim ke rumah. Semua diurus ibuku. Hatiku tenang dan semua dimudahkan. Inikah firasat bahwa ini jalan terbaik untukku?

Contoh lain saat aku akan jatuh dari motor. Aku melihat diriku jatuh dalam pikiranku. Aku berusaha mencegah dengan tidak naik motor sendiri. Tapi ternyata aku telah membuktikan bahwa firasat itu tak dapat dicegah. Dll..

Mungkin kalian punya contoh-contoh lain dalam hidup. Semoga kita bisa mengambil hikmah, bahwa firasat hanya datang pada hamba Allah yang hatinya bersih dan husnudzon padaNya, kita orang terpilih jika kita bisa berfirasat. Lebih banyak istighfar dan berdzikir, semoga Allah selalu meridhoi yang terjadi dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Semoga kita selalu menjadi hamba yang dekat denganNya, amiin.

Wallahua’lam bish showab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: