dan ketika…

Satu persatu rekanku menikah. Suatu kebahagiaan tersendiri mengetahui sunnah Rasul ditunaikan.

Dan ketika aku sadar bahwa usiaku juga sudah selayaknya untuk menikah, aku hanya bisa menghibur diri. Menikah bukanlah sebagai tujuan hidup, melainkan sebuah sarana melengkapi hidup. Dengan begitu rasa khawatirku, rasa cemasku hilang perlahan. Menyegerakan menikah adalah baik, tapi tidak baik tergesa-gesa. Lebih baik menanti orang yang tepat daripada cepat-cepat. Memang sih jauh lebih baik lagi cepat dan tepat.  Tapi hidup adalah pilihan, dan sewajarnya memilih yang terbaik dan beresiko minimal. Kadang jodoh hanya perkara waktu. Dan hanya Allah yang tahu teka-teki itu.

Dan ketika aku sedang merenung dan memikirkan itu inilah coretan yang kubuat:

Calon suamiku… sepertinya aku sudah mulai merindukanmu. Seperti apakah dirimu? Menunggu dimanakah kamu? Hmm…malu sendiri aku membayangkanmu.

Dulu aku punya sederet daftar sifat yang harus kamu miliki dan seperti apa kamu. Maafkan aku, aku jadi seperti menuntut. Dan berkali-kali aku gagal dalam membina relasi, berarti belum saatnya kita bertemu…

Sekarang aku lebih sadar karena mulai berpikir bahwa kesempurnaan itu tak ada, yang ada saling melengkapi. Semoga kita bisa jadi partner seumur hidup yang baik… Amiin.

Aku tahu, aku yakin kamu adalah seorang yang sangat penyayang, menyayangiku dan keluarga sepenuh hati, berlapang dada, penyabar, setia serta penuh tanggung jawab dan sebagai sosok pelindung dan imam bagiku. Aku yakin kamu akan senantiasa memberikan yg terbaik untukku dan anak-anak kita, memberikan kebahagiaan di dunia dan mengajak ke surga. Subhanallah… Indah sekali, baiti jannati.

Kamu, bagiku adalah pria terbaikku, bisa menyejukkan hatiku selalu untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Menjadi wanita terbaikmu. Semoga kita bisa menghadirkan sebuah relasi yang nyaman dan tentram.

Kapan ya kita bertemu? sempatkah kita menikah?

Dan ketika rasa itu datang aku menemukan beberapa untaian paragraf yang tertera di sebuah souvenir pernikahan:

–Untuk suami–

Pernikahan atau perkawinan

Membuka tabir rahasia

Istri yang kamu nikahi

Tidaklah semulia Khadijah,

Tidaklah setakwa Aisyah

Pun tidak setabah Fatimah maupun Siti Hadjar

Justru istri hanyalah wanita akhir zaman

Yang punya cita-cita

Menjadi sholehah

Pernikahan atau perkawinan

Mengajarkan kita kewajiban bersama,

Istri menjadi bumi, kamu menjadi langit penaungnya

Istri ladang tanaman, kamu pemagarnya

Istri kiasan ternakan, kamu gembalanya,

Istri adalah murid dan kamu mursyidnya

Istri bagaikan anak kecil, kamu tempat bermanjanya

Saat istri menjadi madu, kamu teguk sepuasnya

Seketika istri menjadi racun, kamulah penawar bisanya

Seandainya istri tulang yang bengkok, berhati-hatilah meluruskannya

Pernikahan atau perkawinan,

Menginsyafkan kita perlunya iman dan takwa

Untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah SWT

Karena memiliki istri yang tak sehebat mana,

Justru kamu akan tersentak dari alpa

Kamu bukanlah Rasulullah

Cuma suami akhir zaman,

Yang berusaha menjadi sholeh…

–Untuk Istri–

Pernikahan atau perkawinan

Membuka tabir rahasia

Suami yang menikahi kamu

Tidaklah semulia Rasulullah SAW

Tidaklah setakwa Ibrahim as

Pun tidak setabah Ayyub as

Ataupun segagah Musa as

Apalagi setampan Yusuf as

Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman

Yang punya cita-cita membangun keturunan sholeh/hah..

Pernikahan atau perkawinan,

Mengajar kita kewajiban bersama

Suami menjadi pelindung, kamu penghuninya

Suami nahkoda kapal, kamu navigatornya

Suami bagaikan anak nakal, kamu penuntun kenakalannya

Saat suami menjadi raja, kamu nikmati singgasananya

Seketika suami menjadi bisa, kamulah obat penawarnya

Seandainya suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya

Pernikahan atau perkawinan

Mengajarkan kita perlunya iman dan takwa

Untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah SWT

Karena memiliki suami yang tidak segagah mana,

Justru kamu akan tersentak dari alpa

Kamu bukanlah Khadijah yang begitu sempurna dalam menjaganya

pun bukanlah siti hadjar yang begitu setia dalam sengsara

Cuma wanita akhir zaman yang berusaha menjadi sholehah…

untuk direnungkan….^^

2 Comments (+add yours?)

  1. difana
    May 31, 2010 @ 13:32:59

    sama mbak…aku juga sering nulis surat buat suamiku…. ^^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: