Saraf….

Berat rasanya ketika akan berangkat ke wonosobo, kota yang menjadi home base koasku. Sudah empat bulan yang lalu aku meninggalkan kota ini. Rasanya sudah lama sekali dan seolah tidak akan kembali lagi. Dan ketika petang itu travel membawa kami, trio kwek-kwek, kembali ke wonosobo seolah sesuatu yang baru. Kehidupan baru di asrama, tinggal sekamar dengan teman-teman. Tidur di tempat tidur tingkat dan aku mendapat tempat di tingkat 2. New experience for me. Pagi harinya sudah mulai disibukkan dengan kegiatan follow up. Hmm…sudah lama sepertinya tidak melakukan hal itu. Mengunjungi pasien satu persatu dan mengucap “sugeng enjang mbah/pak/bu…, pripun raos’e sakpunika?” keasikan tersendiri bisa memantau perbaikan pasien.

Pasien saraf (bukan sYaraf loh…) umumnya stroke, meningitis, low back pain, vertigo, epilepsi, dll. Baru kali ini aku merasakan interest terhadap suatu ilmu. Seperti janji yang dulu sempat akan terucap pada Prof. Dr. dr. Rusdi Lamsudin, Sp.S, i wanna be a neurologists. But wallahua’lam, paling tidak aku akan mempelajari ilmu ini dengan sepenuh hati. InsyaAllah. Minggu pertama ini aku sudah mendapat soul-nya, tinggal di mess tak separah yang kubayangkan. Justru sebaliknya. Jadi tak banyak mikir. Fokus belajar ditemani koneksi internet gratis. Masak ditanggung bertiga dengan teman-teman, masak bareng, makan bareng, nonton bareng… Semua dipikir bareng. It’s really fun. Like this. Semoga ke depannya lebih baik lagi. Amiin.

Sudah merindukan makanan-makanan kesukaan di sini, nasi merah dan megono. Nasi merah bukan khas wonosobo, tapi aku mengenalnya dan menyukainya di wonosobo. Dengan 1000-1500 sudah kenyang. Paket nasi merah sebungkus terdiri dari nasi, sambel, kulupan daun kenikir dicampur olahan parutan kelapa yang gurih ditambah ikan asin. Menyantapnya dengan kerupuk dan segelas air dingin… Waah mantaaap sekaliii… Sego megono beda lagi. Sebenarnya khas purwokerto. Terdiri dari nasi gurih (seperti nasi uduk) yang ‘diubleg’ dengan sayur2an yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga bisa dinikmati. Ditambah tempe kemul khas wonosobo yang masih hangat dan kriuk-kriuk hmmm enaaaak… ^^ Masakan khas wonosobo adalah mie ongklok, tapi karena rasanya yang manis dan agak aneh kuah kanji yang disiram di atasnya, aku tak begitu suka. Yang kusuka adalah manisan carica seharga 8-10rb per botol. Hmm.. Yummy… Wah wah kok jadi ngomongin makanan yah… Selalu deh, selera makan di wonosobo naik, otomatis jadi tambah ndut deh… Hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: