Hidup bahagia dengan ridho Allah

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar: itu adalah keberuntungan yang besar (At Taubah 72).”

Dari surat At Taubah 72 di atas, Allah menginformasikan kepada kita bahwa Mukmin laki-laki dan perempuan dijanjikan-Nya untuk mendapatkan surga dan tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan Allah tegaskan lagi bahwa ridho Allah, jauh lebih besar, lebih utama dan lebih penting daripada surgaNya. Ridho Allah itu adalah keberuntungan yang besar.

Itulah sebabnya, salah satu yang kita cari dalam hidup ini adalah mendapatkan ridho Allah. Karena dengan ridho Allah, kita akan selamat di dunia dan akhirat, akan bahagia di dunia akhirat, insyaAllah.

Mungkin ini jugalah yang menyebabkan seorang sufi wanita terkenal, Rabi’ah al-Adawiyah, melantunkan salah satu doanya yang sangat fenomenal, dan sering dikutip dalam beberapa buku. Antara lain isi do’anya tersebut: “Ya Allah, yang aku cari dalam hidupku ini adalah ridho-Mu. Seandainya aku beribadah hanya karena ingin masuk ke dalam surgaMu maka jangan Engkau masukkan aku ke dalam surgaMu. Begitu juga seandainya aku menjauhi maksiat, dosa, hanya karena takut dengan nerakaMu, maka masukkan aku ke nerakaMu. Karena yang aku cari dalam hidupku bukan  surga dan juga bukan menjauhi neraka, tapi mendapatkan ridhoMu. Bagiku yang terpenting adalah ridhoMu. Kalalulah aku masuk ke dalam nerakaMu tapi Engkau ridho maka ini jauh lebih aku sukai daripada aku masuk surga tapi Engkau tidak ridho. Karena yang terpenting bagiku adalah ridoMu”.

Persoalannya adalah, bagaimana caranya mendapat ridho Allah dalam hidup kita ini.

Radhiallohu ‘anhuma wa radhu’anhu

Dalam Al Qur’an surat Bayyinah ayat 8, Allah berfirman: “…Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepadaNya…”

Dari sini kita tahu bahwa kalau ingin mendapatkan ridho Allah maka kita harus terlebih dahulu ridho dengan apapun yang Allah berikan, yang Allah tetapkan untuk kita.

Yang dimaksud ridho disini tidak hanya sekedar menerima apa yang diberikan Allah, apa yang ditetapkan Allah, tapi menyukai apapun yang diberikan Allah. Tanpa pilih-pilih. Sehat ridho, sakit juga ridho. Usaha sukses ridho, bangkrut juga ridho. Sukai apapun yang diberikan Allah. Inilah ridho.

Masalah kita selama ini, hanya menyukai apa yang disenangi oleh hawa nafsu kita. Padahal Allah sudah memberitahukan di dalam surat al Baqarah 216: “Telah diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu; Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Dari ayat 216 surat Al Baqarah di atas, Allah ingin memberitahu bahwa tidak selamanya sesuatu yang kita senangi baik untuk kita. Bisa saja sesuatu yang kita benci itu justru malah baik bagi kita.

Jadi, kalau menginginkan ridho Allah tidak ada cara lain, kecuali menyukai semua takdir, ketetapan, pemberian Allah. Tanpa kecuali. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita tidak tahu apa-apa tentang apa yang terbaik untuk diri kita. Dan inilah cara pertama mendapatkan ridho Allah.

Berpikir positif terhadap Allah

Cara kedua, bagaimana mendapatkan ridho Allah, adalah dengan berpikir positif terhadap Allah.

Salah satu diantara nama Allah dalam Asmaul Husna adalah ar Rahman dan ar Rahim. Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kalaulah kita yakin, seyakin-yakinnya bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka tidak akan pernah kita mengeluh, gelisah, khawatir, dalam hidup ini. Karena Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tidak akan mungkin mendzolimi, menyengsarakan dan membuat menderita hambaNya.

Masalahnya, kita saja yang kadang-kadang tidak yakin bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita. Padahal Allah sudah janji dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 191: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa  neraka.”

Ayat ini ingin menyampaikan pesan kepada kita bahwa apapun yang diberikan Allah kepada kita, apapun yang ditetapkan Allah untuk kita, tidak ada yang percuma. Tidak ada yang sia-sia. Pasti semua ada hikmahnya. Ada manfaatnya. Karena Allah berpantang melakukan yang bathil. Berpantang berbuat sia-sia.

Bahkan Allah tegaskan lagi, ‘subhaanaka’, Maha Suci Engkau, artinya Allah terlalu suci untuk berbuat yang bathil, yang sia-sia. Allah ingin mengatakan bahwa apapun yang Allah takdirkan untuk hambaNya semata-mata demi kebaikan si hambaNya. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak berpikir positif kepada Allah. Apalagi firman Allah dalam hadis qudsi: “ Aku tergantung persangkaan hambaKu kepadaKu.”

Artinya, kalau kita berpikir positif terhadap Allah, maka yang akan Allah tetapkan untuk kita pasti hal-hal yang positif, yang baik-baik. Dan itu artinya Allah ridho dengan kita.

Bersyukur kepada Allah

Ara ketiga untuk mendapat ridho Allah adalah dengan mensyukuri nikmat Allah. Bersyukur terhadap nikmat Allah salah satu bentuk cara menghargai anugerah Allah untuk kita.

Kenapa kita harus bersyukur kepada Allah? Antara lain karena semua yang kita miliki sekarang ini adalah dari Allah. Seperti firman Allah dalam surat An Nahl 53: “Dan apa saja nikmat yang pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.”

Kemudian masih dalam surat yang sama, An Nahl ayat 114. Allah berfirman: “Dan bersyukurlah dengan nikmat Allah.”

Jadi bersyukur kepada Allah itu, disamping perintah Allah, seperti yang disebutkan dalam An-Nahl 114 diatas, juga sebagai salah satu cara untuk mendapatkan tambahan nikmat Allah lainnya. Sebagaimana Allah sebutkan dalam Ibrahim ayat 7: “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur dengan nikmat Allah yang sudah ada, maka akan Allah tambahkan nikmat yang belum ada. Tapi jika tidak bersyukur atau kufur, maka azabKu sungguh sangat pedih.”

Dan yang lebih dahsyat lagi ketika Allah berjanji kepada orang-orang yang beryukur adalah, sewaktu Allah berfirman dalam surat az Zumar ayat 7: “Dan jika kamu bersyukur Allah ridho padamu”.

Apalagi yang lebih hebat daripada mendapatkan ridho Allah? Dan itu bisa kita dapatkan dengan bersyukur kepada Allah. Padahal mendapat ridho Allah sesuatu yang sangat penting, besar, utama, sebagaimana yang telah dikutipkan dalam tulisan ini.

Akhirnya, semoga Allah jadikan kita hambaNya yang selalu mendapat ridhoNya. Agar kita bahagia dunia-akhirat. Amiin.

Drs. H. Bakhrim Ma’as

dan ketika…

Satu persatu rekanku menikah. Suatu kebahagiaan tersendiri mengetahui sunnah Rasul ditunaikan.

Dan ketika aku sadar bahwa usiaku juga sudah selayaknya untuk menikah, aku hanya bisa menghibur diri. Menikah bukanlah sebagai tujuan hidup, melainkan sebuah sarana melengkapi hidup. Dengan begitu rasa khawatirku, rasa cemasku hilang perlahan. Menyegerakan menikah adalah baik, tapi tidak baik tergesa-gesa. Lebih baik menanti orang yang tepat daripada cepat-cepat. Memang sih jauh lebih baik lagi cepat dan tepat.  Tapi hidup adalah pilihan, dan sewajarnya memilih yang terbaik dan beresiko minimal. Kadang jodoh hanya perkara waktu. Dan hanya Allah yang tahu teka-teki itu.

Dan ketika aku sedang merenung dan memikirkan itu inilah coretan yang kubuat:

Calon suamiku… sepertinya aku sudah mulai merindukanmu. Seperti apakah dirimu? Menunggu dimanakah kamu? Hmm…malu sendiri aku membayangkanmu.

Dulu aku punya sederet daftar sifat yang harus kamu miliki dan seperti apa kamu. Maafkan aku, aku jadi seperti menuntut. Dan berkali-kali aku gagal dalam membina relasi, berarti belum saatnya kita bertemu…

Sekarang aku lebih sadar karena mulai berpikir bahwa kesempurnaan itu tak ada, yang ada saling melengkapi. Semoga kita bisa jadi partner seumur hidup yang baik… Amiin.

Aku tahu, aku yakin kamu adalah seorang yang sangat penyayang, menyayangiku dan keluarga sepenuh hati, berlapang dada, penyabar, setia serta penuh tanggung jawab dan sebagai sosok pelindung dan imam bagiku. Aku yakin kamu akan senantiasa memberikan yg terbaik untukku dan anak-anak kita, memberikan kebahagiaan di dunia dan mengajak ke surga. Subhanallah… Indah sekali, baiti jannati.

Kamu, bagiku adalah pria terbaikku, bisa menyejukkan hatiku selalu untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Menjadi wanita terbaikmu. Semoga kita bisa menghadirkan sebuah relasi yang nyaman dan tentram.

Kapan ya kita bertemu? sempatkah kita menikah?

Dan ketika rasa itu datang aku menemukan beberapa untaian paragraf yang tertera di sebuah souvenir pernikahan:

–Untuk suami–

Pernikahan atau perkawinan

Membuka tabir rahasia

Istri yang kamu nikahi

Tidaklah semulia Khadijah,

Tidaklah setakwa Aisyah

Pun tidak setabah Fatimah maupun Siti Hadjar

Justru istri hanyalah wanita akhir zaman

Yang punya cita-cita

Menjadi sholehah

Pernikahan atau perkawinan

Mengajarkan kita kewajiban bersama,

Istri menjadi bumi, kamu menjadi langit penaungnya

Istri ladang tanaman, kamu pemagarnya

Istri kiasan ternakan, kamu gembalanya,

Istri adalah murid dan kamu mursyidnya

Istri bagaikan anak kecil, kamu tempat bermanjanya

Saat istri menjadi madu, kamu teguk sepuasnya

Seketika istri menjadi racun, kamulah penawar bisanya

Seandainya istri tulang yang bengkok, berhati-hatilah meluruskannya

Pernikahan atau perkawinan,

Menginsyafkan kita perlunya iman dan takwa

Untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah SWT

Karena memiliki istri yang tak sehebat mana,

Justru kamu akan tersentak dari alpa

Kamu bukanlah Rasulullah

Cuma suami akhir zaman,

Yang berusaha menjadi sholeh…

–Untuk Istri–

Pernikahan atau perkawinan

Membuka tabir rahasia

Suami yang menikahi kamu

Tidaklah semulia Rasulullah SAW

Tidaklah setakwa Ibrahim as

Pun tidak setabah Ayyub as

Ataupun segagah Musa as

Apalagi setampan Yusuf as

Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman

Yang punya cita-cita membangun keturunan sholeh/hah..

Pernikahan atau perkawinan,

Mengajar kita kewajiban bersama

Suami menjadi pelindung, kamu penghuninya

Suami nahkoda kapal, kamu navigatornya

Suami bagaikan anak nakal, kamu penuntun kenakalannya

Saat suami menjadi raja, kamu nikmati singgasananya

Seketika suami menjadi bisa, kamulah obat penawarnya

Seandainya suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya

Pernikahan atau perkawinan

Mengajarkan kita perlunya iman dan takwa

Untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah SWT

Karena memiliki suami yang tidak segagah mana,

Justru kamu akan tersentak dari alpa

Kamu bukanlah Khadijah yang begitu sempurna dalam menjaganya

pun bukanlah siti hadjar yang begitu setia dalam sengsara

Cuma wanita akhir zaman yang berusaha menjadi sholehah…

untuk direnungkan….^^

Saraf….

Berat rasanya ketika akan berangkat ke wonosobo, kota yang menjadi home base koasku. Sudah empat bulan yang lalu aku meninggalkan kota ini. Rasanya sudah lama sekali dan seolah tidak akan kembali lagi. Dan ketika petang itu travel membawa kami, trio kwek-kwek, kembali ke wonosobo seolah sesuatu yang baru. Kehidupan baru di asrama, tinggal sekamar dengan teman-teman. Tidur di tempat tidur tingkat dan aku mendapat tempat di tingkat 2. New experience for me. Pagi harinya sudah mulai disibukkan dengan kegiatan follow up. Hmm…sudah lama sepertinya tidak melakukan hal itu. Mengunjungi pasien satu persatu dan mengucap “sugeng enjang mbah/pak/bu…, pripun raos’e sakpunika?” keasikan tersendiri bisa memantau perbaikan pasien.

Pasien saraf (bukan sYaraf loh…) umumnya stroke, meningitis, low back pain, vertigo, epilepsi, dll. Baru kali ini aku merasakan interest terhadap suatu ilmu. Seperti janji yang dulu sempat akan terucap pada Prof. Dr. dr. Rusdi Lamsudin, Sp.S, i wanna be a neurologists. But wallahua’lam, paling tidak aku akan mempelajari ilmu ini dengan sepenuh hati. InsyaAllah. Minggu pertama ini aku sudah mendapat soul-nya, tinggal di mess tak separah yang kubayangkan. Justru sebaliknya. Jadi tak banyak mikir. Fokus belajar ditemani koneksi internet gratis. Masak ditanggung bertiga dengan teman-teman, masak bareng, makan bareng, nonton bareng… Semua dipikir bareng. It’s really fun. Like this. Semoga ke depannya lebih baik lagi. Amiin.

Sudah merindukan makanan-makanan kesukaan di sini, nasi merah dan megono. Nasi merah bukan khas wonosobo, tapi aku mengenalnya dan menyukainya di wonosobo. Dengan 1000-1500 sudah kenyang. Paket nasi merah sebungkus terdiri dari nasi, sambel, kulupan daun kenikir dicampur olahan parutan kelapa yang gurih ditambah ikan asin. Menyantapnya dengan kerupuk dan segelas air dingin… Waah mantaaap sekaliii… Sego megono beda lagi. Sebenarnya khas purwokerto. Terdiri dari nasi gurih (seperti nasi uduk) yang ‘diubleg’ dengan sayur2an yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga bisa dinikmati. Ditambah tempe kemul khas wonosobo yang masih hangat dan kriuk-kriuk hmmm enaaaak… ^^ Masakan khas wonosobo adalah mie ongklok, tapi karena rasanya yang manis dan agak aneh kuah kanji yang disiram di atasnya, aku tak begitu suka. Yang kusuka adalah manisan carica seharga 8-10rb per botol. Hmm.. Yummy… Wah wah kok jadi ngomongin makanan yah… Selalu deh, selera makan di wonosobo naik, otomatis jadi tambah ndut deh… Hehe…

They just need someone to share with…

Orang gila.. Itulah gambaran RSJ. Negatif. Awalnya aku juga takut masuk sana. Takut diamuk atau diperlakukan tak semestinya seperti diludahi, dipegang-pegang, dan lain sebagainya. Tapi setelah masuk dan ikut dalam kegiatan di sana, terutama saat sesi home visit aku jadi lebih mengerti. Mereka begitu (jadi gila, jiwanya sakit) karena pribadi yang introvert bahkan antisosial. Mereka tidak percaya pada orang lain untuk menampung cerita dan uneg2 mereka hingga akhirnya semua terpendam dalam hati, ter-represi dalam alam bawah sadar dan bermanifestasi menjadi penyakit jiwa.

ANH… Inisial nama pasien yang tak akan kulupakan. Dia bukan pasienku, tapi aku yang lebih dulu empati dibanding rekanku yang mengambilnya sebagai kasus. Pertama kali melihatnya ada binar-binar semangat dan kecerdasan di matanya. Awalnya tidak ada waham maupun halusinasi yang mencolok darinya. Waham kebesaran dulunya, tapi dia lebih cenderung ingkar. Aku tak putus asa, tetap saja sabar mendengarkan celotehnya tentang sukhoi, perang nuklir, maket pesawat dan kapal laut, kuliahnya, keluarganya, cintanya, mendengarnya melantunkan ayat suci dan menggambar. Bahkan ia rela memberikan puisi2 yang ia tulis. Saat itu bahkan aku sudah nyaris give up bertanya gejalanya, tapi Subhanallah, hanya dengan bilang “kamu nggak jujur ya sama saya? Katanya nggak boleh bohong!” jadilah pucat wajahnya dan tampak keterkejutan. Walhasil dia mengakui ada yang ia sembunyikan. Rahasia katanya. Dan sungguh tidak masuk akal. Itulah waham dia, terbalut intelektualisasi dan paranoid. Punya impian besar. Itulah yang nampak darinya. Namun ternyata mentalnya tak sanggup. Saat kunjungan berikutnya sudah ditangani rekanku sendiri, aku punya kasus lain. Dan dia sempatnya bilang “saya punya buku pengembangan diri, tebal, saya kopi untuk kakak dan teman kakak ya…” makasih ya ANH, kamu memberi pelajaran berharga tentang ilmu buatku.

Di bangsal lain saat aku menemani rekanku yang lain, ada bapak paruh baya tampak lebih tua dari usia mengajakku bercerita dan dia mendoakanku banyak hal, terimkasih bapak…semoga cepat sehat jiwanya dan kembali berfungsi normal.

Pasien kasusku sendiri…. Jelas sekali tipe pribadinya yang skizoid dan paranoid. Sudah expand…keluar-masuk. Ini kali ke tujuh. Hebatnya dia punya anak dalam tahun2 dia telah sakit. Dan sakitnya bermula dari 2 jam setelah menikah. Benar2 paranoid. Sekarang tinggal gejala sisa (residual). Inilah kesalahan diagnosisku.

Last Week in Psychiatry….

DAY 1

It’s 3rd May…. Tidak seperti biasanya, hari ini bukan hari pertama berangkat dari Jogja. Sengaja berangkat ke Magelang dari kemarin karena home visite dulu ke daerah Borobudur lagi. Daripada bolak-balik, aku langsung ke Magelang. Sendiri. Untungnya sore itu kecapekan dan ngantuk, langsung tidur, tidak berlama-lama menyendiri di luar. Sensasi sepi…hehee….

Hari Senin ini “menghadap” pembimbing presus dan disepakati maju hari Kamis. Wah…padahal persiapan maju Sabtu. Nggak bisa santai-santai, langsung kerjakan siang itu juga. Baru selesai menjelang Maghrib sesuai perkiraan. Alhamdulillah…. Besok diajukan.

DAY 2

Pengajuan presus. Baru akan dibaca besok sama dokterku. Waduh….katanya maju Kamis, dok? Jadi bingung…. Ya sudahlah nasib jadi koas…. Hehe…

Hari ini refreshing dulu lah sebelum “pembantaian” besok pagi. Ingin mencari sesuatu yang menenangkan. Terima kasih untuk yang meluangkan waktu menemaniku. ^0^

DAY 3

Siap dibantai. Alhamdulillah komentar dokter sudah lebih melunak. Dan ingatkah dengan kasus “grafik pocong”? kali ini aku sudah berusaha menampilkan grafik yang agak berliku. Komentar beliau “Ya lumayan, kemarin pocong sekarang pulau Jawa….” Wahahahahahaha….ada-ada saja…

Deal, besok maju 3 part, 2 presus dan 1 jurnal. Bismillah….nanti revisi dulu…

Setelah diskusi dengan dokter pembimbing ikut bed side teaching alias BST di unit perawatan intensif. Lumayanlah…. Pasien kami merasa kenal SBY dan seperti dikejar-kejar, diikuti kamera, dan curiga berlebih. Jadilah diagnosis skizofrenia paranoid.

DAY 4

Majuuu…. Malamnya malah nggosip sama temen dan berasa masa bodoh dengan presus pagi ini. Sudah berusaha berangkat sepagi mungkin. Masih ada yang telat datang. Dokter pertama pengampu jurnal tiba-tiba masuk dengan tampang bad mood, duduk, dan minta jurnal presentasi duluan. Bengong. Yang belum datang presentator jurnal. Bingung mau nge-les bagaimana, dokter sudah keburu marah dan bilang “merasa tidak dihargai”. Sunyi…. Setelah kejar-mengejar hari itu intinya cuma satu: “pergi dari hadapanku”…. Waw…

Siang ini go to Muntilan, ikut poli di sana. Belum selesai kami disuruh pulang. Wah… senang…. Hehe,…

DAY 5

Hari konyol dengan melakukan pengejaran part 2 pada pagi nan cerah ini. Kenapa juga pakai acara pengusiran secara tak hormat dan petak umpet. Ketawa kami melihat kekonyolan pagi ini.

Akhirnya sang dokter hanya mau tanda tangan dan kasi nilai ENAM PULUH… bayangkan, itu artinya tidak lulus kawan…. Hie hie… pengundian dokter penguji, Alhamdulillah dapat dokter yang enggak rumit tapi easy come easy go. Well, let’s check what will happen to me… setelah laporan aku dapat bangsal tempat aku akan diuji. Baiklah, besok sajalah main ke bangsal cari pasien untuk ujianku.

DAY 6

Kerajinan ceritanya. Hanya aku dan salah seorang temanku yang bertahan sampai sore untuk cari dan wawancara pasien. Menemukan satu pasien buatku dan satu pasien buatnya. Lanjut besok deh….

Malam ini aku berniat tidak mudik Jogja, capek ah, mending langsung tidur atau belajar saja. Home alone deh…. Besok rencana anamnesis pasien selengkapnya dan home visite.

DAY 7

Nggak biasanya hari Minggu pagi di Magelang. Sendirian pula. Nonton tivi sambil belajar (bisa ditebak lebih banyak nontonnya…hehe..). Jam setengah dua siang temanku baru datang di sela gerimis rintik-rintik. Rute pertama ke pasienku dulu, menurutku dia kena Skizofrenia paranoid hanya berdasar waham dan halusinasi yang ia miliki. But let’s see what it is, tomorrow in my exams.

The very last week….

DAY 1

Plan hari ini home visite then finish the status. Bareng sama seorang temanku naik motor. Awalnya ke rumah pasien dia dulu. Whaw…jauh juga, melewati pegunungan dan persawahan di bawahnya yang membentuk terasering, melewati sungai-sungai. Like this so much…. Masuk pedesaan dan jadilah home visit itu di sebuah rumah sederhana. Disuguh kopi pekat. Aku tak mau mabuk deh… akhirnya digantikan the tawar dengan ampasnya sekaligus. Ya Rabb… demi menghargai harus diminum. Fyuuuh….

Next masuk kota, Alhamdulillah pasienku rumahnya di belakang pecinan, jadi agak gampang nyarinya. Sorenya mati-matian menyelesaikan status, menulis indah tentang pasien dan kehidupannya. Besok pagi harus maju ujian! Feelingku mengatakan harus besok!

DAY 2

Ngeprint dulu di kompleks pertokoan yang lumayan buat capek dengan berjalan kaki. Then cari dokter di ruangnya, disuruh ujian ba’da dhuhur. Bismillah, pulang dulu belajar lagi.

Siangnya agak telat setengah jam lah dari janji. Alhamdulillah waham dan halusinasi masih bisa dijelaskan oleh pasienku. Tapi….diagnosisku paranoid gugur karena afek-nya tidak mendukung, tidak ada tatapan paranoid dan tidak ada keinginan menghindar yang merupakan ciri khas paranoid.

DAY 3

Ujian part 2 gagal karena pengujiku pergi… (terbukti deh easy come easy go..hehe..), tunda hari Jumat. Hah…males pula mau belajar lebih. Let’s have fun to Jogja…. Ga mau melakukan kekonyolan lagi dengan stay di Magelang in holiday…. ^^

DAY 5

Let’s do the examination part 2… Then… bye Magelang welcome Wonosobo… fyuuh…. Sabaar kurang 3 bulan ini…. ^^

Week Three in Psychiatry…

DAY 1 hmmm tak terasa sudah awal minggu ke-3, artinya minggu depan adalah minggu terakhir sebelum ujian. Hari ini pp jogja-magelang karena besok ke purworejo. Tidak begitu capek karena teman ada yang bawa mobil. Pulang dari magelang mampir ke rumah teman, lalu bareng ke RSGM… Tambalanku yang bermasalah akhirnya lepas saat diperiksa dan ditambal ulang. Kontrol minggu depan terutama karena masalah TMJ (temporo mandibular joint) yang kuhadapi akibat kebiasaan ngunyah satu sisi dan bruksisme kalau tidur.

DAY 2 Berangkat agak siang. Hanya poli saja di purworejo. Dokternya gaul abis… Banyak joke yang beliau keluarkan baik pada pasien maupun saat nentir kami. Pria oversek (over seket maksudnya..) itu sepertinya lebih suka membicarakan politik yang rumit jadi bahan tertawaan kami semua. Beliau juga bilang banyak data misalnya merokok mengurangi hidup manusia 8 menit dan yang lebih menderita tentunya perokok pasif (heraaan sampai kapan mereka berhenti mendzolimi diri sendiri dan orang lain ya? Hate that!!). Beliau juga mengajari cara membaca mimik seseorang (tapi lebih recommend beli bukunya deh…hehe…) paling gampang lihat pupil, kalau orang sedang senang otomatis pupil akan melebar sedangkan jika sedih sebaliknya, menyempit (njuk piye le arep ndelokke yo? Pake senter po yo? Hehe…), lalu reflek cewek kalau tidak suka terhadap seseorang yang ngajak ngomong pasti mlengos. Hmm…ga tau juga si teman, perlu kroscek lagi sepertinya. Okelah pasien ada 5 pada stress kabeh, ada yang stress pasca trauma, ada yang depresi campur cemas, dll (dan yang lain lupa…xixixi). Pada dasarnya hal-hal yang membuat stress ada 4 yaitu tekanan, frustasi, konflik, dan krisis. Penyebab utama depresi adalah lost of love object (bisa orang terutama pasangan hidup, rasa sayang, cita-cita, materi). Setiap orang pasti pernah mengalami, tapi respon tiap orang beda karena daya tahan mental yang beda juga (akibat pola asuh dan lingkungan, gold time-nya 0-7 tahun), besarnya stressor tersebut, lamanya stressor mempengaruhi. Nha daya tahan mental itu juga perlu latihan. Sama halnya dengan sakit fisik, butuh imunisasi. Tiap orang butuh mengalami kegagalan, kekecewaan, kesedihan agar bisa “coping” jika ada masalah yang senada pun lebih besar. Karena respon tiap orang beda sesuai dengan pribadi, pola pikir, dan pengalaman masing-masing maka penanganan masalah tidak bisa diterapkan mutlak sesuai teori seseorang. Dan akhirnya tiap orang punya teori-nya sendiri-sendiri. Bisa jadi adu argumentasi bin debat. Ho..ho… Baiklah-baiklah, selesai poli jam 11 langsung pulang ke jogja. Sampai jogja jam setengah satu siang, mampir makan dulu. Yummy… Sampai…pegang laptop menyelesaikan tugas presentasi kasus. Besok back to magelang…^^

DAY 3 Rabu pagi… Capek juga setelah jalan sama adik malamnya. Mana keujanan pula. Sampai terminal jam setengah enam. Menunggu teman tak kunjung datang. Karena jam sudah menunjukkan pukul enam WIB, mustahil bisa sampai magelang jam 8 kurang. Alhamdulillah malah dapat tebengan teman yang diantar. Telat membawa hikmah judulnya. Hehe… Hari yang sibuk dengan tentiran 3 orang dokter dan konsul presus yang sudah kami buat. Hmmm, ni dokter pembimbing ketus amat sih ya? Karena jubir-nya aku yang kena ketus-an yo aku… Sabaaaarr…. besok minta diskusi pula pagi-pagi…. Pulang sudah jam 1 lebih. Makan, belanja buat masak and let’s go home… Sampai dah jam 2an. Huummm ngantuks, ga bisa tidur gara-gara migrain kambuh. T.T DAY 4 07.30 janjian sama dokter pembimbing. Waktu kroscek jam 07.20 via telpon, sang dokter memberitahu kalau beliau sudah standby di rsj. Whaaaa keduluan, brak bruk brak bruk berangkaaat…! Sampai sana personil belum lengkap, heboh telpon sana-sini. Fyuuuh… Akhirnya sampai yang ijin telat pun sudah datang diskusi belum mulai. Baru jam 08.00 dimulai. Srat sret srat sret coretan bergores di makalah kami. Yang paling kuingat komentar beliau, “apa ini dek grafiknya kayak pocong,” wahahahaha..setelah diamati memang demikian. Jadi ngakak sendiri (dalam hati) menertawakan yang buat (aku, red). “segera dibenahi ya, nanti konsul lagi. Lakukan wawancara lagi,” well, itu artinya perintah untuk home visit ULANG!! Alhamdulillah mood beliau baik hari ini. Dapat pinjaman buku dan soft copy beberapa materi. ^^ dan yang paling membahagiakan, karena koas jiwa dah bejibun, kami yang (merasa) senior kabur dari TKP cari ilmu. Ya Rabb, maafkan kami… Presus bikin pusing jew.. Ga mood ketemu or-gil. Otomatis sudah 4 hari tidak masuk dan jaga UPI. Miss that moment…he…

DAY 5 Oh, cepatnya hari berlalu. Sudah mau hari minggu. It means minggu depan minggu TERAKHIR. Hukz… Segera meninggalkan Magelang dan balik Wonosobo the home base… Ingin cerita tentang Magelang. Beberapa kali ke kota ini rasanya sudah suka. Bahkan, terakhir kali main dulu (belum tahu bakal ada koas di sini) bersama the divker’s, sudah fall in love sama Magelang. Pernah berpikir untuk stay, nggak tahu juga kenapa, suka saja…hehe… Kota selanjutnya yang kusuka adalah Kebumen. Panas tapi dekat pantai. Love it. Tentunya keduanya tak bisa mengalahkan Ngayogyakarta Hadiningrat di hatiku. Selalu ada tempat untuk kembali ke Jogja. Hehee.. Wah, kok jadi bahas kota ya…back to day 5…, rasanya malah soul “jiwa” menghilang, piye iki? Meh ujian malah nggleyor. Makin hari makin ga jelas saking tambah banyaknya kode yang harus dihapal beserta dx-nya. Humpf… Hari ini nggak masuk (lagi) untuk ikut visite. Malah kabur ke borobudur untuk home visite ulang karena kejar tayang jam 2 siang harus sampai wonosobo. Ini tentang pemakaman pakdheku… (kuceritakan pada segmen sendiri). Sungguh, hari disforik dan melelahkan. Besok back to Jogja without my bro there… Humpf…

DAY 6 The very last day in this week. So much to do and finish. Menyambut minggu depan……