Minggu kedua di bagian jiwa…

DAY 1

Berangkat ke Magelang dari terminal Jogjakarta jam 5 pagi. Dapat bus seperempat jam kemudian. MasyaAllah bus-nya ngebut banget, motong jalan masuk kota (ga lewat ringroad seperti biasa, red). Bukan hanya itu, bus yang trio kwek-kwek tumpangi melanggar tiap lampu merah dan lewatnya pun dari arah berlawanan. Aku hanya bisa tercengang dan 10 menit sampailah di Jombor (biasanya makan waktu hampir 30 menit). Alhamdulillah kami semua selamat. Berangkat dari Jombor 10 menit kemudian. Belum berakhir ketegangan kami semua. Selain penumpang overload kami dikejutkan dengan klakson-klakson panjang bus yang meraung ingin mendahului, teriakan kasar sopir agar para pengendara motor menyingkir. MasyaAllah… Sampai Magelang jam 6.15 WIB. Jadi kurang lebih 1 jam perjalanan. Tapi perjalanan kami belum berakhir. Harus naik bus kecil untuk menuju tepian kota. Lumayan lama menunggu, 15 menit perjalanan sampailah kami di depan RSJ. Alhamdulillah… Segera menuju kost dan ganti kostum. Jam setengah 8 kurang kami berangkat tugas dengan kondisi tubuh lemah lunglai dan panas. Aku sedang PMS dan seperti biasa gejala prodormalnya mulai terasa disertai flu. Walhasil setelah jaga UPI dan poli badanku sudah terasa limbung, bolos jaga deh. Sampai kost langsung tidur selepas shalat. Ya Rabb, redakan lelah ini, esok harus ber-rutinitas lagi. Terpaksa minum berbagai macam vitamin sebagai dopping. Dan tidur…. Zzzz…

DAY 2

bangun tidur tak terasa lebih baik, lemas dan pusing dominan sekali. Serasa ingin jatuh tiap berdiri dan kemudian mual ingin muntah. Padahal makanku banyak. Ngemil terus malah. Dopping tak berhenti. Dirasa-rasakan seperti mabuk tertunda ya? Setelah muntah lumayan reda. Jadwal hari ini bedrest lagi. Tadi di UPI cuma sebentar karena ternyata ada tentir dengan dokter senior. Sempat kena semprot karena salah jadwal. Untunglah salahnya bareng-bareng… Huehue… Di poli juga hanya sebentar, diskusi dengan dokter sebelum beliau memberi tentiran sore harinya. Selama bertugas hanya ingin tidur. Aahhh kenapa sih PMS ini tak kunjung berakhir. Emosi juga meledak-ledak tak jelas. Mohon pengertian dari semua pihak. Hehe.. Semoga besok lebih baik dan fit. Amiin…

DAY 3

Alhamdulillah pagi ini sudah bisa seger badan, tapi dopping ga bisa cabut. Ditambah segelas susu coklat dan sekantung kripik pisang kesukaanku rasanya perutku bisa diajak kompromi untuk tidak mual lagi (gimana coba rasanya hamil… PMS wae dah kayak gini…hmmm). Bangun pagi langsung mandi seperti biasa, setelah sholat dan dengar pengajian dari rekaman di ha-pe, mulailah yoga beberapa menit. Cukup menenangkan dan memberi semangat baru. Yuuk bertugas! Hari ini cukup ringan, tak ada bimbingan. Kedatangan bala bantuan dari Unisula. Siiip dah… Dapet temen-temen baru. Setelah hunting pasien home visit kami cap cus pulang.

DAY 4

Start from mengerjakan semua tugas rumah yang biasa dikerjain teman yang pulang ke jogja tanpa pamit dan seminggu ini perang dingin sama diriku (humpf ga usah dibahas kenapa, seperti biasalah…). Lumayan bikin keringet. Hari ini poli luar, di rumah sakit lain. Sebelumnya ikut visite dokter yang akan kami ikuti di bangsal kelas. Beda juga ya pasien yang “kelas” dengan pemegang surat sakti “jkm/sktm”? Dari orangnya sendiri sampai fasilitas ruang. Begitulah sistem kesehatan di Indonesia, masih berstrata. Jika berpegang pada prinsip “ada uang ada barang” setuju saja dengan pembatasan itu tapi jika menilik bahwa semua orang berhak atas perlakuan yang sama…. What d’u think?

DAY 5

Alhamdulillah sudah penghujung waktu lagi. Saatnya bersiap ke Jogja. Hari ini visite seperti biasa lanjut home visit. Seperti biasa jalan menuju Jogja macet. Heran, jalan AKAP kok sempit dan rusak, sedang akan diperlebar sehingga crowded ded ded. Akhirnya lewat jalan memutar yang lumayan jauh. Sampai di desa yang kami tuju, masuk-masuk gang, teringat saat home visit IKM. Melewati desa “remote” nan mistis. Uhuh… Masuk ke dalam dusun wajib jalan, mobil susah masuk. Sesampainya di rumah yang kami maksud, terenyak lagi diriku. Lantai tanah, dinding papan, dekat kandang sapi… Teringat desa simbah yang kini sudah lumayan maju. Setelah masuk rumah, terkejut lagi dengan kegelapan suasana, kotor tak tertata rapi, penampilan tuan rumah yang acak-acakan. Depresif berat? Audzubillah….

DAY 6

Hurray, weekend….!!! Nanti siang capcus to jogja…. Hehe… Surprise-nya ada kegiatan di RSJ pagi ini, pentas seni peringatan hari kartini. Ada peragaan busana, tari, band, dan pameran aneka hasil kerajinan tangan rehabilitant yang dijual. Ternyata mereka pada bersemangat lho menampilkan kebolehan mereka. Tawa riang mereka seolah tak punya sakit apa-apa. Hanya satu petunjuk bahwa jiwa mereka sakit, tatapan mata yang kosong. Senang bersenang-senang dengan mereka, diajak joget bareng, nyanyi bareng, dan foto. Mereka ingin diakui. Hanya itu. Liputan dari berbagai media televisi membuat mereka semakin semangat di depan kamera. Hiburan bagi mereka. Bagi kami koas-koas juga sebelum pulang ke rumah masing-masing

^^

Advertisements

Sebuah catatan dari Buku Simtomatologi Psikiatri…

ekanisme Pembelaan terhadap Masalah yang “Dewasa”

1. Memusatkan perhatian pada yang ada, pada yang telah dimiliki dan lakukanlah sebaik mungkin. Hindari situasi yang memperburuk keadaan dengan memikirkan hal-hal masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan.

2. Buatlah daftar masalah yang dihadapi dan pecahkan (selesaikan) setiap masalah itu satu persatu menurut skala prioritas. Atasi dulu satu masalah sebelum menangani masalah lainnya.

3. Bila telah ditetapkan suatu pemecahan masalah, maka lakukanlah dengan segera. Jangan membuang-buang energi dengan was-was.

4. Usahakanlah agar hidup ini lebih produktif. Hindari adanya kekosongan waktu, sebab waktu yang kosong itu dapat menambah keresahan dan ketegangan.

5. Hindari cara berpikir untuk selalu menyalahkan orang lain, sebab hal ini akan menimbulkan frustasi berkepanjangan dan rasa permusuhan

6. Luangkanlah waktu setiap hari untuk beristirahat beberapa saat sebagai usaha untuk menenangkan fisik dan mental. Dalam istirahat ini pikirkanlah hal-hal yang menggembirakan atau tidak berpikir sama sekali.

7. Ciptakanlah rasa aman dan damai dengan cara mempertahankan kebiasaan2 yang telah dilakukan sehari-hari. Pertahankanlah hal ini sebaik mungkin, misalnya jam kerja, waktu makan, tidur, dan kegiatan lain.

8. Atasi semua masalah sebelum masuk tidur. Masalah yang belum ada alternatif pemecahannya atau bahkan masalah yang dapat teratasi akan selalu mengganggu tidur, akibatnya di keesokan harinya tak mungkin bangun dalam keadaan segar.

9. Biasakanlah untuk menerima dan menghadapi situasi kritis yang mungkin selalu terjadi dan tak mungkin untuk dihindari.

10. Dalam keadaan kecemasan yang dirasakan terlalu berat, berpikirlah rasional dan carilah pertolongan pada ahlinya. Hindari berpikir irrasional.

Seseorang yang terpenuhi kebutuhan dasarnya akan cenderung bisa berpikir dewasa.

Kebutuhan dasar (by Winslow):

1. Biologis (makan, minum, pakaian, perumahan, seks)

2. Sense of belonging (dimiliki dan memiliki)

3. Love and to be loved

4. Safe and security

5. Reward and to be rewarded (dihargai dan menghargai)

6. Actualization (mengembangkan diri)

Stase Jiwa…(chapter 1: a new beginning)

Hwaaa… Akhirnya sampai juga di RSJ kota Magelang yang amat luas dan nampak seolah hutan belantara. Lama-lama baru sadar keadaan seperti itu (seolah hutan, red) dengan suara ceruit rayap di pohon-pohon besar, teduhnya suasana karena payung pohon raksasa, dan segarnya udara di sekitar membuat ketenangan, terapi oksigen, dan tentunya mempercepat kesembuhan. Oke lho buat meditasi. Baiklah, simak baik-baik perjalanan koasisten di sana…

Kami bertujuh bertugas di sana, 4 orang dari home base wonosobo dan 3 dari temanggung. Berempat termasuk aku, kost di salah satu rumah PT Timah (pensiunan tentara tinggal di rumah, hoho..) satu rumah berempat komplit dengan tivi, kompor, dan segala perabot. Alhamdulillah. Bapak-ibu kos juga sangat baik pada kami, seolah anak sendiri.

DAY 1

Masuk lewat gerbang yang kejauhan… Dari kost-an perjalanan kami hampir 15 menit, hampir 1,5 km… Subhanallah… Setelah lapor ke diklat kami orientasi ke unit perawatan intensif dan ke poliklinik jiwa. Setelah itu belanja sayur di dekat masjid (masak sendiri dong ceritanya..hoho..). Disana bertemu pasien jiwa yang sudah agak mendingan berkeliaran. Salah satu mendekat dan bilang “njaluk duit bu.,,,” begidik, “ga punya duit…” ngaciiir…

Next ktemu lagi tiba-tiba mendekat dan dengan lancarnya dengan afek datar bilang “i want to see u i love u more than i can say..” pengen ketawa tapi tidak boleh. Perut rasnya mulas…hoho…

Jaga sore ada pasien bangsal yang main tiba-tiba mendekati aku dan temanku “dokter muda ya?” senyumnya ramah… “iya” jawab kami takut dan segan. “kenalkan saya Suroso, nama dokter?” bergantian tanya padaku dan temanku, aku menjawab singkat dan enggan “ayu” sambil melirik name tag-ku dia senyum dan komentar..”oktavi..a..yu?” sambil melirik name tag-ku sendiri aku mengiyakan. Tanpa dinyana dia komentar lagi “ayu tenan…” walah-walah…”terimakasih” ucapku sambil menundukkan kepala dan pergi dari TKP.

Setelah itu kedatangan 2 pasien baru yang harus kami follow up…

uwh…hari yang cukup melelahkan…but it’s great experience….

DAY 2

Menikmati tidur dengan nyenyak semalam karena kelelahan yang luar biasa. Pagi ini kami menunggu diperkenalkan pada dokter. Jam 9 pagi ikut visite ke bangsal perawatan intensif. Banyak lagi kelucuan orang-orang sakit jiwa tapi juga kasihan. Naudzubillahimindzalik. Yang aneh adalah mereka malah bisa nasehati yang sehat. Ada seorang yang ber”pidato” demikian “saya sudah baik-baik saja. Sudah merasa tenang. Pada dasarnya manusia tidak ada yang sempurna. Baik dan buruknya seseorang ada pada hatinya. Tergantung pikirannya.” subhanallah…

DAY 3

Kali ini jaga di bangsal perawatan intensif wanita. Pasien lebih sedikit dibanding bangsal pria dan tentunya jauh lebih tenang. Hal ini menunjukkan cowok lebih agresif ya… Ini dikarenakan pria menggunakan lebih besar kapasitas otak kiri sehingga semua berdasar logika atau pikir yang ia yakini. Sedangkan wanita lebih bisa menahan respon sebab bisa menggunakan keduabelah otak secara seimbang sehingga lebih cenderung menutup diri dan berkesan depresif. Ada seorang pasien berumur belasan tahun tiba-tiba menyalami kami semua dan memperkenalkan diri sebagai pelari dan menyebut lengkap namanya. Hampir semua pasien selalu bisa mengingat namanya. Betapa nama adalah id yang takkan terlupakan kecuali amnesia.

Selanjutnya kami bimbingan gangguan kepribadian. Selama hampir 2 jam tertawa karena cara membawakan materi sang dokter yang kocak sekali dan kami tak henti bertanya tentang “kepribadian”. Suatu materi yang selalu menarik untuk dibahas. Seorang disebut memiliki pribadi yang kental setelah beranjak dari usia 19 tahun, sebelum itu jati diri seseorang belumlah matang. Tipe kepribadian menurut ilmu psikologi beda dengan ilmu psikiatri. Dalam ilmu psikologi tipe-ku adalah perfeksionis-melankolis sedangkan menurut ilmu psikiatri aku cenderung anankastik (hampir setara dengan perfeksionis) dan tidak mungkin karakter itu berdiri sendiri. Pasti ada kecenderungan lain, seolah kita melukis, disebut lukisan jika ada lebih dari satu unsur warna. Begitupula kepribadian, akan menyusun suatu individu dengan serpihan-seprihan pola tertentu untuk menghasilkan seorang yang unik. Oleh karena itulah tiada mungkin 2 orang memiliki karakter yang persis sama. Sekalipun kembar konstitusinya pasti beda karena selain oleh genetik juga dipengaruhi lingkungan dimana evolusinya sepanjang hidup. Subhanallah… Setiap pribadi bisa jadi memiliki kecenderungan untuk mengalami gangguan kepribadian/jiwa, sesuai data WHO malah 60% populasi beresiko, 20% terkena gangguan jiwa, dan 20% sisanya borderline, namun semua bisa dikendalikan jika tilik diri dan coping dari diri dan lingkungan cukup baik dalam memberi suport pribadi yang nyaris roboh. Selama tidak ada disfungsi maka gangguan kepribadian apalagi gangguan jiwa tidak bisa ditegakkan. Pada tipe-tipe yang rawan untuk mengalami gangguan haruslah sangat mengenal diri agar bisa menjauh dari hal-hal yang bisa merobohkan eksistensi dirinya sehingga harmoni bisa tercipta indah.

DAY 4

Hari kedua di bangsal UPI wanita. Cukup sering dan lebih berani dalam berinteraksi dengan penderita. Sayang sekali aku belum menguasai dengan baik simtomatologi. Maklum, minggu awal. Hari ini ikut presus residen, ternyata hampir sama dengan tugas koas, hanya LOC-nya tentunya lebih. Hmm..pingin cepat jadi residen, tapi residen apa ya? Mencari risk terkecil akibat ilmu terkait.

Baiklah, lelah sudah sangat terasa…jumpa lagi esok hari. Dimulai dari kegiatan di UPI W, semoga tidak membuatku bosan. Semangat untuk kembali ke jogja hari Sabtu membuatku tetap bergairah untuk menjalani hari-hari yang melelahkan tapi menyenangkan di RSJ. Adakah cinta disana?

DAY 5

Jumat adalah hari paling dinanti, selain memang hari terindah sepanjang 1 pekan sebab hari doa mustajab, apalagi hari Jumat, sepertiga malam, kala hujan pula, Subhanallah… Ingin selalu bersimpuh menghiba pada-Nya, bermanja-manja dalam heningnya malam. Hanya berdua. Tapi setan rupanya lebih sering berkuasa. Audzubillahiminassyaitonirrojiim..

Baiklah, hari ini cukup tidak menyenangkan, sepertinya PMS, gerah terus rasanya, pusing, lelah, ditambah perut mulas. Inginnya selalu marah pada hal-hal tak beres. Maafkan teman, selalu kalian jadi korban. Tadi ngobrol lama dengan pasien depresi berat disertai harga diri rendah pasca skizofrenia. MasyaAllah…sulit sekali membuatnya percaya dan mau memikirkan hal positif. Kekecewaannya pada diri dan lingkungan membuat jiwanya hancur berantakan. Mati, selalu itu yang diinginkan. Dia mengatakan tidak bisa berdoa. Ya Allah, tuntunlah mereka kembali pada-Mu… Berserah hanya pada-Mu. Ingin sekali menghadirkan senyum di wajah mereka tanda mereka bahagia dan menerima hidup. Sulit ya bersyukur dalam segala keterbatasan? Ya Rabb ajarkan kami untuk bisa belajar dari mereka agar kami tidak sampai terjatuh dalam jurang seperti mereka. Amiin…

DAY 6

Whaaa….Alhamdulillah minggu pertama di stase ini sudah terlewati dengan baik. Semoga 4 minggu ke depan jauh lebih baik. Amiin. Hari ini bimbingan dengan expertnya. Cukup menarik dan jadi lebih mengenal simtomatologi dalam psikiatri. Great… Semangat untuk segera pulang ke Jogja membuat kami melupakan penat seminggu ini dan bersemangat. Wait for us Jogja…. ^^

CERMINAN DIRI ANDA

(disadur dari bulletin Jum’at At Tauhid edisi IV/26 oleh Ust. Abu Ahmad Said Yai)

Sangat mudah mengetahui seperti apa cerminan diri anda. Cukup dengan melihat dengan siapa saja anda bergaul. Seperti itulah cerminan diri anda. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin adalah cerminan dari saudaranya yang mukmin.” (HR Abu Dawud dihasankan oleh syaikh Al-Albany). Kalau seseorang biasa berkumpul dengan penjudi, maka kurang lebih dia seperti penjudi. Begitupula sebaliknya, kalau dia rajin shalat berjamaah, maka kurang lebih dia seperti itu.

Allah ta’ala menciptakan ruh dan menciptakan sifat-sifat khusus untuk ruh tersebut. Diantara sifat-sifat ruh adalah tidak mau berkumpul dengan yang lain jenis. Rasulullah SAW bersabda, “Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang berkumpul (berkelompok). Oleh karena itu, jika mereka saling mengenal maka akan bersatu, dan jika tidak saling mengenal maka mereka akan berpisah.”

Jangan salah dalam memilih teman

Memilih teman yang baik adalah sesuatu yang tak bisa dianggap remeh. Oleh karena itu, Islam mengajarkan pada kita agar tidak salah pilih teman. Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Maka hendaklah diantara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.” (HR At-Tirmidzy dishahihkan oleh syaikh Al-Albany).

Tidak diragukan lagi bahwa seorang teman memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap temannya. Teman bisa mempengaruhi agama, pandangan hidup, kebiasaan, dan sifat-sifat seseorang.

Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Qasim berkata, “Sifat dari seorang manusia adalah cepat terpengaruh dengan teman sepergaulan. Manusia bisa terpengaruh (dari orang lain) bahkan dari seekor binatang ternak. Perhatikanlah sabda Rasulullah SAW, “Kesombongan dan keangkuhan dalam berbicara terdapat pada penggembala onta. Dan ketenangan terdapat pada penggembala kambing.” (HR Bukhari-Muslim)

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa di dalam penggembalaan unta terdapat kesombongan dan keangkuhan, sedangkan di dalam penggembalaan kambing terdapat ketenangan. Jika dengan hewan saja yang tidak memiliki akal  dan tidak mengetahui maksud dari ucapan manusia bisa terpengaruh seperti itu, maka bagaimana pendapatmu dengan orang yang bisa berbicara denganmu, paham perkataanmu, bahkan terkadang mengajakmu kepada hawa nafsu serta menghiasimu dengan syahwat? Bukankah hal itu berarti manusia lebih cepat terpengaruh dengan pergaulan?”

Pilihlah teman yang mempunyai sifat berikut

  • Benar aqidahnya

Ini menjadi syarat mutlak dalam memilih teman. Dia harus beragama Islam dan beraqidah. Tidakkah kita semua tahu cerita wafatnya paman Rasulullah SAW _Abu Thalib_, ketika berbaring dan menunggu maut menjemput. Tatkala itu disampingnya ada Rasulullah SAW serta sahabat-sahabatnya yang kafir yaitu Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah. Pada saat itu Rasulullah SAW berkata, “wahai pamanku! Katakanlah “laa ilaaha ilallaah”. Lantas mereka berdua berkata, “wahai Abu Tholib, apakah kamu membenci agama Abdul Mutholib?”  Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam terus mengucapkan kalimat semacam tadi dan sahabat-sahabat Abu Thalib pun terus mempengaruhinya. Sampai akhirnya dia tidak mau mengucapkan laa ilaaha ilallah dan memilih tetap berada pada agama Abdul Mutholib (yang kafir).

  • Selamat manhajnya

Ini juga menjadi sifat mutlak yang kedua dalam memilih teman akrab. Oleh karena itu, Islam melarang berteman dengan ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu.

Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma berkata, “Janganlah kalian duduk-duduk dengan mereka dan menimbulkan penyakit hati (yaitu bid’ah).”

Bagaimana mungkin seorang ahlus sunnah berkumpul dengan ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu dengan prinsip kebersamaan? Perlu diketahui bahwa persatuan semacam ini hanyalah persatuan yang semu.

  • Taat beribadah dan menjauhi perbuatan maksiat

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sebarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Allah, pada waktu pagi dan petang, (yang mereka itu) menginginkan wajah-Nya.” (QS Al Kahfi: 28)

Ibnu katsir rahimahullah berkata mengenai tafsir ayat ini, “Duduklah bersama orang-orang yang mengingat Allah, bertahlil, memuji, bertasbih, bertakbir, dan memohon pada-Nya di waktu pagi dan petang, baik mereka itu orang miskin atau kaya, baik mereka itu orang kuat atau lemah.”

  • Berakhlak dan bertutur kata baik

Rasulullah SAW bersabda, “orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Abu Dawud dan At Tirmidzy).

Al Ahnaf bin Qais berkata, “Kami dulu selalu mengikuti Qais bin ‘Ashim. Kami belajar darinya kesabaran dan kemurahan hati sebagaimana kami belajar fiqih.”

  • Suka menasehati dalam kebaikan

Teman yang baik tentu tidak senang jika temannya jatuh dalam perbuatan dosa. Jika anda memiliki teman, tetapi dia tidak pernah menegur anda ketika berbuat kesalahan, maka perlu dipertanyakan apakah dia benar-benar teman sejati. Salah satu ciri orang yang tidak rugi sebagaimana disebutkan Allah ta’ala di dalam surat Al-‘Ashr yaitu orang-orang yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Rasulullah SAW bersabda, “salah seorang diantara kalian tidak dikatakan beriman (dengan sempurna) sampai dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari-Muslim).

  • Zuhud dengan dunia dan menjauhkan diri dari mengejar-ngejar kedudukan

Teman yang baik tentu tidak akan menyibukkan saudaranya dengan perkara-perkara duniawi. Seperti sibuk membicarakan model-model mobil mewah, dll. Rasulullah SAW bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia maka Allah akan mencintaimu. Zuhudlah terhadap sesuatu yang dimiliki manusia, maka manusia akan mencintaimu.” (HR Ibnu Majah)

  • Banyak ilmu atau dapat berbagi ilmu dengannya

Tidak salah lagi, berteman dengan orang-orang yang memiliki dan mengamalkan ilmu agama akan memberi pengaruh besar pada diri kita.

  • Berpakaian islami

Teman yang baik selalu memperhatikan pakaiannya, baik dari segi keislaman, kebersihan, dan kerapian. Syaikh Bakr Abu Zaid berkata dalam kitab Hilyah-nya, “Perhiasan yang tampak menunjukkan kecondongan hati. Manusia akan menggolongkanmu berdasarkan pakaian yang engkau kenakan. Oleh karena itu, pakailah pakaian yang dapat menghiasi dirimu dan bukan malah mengenakan pakaian yang menjelekkanmu. Janganlah mengenakan pakaian yang menimbulkan celaan di tengah orang banyak atau menimbulkan ejekan dari orang lain.”

  • Selalu menjaga kewibawaan dan kehormatan diri dari hal-hal yang tidak layak di mata masyarakat

Teman yang baik selalu menjaga dirinya dari hal-hal itu, kendati pun hal-hal tersebut adalah perkara yang diperbolehkan dalam agama. Kalau seandainya suatu daerah menganggap bahwa main billiard (bola sodok) adalah suatu ‘aib, maka tidak sepantasnya berteman dengan orang-orang yang suka bermain permainan semacam itu. Betapa indah ucapan Imam Asy-Syafi’i, “Seandainya saja air yang dingin merusak kewibawaanku, tentu saya akan minum hanya dari air yang panas.”

  • Tidak banyak bergurau dan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat

Rasulullah SAW  bersabda, “diantara ciri baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR Tirmidzi)

Memang kelihatannya agak sulit mendapatkan teman seperti di atas, akan tetapi dengan izin Allah kemudian dengan usaha keras serta do’a, kita akan mendapatkan orang-orang seperti itu.

Lingkungan yang islami sangat mendukung untuk mendapatkan orang-orang seperti itu.

Perlu menjadi catatan, bukan berarti kita tidak bergaul dengan orang-orang di sekitar kita.  Bukan berarti kita tidak bergaul dengan orang-orang kafir, ahli bid’ah, fasik, dst. Kita harus tetap berdakwah. Kita harus melihat maslahat dan mudharat (bahaya) yang akan terjadi pada diri kita dan orang-orang lain di sekitar kita pada saat bergaul dengan mereka.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin berkata, “Jika di dalam pergaulan dengan orang-orang fasik menjadikan sebab datangnya hidayah bagi mereka, maka tidak mengapa engkau berteman dengan orang semacam itu. Kamu bisa mengajak mereka bergaul dengan syarat tidak sampai mengotori kehormatanmu di mata masyarakat. Betapa banyak orang-orang fasik yang mendapatkan hidayah karena berteman dengan orang-orang yang baik.

Ingatlah, di dalam masyarakat, jika tidak memilih teman yang baik, maka anda dapat memilih. Anda akan mempengaruhi orang lain sehingga mereka menjadi lebih baik atau anda akan mendapat pengaruh dari orang lain sehingga anda menjadi rusak. Ingat! Tidak ada pilihan yang ketiga.

Catatan kaki….

Teman, sahabat, kawan, rekan, sohib, sobat, dan sebutan lain untuk seseorang yang bergaul dengan kita dengan baik adalah orang-orang yang menjadi salah satu aspek lingkungan bagi kita. Selain genetik, lingkungan-lah yang mempengaruhi fenotip (output) kita. Kita akan dipandang, dikenal dengan siapa kita bergaul. Memang benar juga isi tulisan di atas, bahwa kita tidak punya pilihan lain selain menjadi penentu lingkungan kita sendiri, termasuk memilih teman (apalagi teman hidup..he…). Padahal waktu sekolah dulu kita diajari “jangan pilih-pilih teman”. Nha…disini maksudnya kita tidak boleh memandang sebelah mata ataupun memusuhi. Semua adalah teman, bukan lawan. Tetapi kepada siapa kita bergaul intens dan mempercayai lebih adalah orang-orang terpilih kita. Sekalipun kita bilang tidak percaya pada orang, tetapi kepada siapa kita ‘curhat’ itulah seseorang yang kita percaya. Walau kadang proses pen-curhat-an itu spontanitas dan emosional dan menyesal telah membicarakan hal pribadi tersebut. Secara tak sadar kepercayaan sudah ada.

Marilah kita merenung, sudahkah orang-orang di samping kita adalah teman-teman terbaik untuk kita? Yang memberikan ketenangan dan kenyamanan? Step ahead to close to Allah…? only U known it…..^^

a song by Raihan….Mengemis Kasih

Tuhan dulu pernah aku menaruh simpati

Kepada manusia yang alpa jua buta

Lalu terseretlah aku di lorong gelisah

Luka hati yang berdarah kini jadi kian parah

Semalam sudah sampai ke penghujungnya

Kisah seribu duka kuharap sudah berlalu

Tak ingin lagi kuulangi kembali

Gerak dosa yang mengiris hati

Tuhan.. dosaku menggunung tinggi

Tapi rahmatmu melangit luas

Harga selautan syukurku hanyalah setitis nikmatMu di bumi

Tuhan…walau taubat sering ku mungkir namun pengampunanMu tak pernah bertepi

Bila selangkah ku rapat padaMu seribu langkah Kau rapat padaku

Allah…… Allah….. Allah…..

Thank U Allah…….

Cerita tentang kebosanan….(by anonym)

Ini sebuah cerita ringan tentang kebosanan.
Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu :”Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, pak tua?”
Pak Tua :”Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, danmenginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.”
Tamu :”Kenapa kita merasa bosan?”
Pak Tua :”Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.”
Tamu :”Bagaimana menghilangkan kebosanan?”
Pak Tua :”Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.”
Tamu :”Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”
Pak Tua:”Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”
Tamu :”Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.”

Pak Tua :”Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.”
Tamu: “Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?”
Pak Tua :”Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan
seterusnya.” Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.
Tamu :”Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”
Pak Tua :”Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.”
Tamu :”Contohnya?”
Pak Tua :”Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.”
Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.
Tamu :”Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”

Sambil tersenyum Pak Tua berkata:
“Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan.
Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria.
Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan.
Segala sesuatu berasal dari pikiran.
Berpikir bosan menyebabkan kau bosan.
Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.”

is that true??