Cita, Asa, Impian…ku

“susan susan susan kalo gede pengen jadi apa? Aku kepengin pinter biar jadi dokter….”

Masih ingat kawan dengan lagu itu? Lagu masa kecilku… Saat lagu anak-anak masih membanjiri belantika musik Indonesia.

Saat lagu itu populer aku juga tidak pernah berpikir akan menjadi dokter, bahkan terbesit keinginanpun tidak. Orangtuaku dan keluarga besar mayoritas guru atau dosen. Akupun ingin seperti mereka. Ingin ilmuku bermanfaat dengan mengajarkan yang kutahu. Ya, cita-citaku ingin menjadi dosen. Dan aku sangat tertarik dengan biologi. Sebenarnya tresno jalaran saka kulina, bagaimana tidak, kedua orangtuaku guru biologi, di rumah banyak sekali buku biologi. Dan aku sangat suka membacanya.

Seiring waktu berjalan aku semakin tidak tahu mau bahkan ingin jadi apa, sempat berpikir ingin jadi insinyur pembangunan. Motivasi Ayu kecil saat itu adalah ingin membangun desa tempat Eyang tinggal. The very remote place that I hate to walk to. Sebuah desa yang belum tersentuh listrik dengan jalan seolah lempung yang membuat kaki tak bisa melangkah lebih jauh. Dan lebih dari 2 km keadaan itu. Belum jika hujan tiba dan banjir melanda. Ayu kecil tak mau pergi kesana walau dengan seribu rayuan untuk bisa bermain dengan kupu-kupu dan memetik bunga sepanjang jalan.

Sempat pula aku ingin menjadi arsitek atau designer pakaian. Motivasiku saat itu aku suka sekali merancang pembangunan rumah dan pakaian. Impian sederhana untuk memiliki rumah hasil rancangan sendiri dan baju sebanyak mungkin sesuai inginku. Ternyata tak mudah. Impian itu lekang oleh waktu.

Impian lebih sederhana adalah aku ingin ke luar negeri. Kuliah atau hanya melakukan wisata. Kukira impian ini tetap ada hingga aku memenuhinya. Dan negara tujuanku, inginku, ada tiga utama: Australia, Jepang, dan tentunya Saudi Arabia. Kenapa Australia? Simple, hanya karena pamanku pernah study di sana dan berhasil. Aku ingin seperti dia. Kenapa Jepang? Karena aku mengagumi etos kerja dan semangat belajar yang tinggi. Aku ingin banyak belajar pada mereka. Kenapa Saudi? Jelaslah bahwa umat Islam hendaknya pergi ke sana untuk menunaikan rukun Islam ke-5. Untuk impian ini aku pernah bercita-cita menjadi duta besar/diplomat/ambassador sehingga aku sepenuh hati belaja bahasa Inggris dan mengikuti beberapa perlombaan. I like English much, dulu… sebelum aku bertemu dengan pengajar yang membuatku kehilangan rasa cintaku pada bahasa itu, kemampuanku semakin tak terasah. Terasa percuma semua kemenangan dalam perlombaan masa lalu. Dan aku menyerah. Sempat juga aku ikut kursus bahasa Jepang dan bahasa Arab. Hangat-hangat tahi ayam, aku belum bisa menyerahkan hatiku seperti pada bahasa Inggris untuk mempelajarinya.

Saat aku duduk di bangku SMA impian apapun tidak membekas sama sekali. Aku hanya ingin berorganisasi, menulis, dan tenggelam dalam aktivitas yang sangat menyenangkan menurutku. Aku kehilangan minat sama sekali untuk belajar. Aku kehilangan cita-cita. Semua bagai menguap ke angkasa. Dengan nilai UAN yang pas-pasan aku semakin pesimis untuk bermimpi. Jurusan-jurusan yang kupilih saat SPMB hanya asal tulis dan mengikuti orangtua saja asalkan aku tetap kuliah di Jogja, kembali ke kota kelahiranku yang sangat kucinta. Termasuk jadi dokter.

Aku tidak pernah bermimpi untuk jadi dokter tapi aku pernah berandai-andai menjadi dokter yang menolong banyak orang. Dokter yang baik. Tapi setiap kali aku mengandaikan diriku aku serta merta menepisnya karena jadi dokter itu mahal. Bahkan saat itu aku melupakan mottoku sendiri, where there’s a will, there’s a way.

Aku berani mendaftar di salah satu PTS Jogja saat ada expo, dan semua terjadi begitu saja. Di tempat yang belum pernah kutahu sebelumnya, seolah Allah memang menuntunku untuk meniti jalanku di universitas Islam ini. Aku tergiur karena bisa gratis alias tanpa dana sama sekali kecuali SPP. Aku berharap bisa mendapatkan reward itu. Semua berkas diurus orangtuaku. Dan semua benar-benar seolah mukjizat, tanpa tes aku bisa masuk ke sana dengan biaya paling minimal. Nikmat Allah manakah yang kamu dustakan. Betapa aku selalu menangis, antara haru sedih bingung bahagia campur jadi satu. Tapi aku harus percaya kuasa Allah. Rejeki ada di tangan-Nya.

Dan di sinilah aku sekarang, Alhamdulillah selalu dalam kecukupan dan sedang meniti jalan menjadi dokter muslim yang baik dan bisa diandalkan. Amiin. Satu hal yang selalu kucamkan dalam hati sejak itu adalah jangan menyerah sebelum berusaha. Allah akan menunjukkan jalan pada kita jika hati ikhlas dan pasti yang terbaik bagi kita sekalipun kita tidak pernah sama sekali membayangkan. QS Ar Rahman inspires me much. Thank U Allah…. Aku bahagia di jalanku sekarang. Dan aku masih bisa meniti impian-impianku yang lain… aku tetap bisa jadi dosen, bisa ‘menulis’, dan aku bahkan sangat mungkin untuk bisa study dan berhelat ke luar negeri. Amiin Ya Rabb…

4 Comments (+add yours?)

  1. difana
    Mar 13, 2010 @ 16:59:09

    Ammmiiieeennn…..
    pokoke manut ma yang ngasih hidup (alias berpasrah) aja ya mbak… ^^

    Reply

  2. cencen
    Mar 15, 2010 @ 01:36:47

    malah baca nya offline aku di flash..
    wkwkw..
    amien.. semoga deh..
    btw udah gak pernah speaking speking english lagi nie di rumah😀

    Reply

    • ayuseite
      Mar 31, 2010 @ 02:53:00

      yeah… actually i’m just as the same with u, like debatting, much, like to be a reporter or protocol in a ceremony, like to conduct something…. but seeing u exist, for me that just replacing me…. and i’m very proud with u bro….^^
      okz..let’s speak English more often (if the situation correct..)

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: