keselamatan manusia tergantung lisannya..

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan) karena sebagian dari purba sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (QS At Taubah ayat 12).

Manusia adalah makhluk social, makhluk yang saling membutuhkan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Manusia bisa hidup bekerjasama, saling tolong-menolong dalam hal kebaikan, dan itu semua adalah tidak luput dengan adanya komunikasi atau pembicaraan. Pembicaraan adalah cara manusia berinteraksi dengan manusia yang lain dengan menggunakan alat bicara.

Lidah adalah anugerah Allah SWT, yang juga merupakan kenikmatan dari sang Khalik yang agung dan termasuk pula ciptaan-Nya yang halus dan penuh dengan keajaiban. Memang lidah bentuknya kecil, akan tetapi besar manfatnya. Besar ketaatannya kepada Allah dan besar pula dosanya kepada Allah, sebab kufur dan iman merupakan puncak dari dua hal yang bertolak belakang, kufur adalah puncak dari kedurhakaan kepada Allah, dan iman adalah puncak dari ketaatan.

Sesungguhnya pengetahuan yang dijelaskan oleh lidah, kadang-kadang benar dan juga kadang-kadang pengetahuan tersebut keliru. Segala sesuatu, terutama informasi, diperoleh dari lidah, dan inilah kelebihan lidah dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain. Lidah atau lisan memang mempunyai keajaiban dibandingkan dengan anggota tubuh yang lainnya, mata hanya dapat melihat warna atau bentuk, telinga hanya bisa mendengar suara, tangan hanya menjangkau, dan sebagainya. Lisan mempunyai lintaran yang luas dalam berbuat kebaikan. Namun di sisi lain, lisan mempunyai ekor yang dapat ditarik dan diombang-ambingkan dengan berbuat maksiat. Barangsiapa yang melepaskan kemanisan lidah dan membiarkan terlepas kendalinya, maka setan laknatullah akan bebas menggiringnya ke tepi jurang yang dapat menjatuhkannya, dan jika perlu setan laknatullah memaksa seseorang tersebut kepada sesuatu yang membinasakan.

Manusia akan binasa dan masuk jurang neraka karena hasil dari lisannya, manusia tak akan selamat dari kebinasaan jika ia membiarkan lidahnya berkata seenaknya. Manusia hanya bisa selamat jika mengikat lisannya dengan kendali syariat dan tidak mengatakan, kecuali tentang sesuatu yang bermanfaat baginya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Manusia tidak akan selamat jika tidak mencegah lisannya dari setiap bahaya yang ditakuti, baik di saat sekarang maupun di saat yang akan datang. Selain itu, lisan memang merupakan anggota tubuh manusia yang paling durhaka, jika dibandingkan dengan organ tubuh lainnya. Lisan sangat mudah melakukan pujian atau mencela; memuji dan mencela itu sangat ringan dilakukan karena tidak memerlukan ongkos dan tidak begitu berat untuk menggerakkannya. Namun, kebanyakan manusia menganggap bahaya lisan itu remeh, sepele, sehingga jarang yang mengendalikan lidah dalam berkata, jarang yang mengikat kendali dengan syariat. Lisan dibiarkan lepas berkata apa saja yang disukainya, padahal sesungguhnya lisan dimanfaatkan setan laknatullah untuk menyesatkan manusia.

Lisan memang mudah sekali berkata, jika kita tidak bisa mengendalikannya, maka dengan mudah diri kita akan terjerumus kepada sesuatu yang memalukan. Karena itu, Allah SWT tidak akan melindungi atau menutup aib kalian apabila lidahmu melepas kata-kata keji. Begitupula jika engkau mampu menahan marah, maka Allah akan melindungimu dari siksa-Nya. Sebab kemarahan tersebut timbul karena hawa nafsu dan selalu berdampak buruk. Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan seseorang yang akan berbicara dengan lawan bicaranya, yakni:
1.Menjaga lisan
Menjaga dan memperhatikan lisannya dengan menjauhi segala perkataan yang bathil, dusta, ghibah, namimah, perkataan kotor, dan dari segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. Sungguh, ada diantara manusia yang direndahkan oleh Allah SWT di dunia maupun di akhirat kelak hanya karena satu kalimat yang diucapkannya, demikian sebaliknya ada yang diangkat setinggi-tingginya karena juga satu kalimat yang diucapkannya. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berkata dengan satu kata yang dia tidak bertabayyun dengannya, maka dengannya dia tergelincir ke dalam api neraka yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat” (HR Bukhari Muslim). Lebih dari itu Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada diantara kedua rahangnya dan kedua kakinya maka aku akan jamin surga untuknya” (HR bukhari, Ahmad, Turmudzi)
2.Berkata baik ataukah diam saja
Jika seseorang akan berbicara maka hendaknya ia memikirkan terlebih dahulu apa yang akan diinginkannya untuk berbicara; jika kebaikan maka ucapkanlah, jika ternyata adalah keburukan, maka berhentilah karena itu lebih baik baginya, seperti sabda Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah menyakiti tetanganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkanlah yang baik atau hendaknya diam” (HR Bukhari-Muslim-Ahmad)
3.Kalimat yang baik adalah sedekah
Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Setiap persendian dari manusia wajib dikeluarkan sedekah atasnya pada setiap hari yang terbit padanya matahari, mendamaikan diantara 2 orang adalah sedekah, menolong orang di atas tanggungannya kemudian membawanya di atas atau mengangkat barang dagangannya di atas kendaraannya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, setiap yang melangkah menuju sholat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah” (HR Bukhari-Muslim). Boleh jadi setiap satu kalimat yang baik bisa menjauhkan pengucapannya dari api neraka. ‘Adiy bin Hatim ra pernah menyebut neraka, kemudian beliau memalingkan wajahnya, lalu beristiadzah (meminta perlindungan dari Allah SWT) darinya, kemudian beliau bersabda yang artinya, “Takutlah kalian terhadap api neraka sekalipun separuh biji kurma, barangsiapa tidak menemukan maka dengan satu kalimat yang baik” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasa’i)
4.Banyak bicara, makruh hukumnya
Al-Mughirah bin Syu’bah meriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau bersabda yang artinya “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian, durhaka kepada para ibu, mengubur hidup-hidup anak wanita, menolak (tidak mau memberi) dan meminta. Dia membenci untuk kalian qila waqaala, banyak hartanya dan menyia-nyiakan hartanya.” (HR Bukhari-Muslim, Ahmad, Ad-Darimi). Qila waqaala adalah menenggelamkan dari kedalam berita-berita serta cerita tentang keadaan dan perbuatan manusia yang tidak perlu untuk diceritakan.
5.Waspada ghibah dan namimah
Rasulullah SAW pernah bersabda apa itu ghibah? Dalam sabdanya yang berarti “Tahukah kalian apa itu ghibah? Mereka menjawab, Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda “penyebutanmu terhadap saudaramu dengan apa yang dia benci”. Dikatakan kepada beliau, “bagaimana pandangan anda jika apa yang kukatakan ada pada saudaraku? Beliau bersabda, “jika padanya terdapat apa yang engkau katakana, maka engkau telah menghibahnya dan jika tidak ada padanya maka engkau telah mendustakannya” (HR Muslim, Ahmad, At Tirmidzi, Abu Daud, dan Ad Darimi).
Dan namimah sendiri adalah menukil ucapan manusia, sebagian mereka kepada sebagian lain untuk membuat kerusakan (permusuhan) diantara mereka. Ghibah dan namimah adalah bagian dari senjata setan untuk mengobarkan perpecahan, permusuhan, dan kebencian diantara manusia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya “Sesungguhnya setan telah putus asa (untuk melakukan usaha) agar orang-orang shalat menyembahnya di jazirah Arab, akan tetapi mereka tidak putus asa dalam menebarkan benih perselisihan diantara mereka” (HR Muslim, Ahmad, dan At Tirmidzi) dan oleh karena itu jugalah Allah SWT berfirman seperti pada awal tulisan.
Akhirnya, semoga kita semua termasuk orang-orang yang bisa mengekang lisan kita masing-masing, menjaga lisan kita dari perbuatan keji, kata-kata kotor dan buruk, agar kita semua bisa tergolong orang-orang yang muttaqien yang selalu menjaga lisannya. Amiin yaa Rabbal ‘alamiin.

(disadur dari Risalah Jumat, edisi 24/XVIII)

2 Comments (+add yours?)

  1. endi purnomo
    Jul 30, 2010 @ 22:50:59

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Afwan Akhi…hanya koreksi saja…..Ayat Al-Qur’an di awal artikel tersebut di atas, bukan Surat At Taubah ayat 12, tapi Surat al Hujarat ayat 12…… semoga bermanfaat

    Wallahu’alam

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: