Cinta Itu Telah Teruji

“ Yuan”

“ Anto”

Kami pun bersalaman erat. Saat itu hujan turun cukup deras. Perkenalanku dengan Anto,  cowok yang belum pernah aku kenal itu,  menghangatkan suasana.

“ Namamu kayak cowok ya? Y-U-A-N. lengkapnya siapa?”

“ Idih… baru kenal mau tahu aja. Apalah arti sebuah nama.”

“Ada!Kalau namamu cikrak apa kamu gak malu? Atau… cempluk…atau… ha…ha…ha…”

“ Ketawa aja lu! Kayak namamu paling oke aja.”

“Ya jelaslah namaku oke ini kan pemberian ortu….”

“Ya pastilah pemberian ortu….bla…bla..bla…”

Dan kamipun terus bertengkar hanya karena nama, hingga akhirnya hujan pun reda dan kami pun berpisah.

*  *  *  *

ting… ting… ting…” irama instrument gubahan mozart mengalun dari grand piano di ruang depan.

“ Ah, pasti murid ayah tuch.” pikirku.

Tak seperti biasa, aku melangkah ke depan, tertarik hatiku mengetahui siapa “pemain mozart itu”.

“ Wow! Anto!” seruku dari kejauhan setelah kutahu siapa

“ Oh … hai cowok, ini rumahmu to?nggak nyangka kita bertemu lagi, kebetulan sekali.”sapa Anto sok akrab

“Hei, aku cewek tulen tahu.”protesku

“Nggak! Aku nggak tahu, cewek kok potongannya kayak cowok dari kepala sampa kaki.”elak Anto

“ Ye… tapi aku ini cewek , asli 100%” bantahku tak mau kalah. Dan sebelum dia sempat membalas….

“Lho, Yuan….kamu sudah kenal ya sama Anto?”Papa muncul tiba-tiba

“Eh, iya om, kami bertemu di halte bus tempo hari…saya pikir dia cowok, Om..”

“Ha..ha..ha.. Entah Yuan itu sejak ditinggal mamanya jadi maskulin gitu..”

“Ah..Papa…jangan buka kartu gitu dong!!”rajukku pada Papa tersayang

Ya…..memang semenjak ibu pergi aku hanya berkiblat pada Papa yang betah sekali mengasuhku seorang diri. Maklum…ibu pergi saat usiaku masih lima tahun dan aku amat mengetahui bahwa papa amat mencintai mama…

* * * * *

Sejak saat itu kami sering sekali bertemu di rumahku, semakin hari semakin akrab. Hingga suatu saat…………………………………………

“ Yuan, kamu liat bintang di atas sana?”

“ Ya lihat lah, aku nggak buta kok!”

“ Ssst! Ada hujan meteor, sebut satu harapanmu.”

“ Eng… aku berharap……….”

“ Hush!” potongnya “ Jangan keras-keras!”

“ Oke!” Kemudian aku memejamkan mata.

“ Sudah?”

“Hh…,” jawabku

“ Apa yang kau pinta?”

“ Makan enak!” jawabku ringan.

“ Kamu gak bisa serius ya?”

“Dua rius malahan! Aku lapeeeerrrr, Anto.”

“Yuan kamu tahu apa yang ku harap,” tanyanya dengan serius tanpa peduli dengan jawabanku.

Menghunus matanya menatapku dan akupun tak bisa becanda lagi. Ah… ada apa ini? Aneh sekali….

Kemudian sembari menggenggam tanganku, ia berkata,

“ Aku ingin mencintaimu dan dicintaimu.”

Terkejut aku mendengarnya, tak percaya!!! Anto yang selama ini selalu mencari masalah denganku ternyata…. Ha?! Aku terpana.

“ Yuan maukah kau?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“ Haruskah?” tanyaku tak yakin.

“ Ya! I need you.”

“ Aku… a…ku… aku…” dengan susah payah, saking gugupnya aku berusaha mengiyakan. Tapi didetik saat aku akan mengucap……………….

“ Ha…ha…ha…!!! I’m just kidding, girl!!! Mana mau aku sama tomboi kayak kamu!”

Merah padam mukaku dibuatnya. Malu bercampur kesal, aku berlari sekuat tenaga dengan air mata terus berlinang. Tak kuhiraukan teriakannya memanggilku. Hingga pada detik berikutnya ia telah sampai padaku dan meraih tubuhku dalam dekapnya.

“Maafkan aku Yuan, aku… hanya takut kata yang terucap dari mulutmu adalah penolakan.”

“ Hix…hix…hix… kamu te…ga Anto!Aku… aku benci kamu!!!!” teriakku sambil berlari kembali.

Sesampainya di rumah, ha-peku terus berbunyi kubaca ‘callernya’ Anto, Anto dan Anto. Jengkel kumatikan ha-pe itu dan aku pun terlelap. Tak kuhiraukan panggilan Papa mengajakku makan malam….

Dini hari aku terbangun, segera kuambil air wudhu dan menghadap-Nya, tahajjud.. Tuhan … selalu tampakkan wajah Anto dalam anganku. Ah… muak sekali!!!Benarkah ini rasanya cinta? Benarkah aku mencintainya? Apa sih arti cinta itu? Belum pernah aku merasainya…dan akankah cinta itu berakhir seperti cinta papa dan mama? Ah….

* * * * *

Setelah merenung beberapa hari, kuputuskan untuk menemuinya, mengakui perasaanku padanya. Aku akan minta maaf dan aku… akan berubah. Kemaja biru, rok panjang dan… sepotong kerudung membalut kepalaku.

“ Hei… manis benar aku ini.” pikirku dalam hati.

Setelah mematut diri begitu lama di depan cermin aku pun berangkat kuliah..

* * * * *

Sepulang kuliah aku mampir ke rumahnya.

Deg!!! Mau pingsan rasanya, melihat pemandangan di hadapku. Musnah sudah semua mimpi yang kurajut. Anto… tengah dikecup dengan mesra oleh seorang wanita cantik, seksi, dan feminim. Dan… untuk ketiga kalinya aku berlari karena dia.

* * * * *

Tak terasa sudah tiga tahun berlalu. Hingga saat ini, wisuda kelulusanku, aku tak pernah bertemu lagi dengan Anto, kekasih dalam hatiku. Entah bagaimana kabarnya, cintanya padaku, masihkah…….??? Masihkah ia seperti yang dulu? Anto … ia seorang yang humoris, baik, pengertian, dan yang paling penting ia cinta aku. Pun dia bukan cowok idola gadis masa kini yang gagah, kekar, tinggi, tampan, dan atletis. Dia tetap arjuna dalam hatiku.

Di saat kulangkahkan kaki keluar dari arena wisuda dengan diiringi ayahku, lamat-lamat kudengar denting piano mengalun syahdu, Mozart!!!! Bukankah instrument ini yang selalu Anto mainkan? Ini adalah kesukaannya, kesukaanku.

Sejurus kemudian aku berlari tuk yang keempat kalinya karena Anto. Namun apa yang kulihat……….. bukan!!! Bukan Anto. Tak terasa air mataku menetes.

“ Anto… I… miss… you…” rintihku sambil menangis.

Papa mendekapku seakan paham semuanya dan memapahku keluar. Tiba-tiba…………………………

“ Hey, tomboy! Dah lulus nich?! Seneng dech, selamat ya.”

“ A…… Anto!” belalakku kaget.

Untuk kelima kalinya aku berlari demi mendengar suara yang sangat kurindui itu.

Deg!!!! Aku tersadar bahwa ia tak berdiri, Ia… duduk di atas kursi roda.

“ Kak… Anto… kenapa kakinya?”

“Duh sejak kapan panggil aku kak, gadis tomboyku? Eh, salah! Muslimah tulenku? Ha…ha…ha…!” tawa khasnya menggema.

“ Kak… maaf…” ujarku tiba-tiba.

“ Lho! Sejak kapan kamu salah, dik Yuan?”

“ Sejak kapan panggil aku ‘dik’?” tanyaku dengan canda.

“ Sejak aku ingin kau jadi kekasihku……..”

“ Kak… aku…” kuputuskan untuk berterus terang namun belum sempat kuutarakan…..

“ Anto, ini to namanya Yuan?” tanya seorang wanita yang kulihat terakhir kali bersama Anto.

“ Oh…Kak Dini. Ya! Yuan, perkenalkan ini kakakku.”

“ Kak … Dini…” sebutku sambil menyalaminya.

“ Yuan, maafin kakak ya, tidak beritahu kamu kalau Anto kecelakaan. Habisnya kamu sulit sekali dihubungi.”

“ Anto… kapan kecelakaannya, Kak?”

“ Malam itu … saat aku ungkapin isi hatiku,” jawab Anto tanpa permisi.

“ Oh… maafkan Yuan ya kak, andai Yuan gak lari.”

“ Sudahlah semua telah terjadi.” hiburnya.

“ Kak Dini maafin Yuan ya, udah berprasangka negatif tentang kakak… dan kak Anto.”

“ Hu… cemburu deh, pasti! Kakakku sih terlalu sayang ama Anto…” sela Anto.

“Ya, maafin kakak juga, Yuan. Kakak merasa sudah menjadi orangtua Anto karena Ayah dan Ibu meningggalkan kami. Ah, sudahlah, kakak tinggal dulu ya, nemuin papamu. Bicaralah berdua. Selesaikan urusan kalian.”

“ Thanks, Kak,” seruku

Sesaat kami hanya saling pandang. Rindu yang memuncak di dada serasa perlu diselesaikan. Hingga akhirnya hujan turun tiba-tiba………………….

“ Yuan, ingatkah kamu saat pertama…………”

“ Ingat!!! Akan selalu Yuan ingat!!!!”

“ Yuan maukah kamu…………”

“ Mau!” potongku.

“ Mau? Yang bener kamu? Mau jadi pembantuku?” candanya dengan nada serius

“ Ya! Aku mau bantu kakak, jadi kaki kakak, jadi pelindung kakak, jadi pengasuh kakak, jadi…………………”

“ Ssst!” potongnya, “ Hanya satu yang ingin aku kau bantu. Jagalah cinta ini, cinta kita, selamanya. Berjanjilah…………………”

Aku hanya sanggup tuk tersenyum sambil terisak, haru campur bahagia. Syukur sungguh aku pada-Nya.

“ Yuan!!! Basah kuyup nich!!!” kak Anto menyadarkanku dari lamunan.

“ He…he…he…” tawaku sambil berlari mendorong kursi Kak Anto, kekasihku. Kali ini aku berlari bukan karenanya, tapi karena hujan!!!!!!!!

Cintaku takkan pernah aku lepas lagi. Karena cinta ini sudah pasti. Karena cintaku telah teruji.

* * * *

September 2002, dedicated to my best friend

2 Comments (+add yours?)

  1. ikaaa
    Mar 12, 2010 @ 04:53:25

    klise tp tetep aja mengharukan,. >.<

    btw, q agak g setuju ma salah satu settingnya mbak, tentang bintang jatuh itu,jadi ngingetin q ma tulisanq, kyke mbak tau lebih banyak, tp gpp de skalian q promosi blogq jg :p

    http://blog.its.ac.id/ikausfarina/2009/04/06/bintang-jatuh-ramalan-bintang-setan-dan-qs-ash-shaaffaat-37-6-10/

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: