kematian…(by anonym)

Bukan mau menakut-nakuti, tapi mengingatkan…..

Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga hal yaitu:

  • Keluarga
  • Hartanya
  • Amalnya

Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal Bersamanya yaitu;

  • Keluarga dan Hartanya Akan Kembali
  • Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

Maka ketika Roh Meninggalkan Jasad…Terdengarlah Suara Dari Langit Memekik,

“Wahai Fulan Anak Si Fulan..

  • Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau Dunia Yang Meninggalkanmu

  • Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan, Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu

  • Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu

  • Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menguburmu.”

Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan….Terdengar Dari Langit Suara Memekik, “Wahai Fulan Anak Si Fulan…

  • Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini Te rkulai Lemah

  • Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara

  • Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa

  • Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia, Mengapa Kini Raib Tak Bersuara”

Ketika Mayat Siap Dikafan…Suara Dari Langit Terdengar Memekik,

“Wahai Fulan Anak Si Fulan

Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha

Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah

Wahai Fulan Anak Si Fulan…

Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan Nun Jauh Tanpa Bekal

Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali Selamanya

Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan.”

Ketika Mayat Diusung…. Terdengar Dari Langit Suara Memekik,

“Wahai Fulan Anak Si Fulan..

Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan

Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat

Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat.”

Ketika Mayat Siap Dishalatkan….Terdengar Dari Langit Suara Memekik,

“Wahai Fulan Anak Si Fulan..

Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat

Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik

Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk.”

Ketika MayatDibaringkan Di Liang Lahat….terdengar Suara Memekik Dari Langit,

Wahai Fulan Anak Si Fulan…

Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini

“Wahai Fulan Anak Si Fulan…

Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis

Dahulu Kau Bergembira,Kini Dalam Perutku Kau Berduka

Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa.”

Ketika Semua Manusia Meninggalkannya Sendirian….Allah Berkata Kepadanya,

“Wahai Hamba-Ku…..

Kini Kau Tinggal Seorang Diri…Tiada Teman Dan Tiada Kerabat….Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri…Padahal, Karena Mereka Kau Pernah LanggarPerintahku

Hari Ini,…. Akan Kutunjukan Kepadamu Kasih Sayang-Ku Yang Akan Takjub Seisi Alam Aku Akan Menyayangimu Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya”.

Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman,

“Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah Kepada Tuhanmu Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-hamba-Ku Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku”

Semoga Kematian akan menjadi pelajaran yang berharga bagi kita dalam menjalani hidup ini.

Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut) dan dalam sebuah hadithnya yang lain, belau bersabda “wakafa bi almauti wa’idha”, artinya, cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagimu!

Advertisements

forensik oh forensik….

Dua minggu sudah terlewati. Dua minggu yang penuh kecemasan kalau-kalau istirahat malam terganggu. Dua minggu yang penuh kekhawatiran pulang membawa aroma tak sedap sedangkan dalam ruangan rasa mual dan muntah tak bisa dihindarkan. Dan… dengan begitu tak ada niatan sedikitpun untuk jadi Sp.F selain” Sudah pernah Forensik”. Cukup. Rasanya tidak nyaman berada dalam lingkungan ber-afek datar, berurusan melulu dengan hukum, dan tentunya kematian tak wajar.

Hikmah yang kudapat dalam perjalanan stase ini adalah untuk menghargai kehidupan, hidup dengan sebaik-baiknya, agar ridho Allah selalu dan matipun khusnul khatimah. Amiin.

Pertama kali aku menginjakkan kakiku di instalasi forensik, selain dada berdebar-debar karena takut dan stress yang tiada kunjung membaik sampai minggu kedua tiba, aku juga merasakan satu sensasi akan takut mati. Takut mati dalam keadaan tak wajar. Takut jika diri, keluarga, sahabat, orang-orang tersayang yang seperti itu. Naudzubillahimindzalik …..

Memang, kematian adalah suatu misteri. Tapi amal hidup seseorang di dunia pastilah menggambarkan bagaimana cara dia mati. Jika ingin dihargai saat mati, maka hargailah kehidupan dengan memberikan manfaat sebesarnya untuk hidup dan kehidupan di jalan yang Allah ridhoi.

Belum terlambat untuk bertaubat. Masih ada kesempatan untuk menjadi lebih baik, yang terbaik bagi diri sendiri. InsyaAllah…

Sharing…..

Kami bersembilan, terdiri dari 3 tim dari 3 rumah sakit yang berbeda. Menjadi satu kelompok solid dan satu visi-misi. Senang sekali bertemu mereka semua. Hidupku jadi lebih berwarna dalam suasana kelabu di ruang otopsi. Untuk kebersamaan, aku merasa tak ingin berpisah dengan mereka, tapi untuk stase aku ingin segera diakhiri. Dan tepat pukul 00.00 WIB tanggal 28 Maret 2010, stase kami berakhir. Syukur Alhamdulillah…. Mendapat sembilan kasus untuk sembilan personil. Tidak kurang dan tak lebih. Cukup. Walau sebenarnya jatah minimal hanya empat saja. Semoga menjadi berkah. Amiin.

Aku tak tega menuliskan kasus yang ada, entah kenapa untuk mengingat saja hatiku miris.

Sekian dulu ya…..

Cita, Asa, Impian…ku

“susan susan susan kalo gede pengen jadi apa? Aku kepengin pinter biar jadi dokter….”

Masih ingat kawan dengan lagu itu? Lagu masa kecilku… Saat lagu anak-anak masih membanjiri belantika musik Indonesia.

Saat lagu itu populer aku juga tidak pernah berpikir akan menjadi dokter, bahkan terbesit keinginanpun tidak. Orangtuaku dan keluarga besar mayoritas guru atau dosen. Akupun ingin seperti mereka. Ingin ilmuku bermanfaat dengan mengajarkan yang kutahu. Ya, cita-citaku ingin menjadi dosen. Dan aku sangat tertarik dengan biologi. Sebenarnya tresno jalaran saka kulina, bagaimana tidak, kedua orangtuaku guru biologi, di rumah banyak sekali buku biologi. Dan aku sangat suka membacanya.

Seiring waktu berjalan aku semakin tidak tahu mau bahkan ingin jadi apa, sempat berpikir ingin jadi insinyur pembangunan. Motivasi Ayu kecil saat itu adalah ingin membangun desa tempat Eyang tinggal. The very remote place that I hate to walk to. Sebuah desa yang belum tersentuh listrik dengan jalan seolah lempung yang membuat kaki tak bisa melangkah lebih jauh. Dan lebih dari 2 km keadaan itu. Belum jika hujan tiba dan banjir melanda. Ayu kecil tak mau pergi kesana walau dengan seribu rayuan untuk bisa bermain dengan kupu-kupu dan memetik bunga sepanjang jalan.

Sempat pula aku ingin menjadi arsitek atau designer pakaian. Motivasiku saat itu aku suka sekali merancang pembangunan rumah dan pakaian. Impian sederhana untuk memiliki rumah hasil rancangan sendiri dan baju sebanyak mungkin sesuai inginku. Ternyata tak mudah. Impian itu lekang oleh waktu.

Impian lebih sederhana adalah aku ingin ke luar negeri. Kuliah atau hanya melakukan wisata. Kukira impian ini tetap ada hingga aku memenuhinya. Dan negara tujuanku, inginku, ada tiga utama: Australia, Jepang, dan tentunya Saudi Arabia. Kenapa Australia? Simple, hanya karena pamanku pernah study di sana dan berhasil. Aku ingin seperti dia. Kenapa Jepang? Karena aku mengagumi etos kerja dan semangat belajar yang tinggi. Aku ingin banyak belajar pada mereka. Kenapa Saudi? Jelaslah bahwa umat Islam hendaknya pergi ke sana untuk menunaikan rukun Islam ke-5. Untuk impian ini aku pernah bercita-cita menjadi duta besar/diplomat/ambassador sehingga aku sepenuh hati belaja bahasa Inggris dan mengikuti beberapa perlombaan. I like English much, dulu… sebelum aku bertemu dengan pengajar yang membuatku kehilangan rasa cintaku pada bahasa itu, kemampuanku semakin tak terasah. Terasa percuma semua kemenangan dalam perlombaan masa lalu. Dan aku menyerah. Sempat juga aku ikut kursus bahasa Jepang dan bahasa Arab. Hangat-hangat tahi ayam, aku belum bisa menyerahkan hatiku seperti pada bahasa Inggris untuk mempelajarinya.

Saat aku duduk di bangku SMA impian apapun tidak membekas sama sekali. Aku hanya ingin berorganisasi, menulis, dan tenggelam dalam aktivitas yang sangat menyenangkan menurutku. Aku kehilangan minat sama sekali untuk belajar. Aku kehilangan cita-cita. Semua bagai menguap ke angkasa. Dengan nilai UAN yang pas-pasan aku semakin pesimis untuk bermimpi. Jurusan-jurusan yang kupilih saat SPMB hanya asal tulis dan mengikuti orangtua saja asalkan aku tetap kuliah di Jogja, kembali ke kota kelahiranku yang sangat kucinta. Termasuk jadi dokter.

Aku tidak pernah bermimpi untuk jadi dokter tapi aku pernah berandai-andai menjadi dokter yang menolong banyak orang. Dokter yang baik. Tapi setiap kali aku mengandaikan diriku aku serta merta menepisnya karena jadi dokter itu mahal. Bahkan saat itu aku melupakan mottoku sendiri, where there’s a will, there’s a way.

Aku berani mendaftar di salah satu PTS Jogja saat ada expo, dan semua terjadi begitu saja. Di tempat yang belum pernah kutahu sebelumnya, seolah Allah memang menuntunku untuk meniti jalanku di universitas Islam ini. Aku tergiur karena bisa gratis alias tanpa dana sama sekali kecuali SPP. Aku berharap bisa mendapatkan reward itu. Semua berkas diurus orangtuaku. Dan semua benar-benar seolah mukjizat, tanpa tes aku bisa masuk ke sana dengan biaya paling minimal. Nikmat Allah manakah yang kamu dustakan. Betapa aku selalu menangis, antara haru sedih bingung bahagia campur jadi satu. Tapi aku harus percaya kuasa Allah. Rejeki ada di tangan-Nya.

Dan di sinilah aku sekarang, Alhamdulillah selalu dalam kecukupan dan sedang meniti jalan menjadi dokter muslim yang baik dan bisa diandalkan. Amiin. Satu hal yang selalu kucamkan dalam hati sejak itu adalah jangan menyerah sebelum berusaha. Allah akan menunjukkan jalan pada kita jika hati ikhlas dan pasti yang terbaik bagi kita sekalipun kita tidak pernah sama sekali membayangkan. QS Ar Rahman inspires me much. Thank U Allah…. Aku bahagia di jalanku sekarang. Dan aku masih bisa meniti impian-impianku yang lain… aku tetap bisa jadi dosen, bisa ‘menulis’, dan aku bahkan sangat mungkin untuk bisa study dan berhelat ke luar negeri. Amiin Ya Rabb…

Akankah….?

Andai kutahu kemana langkahku akan terhenti maka tak kan ada aku diantara puing-puing kegagalan ini. Andai saja kutahu kegagalan akan terjadi maka takkan kucoba melangkah di jalan berliku ini. Andai saja kutahu jalan ini tak lurus dan lapang untukku takkan ada aku beristirahat dan bersenang-senang semu di tepiannya, takkan pula aku ragu untuk berbalik arah dan mencari kesesatan yang kubuat sendiri.

Namun…

Aku tak tahu dan memang aku tak bisa tahu sebelum mencoba melangkah. Melangkah di likuan tanpa arah yang jelas dan keraguan yang sangat. Menjawab tanya kenapa langkahku menapak seolah mantap tak pernah bisa aku terangkan dalam kata yang mudah dimengerti. Tandanya aku bukan diriku.

Kesadaran membuatku tertawa pada diriku. Menertawakan kecerobohanku, ketergesaan dan naifnya aku. Hingga terbayar impas semua di hadapku dengan hitungan.

Berkali aku terseok, terjatuh pada lubang yang sama dan intinya sama, lubang itu kubuat sendiri dan tanpa sadar aku terperosok jatuh. Sendiri. Walau kesannya masing-masing beda. Belajar dari kegagalan. Pesan klise yang selalu kucoba terapkan. Nyatanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Dan karena itu aku bimbang, semakin bimbang ragu akan semua rasa dan asa yang kembali tercipta. Meski aku bisa tersenyum lega bahwa aku tidak sepenuhnya kehilangan, hatiku selalu menimbang “Akankah untuk selamanya?”

keselamatan manusia tergantung lisannya..

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan) karena sebagian dari purba sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (QS At Taubah ayat 12).

Manusia adalah makhluk social, makhluk yang saling membutuhkan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Manusia bisa hidup bekerjasama, saling tolong-menolong dalam hal kebaikan, dan itu semua adalah tidak luput dengan adanya komunikasi atau pembicaraan. Pembicaraan adalah cara manusia berinteraksi dengan manusia yang lain dengan menggunakan alat bicara.

Lidah adalah anugerah Allah SWT, yang juga merupakan kenikmatan dari sang Khalik yang agung dan termasuk pula ciptaan-Nya yang halus dan penuh dengan keajaiban. Memang lidah bentuknya kecil, akan tetapi besar manfatnya. Besar ketaatannya kepada Allah dan besar pula dosanya kepada Allah, sebab kufur dan iman merupakan puncak dari dua hal yang bertolak belakang, kufur adalah puncak dari kedurhakaan kepada Allah, dan iman adalah puncak dari ketaatan.

Sesungguhnya pengetahuan yang dijelaskan oleh lidah, kadang-kadang benar dan juga kadang-kadang pengetahuan tersebut keliru. Segala sesuatu, terutama informasi, diperoleh dari lidah, dan inilah kelebihan lidah dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain. Lidah atau lisan memang mempunyai keajaiban dibandingkan dengan anggota tubuh yang lainnya, mata hanya dapat melihat warna atau bentuk, telinga hanya bisa mendengar suara, tangan hanya menjangkau, dan sebagainya. Lisan mempunyai lintaran yang luas dalam berbuat kebaikan. Namun di sisi lain, lisan mempunyai ekor yang dapat ditarik dan diombang-ambingkan dengan berbuat maksiat. Barangsiapa yang melepaskan kemanisan lidah dan membiarkan terlepas kendalinya, maka setan laknatullah akan bebas menggiringnya ke tepi jurang yang dapat menjatuhkannya, dan jika perlu setan laknatullah memaksa seseorang tersebut kepada sesuatu yang membinasakan.

Manusia akan binasa dan masuk jurang neraka karena hasil dari lisannya, manusia tak akan selamat dari kebinasaan jika ia membiarkan lidahnya berkata seenaknya. Manusia hanya bisa selamat jika mengikat lisannya dengan kendali syariat dan tidak mengatakan, kecuali tentang sesuatu yang bermanfaat baginya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Manusia tidak akan selamat jika tidak mencegah lisannya dari setiap bahaya yang ditakuti, baik di saat sekarang maupun di saat yang akan datang. Selain itu, lisan memang merupakan anggota tubuh manusia yang paling durhaka, jika dibandingkan dengan organ tubuh lainnya. Lisan sangat mudah melakukan pujian atau mencela; memuji dan mencela itu sangat ringan dilakukan karena tidak memerlukan ongkos dan tidak begitu berat untuk menggerakkannya. Namun, kebanyakan manusia menganggap bahaya lisan itu remeh, sepele, sehingga jarang yang mengendalikan lidah dalam berkata, jarang yang mengikat kendali dengan syariat. Lisan dibiarkan lepas berkata apa saja yang disukainya, padahal sesungguhnya lisan dimanfaatkan setan laknatullah untuk menyesatkan manusia.

Lisan memang mudah sekali berkata, jika kita tidak bisa mengendalikannya, maka dengan mudah diri kita akan terjerumus kepada sesuatu yang memalukan. Karena itu, Allah SWT tidak akan melindungi atau menutup aib kalian apabila lidahmu melepas kata-kata keji. Begitupula jika engkau mampu menahan marah, maka Allah akan melindungimu dari siksa-Nya. Sebab kemarahan tersebut timbul karena hawa nafsu dan selalu berdampak buruk. Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan seseorang yang akan berbicara dengan lawan bicaranya, yakni:
1.Menjaga lisan
Menjaga dan memperhatikan lisannya dengan menjauhi segala perkataan yang bathil, dusta, ghibah, namimah, perkataan kotor, dan dari segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. Sungguh, ada diantara manusia yang direndahkan oleh Allah SWT di dunia maupun di akhirat kelak hanya karena satu kalimat yang diucapkannya, demikian sebaliknya ada yang diangkat setinggi-tingginya karena juga satu kalimat yang diucapkannya. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berkata dengan satu kata yang dia tidak bertabayyun dengannya, maka dengannya dia tergelincir ke dalam api neraka yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat” (HR Bukhari Muslim). Lebih dari itu Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada diantara kedua rahangnya dan kedua kakinya maka aku akan jamin surga untuknya” (HR bukhari, Ahmad, Turmudzi)
2.Berkata baik ataukah diam saja
Jika seseorang akan berbicara maka hendaknya ia memikirkan terlebih dahulu apa yang akan diinginkannya untuk berbicara; jika kebaikan maka ucapkanlah, jika ternyata adalah keburukan, maka berhentilah karena itu lebih baik baginya, seperti sabda Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah menyakiti tetanganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkanlah yang baik atau hendaknya diam” (HR Bukhari-Muslim-Ahmad)
3.Kalimat yang baik adalah sedekah
Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Setiap persendian dari manusia wajib dikeluarkan sedekah atasnya pada setiap hari yang terbit padanya matahari, mendamaikan diantara 2 orang adalah sedekah, menolong orang di atas tanggungannya kemudian membawanya di atas atau mengangkat barang dagangannya di atas kendaraannya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, setiap yang melangkah menuju sholat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah” (HR Bukhari-Muslim). Boleh jadi setiap satu kalimat yang baik bisa menjauhkan pengucapannya dari api neraka. ‘Adiy bin Hatim ra pernah menyebut neraka, kemudian beliau memalingkan wajahnya, lalu beristiadzah (meminta perlindungan dari Allah SWT) darinya, kemudian beliau bersabda yang artinya, “Takutlah kalian terhadap api neraka sekalipun separuh biji kurma, barangsiapa tidak menemukan maka dengan satu kalimat yang baik” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasa’i)
4.Banyak bicara, makruh hukumnya
Al-Mughirah bin Syu’bah meriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau bersabda yang artinya “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian, durhaka kepada para ibu, mengubur hidup-hidup anak wanita, menolak (tidak mau memberi) dan meminta. Dia membenci untuk kalian qila waqaala, banyak hartanya dan menyia-nyiakan hartanya.” (HR Bukhari-Muslim, Ahmad, Ad-Darimi). Qila waqaala adalah menenggelamkan dari kedalam berita-berita serta cerita tentang keadaan dan perbuatan manusia yang tidak perlu untuk diceritakan.
5.Waspada ghibah dan namimah
Rasulullah SAW pernah bersabda apa itu ghibah? Dalam sabdanya yang berarti “Tahukah kalian apa itu ghibah? Mereka menjawab, Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda “penyebutanmu terhadap saudaramu dengan apa yang dia benci”. Dikatakan kepada beliau, “bagaimana pandangan anda jika apa yang kukatakan ada pada saudaraku? Beliau bersabda, “jika padanya terdapat apa yang engkau katakana, maka engkau telah menghibahnya dan jika tidak ada padanya maka engkau telah mendustakannya” (HR Muslim, Ahmad, At Tirmidzi, Abu Daud, dan Ad Darimi).
Dan namimah sendiri adalah menukil ucapan manusia, sebagian mereka kepada sebagian lain untuk membuat kerusakan (permusuhan) diantara mereka. Ghibah dan namimah adalah bagian dari senjata setan untuk mengobarkan perpecahan, permusuhan, dan kebencian diantara manusia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya “Sesungguhnya setan telah putus asa (untuk melakukan usaha) agar orang-orang shalat menyembahnya di jazirah Arab, akan tetapi mereka tidak putus asa dalam menebarkan benih perselisihan diantara mereka” (HR Muslim, Ahmad, dan At Tirmidzi) dan oleh karena itu jugalah Allah SWT berfirman seperti pada awal tulisan.
Akhirnya, semoga kita semua termasuk orang-orang yang bisa mengekang lisan kita masing-masing, menjaga lisan kita dari perbuatan keji, kata-kata kotor dan buruk, agar kita semua bisa tergolong orang-orang yang muttaqien yang selalu menjaga lisannya. Amiin yaa Rabbal ‘alamiin.

(disadur dari Risalah Jumat, edisi 24/XVIII)

Birrul walidain

Hidup memiliki 2 perkara:

  • Tujuan hidup,  mau kemana?
  • Target hidup, mau apa?

Dalam QS Al Baqarah ayat 200-201 terdapat doa kebahagiaan dunia-akhirat. Seharusnya kita memiliki target untuk sukses sebelum dan sesudah mati. Caranya bagaimana?

  • Pintar memilih jalan hidup. Di hadapan kita ada 2 jalan yang membentang, yang menyesatkan dan yang menyelamatkan. Kita wajib memilih dengan segala konsekuensi dan tanggung jawab.
  • Memiliki pedoman hidup/rambu-rambu , yaitu Al Islam
  • Memiliki pemandu hidup (uswatun hasanah) dan kawan yang setujuan, setarget, sepakat

Salah satu pemandu hidup yang kita miliki adalah orangtua. Hubungan dengan mereka disebut birrul walidain. Kebaikan hubungan dalam kerangka islam demi tercapainya barokah dan bertambahnya kebaikan. Bertambahnya kebaikan ada 6 indikasi:

  • Bertakwa:  diberi jalan keluar atau solusi jika bertemu jalan buntu. Dalam QS Al Baqarah 214 mukjizat merupakan solusi untuk para Rasul
  • Tawakkal:  kecukupan yang dibutuhkan
  • Kemudahan dalam urusan
  • Ditutupi aibnya sehingga ia mulia
  • Dilipatgandakan pahalanya
  • Kebaikan:  rejeki tak terduga

Hubungan dalam Islam ada 2 golongan besar

Habluminallah

  • Dzikir, sadar siapa kita. Kalau stress hendaknya istighfar
  • Kalau didengarkan ayat Al Qur’an semakin dekat dengan-Nya
  • Memperbanyak doa (dari Al-Qur’an dan hadits)
  • Sholat ditingkatkan:  khusyu’, tartil, tuma’ninah
  • Puasa: meningkatkan kecerdasan spiritual untuk puasa sunnah – ahli prihatin

Habluminannas

  • Shalat berjamaah
  • Mendapat pelayanan dari kita saat lapang maupun sempit, misalkan zakat maal, membantu tetangga
  • Menahan diri dari nafsu dan penyakit hati (terberat: IRI)
  • Selalu memaafkan kesalahan orang lain, tanpa dendam
  • Introspeksi/muhasabah, mawas diri: berubah ke arah yang lebih baik.

Diantara manusia yang harus diperbaiki adalah hubungan dengan orang tua karena haknya paling tinggi terhadap kita. Apapun jika tidak bertentangan dengan ajaran agama hendaknya dituruti. Karena ridho Allah terletak pada ridho orangtua.

Amalan yang disukai Allah:

  • Sholat tepat waktu
  • Birrul walidain
  • Jihad fisabilillah

Durhaka pada orangtua adzabnya langsung, agar tidak menjadi anak durhaka hendaknya:

  • Mengikuti saran atau keinginan orangtua dalam segala hal asal tidak bertentangan dengan Islam
  • Belajar berkomunikasi dengan ortu yang menyenangkan hati mereka
  • Hormat dan memuliakan ortu atas segala jasanya
  • Membantu ortu fisik dan materi
  • Mendoakan ortu
  • Menyelenggarakan jenazah jika sudah meninggal
  • Melaksanakan wasiat
  • Silaturahmi dengan keluarga dan kerabat mereka

Doa dulu yuk…

Allahummaghfirlii waliwalidayya warham humma kamaa robbayanii shoghiraa….

Rabbana aatina fiddunya khasanah wafil aakhiroti khasanah waqiina ‘adza bannar…

Muslimah yang Qowi

(Qowi=kuat)

Manusia diciptakan terdiri atas:

  • Jasad=bumi
  • Ruh=atas/Allah
  • Akal=bekal dari Allah untuk memilih

Karena pada dasarnya dalam hidup adalah pilihan. Pilihan untuk menjadi baik atau jahat, lurus atau belok, dan berbagai macam pilihan beserta segala konsekuensi yang ada. Kalau kita ingin kuat harus membenahi dan menyeimbangkan ketiga unsure terciptanya manusia tersebut di atas.

Jasad

  • Hendaknya menghindari banyak makan karena bisa memicu rasa malas. Makan secukupnya, sepertiga air, sepertiga makanan, dan sepertiga lagi udara. Karena makan merupakan salah satu unsur nafsu disamping gejolak hati dan syahwat. Makan hendaknya secukupnya, halal dan thoyibah, sesuai dengan kebutuhan, berhenti sebelum kenyang.
  • Riyadhoh  (olahraga…..yuk…)
  • Mandi dan bersih badan
  • Rapikan rambut, sehat segar dan rapi
  • Jangan berlebih-lebihan namun juga jangan pelit-pelit

Akal dan qolbu

  • Ilmu, baik yang wajib maupun kifayah
    • Al Quran (tajwid hingga tafsir)
    • Hadits dan sirah nabi
    • Kisah para sahabat, tabi’iyah
    • Fiqih (tatacara ibadah)
    • Ilmu sesuai dengan cita-cita (ilmu duniawi), misalkan Thibbun Nabawi
  • Amalkan ilmu yang tidak keluar dari fithroh muslimah. ‘Aisyah sangat mahir dalam ilmu agama, thib, syi’ir dan nujum.
  • Jauh dari kurafat (bertentangan dengan aqidah Islam) misalnya bid’ah, sihir, dll yang bisa membatalkan iman dan Islam. Mengakui ramalan manusia sama dengan keluar aqidah (keyakinan agama)

Jiwa (ruh)

–          Banyak ibadah, dzikir, tilawah, doa, tadzkiyatun nafs (menjaga nafs supaya tetap bersih), muhasabah (merujuk ke belakang), muroqobah (terhadap yang akan dilakukan). Yang perlu direnungkan:

  • Manfaatnya?
  • Melukai orang lain tidak?
  • Pada tempatnyakah?
  • Selalu berharap ridho-Nya

Kita juga harus selalu takut akan hokum Allah, sebab jika tidak takut nantang Allah namanya….Audzubillahimindzalik…

–          Memaksakan diri ikut majelis taklim (pengajian) untuk meningkatkan iman

–          Tausiyah

–          Dzikr

–          Memperbarui iman dengan ucapan Laa illa ha ilallah…

–          Mengamalkan doa agar terpantau

–          Punya prinsip, tahu persis mau kemana dan ikhtiyar. Dalam ikhtiyar, sebisanya memilih teman yang sholehah untuk memberi efek baik.

Tujuan qowwi:

–          Selamat agamanya

–          Aqidah bersih

–          Mardhatillah (mendapat ridho Allah)

Kurota a’yun (kenikmatan dunia):

–          Al azwaju shalihah (Istri sholihah)

–          Qalbun syakiran

–          Al auladun abrar (anak sholeh/hah)

–          Al abi’atu sholihah (lingkungan yang baik)

–          Al malul halal (harta yang halal)

–          Tafakuh fid dien (semangat untuk memahami agama)

–          Umur yang barokah

Semoga kita bisa menjadi muslimah qowwi yang menjadi salah satu unsur kenikmatan dunia. Amiin…

Previous Older Entries