Awal Sekaligus Akhir…

Tak terasa tahun pelajaran baru akan dimulai pagi ini. Itu berarti mulai hari ini aku duduk di bangku kelas dua SMA yang notabene adalah masa-masa paling indah dalam hidup. Tapi aku sama sekali tak percaya karena aku belum pernah mengalaminya. Dan jika memang masa indah itu akan berawal hari ini aku akan menyambutnya dengan suka cita.

Aku, Tania Marga Alfathiya, tak pernah sebelumnya merasa begitu gamang dalam melangkah. Pagi ini, aku melangkahkan kaki dengan kegamangan yang tak terhingga. Di satu sisi aku bersuka cita dengan akan hadirnya masa indah dalam hidupku, namun di sisi lain aku tak meyakini indahnya hidup akan terjadi padaku. Setelah terenggutnya orang-orang yang kucintai dariku memang aku sering meragukan akan arti kebahagiaan.

* * * * *

Brakkkkkk….!!!!

“Ma….maaf…saya tidak sengaja,” seruku seraya ikut membereskan buku-buku si tertabrak yang berserakan di lantai

Lamunanku segera buyar setelah insiden kecil pagi ini di koridor sekolah yang masih sepi. Wow, ternyata aku tiba terlalu pagi.

“Hhhh!! Makanya lain kali liat-liat kalo jalan!” bentaknya padaku yang belum tersadar penuh dan cepat-cepat pergi

Muke gile! Udah Nia, jangan dianggap, tuh anak emang rada sableng!!” hibur Riris, sobat terbaikku yang tiba-tiba sudah ada di sampingku

“Siapa sih dia, belagu amat! Tapi….cakep juga, ya? he…he…he…!”

“Ya Tuhan…….udah dilabrak masih muji? Heran…..!Let`s back to our class nyok!” ajak Riris sembari menarikku kuat.

* * * * *

Hiruk pikuk dalam kelas jam pertama selalu membuatku pusing. Ingin rasanya berlari saja dari kerumunan manusia-manusia yang tampaknya saling bercakap untuk melepas rindu. Aku merasa sepi di tengah-tengah keramaian ini, aku merasa sendiri dan ingin menyepi melanjutkan lamunanku yang terputus tadi pagi. Syukurlah, di sela-sela keinginanku untuk kabur bel berbunyi dan Pak Muji, guru Biologi yang sudah cukup tua, segera memasuki ruangan dan berseru.

“Anak-anak, kita kedatangan seorang murid baru pindahan dari SMA Perjuangan 5, namanya….” Pak Mu lekas memandang si murid baru sembari mengernyitkan dahi tanda beliau lupa

“Krisna Muhammad,” tukas si murid baru

“O…iya…ya. Maaf . Sekarang kamu langsung saja cari tempat duduk.”

“Di mana, Pak?” tanya Krisna bingung

“Di pojok sana ada satu bangku kosong, dekat Novi,” jelas Pak Mu

“Tapi Pak…..” protes Krisna

“Ada apa? Kamu tak terbiasa duduk di belakang?”

“Bukan begitu Pak….. Maaf Pak…, saya….alergi sama cewek…” jawab Krisna dengan polosnya

Spontan warga kelas gaduh menertawakannya. Bagaimana tidak, Novi adalah primadona di sekolah ini, hampir semua lelaki berebut cintanya. Ee….ini malah ada satu spesies yang diberi kesempatan menolaknya..

Sementara itu….

“Ris, itu kan cowok yang kutabrak tadi? Jadi..namanya Krisna tho…? Wah…asyik nih bisa buat refreshing..” bisikku pada Riris

Seketika aku terlupa dengan keinginan untuk melanjutkan lamunanku dan merasa tertarik dengan makhluk yang tertunduk malu di depan kelas.

Muke gile lu, Ni! Cowok aneh gitu lu demenin! Nggak normal lu!”

dok….dok…dok…

“Tenang anak-anak!” perintah Pak Mu,” Terpaksa Krisna, tidak ada bangku kosong lagi,”

“Tapi, Pak..” protes Krisna sekali lagi

“Tidak ada tapi-tapian! Silakan duduk! Pelajaran akan segera Bapak mulai.”

Dengan berat hati Krisna berjalan ke bangkunya dan dengan berat hati pula ia menyambut senyum genit Novi. Rupanya hal itu membuatnya tambah alergi. Kasihan sekali kamu, Kris…..

Dan tak sedetikpun kulepaskan pandangku darinya. Entah apa yang membuatku melakukannya. Aku merasa damai. Akankah cowok itu menjadi pengisi kosongnya hatiku, yang takkan pernah pergi meninggalkanku? Memikirkannya membuatku tersenyum getir.

* * * * *

Gawat! Aku terlambat! Dengan langkah tergesa aku melangkah di koridor yang telah sepi tanpa ada waktu untuk bercakap dengan diriku sendiri, seperti biasanya. Ah, akhirnya pintu kelas terlihat. Senyumku mengembang segera setelah tahu pelajaran belum dimulai. Di tengah senyum kemenanganku…..

Brakkkkkk!!!

“Eh…eh…sori Kris, aku nggak lihat…”

“Kamu lagi! Kamu kira jalan ini milikmu doang, ha?!Minggir sana! Udah diperingatkan masih aja…,” sungut Krisna

“Hei..hei, tunggu! Tuan Krisna Muhammad alias Tuan Alergi Cewek, ya…jangan galak gitu dong, aku kan udah say sorry..!!” bentakku sembari menyingkir dari hadapnya. Masuk ke kelas.

Sesampainya di kelas hatiku masih dongkol dan tak sudi lagi aku menatapnya.

“Non, sekarang tuh nggak cuma satu orang aja yang ngeliat kamu, ada satu lagi tuh…jadi seperti kutub bumi…pojok utara-selatan…hi..hi..hi..” bisik Riris padaku

Bodo amat!!” komentarku sebal

“Lho, kamu kenapa sih, Ni? Galak bener…”

“Bla…bla…bla..,” ceritaku menggebu-gebu tentang peristiwa tabrakan ulang tadi pagi

“O….” belum selesai Riris mengatupkan mulutnya, bu Ari sang guru seni musik menyuruhnya maju ke depan untuk menyanyikan sebait lagu, maklum suara sobatku yang satu ini oke punya…

“Bagus. Tunjuk salah seorang temanmu untuk menyanyikan bait selanjutnya!” perintah bu Ari setelah Riris selesai menunaikan tugasnya

“Tania, Bu…” jawab Riris yang membuatku melotot tak setuju

“Laki-laki, Ris…” pinta bu Ari yang membuatku lega

“Oh…maaf, Bu. Krisna deh…”

Ha? nekat juga si Riris nunjuk Tuan Alergi Cewek… Namun dengan tenangnya ia maju ke depan dan menyanyikan lagu itu dengan amat sangat…..buruk! Suaranya fals bahkan dia sepertinya tak mengenal lagu itu. Gelak tawa seisi kelas membuat mukanya merah padam dan….

“Kenapa ketawa? Saya hanya menjalankan tugas!” bentaknya marah dan cukup membuat seisi kelas terdiam

“Cukup, duduk Krisna! Tunjuk salah seorang teman perempuanmu untuk menggantikan tugasmu!” pinta bu Ari meredam emosi yang bergejolak di kelas

“Saya tidak punya teman perempuan, Bu…”

Bu Ari menatapnya heran dan seisi kelas pun hanya bias menahan tawa, namun sejurus kemudian…

“Tania Marga Alfathiya,” jawabnya dengan segera melangkahkan kaki kembali ke tempat duduk

Dan aku masih terkaget-kaget demi mendengarnya menyebut namaku dan ketika seisi kelas menyorakiku….hingga bu Ari mengulangi menyebut namaku, aku baru tersadar….Tuhan…..apa maksudnya ini? Seketika itu juga aku meragukan tepisan harapanku sebelumnya, melupakan amarahku padanya.

* * * * *

Bel tanda jam istirahat sudah berbunyi beberapa menit lalu tapi aku dan Riris masih bertahan di kelas, merapikan buku dan mengobrol sebelum meluncur ke kantin.

“Ris, dia….kok bisa nyebut namaku ya?” tanyaku memulai pembicaraan

“Dia? Siapa maksud lu?” tanya Riris sambil bangkit melangkahkan kaki ke luar kelas

“Krisna, siapa lagi?” seruku

“Payah lu, Ni! Tadi katanya sebel ma dia…kok…?”

Lupain deh…! Entah ya Ris, sejak pertama kali liat dia gitu aku sudah ngrasa suka….apalagi sama matanya yang misterius itu….Apa dia feel the same way too ya?” terawangku kembali melamunkan harapanku

“Ha..ha..ha, muke gile lu! Lu jatuh cintrong ma makhluk itu? Ampuni sobatku, Ya Tuhan…” goda Riris hingga membuatku mendaratkan cubitan di pipi gembulnya.

“Ah, kamu! Masa sobatnya lagi hepi diketawain sih..?! Eh, tadi maksud kamu yang ngeliatin aku selain Ardhi tuh Krisna ya?Duh…senengnya….” cerah wajahku membayangkannya

“Ya….ampun! Masa baru nyadar sih lu? Apa baru ke-enter di otakmu?”

Sori Ris, tadi kan lagi error system…”

“Payah!! Besok lu tabrak lagi aja dia, liat reaksinya!” usul Riris tak masuk akal

“Boleh juga usul kamu, thanks ya…..hi….hi…hi..” ucapku sembari melangkah pergi meninggalkan Riris yang terbengong di tempat

Muke gile lu! Nia….Nia….” Riris mengucapnya dengan tetap terdiam tak mengejarku.

Mungkin dia masih meragukan perasaanku. Setelah sekian episode kelam merangkai cerita hidupku. Atau mungkin sobatku ini merasa ikut senang dengan hadirnya perasaan bahagia, senyum ceria, dan canda tawa setelah episode itu berhasil kulalui. Entah.

* * * * *

Dan keesokan paginya benar-benar kulancarkan aksiku…. Di koridor yang sama dan di tempat yang sama. Brakkkkkk!

“He…he…maaf ya, Kris…tadi aku….sengaja,” ujarku sambil cepat-cepat berlalu

“Hhh….mau apa sih cewek itu…?” geram Krisna, penuh tanda tanya

Ajaib! Sikap Krisna hari itu berubah total! Dia loyal pada semua temen terutama pada Ardhi, cowok yang selama ini naksir aku dan pada teman-teman cewek yang selama ini membuatnya alergi. Sayangnya keloyalan itu tidak padaku… Namun pada beberapa kesempatan dia mengistimewakan aku walau dengan tampang juteknya, seperti….

“Aduh! Teman-teman….jangan gencet aku dong…sakit nie…!!!! Aku kan juga mau makan!!” protesku tanpa ada yang merespon sedikitpun

“Nih, buatmu!” sodor Krisna tiba-tiba padaku

Belum sempat aku ucap terima kasih dia sudah berlalu, larut dalam kerumunan “orang-orang kelaparan”…

Dan akupun bercerita pada Riris tentang keanehan sikapnya itu. Tapi…sobatku satu ini malah bergosip ke antero dunia bahwa KRISNA SUKA NIA..….hingga….

“Heh!!! Ngaca dulu dong, non! Kamu itu apa lebihnya dari aku? Wajah pas-pasan gitu nekat ndeketin Krisna! Krisna tuh milikku tahu??!!” semprot Novi tiba-tiba padaku.

Belum hilang kagetku, si genit Lyra dari kelas sebelah menghampirikuku dan…

“Ehm..ehm..! Nia yang baekkkk lu jangan coba-coba ndeketin Krisna ya, aku tuh udah naksir dia sejak lama dan akupun sudah kenal lama dengannya, so….be aware of that, okay!”

Belum lagi lirikan temen-temen cewek yang notabene Krisna Fans Club (wah disingkat jadi KFC dong (^-^) ). Hhh…salah apa sih aku ini?

* * * * *

Libur mid semester pun tiba. Aku jadi jarang bertemu dengan Krisna. Lagipula, seperti biasa liburan tak pernah membuatku bosan. Aku selalu menikmati kesendirianku. Walau terkadang kesendirian itu harus direcoki oleh tawa dan canda Riris ataupun perhatian dari Ardhi, aku terhibur. Hanya mereka berdua yang selalu setia menemaniku, yang dapat kupercaya. Suatu hari Riris tertawa terkekeh sesampainya di rumahku.

“Ris…kesambet setan apa dikau datang-datang ketawa-ketiwi…”

“Mau pinjam pe-er ya??”

“Ah…nggak kok Ni, kamu tahu nggak si Lyra dan Novi baru saja terlibat percekcokan demi memperebutkan Krisnamu itu….ha..ha..ha…. Lu nggak ikut sekalian, hah? Judulnya jadi mempertahankan Krisna..ha…ha…ha..” tawa Riris tak henti

“Enak aja memangnya Krisna is mine apa? Lagian kamu juga sih yang bikin perkara nyebar-nyebar gossip kalau aku dan Krisna ada apa-apa….jadi heboh mereka!”

Kriiiiingggg……..

“Wah, jangan-jangan si Krisna telpon ya…he…” goda Riris

Ngawur! Bentar ya….” Diam-diam hatiku mengharap apa yang dikatakan Riris benar adanya

“Halo…Nia di sini”

“Hei Ni, Ardhi nih, kamu di rumah ya?”jawab si penelpon

“Ya jelas di rumah lah ! Orang kamu telpon aku yang agkat..!!” tukasku agak kecewa

“He..he..he…eh, aku boleh ke rumahmu nggak?”

“Ngapain? Perasaan saban hari ke sini…”

“He…he…ada masalah penting kali ini…” rajuk Ardhi penuh makna

“Masalah? Di telpon aja nggak bisa?” larangku halus

“Wah, jangan! Harus empat mata! Oke??”

“Halah…paling-paling mau tanya pe-er…” tanyaku menebak

“Sudahlah, boleh ya? Sampai nanti……” tukas Ardhi dan segera menutup telpon

Tuuut…tuuutttt

Ratapku kesal sambil memandangi gagang telpon yang memanggil tutut. Dan hatiku bertambah kesal saat mendengar Riris menanyakan perihal penelepon. Riris pun jadi ikut-ikutan sok kesal demi mendengar Ardhi yang menelepon.

Ting…tong… Bel berbunyi. Aku dan Riris saling menatap. Sudah yakin pasti si Ardhi. Dan dengan berat hati pun kami beranjak dari sofa empuk di ruang tengah menuju sumber suara.

“Hai Ni…lagi ada Riris yah…?” sapa Ardhi setelah pintu terbuka

“Iya nih, cepet ngomong, ada masalah apa? Aku mau pergi nih sama Riris…” bualku

“Pergi kemana, Ni?” tanya Riris girang

“Lho…katanya ke Mall?”

“Iya?! Kapan bilangnya? Asyikkk…” sorak Riris, childish, dan iapun segera berlari ke dalam

“ Nia…masak aku nggak disuruh duduk dulu sih…bentarrrr aja..” protes Ardhi

“Lho, kamu mau ngomong apa mau duduk sih?” tanyaku padanya tanpa diperhatikan dan ia segera melangkah ke dalam, duduk dengan nyamannya di kursi kayu berumur puluhan tahun peninggalan eyangku, salah satu orang yang kucintai. Dan Ardhi pun selalu menduduki kursi itu ketika berkunjung ke rumahku, kursi kesayangan Ayah ketika beliau masih tinggal bersamaku dan Bunda…… Ayah juga orang yang kucintai.

“ Nia, kamu masih ingat kan ucapanku ke kamu sebulan yang lalu?” ujar Ardhi membuyarkan lamunanku

“Yang mana? Seingatku kamu banyak omongnya deh…” kilahku

“Oke…. Nia…aku…sayang kamu…”

“Oh…yang itu…iya ingat…sepertinya kamu pernah bilang ke aku..”

“Oke..oke…, terus kamu gimana?” tanyanya yang segera kusahut dengan bentakan menolak

“Yah…sadis banget sih kamu, Ni… Patah nih hatiku…”

“He… di gips aja yah…” candaku karena kutahu Ardhi juga bercanda menyatakan kembali perasaannya yang sama-sama sudah disepakati tidak boleh ada. Kami adalah sahabat. Walau dia seringkali membuatku kesal dengan perhatian-perhatiannya yang tak masuk akal.

“Oke…oke, andai bisa, pasti lebih cepat sembuhnya…”

“Iya…ya…? Besok buka aja Fakultas Kedokteran Cinta, spesialis mengobati patah hati tersembunyi…” kelakarku

Hening sesaat….

By the way… kamu suka Krisna ya?” tembak Ardhi jitu

“Ha? Siapa bilang?” elakku

“Krisna jawabnya gitu juga… Tapi anehnya dia ngomongin kamu terus, muak aku dengernya! Terus gossip itu bohong dong? Kerjaan Riris kan?” selidik Ardhi yang kusambut dengan anggukan mantap

“Tapi aku perhatikan gossip itu benar. Cuma kalian aja yang sama-sama jaim alias jaga image” seloroh Ardhi sok tahu

“Aku bantuin mau nggak?” tawar Ardhi setelah selorohannya kubantah habis-habisan

“Bantuin apa?” tanyaku kesal karena bantahanku tak didengar

“Ya….ndapetin Krisna. Aku tahu setelah segala pengkhianatan yang kamu terima dari segala pihak, kamu merasa tak berarti, tapi cobalah membuka diri lagi, Ni, cobalah membiarkan dirimu disayangi lagi. Sebab aku tahu kau takkan pernah bisa menerimaku. Jadi, ijinkan aku mencari ganti diriku untuk menjagamu. Oke, pikirkan baik-baik tawaranku! Mana pe-ernya?

“Yah…ujung-ujungnya…kirain lupa… Nih!” dalam hati aku memikirkan ucapan Ardhi yang sok bijak kali ini. Mungkin benar.

Sesaat kemudian setelah Ardhi berlalu……

“Yuk Ni, aku sudah siap…” ajak Riris dengan semangat

“Mau ke mana?” tanyaku sok polos

“Lho…katanya mau ke mall…gimana sih?”

“Bohong kali biar Ardhi cepat pulang….he..he…” ujarku tetap sok polos

“Dosa lu, Ni…ngibulin temen…” dalam hati ia maklum sepenuh hati

“Ya….Riris..maaf deh kalo gitu…”

“Apa sih yang enggak buat Nia…”

Begitulah kami, tiada pernah ada pertengkaran….

“Emangnya si Ardhi tadi ngapain ke sini? Say his love?”

“Diantaranya…..”

“Diantara apa? Ada lain hal?”

“Pinjem pe-er terus….”

“Terus apa? Jangan buat aku penasaran gitu dong, Ni!”

“Dia…nawarin bantuan buat ndeketin Krisna…”jawabku berat, masih memikirkan ucapan Ardhi tadi

“Ha?? Aneh bener! Tapi asyik juga kalau gitu….gue bakal koalisi ma Ardhi… santai aja lu Ni….” Ujar Riris sambil tersenyum jahil. Membuatku semakin memutar otak, memikirkan rencana kedua sobatku ini.

* * * * *

Hari baru setelah liburan akan dimulai hari ini. Tapi aku merasa enggan berangkat ke sekolah. Segala macam pikiran masih berkecamuk di otakku dan segala macam perasaan masih membuatku meragu.

“Bangun, sayang…sudah siang nih…” bisik Bunda di telingaku

“Pagi Bunda…” jawabku malas dan manja pada satu-satunya orang tercinta yang masih setia di sampingku

“Badan kamu panas, Nia… Sakit?” tanya Bunda khawatir

“Mungkin….”

“Sayang, istirahat ya…bunda buatkan surat ijin dulu, minum obat gih…!”

“Hmmm…” jawabku sambil mencoba tidur lagi

Sementara itu di tengah hiruk pikuk kelas yang tak jauh beda dari tahun ajaran baru…

“Waduh, Nia sakit apa? Perasaan kemarin sehat bugar deh, Ris…?” tanya Ardhi ke Riris

“Tak tahu lah….emangnya aku dokternya? Hayo….lu apain kemaren?”

“Aku tolak sih cintanya…”jawab Ardhi asal yang disambut pelototan Riris

Namun sejurus kemudian mereka sudah serius membicarakan rencana penyatuan Krisna dan Nia.

* * * * *

Bel pulang pun berbunyi. Mulai dari koridor hingga jalan menuju gerbang sekolah pun penuh dengan lautan siswa yang ingin segera sampai di rumah. Termasuk Riris, tidak untuk Krisna. Hatinya penuh tanda tanya kemana wanita yang diam-diam juga Ia harapkan untuk mengisi relung hatinya. Wanita yang seringkali bertabrakan dengannya, yang tanpa sengaja karena itu pulalah rasa diantara mereka bersemi.

“Ris, Nia sakit apa?” buru Krisna pada Riris

“Wah maaf ya, Kris, aku bukan dokternya…”

“Iya, tahu…tapi kan kamu sobatnya…mungkin saja kamu tahu…”

“Wah enggak tuh…ada apa nih kok jadi perhatian gitu ma Nia…?” selidik Riris

Nggak…nggak ada apa-apa…Cuma nanya…makasih, Ris…bye…” memerah muka Krisna

“Hei…nggak mau nelpon dia? Mungkin aja demi mendengar suaramu dia bisa cepat sembuh…” teriak Riris semangat

Krisna seolah tak mendengar teriakan itu. Tentu, Ia malu rasa hatinya akan terbongkar. Tapi segera setelah saran dari Riris terlontar Ia mencari tahu nomor telepon wanita pujaannya itu, tentu bukan dari Riris pun Ardhi.

* * * * *

Kriiiiiingggggg

“Siapa juga telpon siang-siang gini? Pasti Riris deh….!”sungutku sambil beranjak malas dari tempat tidur

“Halo…ada apa, Ris….?”

“Nia….ini Krisna…”

“Oh…Kris…na…maaf…tumben banget telpon, kirain Riris…Ada apa, Kris?”tanyaku dengan dada berdebar

“Kamu sakit apa? Tadi kok nggak masuk?”

“Eng….nggak apa-apa kok, hanya tak enak badan… Ah, besok juga sudah masuk”

“Cepet sembuh ya…..Eh, besok pulang sekolah bisa ngomong bentar?”

“Ya…aku usahain deh..”

“Sampai jumpa…” pamit Krisna

Ya….Tuhan…mimpi apa aku? Krisna nelpon terus ngajakin ketemu??!! Duh…senengnya…

* * * * *

“Riris………!!!!” teriakku girang demi melihat Riris melenggang masuk kelas

“Ya ampun…Nia…seneng banget sih ketemu aku, sudah kangen ya??”

“Huwe….thanks ya, Ris, sudah buat Krisna nelpon aku…ngajakin ketemu malah…” ucapku berseri

“Ha? Ya syukur deh kalau sudah ada kemajuan….Berarti kalian sudah bisa gerak sendiri…”

“Jadi…bukan kamu yang nyuruh dia nelpon aku?” tanyaku heran

“No…no…” jawab Riris sambil menggeleng lucu

Akhirnya kami terlibat dalam obrolan seru tentang Krisna, penuh dengan angan dan suka cita hingga teriakan Ardhi membuat kami berhenti.

“Ni, ada kabar buruk buat kamu……Kris…na…ke..ce..la…ka…an kemarin….” ujar Ardhi terbata

“Apa…??” tanyaku dan sekejap kemudian aku sudah tak sadarkan diri

Dalam benakku seketika itu aku melihat Krisna berbaju putih, tersenyum padaku dan pergi…..bersama eyang…..kemudian tanpa sadar air mataku menetes dan aku terbangun oleh bisikan lembut Riris di telingaku. Dan ketika aku membuka mata, aku sudah berada di tempat berbeda. Aku pun menangis sejadinya. Riris dan Ardhi menghiburku, menenangkanku.

“Ris…. Bagaimana keadaan Krisna?” tanyaku setelah aku bisa menguasai emosiku

“Dia…..ada di RS, nanti pulang sekolah kita jenguk dia, oke?”hibur Riris

“Hmmm…” jawabku dengan anggukan

Padahal aku ingin ke RS sekarang, berada di sisinya. Ingin aku mengingatkan janjinya untuk bertemu nanti selepas sekolah. Tentunya dalam suasana yang menyenangkan, tidak di RS seperti yang akan terjadi nanti.

* * * * *

Selama menunggu bel pulang berbunyi aku tak bisa tenang, pikiranku melayang ke mana-mana….. Ya Tuhan… Bagaimana keadaan Krisna……? Tak sadar aku menangis sesenggukan dan membuatku pingsan lagi……

“Ris….aku kenapa lagi?” tanyaku lemah setelah tersadar kembali

“Sayang, kamu pingsan lagi setelah menangis histeris, ada apa? khawatir sama Krisna?”

“Khawatir iya…tapi ada yang lebih dahsyat dari itu……..”

“Apa maksudmu?” tanya Riris dengan penuh rasa khawatir, Ia tahu benar apa yang ada dalam benakku

“Aku telah dapat firasat dari Tuhan… Ris, aku ngerasa Tuhan akan ambil Krisna….” ucapku nanar

“SSStttt…. jangan ngomong gitu ah, yuk kita doakan semoga Krisna lekas baik…” hibur Riris

“Tentu, tapi….” sangsiku

Riris tak mau mendengarkan kesangsianku dan memilih menyudahi obrolan kami dan segera pamit ke kelas untuk bersiap pergi karena bel pulang tak terasa telah berbunyi.

Ardhi datang mendampingi Riris dengan tampang yang tak jauh lebih kusut dariku. Kami pun pergi dengan mobil Ardhi. Dalam perjalanan tak ada satu pun dari kami yang angkat bicara. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Episode masa laluku satu per satu bermain dalam angan. Kepergian ayah meninggalkan aku dan Bunda dengan penuh amarah, kematian eyang, kematian Raka adikku, pengkhianatan sahabatku Firza yang kawin lari dengan kekasihku Robby, dan Krisna….? Aku bahkan tak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk yang akan menimpanya. Tuhan, tak bolehkah sejenak saja aku merasa bahagia?

* * * * *

Krisna terbujur lemah di ranjangnya ditemani Ardhi. Akupun menangis sesenggukan demi melihat keadaannya yang tak berdaya itu….

“Dhi, gimana sih kejadian sebenarnya?” tanyaku

“Kejadian ini sore hari, sepulangnya dari rumahku. Dia mungkin belum menguasai mobil barunya itu…….hingga ada truk melintas dia gasak aja…Setelah mendapat kabar aku langsung ke RS. Maaf ya, Ni, aku tak segera memberitahumu sebab dia tak ingin kamu khawatir”

Terdiam aku sesaat dan kuberanikan diri mendekati Krisna…..

“Kris, ini aku…A..ku sudah menepati janjiku…menemuimu…sepulang sekolah…” kucoba bicara, walau terbata. Tak kuasa aku menahan air mataku……Ardhi dan Riris memegang pundakku sesaat, menguatkanku dan meninggalkanku……

“Kris….kenapa malah kau yang ingkar janji? Krisna….bangun……..” pintaku menghiba

“Ni……..” tiba-tiba Krisna bergumam, “Ni……..aku……dimana? Apa yang terjadi padaku?” tanyanya sungguh lemah

“Di rumah sakit……. Ka…kamu kecelakaan, tapi yakinlah kamu akan baik saja”

“Hhh……”desahnya kesakitan

“Sudahlah, kau istirahat dulu….” nasehatku yang serta merta dia abaikan

“Ni……a..ku….sa…yang ka..mu…..” ucapnya susah payah sembari menggenggam erat tanganku. Aku tersenyum padanya dan membalas genggamnya. Lambat laun kusadari genggamnya semakin longgar dan sedetik kemudian kuyakini ia telah pergi…….untuk selamanya……………

Bahkan aku belum sempat mengatakan padanya kalau aku juga sangat menyayanginya…..

* * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: