Salah Kostum….cerita yg tertunda

Pagi yang kelam…. Bagaimana tidak, Subuh sudah mati lampu….huhuhu…. tapi hatiku sangat cerah karena kami sekeluarga komplit berkumpul di Jogja tercinta… ^^,

Kami berempatpun bersiap untuk jalan pagi. Ingat, temanya JALAN PAGI, karena kebiasaanku jogging pagi-pagi ya aku siapnya baju olahraga dong….pake kaos, training, dan kets. Mencari areal yang tepat untuk jalan pagi, malah ke Prambanan sekalian bawa EOS adek buat poto-poto..(hadeh….ga siap jadi model nih…*.*)

Sampai di Prambanan sudah jam 7.30 WIB, otomatis perut sudah minta diisi (belum jadi jogging, red). Usai makan masuk ke lokasi wisata. Benar-benar berasa sal-tum. Ya sudahlah, sudah terlanjur…..yang penting tetap oke dan tetap pe-de….hehe… baiklah, kami pun menikmati Prambanan yang sekarang sudah sangat sejuk loh….. untuk detail foto candi yang full body (hloh…emangnya mobil…???) bisa dilihat di www.cendhika.com/blog (males upload…hihihi…..kan yang punya gawe potograper si cencen…).

Setelah menikmati indahnya Prambanan kami pun memutuskan pulang. Dalam perjalanan menuju pintu keluar mampir ke museum Prambanan. Ada satu set gamelan (yang kata bapaknya ndak lengkap….), yuk kita beraksi….. (gaya thok maksude….hehe….). Suasana di tempat gamelan diletakkan asik juga loh…. Joglo dikelilingi kolam dan taman, bangunan utamanya berada di samping kanan dan kiri agak menjorok ke belakang. Indah. Sejuk. Tenang. Pengeeeeeeeeeeeeeeennnn punya rumah konsepnya kayak gitu. Amiin….

Dan kamipun pulang…… dan tidak jadi JOGGING saudara-saudara…..aku udah berkeringat deras dan bau kecut…..huwiiiiii……pengen cepet mandi dan tidur!!

Advertisements

Jangan Percaya tetapi jangan pula Meragukan Seseorang…

Kalimat yang simple tapi sulit sekali diaplikasikan. Sebuah pesan untuk seorang calon pemimpin. Bagaimana bisa kita tidak percaya tapi juga tidak meragukan?

Menurutku, maksud dari kalimat tersebut adalah bahwa sebagai seorang pemimpin, minimal pemimpin diri sendiri kita harus kuat dan berpegang teguh pada prinsip. Prinsip hidup dapat diaplikasikan dengan tujuan hidup yang memberi arah perjalanan kita. Sebagai muslim, jelaslah tujuan hidup adalah ibadah dan menjadi khalifatullah demi meraih surga-Nya. Pencapaian tujuan hidup seseorang dengan yang lain tentulah berbeda. Hal ini bisa dianalogikan dengan naik kendaraan. Masing-masing kita mengemudikan kendaraan kita masing-masing, misalnya sama-sama menuju puncak gunung. Nah, jalan yang dipilih oleh tiap-tiap sopir bisa jadi beda dan waktu perjalanan yang ditempuh juga beda-beda. Ada yang melewati jalan mulus dan berliku, ada pula yang melewati jalan berbatu dan berliku. Adakah yang melewati jalan lurus dan mulus untuk menuju puncak? Bisa dipastikan tidak ada. Kalau tak mau melewati aral melintang dan berliku jangan menuju “puncak”. Semakin tinggi tujuan kita semakin banyak liku-liku yang harus dilewati. Bisa jadi kita tersesat dan terjebak atau mungkin ada halangan seperti remnya ‘blong’, tetapi jangan pernah takut dan menyerah untuk mencari kembali jalan menuju tujuan kita.

Di dalam perjalanan kita menuju puncak, bisa saja ada yang menumpang dalam mobil yang kita kendarai. Bagaimana sikap kita terhadapnya? Jika kita terlalu mempercayai apalagi dengan hati bisa terjerumus kita dalam emosi namun salah juga jika dalam satu kendaraan kita tidak saling bersinergi. Makanya, tidak mempercayai namun tidak meragukan kapabilitas adalah pilihan yang bijaksana, sehingga tidak ada kata meremehkan dan ingin menjatuhkan.

Bagaimana pendapat kalian?

Stase Keempatku…ObGyn

LAPORAN KASUS

  1. IDENTITAS

Nama : Ny. S

Umur : 35 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Paritas : G6P2A3

Alamat : Pakuncen 01/04 Lorangan Kulon, Mojotengah

Agama : Islam

Pekerjaan : Penjahit

No.RM : 439869

Tanggal masuk : 27 Juli 2009 jam 21.00 WIB

Tanggal keluar : 1 Agustus 2009 jam 12.00 WIB

  1. ANAMNESIS

Keluhan Utama : kenceng-kenceng sudah teratur, janin melintang

RPS (Riwayat Penyakit Sekarang)

Pasien datang (jam 21.00) diantar bidan dengan keterangan G6P2A3 dengan keterangan janin letak lintang dan riwayat tidak ada anak hidup. Pasien merasa hamil 9 bulan, kenceng-kenceng teratur sudah dirasakan sejak jam 06.00 (+ 15 jam SMSR), air kawah dan lendir darah belum dirasakan keluar. Pasien membawa hasil USG tanggal 15 Juli 2009 dan kesannya hamil sungsang.

HPMT : 13 November 2008

HPL : 20 Agustus 2009

Usia Kehamilan : 38 minggu

Mual-muntah : –

Sesak nafas : –

Riwayat Pernikahan : 2 kali menikah, pernikahan pertama pada usia 25 tahun selama 5 tahun, yang kedua pada usia 32 tahun sudah 3 tahun ini

Riwayat Menarche : kira-kira umur 12 tahun

Riwayat Menstruasi : teratur setiap bulan, + 7 hari dengan dismenore, kadang keputihan, tidak berbau, tidak gatal, warna putih kekuningan.

Riwayat Obstetri : G6 P2 A3

    1. IUFD, premature (6 bulan)
    2. IUFD, premature (6 bulan)
    3. Abortus (3 bulan), tidak dikuret
    4. Abortus (3 bulan), tidak dikuret
    5. Abortus (3 bulan), dikuret
    6. hamil ini

Riwayat ANC : teratur di bidan 5 kali, di dokter 1 kali

Riwayat KB : suntik/3 bulan berhenti sebelum hamil

RPD : Hipertensi, Asma, Diabetes, Jantung disangkal, riwayat pengobatan toksoplasmosis selama 3 bulan (2 jenis obat dengan dosis 3×1 dan 1×1) setahun sebelum hamil, gejala yang dirasakan pasien adalah mudah lelah, sering sesak napas, batuk, dan demam

RPP : pasien mengaku di dekat rumahnya ada peternakan sapi dan banyak kucing di sekitar, tetangga dan keluarga tidak ada yang memiliki riwayat keguguran seperti dia.

  1. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Baik, Kesadaran Compos Mentis, Tidak anemis

BB : 68 kg

TB : 150 cm

Vital Sign

Tekanan darah : 120/90 mmHg Nadi : 84 x/m

Respiratory Rate : 24 x/m Temp : 36,6 0C

Status Generalis

Kulit : Wajah tidak pucat, tidak kering, tidak hipo ataupun hiperpigmentasi

Kepala : Bentuk mesocephal, simetris, deformitas negative, Ekspresi muka tak tampak kesakitan, Rambut hitam ikal sebahu, tidak mudah rontok.

Facial : simetris, paresis negative, deformitas negative, tidak tampak pucat, tampak chloasma gravidarum.

Mata : visus mata tidak terganggu (tidak kabur), konjungtiva anemis negatif, sclera icterik negatif, edema palpebra negative, mata merah negative. Pupil isokor, Ø 3 mm, reflek cahaya positif

Telinga : deformitas negative, otore negative, serumen minimal, ganguan pendengaran negative, otalgia negative.

Hidung : nafas cuping hidung negative, deformitas/deviasi septum negative, rhinore negative, edema chonca negative

Mulut : bibir tidak sianosis ataupun kering, stomatitis negative, lidah tidak kotor, karies dan plaque gigi positive, uvula dan tonsila tak membesar atau hiperemis, faring tidak hiperemis.

Leher : Tak ada deviasi trachea, pembesaran kelenjar thyroid dan limponodi

Thorax

Inspeksi : Simetris, bentuk normal, sikatrik negative, benjolan negative, mamae simetris tidak membesar. Sifat pernafasan kombinasi (thorako abdominal), irama frekuensi nafas normal. Ictus cordis tak tampak

Palpasi : Fokal fremitus seimbang antara paru kanan dan kiri. Pembesaran limfonodi axillaries negative. Nyeri tekan negative. Ictus cordis dan massa pada thorax tak teraba

Perkusi : Seluruh lobus paru sonor, batas redup hepar antara SIC 5 dan 6 midclavicula. Batas redup jantung atas di SIC II parasternal kiri, batas kanan di SIC IV parasternal kanan, batas kiri di SIC IV midclavicula kiri.

Auskultasi : Suara dasar paru vesikuler, tak ada wheezing dan ronchi. Bunyi jantung I dan II regular, frekuensi meningkat, tak ada bising jantung

Ekstrimitas: Deformitas positif pada kaki sebelah kanan riwayat trauma

Status Obstetri

Inspeksi: abdomen terlihat membesar ke samping, terlihat striae gravidarum

Palpasi: teraba janin tunggal, letak lintang, bagian kecil janin teraba di fundus, kepala teraba di perut bagian kiri, punggung di bawah namun belum masuk panggul. His: 5-6’/20-25”/s TFU: 30 cm

Auskultasi: DJJ: 138 x/mnt

Pemeriksaan dalam: vulva urethra tenang, dinding vagina licin, cervix lunak, mendatar pembukaan 2-3 cm, selket (+), letak lintang, AK (-), STLD (+)

Laboratorium

AL : 12.010/ul

Hb : 12,1 g/dl

AT : 322.000/ul

BT/CT : 2’/3’

Golda : O

HbsAg : –

  1. DIAGNOSIS

Letak lintang, multigravida, hamil aterm dengan riwayat obstetrik jelek (riwayat toksoplasmosis) dalam persalinan kala I fase laten

  1. TERAPI

Usul SC emergensi

Jam 01.00

Telah dilakukan SC emergensi (anestesi: GA), bayi lahir perabdominal perempuan, 2200 gram, 46 cm, AS 6/8

Dx: post SC emergensi atas indikasi letak lintang, multigravida, riwayat obstetrik jelek (riwayat toksoplasmosis) P3A3.h0

Tx:

IVFD RL: NaCl: D5% = 1: 1: 2

Balance cairan

Ampicillin inj 3×1 gr

Gentamycin inj 2×80 mg

Vitamin C 2×1 Ampul

Ketorolac 2×1 Ampul

Alinamin F inj 3×1 Ampul

Follow up tanggal 28 Juli 2009 jam 06.00 WIB

S : masih lemas, kentut 1x

: KU compos mentis, tidak anemis, mobilisasi (-), Hb post op 12,5 g/dl

VS: TD= 120/100 mmHg t=36,6oC

N=84x/mnt RR=19x/mnt

PPV: + sedang, warna merah

TFU: setinggi pusat, kontraksi kuat

Jahitan : satu-satu, baik

ASI/laktasi: -/-

BAK/BAB: DC/-

BC: 500 cc – 480 cc = +20 cc

Bayi perempuan, 2200 g, 46 cm, AS 6/8

A : post SC emergensi atas indikasi letak lintang, multigravida, riwayat obstetrik jelek (riwayat toksoplasmosis) P3A3.h0

P : injeksi lanjut sampai 3 hari, injeksi habis ganti oral

Amoxycillin 3×500 mg

Asam mefenamat 3×500 mg

Viliron 1xI tab

PEMBAHASAN

Diagnosis dalam kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Dari anamnesis didapatkan data seorang G6 P2 A3 dengan umur kehamilan 38 minggu, air kawah belum merembes, lendir darah belum keluar, kenceng-kenceng sudah dirasakan sejak tadi pagi. Pasien pernah USG tanggal 15 Juli 2009 dan dikatakan hamil sungsang. Pasien memiliki riwayat toksoplasmosis dan diobati selama 3 bulan setahun sebelum kehamilan ini. Belum ada anak yang terlahir hidup.

Dari pemeriksaan palpasi didapatkan teraba janin tunggal, melintang, bagian terkecil janin teraba di fundus, kepala teraba di bagian kiri, punggung teraba di bawah namun belum masuk panggul. DJJ 138 x/mnt di sekitar umbilikus, his 5-6’/20-25”/sedang, TFU 30 cm. Pemeriksaan dalam didapatkan vulva urethra tenang, dinding vagina licin, serviks lunak, mendatar, pembukaan 2-3 cm, selket (-), letak lintang, air ketuban (-), STLD (+).

Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat disimpulkan diagnosis kerja letak lintang, multigravida, hamil aterm dengan riwayat obstetric jelek (riwayat toksoplasmosis) dalam persalinan kala I fase laten.

Pada kasus ini kehamilan diakhiri dengan seksio sesarea emergensi. Hal ini dilakukan karena pasien sudah dalam persalinan sedangkan janin tidak mungkin dilahirkan pervaginam dan jika tidak segera dilakukan bisa terjadi letak lintang kasep yang sangat membahayakan karena bisa terjadi ruptur uteri akibat pembentukan cincin patologis (Bandl ring) dan janin bisa meninggal. Umur kehamilan yang sudah aterm pada multigravida sebenarnya dapat dilakukan versi luar karena syarat selket masih utuh, inpartu dengan pembukaan <4 cm, bagian terendah janin belum masuk PAP, dinding perut tipis dan lunak terpenuhi. Namun penolong tidak mau mengambil resiko karena usia ibu sudah tua, ibu nampak kesakitan dan riwayat obstetric jelek sebelumnya. Versi ekstraksi tidak dilakukan karena pembukaan belum lengkap dan jika ditunggu lengkap dikhawatirkan akan membahayakan ibu dan janin.

Toksoplasmosis pada kehamilan pasien yang ke-6 ini belum dapat disingkirkan begitu saja walaupun pasien mengaku sudah diobati selama 3 bulan dan hasil setelahnya negatif, apalagi tes konfirmasi dilakukan jauh sebelum pasien hamil lagi dan pasien baru berinisiatif untuk memeriksakan kehamilan dan keadaannya ke dokter kandungan setelah 5 kehamilannya gugur. Tes aviditas IgG sebenarnya perlu dilakukan untuk mengetahui kronisitas penyakit. Manifestasi klinik toksoplasmosis kongenital yang sementara dicurigai pada anak pasien adalah BBLR (BB 2200 gram pada usia kehamilan 38 minggu) dengan asfiksia sedang-ringan. Anak perlu dipantau perkembangannya terutama psikomotor dan kemungkinan adanya korioretinitis.

Kasus ini didapatkan letak lintang dan riwayat toksoplasmosis dengan bayi BBLR curiga IUGR. IUGR (intrauterine growth retardation) adalah janin dengan berat badan di bawah persentil 10 pada standard intrauterine growth chart of low birth weight (tampak pada grafik di bawah) untuk masa kehamilan, dan mengacu kepada suatu kondisi dimana janin tidak dapat mencapai ukuran genetik optimal karena ada faktor patologis. Alasan curiga IUGR adalah bayi tampak seperti kelaparan, gerakan terbatas, vernik kaseosa sedikit, kulit tipis dan kering, abdomen cekung, dan asfiksia sedang saat lahir sesuai dengan ciri-ciri IUGR ditambah dengan kesesuaian dengan definisi.

Penyebab letak lintang kemungkinan adalah karena kehamilan yang telah berulang dan riwayat kuretase serta janin yang kecil akibat pengaruh infeksi toksoplasma serta deformitas kaki ibu yang menyebabkan ibu picang. Pada kombinasi keadaan ini rahim ibu yang lentur menyebabkan janin yang kecil bergerak bebas dalam rahim.

Stase ketigaku…Bedah…

KASUS

IDENTITAS

Nama : Ny. T

Umur : 61 tahun

Jenis kelamin : perempuan

Alamat : Singapadu, Glagah 1/6 Sapuran

Agama : Islam

Pekerjaan : Tani

No.RM : 43 31 98

Dirawat tanggal : 13 Mei 2009 – 23 Mei 2009

ANAMNESIS

Auto dan alloanamnesis pada tanggal 13 Mei 2009

Keluhan Utama

Benjolan di lipat paha kiri disertai perut kembung.

Keluhan Tambahan

Tidak bisa BAB dan kentut sejak 1 minggu yang lalu.

RPS (Riwayat Penyakit Sekarang)

Pasien datang ke IGD BRSD Wonosobo tanpa surat pengantar dengan keluhan benjolan di lipat paha kiri yang tidak hilang dan terasa nyeri sejak 11 hari yang lalu, pasien tidak bisa BAB dan kentut sejak 1 minggu yang lalu. Pasien juga mengeluh mual dan muntah terus-menerus, perut kembung, dan terasa lemas. Benjolan diduga ada sejak 2 tahun yang lalu sebesar bola pingpong yang awalnya timbul saat pasien berdiri dan hilang saat tidur. Nafsu makan menurun dan BAK terasa kurang lancar.

RPD (Riwayat Penyakit Dahulu)

Riwayat benjolan serupa belum pernah

Belum pernah operasi

Riwayat sering batuk kering

Riwayat penyakit hati dan jantung disangkal

Riwayat Sosial dan Riwayat Pribadi

Pasien bekerja sebagai petani dan mengaku sering angkat berat. Pasien juga perokok aktif selama 10 tahun. Pasien menikah namun tidak mempunyai anak. Pasien mengaku jarang mengedan kalau BAB.

RPK (Riwayat Penyakit Keluarga)

Tidak ada riwayat penyakit serupa pada keluarga.

Anamnesis Sistemik

  • Kepala : sedikit pusing
  • Mata : pandangan tidak kabur
  • Telinga : pendengaran baik, tidak keluar cairan
  • Hidung : tidak mampet, tidak keluar cairan
  • Bibir dan mulut : pucat, tidak kering
  • Leher dan tenggorokan : tenggorokan tidak terasa kering dan sakit
  • Thorax : mengeluh sesak/berat untuk bernapas, tidak berdebar-debar
  • Pencernaan : tidak bisa BAB dan kentut, perut kembung, mual, muntah
  • Urogenital : BAK tak lancar
  • Inguinal : benjolan di lipat paha kiri 9x6x2 cm3
  • Kaki & Tangan : gerakan bebas
  • Kejiwaan : tidak gelisah
  • Berat Badan : kurus
  • Kulit : dingin dan berkeringat

RESUME ANAMNESIS

Pasien wanita umur 61 tahun datang dengan keluhan benjolan di lipat paha kiri, tidak hilang sejak 11 hari yang lalu disertai mual, muntah, perut kembung, serta tidak bisa BAB dan kentut sejak 1 minggu yang lalu. Benjolan diduga ada sejak 2 tahun yang lalu, terutama saat pasien berdiri dan hilang saat tidur telentang.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum :

Sedang, tampak lemah dan kesakitan. Kesadaran apatis-letargi, GCS: 15. Sikap: posisi berbaring aktif.

Vital sign

Sebelum gerojok RL

TD : – mmHg (tak terukur)

N : – kali/menit (tak teraba)

RR : 28 kali/menit

t : 35,9 0C (teraba dingin dan berkeringat)

Setelah gerojok RL

TD : 90/60 mmHg (palpatoir)

N : 98 kali/menit, isi dan tegangan kurang

RR : 20 kali/menit

t : 35,9 0C (teraba dingin dan berkeringat)

Status Generalis :

  • Kulit : dingin dan berkeringat, turgor menurun, tidak hipo maupun hiperpigmentasi.
  • Kepala :
  • Bentuk mesocephal, simetris, deformitas negatif
  • Ekspresi muka tampak kesakitan
  • Rambut hitam beruban, tidak mudah rontok.
  • Facial : simetris, paresis negatif, deformitas negatif
  • Mata : cekung, visus mata tidak terganggu (tidak kabur), konjungtiva tak anemis, sclera tidak ikterik, edema palpebra negatif, mata merah negatif. Pupil isokor, Ø 3 mm, reflek cahaya positif.
  • Telinga : deformitas negatif, otore negatif, serumen minimal, ganguan pendengaran negatif, otalgia negatif.
  • Hidung : nafas cuping hidung negatif, deformitas/deviasi septum negatif, rhinore negatif, edema chonca negatif
  • Mulut : bibir tidak sianosis, kering, tampak haus, stomatitis negatif, lidah tidak kotor, atrofi papil lidah negatif, karies dan plaque gigi positif pada hampir semua gigi, gigi emas pada gigi seri 2 buah, uvula dan tonsila tak membesar atau hiperemis, faring tidak hiperemis.
  • Leher
  • Tidak ada deviasi trachea
  • Tak ada pembesaran kelenjar thyroid atau limponodi leher.
  • JVP R+0 cm H2O
  • Thorax
  • Inspeksi

Simetris, bentuk normal, sikatrik negatif, benjolan negatif, mamae simetris atrofi. Sifat pernafasan kombinasi (thorako abdominal), irama nafas normal dengan frekuensi normal, ictus cordis tampak pada SIC V LMC sinistra

  • Palpasi

Fokal fremitus seimbang antara paru kanan dan kiri. Pembesaran limfonodi axillaries negatif. Nyeri tekan negatif. Ictus cordis teraba dan kuat angkat pada SIC V LMC sinistra

  • Perkusi

Seluruh lobus paru sonor, batas redup hepar antara SIC 5 dan 6 midclavicula.

Batas redup jantung atas di SIC II parasternal kiri, batas kanan di SIC IV parasternal kanan, batas kiri di SIC IV 2 jari medial midclavicula kiri.

Batas atas hepar antara SIC V dan VI

  • Auskultasi

Suara dasar paru vesikuler, tak ada suara tambahan (wheezing & Ronchi negatif).

Bunyi jantung I dan II regular, tak ada bising jantung

Abdomen:

  • Inspeksi: Distensi. Benjolan, sikatrik, caput medusa negatif. Darm contour & Darm staifung tak terlihat.
  • Auskultasi: Peristaltik menurun, tidak ada metallic sound
  • Palpasi: supel, defans muskuler seluruh lapang perut negatif, nyeri tekan negatif. Hepar dan lien tak bisa dinilai.
  • Perkusi: Seluruh lapang perut hipertimpani. Pekak beralih negatif.

Anogenital & rectal

Inspeksi : Deformitas negatif, hiperemis negatif, keluar eksudat negatif.

Palpasi (RT) : tonus muskulus sfingter ani mencengkeram kuat, mukosa rektum licin, tidak teraba adanya benjolan, tidak teraba nyeri tekan, pada sarung tangan tidak ada darah dan feses.

Ekstrimitas.

Deformitas negatif, nyeri gerak aktif & pasif negatif, nyeri sumbu negatif. Gerakan bebas dan aktif.

Status Lokalis :

Regio Inguinal Sinistra

Posisi tidur:

Inspeksi : tampak benjolan di lipat paha ukuran 9x6x2 cm3 warna serupa warna kulit, tidak terdapat tanda-tanda peradangan.

Palpasi : teraba massa dengan permukaan rata, batas tegas, konsistensi lunak, bisa digerakkan dari sekitar, tidak dapat dimasukkan.

Auskultasi : tidak terdengar suara peristaltic

Transiluminasi (-)

ASSESMENT

DD : Hernia femoralis sinistra inkarserata

Hernia Inguinalis medial sinistra inkarserata

Limfadenitis inguinalis sinistra

Lipoma inguinal

Cold abscess

PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK

BNO

Jumlah udara usus dan gaster meningkat

Dilatasi usus ±

Air fluid level (-), free air (-)

Kontur ren dx dan sn tak jelas

Vertebra: spur (-)

Kesan: peningkatan udara usus dan gaster, curiga dilatasi gaster

PEMERIKSAAN PENUNJANG PRE OPERATIF

Laboratorium

  • Darah rutin:

Angka leukosit : 19.130/uL (+)

Angka eritrosit : 4,16 juta

Hb : 12,6 g/dl

Angka trombosit : 382.000

LED : 8 mm/l

25 mm/l

  • Golongan darah : O
  • Clotting time : 2 menit

Bleeding time : 4 menit

  • Kimia darah

GDS : 141

Albumin : 3,6

SGOT/SGPT : 28 U/l ; 28 U/l

Ureum : 171,4 mg% 161 mg%

Kreatinin : 5,1 mg% 2,90 mg%

HbsAg : (-)

    1. EKG : tidak ada kelainan
    2. Rontgen thorax AP

Cor : kesan tak membesar

Pulmo : corakan bronkovaskuler kasar, diafragma dbn, sinus dbn

Kesan : cor tak membesar

Pulmo suspek bronchitis

Konsul UPD

Ureum dan kreatinin meningkat renal failure

EKG dan Rontgen thorax tidak ada kelainan

Ass: renal failure, resiko kardiologi minimal tapi beresiko tinggi pada renal

DIAGNOSIS

Diagnosis kerja: hernia femoralis sinistra inkarserata dengan renal failure

PENATALAKSANAAN DAN TERAPI

Terapi yang diberikan pada pasien di BRSD Setjonegoro Wonosobo:

NONOPERATIF

    • Rehidrasi : infuse RL gerojok 1-2 liter (memperbaiki KU pasien) dilanjutkan RL 30 tpm kombinasi D5% (1:4)
    • Pasang DC dan NGT
    • Puasa
    • Cefotaxime 2×1 gr
    • Ketorolac 2×1 amp

OPERATIF: herniotomy dan reseksi usus

    • Insisi inguinal kiri di atas massa buka lapis demi lapis sampai dengan kantong hernia
    • Hernia buka isi omentum dan usus halus yang perforasi
    • Dilakukan reseksi usus dan end to end anastomosis, cuci NaCl
    • Herniotomy dan plasty femoral
    • Luka operasi tutup

Laboratorium post operasi

  • Albumin : 2,58
  • Hb : 10,2 g/dl

Terapi post operasi:

  • Rawat ICU
  • Puasa 3 hari
  • RL/D5% ¼
  • Aninovel 1/hari
  • Albumin (100 cc) 1/hari
  • Ciprofloxacin 1 flash/hari
  • Metronidazole 1 flash/hari
  • Ketorolac 2×1 Ampul

Rusak lagi…

Dua tahun yang lalu aku memutuskan untuk membeli hape sliding warnanya bagus nan elegan (putih bercorak emas, red) karena hapeku tamat riwayatnya setelah chatting kelamaan (sejak saat itu aku alergi chatting pakai hape…). Adik lelakiku satu-satunya yang merekomendasikan padaku. Karena kebanyakan selera kami sama (maklum, sama-sama tipikal melankolis-perfeksionis…hehe….) jadinya rekomendasinya langsung membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama (love at the first sight gitu…), tanpa ba-bi-bu kubelilah tuh hape dan asiklah aku berduaan dengan “si putih”.

Setahun kemudian ada adik akper yang kebetulan magang di tempatku bertugas punya hape mirip rip rip sama si putih dan dia menyarankan padaku untuk segera menjual hapeku sebelum flexibelnya rusak seperti miliknya. Hmmm….tapi aku masih sayang banget sama ni hape, pikirku, lagian mau ganti kenapa kan masih sehat walafiat…..

Dan jadilah sebelum 2 bulan lagi genap 2 tahun ini hape kelap-kelip thok waktu di-charge…. Nah lho……bakal tewas nih…..hmpf… keesokan harinya kubawa deh ke tukang servis hape… beneran lho flexibelnya putus….. ambil positifnya, Alhamdulillah flexibelnya yang putus bukan softwarenya jadi data-dataku di dalamnnya tak terhapus dan Alhamdulillah berarti bisa punya alasan beli hape baru…hehehehehehe…..

Analisa: 2 kali pakai merk thiiiiiiiittttttt rusaknya dalam waktu kurang dari 2 tahun, ni yang salah yang pakai po memang merk ini rentan? Sewaktu aku “berdiskusi” sama mas tukang servis katanya merk thiiiiiiiitttttt emang kayak begitu…… nah lho…..sialnya sial (hihihi jadi inget sama kuman streptokokus beta hemolitikus grup A yang selalu bikin sial pasien menurut “mami”, red) aku tidak menyadarinya dari kerusakan hape pertama…..hadeh..hadeh…

Lesson number 1: experience is the best teacher moreover the mistake one, but don’t ever try to make mistake…… (^^,)v

“bertakwalah pada Allah dimanapun berada”

Bertakwa artinya mentaati perintah dan larangan-Nya, maksudnya menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah SWT. Ciri-ciri orang bertakwa telah tersebut dalam QS Al Baqarah ayat 2-5 (silakan dibaca, dihapalkan, dan diamalkan ya….). Jika kita mengaku nenegakkan sholat, maka amalan pun harus sebanding dengan sholat yang kita tegakkan. Amalan baik pun harus tegak. Tidak disebut orang bertakwa jika sholat namun tidak beramal baik. Mengingat Allah tidak hanya dalam sholat, kapanpun dimanapun kita bisa mengingat Allah. Berdzikir dalam lisan dan batin setiap kita tersadar bisa menjauhkan dari amalan buruk dan adzab. Jika demikian adanya maka insyaAllah mati-pun khusnul khatimah.

Oiya…..adzab itu beda lho dengan musibah….gampangnya, adzab itu untuk orang yang tidak beriman sebagai bentuk siksaan sedangkan musibah (bisa berupa nikmat maupun tragedi) ujian untuk orang yang beriman.

Malaikat adalah makhluk Allah yang menggunakan akal (logika) sedangkan setan adalah makhluk Allah yang menggunakan nafsu yang dekat dengan maksiat. Manusia adalah makhluk istimewa yang bisa menggunakan cipta, rasa, dan karsanya sesuai porsi yang seimbang. Jika manusia lebih menggunakan akal (cipta) dibanding nafsu (rasa) maka ia mendekati kemuliaan malaikat, sebaliknya. Bagi orang yang terbiasa melakukan maksiat, dosa seolah tak dosa karena saking biasanya dilakukan. Masya Allah ya teman…..semoga kita tidak demikian. Jika tahu itu dosa semoga kita dijauhkan. Dosa itu ada rasanya lho…sebelum kita melakukan hati kita gelisah dan tak tenang dan pasti takut jika diketahui orang, sebaliknya amal baik akan tenang saja kita lakukan dan cenderung suka dilihat tapi hati-hati riya’. Maksiat mudah terjadi jika godaan-godaan duniawi tidak bisa dibendung. Adapun godaan tersebut adalah:

Pada wanita –> harta

Pada pria–> wanita, harta, tahta

Agar terjauh dari maksiat yang bisa dilakukan:

1. 1. Banyak mengucap kalimat thoyyibah dan tadarus Al-Qur’an

2. 2. Ikut kajian agar terus diingatkan pada Allah

3. 3. Bergaul dengan orang yang sholeh/sholehah

Jika kita dalam posisi ingin merubah seseorang yang gemar maksiat, yang bisa kita lakukan:

1. 1. Dengan kekuatan/kekuasaan

2. 2. Dengan lisan/teguran. Intinya melarang lebih sulit dari mengajak, maka gunakan bahasa ajakan yang baik dan persuasive.

3. 3. Ingkar dengan hati

Wallahua’lam…Semoga kita termasuk golongan orang-orang bertakwa. Amiin.

Doa dulu yuk…

Allahumma Anta rabbii laa ilaaha illaa Anta, Khalaqtanii wa ana ‘abduka wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika masthatha’tu. Audzubika min syarri maa shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bidzanbii faghfirlii fainnahuu laa yaghfirudz dzunuuba illa Anta

(Ya Allah, Engkau adalah rabbku, tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau ciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku berada di janji-Mu semampuku. Aku mohon perlindungan dari perbuatanku. Aku mengetahui banyaknya nikmat (yang Engkau anugerahkan) kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau)

Awal Sekaligus Akhir…

Tak terasa tahun pelajaran baru akan dimulai pagi ini. Itu berarti mulai hari ini aku duduk di bangku kelas dua SMA yang notabene adalah masa-masa paling indah dalam hidup. Tapi aku sama sekali tak percaya karena aku belum pernah mengalaminya. Dan jika memang masa indah itu akan berawal hari ini aku akan menyambutnya dengan suka cita.

Aku, Tania Marga Alfathiya, tak pernah sebelumnya merasa begitu gamang dalam melangkah. Pagi ini, aku melangkahkan kaki dengan kegamangan yang tak terhingga. Di satu sisi aku bersuka cita dengan akan hadirnya masa indah dalam hidupku, namun di sisi lain aku tak meyakini indahnya hidup akan terjadi padaku. Setelah terenggutnya orang-orang yang kucintai dariku memang aku sering meragukan akan arti kebahagiaan.

* * * * *

Brakkkkkk….!!!!

“Ma….maaf…saya tidak sengaja,” seruku seraya ikut membereskan buku-buku si tertabrak yang berserakan di lantai

Lamunanku segera buyar setelah insiden kecil pagi ini di koridor sekolah yang masih sepi. Wow, ternyata aku tiba terlalu pagi.

“Hhhh!! Makanya lain kali liat-liat kalo jalan!” bentaknya padaku yang belum tersadar penuh dan cepat-cepat pergi

Muke gile! Udah Nia, jangan dianggap, tuh anak emang rada sableng!!” hibur Riris, sobat terbaikku yang tiba-tiba sudah ada di sampingku

“Siapa sih dia, belagu amat! Tapi….cakep juga, ya? he…he…he…!”

“Ya Tuhan…….udah dilabrak masih muji? Heran…..!Let`s back to our class nyok!” ajak Riris sembari menarikku kuat.

* * * * *

Hiruk pikuk dalam kelas jam pertama selalu membuatku pusing. Ingin rasanya berlari saja dari kerumunan manusia-manusia yang tampaknya saling bercakap untuk melepas rindu. Aku merasa sepi di tengah-tengah keramaian ini, aku merasa sendiri dan ingin menyepi melanjutkan lamunanku yang terputus tadi pagi. Syukurlah, di sela-sela keinginanku untuk kabur bel berbunyi dan Pak Muji, guru Biologi yang sudah cukup tua, segera memasuki ruangan dan berseru.

“Anak-anak, kita kedatangan seorang murid baru pindahan dari SMA Perjuangan 5, namanya….” Pak Mu lekas memandang si murid baru sembari mengernyitkan dahi tanda beliau lupa

“Krisna Muhammad,” tukas si murid baru

“O…iya…ya. Maaf . Sekarang kamu langsung saja cari tempat duduk.”

“Di mana, Pak?” tanya Krisna bingung

“Di pojok sana ada satu bangku kosong, dekat Novi,” jelas Pak Mu

“Tapi Pak…..” protes Krisna

“Ada apa? Kamu tak terbiasa duduk di belakang?”

“Bukan begitu Pak….. Maaf Pak…, saya….alergi sama cewek…” jawab Krisna dengan polosnya

Spontan warga kelas gaduh menertawakannya. Bagaimana tidak, Novi adalah primadona di sekolah ini, hampir semua lelaki berebut cintanya. Ee….ini malah ada satu spesies yang diberi kesempatan menolaknya..

Sementara itu….

“Ris, itu kan cowok yang kutabrak tadi? Jadi..namanya Krisna tho…? Wah…asyik nih bisa buat refreshing..” bisikku pada Riris

Seketika aku terlupa dengan keinginan untuk melanjutkan lamunanku dan merasa tertarik dengan makhluk yang tertunduk malu di depan kelas.

Muke gile lu, Ni! Cowok aneh gitu lu demenin! Nggak normal lu!”

dok….dok…dok…

“Tenang anak-anak!” perintah Pak Mu,” Terpaksa Krisna, tidak ada bangku kosong lagi,”

“Tapi, Pak..” protes Krisna sekali lagi

“Tidak ada tapi-tapian! Silakan duduk! Pelajaran akan segera Bapak mulai.”

Dengan berat hati Krisna berjalan ke bangkunya dan dengan berat hati pula ia menyambut senyum genit Novi. Rupanya hal itu membuatnya tambah alergi. Kasihan sekali kamu, Kris…..

Dan tak sedetikpun kulepaskan pandangku darinya. Entah apa yang membuatku melakukannya. Aku merasa damai. Akankah cowok itu menjadi pengisi kosongnya hatiku, yang takkan pernah pergi meninggalkanku? Memikirkannya membuatku tersenyum getir.

* * * * *

Gawat! Aku terlambat! Dengan langkah tergesa aku melangkah di koridor yang telah sepi tanpa ada waktu untuk bercakap dengan diriku sendiri, seperti biasanya. Ah, akhirnya pintu kelas terlihat. Senyumku mengembang segera setelah tahu pelajaran belum dimulai. Di tengah senyum kemenanganku…..

Brakkkkkk!!!

“Eh…eh…sori Kris, aku nggak lihat…”

“Kamu lagi! Kamu kira jalan ini milikmu doang, ha?!Minggir sana! Udah diperingatkan masih aja…,” sungut Krisna

“Hei..hei, tunggu! Tuan Krisna Muhammad alias Tuan Alergi Cewek, ya…jangan galak gitu dong, aku kan udah say sorry..!!” bentakku sembari menyingkir dari hadapnya. Masuk ke kelas.

Sesampainya di kelas hatiku masih dongkol dan tak sudi lagi aku menatapnya.

“Non, sekarang tuh nggak cuma satu orang aja yang ngeliat kamu, ada satu lagi tuh…jadi seperti kutub bumi…pojok utara-selatan…hi..hi..hi..” bisik Riris padaku

Bodo amat!!” komentarku sebal

“Lho, kamu kenapa sih, Ni? Galak bener…”

“Bla…bla…bla..,” ceritaku menggebu-gebu tentang peristiwa tabrakan ulang tadi pagi

“O….” belum selesai Riris mengatupkan mulutnya, bu Ari sang guru seni musik menyuruhnya maju ke depan untuk menyanyikan sebait lagu, maklum suara sobatku yang satu ini oke punya…

“Bagus. Tunjuk salah seorang temanmu untuk menyanyikan bait selanjutnya!” perintah bu Ari setelah Riris selesai menunaikan tugasnya

“Tania, Bu…” jawab Riris yang membuatku melotot tak setuju

“Laki-laki, Ris…” pinta bu Ari yang membuatku lega

“Oh…maaf, Bu. Krisna deh…”

Ha? nekat juga si Riris nunjuk Tuan Alergi Cewek… Namun dengan tenangnya ia maju ke depan dan menyanyikan lagu itu dengan amat sangat…..buruk! Suaranya fals bahkan dia sepertinya tak mengenal lagu itu. Gelak tawa seisi kelas membuat mukanya merah padam dan….

“Kenapa ketawa? Saya hanya menjalankan tugas!” bentaknya marah dan cukup membuat seisi kelas terdiam

“Cukup, duduk Krisna! Tunjuk salah seorang teman perempuanmu untuk menggantikan tugasmu!” pinta bu Ari meredam emosi yang bergejolak di kelas

“Saya tidak punya teman perempuan, Bu…”

Bu Ari menatapnya heran dan seisi kelas pun hanya bias menahan tawa, namun sejurus kemudian…

“Tania Marga Alfathiya,” jawabnya dengan segera melangkahkan kaki kembali ke tempat duduk

Dan aku masih terkaget-kaget demi mendengarnya menyebut namaku dan ketika seisi kelas menyorakiku….hingga bu Ari mengulangi menyebut namaku, aku baru tersadar….Tuhan…..apa maksudnya ini? Seketika itu juga aku meragukan tepisan harapanku sebelumnya, melupakan amarahku padanya.

* * * * *

Bel tanda jam istirahat sudah berbunyi beberapa menit lalu tapi aku dan Riris masih bertahan di kelas, merapikan buku dan mengobrol sebelum meluncur ke kantin.

“Ris, dia….kok bisa nyebut namaku ya?” tanyaku memulai pembicaraan

“Dia? Siapa maksud lu?” tanya Riris sambil bangkit melangkahkan kaki ke luar kelas

“Krisna, siapa lagi?” seruku

“Payah lu, Ni! Tadi katanya sebel ma dia…kok…?”

Lupain deh…! Entah ya Ris, sejak pertama kali liat dia gitu aku sudah ngrasa suka….apalagi sama matanya yang misterius itu….Apa dia feel the same way too ya?” terawangku kembali melamunkan harapanku

“Ha..ha..ha, muke gile lu! Lu jatuh cintrong ma makhluk itu? Ampuni sobatku, Ya Tuhan…” goda Riris hingga membuatku mendaratkan cubitan di pipi gembulnya.

“Ah, kamu! Masa sobatnya lagi hepi diketawain sih..?! Eh, tadi maksud kamu yang ngeliatin aku selain Ardhi tuh Krisna ya?Duh…senengnya….” cerah wajahku membayangkannya

“Ya….ampun! Masa baru nyadar sih lu? Apa baru ke-enter di otakmu?”

Sori Ris, tadi kan lagi error system…”

“Payah!! Besok lu tabrak lagi aja dia, liat reaksinya!” usul Riris tak masuk akal

“Boleh juga usul kamu, thanks ya…..hi….hi…hi..” ucapku sembari melangkah pergi meninggalkan Riris yang terbengong di tempat

Muke gile lu! Nia….Nia….” Riris mengucapnya dengan tetap terdiam tak mengejarku.

Mungkin dia masih meragukan perasaanku. Setelah sekian episode kelam merangkai cerita hidupku. Atau mungkin sobatku ini merasa ikut senang dengan hadirnya perasaan bahagia, senyum ceria, dan canda tawa setelah episode itu berhasil kulalui. Entah.

* * * * *

Dan keesokan paginya benar-benar kulancarkan aksiku…. Di koridor yang sama dan di tempat yang sama. Brakkkkkk!

“He…he…maaf ya, Kris…tadi aku….sengaja,” ujarku sambil cepat-cepat berlalu

“Hhh….mau apa sih cewek itu…?” geram Krisna, penuh tanda tanya

Ajaib! Sikap Krisna hari itu berubah total! Dia loyal pada semua temen terutama pada Ardhi, cowok yang selama ini naksir aku dan pada teman-teman cewek yang selama ini membuatnya alergi. Sayangnya keloyalan itu tidak padaku… Namun pada beberapa kesempatan dia mengistimewakan aku walau dengan tampang juteknya, seperti….

“Aduh! Teman-teman….jangan gencet aku dong…sakit nie…!!!! Aku kan juga mau makan!!” protesku tanpa ada yang merespon sedikitpun

“Nih, buatmu!” sodor Krisna tiba-tiba padaku

Belum sempat aku ucap terima kasih dia sudah berlalu, larut dalam kerumunan “orang-orang kelaparan”…

Dan akupun bercerita pada Riris tentang keanehan sikapnya itu. Tapi…sobatku satu ini malah bergosip ke antero dunia bahwa KRISNA SUKA NIA..….hingga….

“Heh!!! Ngaca dulu dong, non! Kamu itu apa lebihnya dari aku? Wajah pas-pasan gitu nekat ndeketin Krisna! Krisna tuh milikku tahu??!!” semprot Novi tiba-tiba padaku.

Belum hilang kagetku, si genit Lyra dari kelas sebelah menghampirikuku dan…

“Ehm..ehm..! Nia yang baekkkk lu jangan coba-coba ndeketin Krisna ya, aku tuh udah naksir dia sejak lama dan akupun sudah kenal lama dengannya, so….be aware of that, okay!”

Belum lagi lirikan temen-temen cewek yang notabene Krisna Fans Club (wah disingkat jadi KFC dong (^-^) ). Hhh…salah apa sih aku ini?

* * * * *

Libur mid semester pun tiba. Aku jadi jarang bertemu dengan Krisna. Lagipula, seperti biasa liburan tak pernah membuatku bosan. Aku selalu menikmati kesendirianku. Walau terkadang kesendirian itu harus direcoki oleh tawa dan canda Riris ataupun perhatian dari Ardhi, aku terhibur. Hanya mereka berdua yang selalu setia menemaniku, yang dapat kupercaya. Suatu hari Riris tertawa terkekeh sesampainya di rumahku.

“Ris…kesambet setan apa dikau datang-datang ketawa-ketiwi…”

“Mau pinjam pe-er ya??”

“Ah…nggak kok Ni, kamu tahu nggak si Lyra dan Novi baru saja terlibat percekcokan demi memperebutkan Krisnamu itu….ha..ha..ha…. Lu nggak ikut sekalian, hah? Judulnya jadi mempertahankan Krisna..ha…ha…ha..” tawa Riris tak henti

“Enak aja memangnya Krisna is mine apa? Lagian kamu juga sih yang bikin perkara nyebar-nyebar gossip kalau aku dan Krisna ada apa-apa….jadi heboh mereka!”

Kriiiiingggg……..

“Wah, jangan-jangan si Krisna telpon ya…he…” goda Riris

Ngawur! Bentar ya….” Diam-diam hatiku mengharap apa yang dikatakan Riris benar adanya

“Halo…Nia di sini”

“Hei Ni, Ardhi nih, kamu di rumah ya?”jawab si penelpon

“Ya jelas di rumah lah ! Orang kamu telpon aku yang agkat..!!” tukasku agak kecewa

“He..he..he…eh, aku boleh ke rumahmu nggak?”

“Ngapain? Perasaan saban hari ke sini…”

“He…he…ada masalah penting kali ini…” rajuk Ardhi penuh makna

“Masalah? Di telpon aja nggak bisa?” larangku halus

“Wah, jangan! Harus empat mata! Oke??”

“Halah…paling-paling mau tanya pe-er…” tanyaku menebak

“Sudahlah, boleh ya? Sampai nanti……” tukas Ardhi dan segera menutup telpon

Tuuut…tuuutttt

Ratapku kesal sambil memandangi gagang telpon yang memanggil tutut. Dan hatiku bertambah kesal saat mendengar Riris menanyakan perihal penelepon. Riris pun jadi ikut-ikutan sok kesal demi mendengar Ardhi yang menelepon.

Ting…tong… Bel berbunyi. Aku dan Riris saling menatap. Sudah yakin pasti si Ardhi. Dan dengan berat hati pun kami beranjak dari sofa empuk di ruang tengah menuju sumber suara.

“Hai Ni…lagi ada Riris yah…?” sapa Ardhi setelah pintu terbuka

“Iya nih, cepet ngomong, ada masalah apa? Aku mau pergi nih sama Riris…” bualku

“Pergi kemana, Ni?” tanya Riris girang

“Lho…katanya ke Mall?”

“Iya?! Kapan bilangnya? Asyikkk…” sorak Riris, childish, dan iapun segera berlari ke dalam

“ Nia…masak aku nggak disuruh duduk dulu sih…bentarrrr aja..” protes Ardhi

“Lho, kamu mau ngomong apa mau duduk sih?” tanyaku padanya tanpa diperhatikan dan ia segera melangkah ke dalam, duduk dengan nyamannya di kursi kayu berumur puluhan tahun peninggalan eyangku, salah satu orang yang kucintai. Dan Ardhi pun selalu menduduki kursi itu ketika berkunjung ke rumahku, kursi kesayangan Ayah ketika beliau masih tinggal bersamaku dan Bunda…… Ayah juga orang yang kucintai.

“ Nia, kamu masih ingat kan ucapanku ke kamu sebulan yang lalu?” ujar Ardhi membuyarkan lamunanku

“Yang mana? Seingatku kamu banyak omongnya deh…” kilahku

“Oke…. Nia…aku…sayang kamu…”

“Oh…yang itu…iya ingat…sepertinya kamu pernah bilang ke aku..”

“Oke..oke…, terus kamu gimana?” tanyanya yang segera kusahut dengan bentakan menolak

“Yah…sadis banget sih kamu, Ni… Patah nih hatiku…”

“He… di gips aja yah…” candaku karena kutahu Ardhi juga bercanda menyatakan kembali perasaannya yang sama-sama sudah disepakati tidak boleh ada. Kami adalah sahabat. Walau dia seringkali membuatku kesal dengan perhatian-perhatiannya yang tak masuk akal.

“Oke…oke, andai bisa, pasti lebih cepat sembuhnya…”

“Iya…ya…? Besok buka aja Fakultas Kedokteran Cinta, spesialis mengobati patah hati tersembunyi…” kelakarku

Hening sesaat….

By the way… kamu suka Krisna ya?” tembak Ardhi jitu

“Ha? Siapa bilang?” elakku

“Krisna jawabnya gitu juga… Tapi anehnya dia ngomongin kamu terus, muak aku dengernya! Terus gossip itu bohong dong? Kerjaan Riris kan?” selidik Ardhi yang kusambut dengan anggukan mantap

“Tapi aku perhatikan gossip itu benar. Cuma kalian aja yang sama-sama jaim alias jaga image” seloroh Ardhi sok tahu

“Aku bantuin mau nggak?” tawar Ardhi setelah selorohannya kubantah habis-habisan

“Bantuin apa?” tanyaku kesal karena bantahanku tak didengar

“Ya….ndapetin Krisna. Aku tahu setelah segala pengkhianatan yang kamu terima dari segala pihak, kamu merasa tak berarti, tapi cobalah membuka diri lagi, Ni, cobalah membiarkan dirimu disayangi lagi. Sebab aku tahu kau takkan pernah bisa menerimaku. Jadi, ijinkan aku mencari ganti diriku untuk menjagamu. Oke, pikirkan baik-baik tawaranku! Mana pe-ernya?

“Yah…ujung-ujungnya…kirain lupa… Nih!” dalam hati aku memikirkan ucapan Ardhi yang sok bijak kali ini. Mungkin benar.

Sesaat kemudian setelah Ardhi berlalu……

“Yuk Ni, aku sudah siap…” ajak Riris dengan semangat

“Mau ke mana?” tanyaku sok polos

“Lho…katanya mau ke mall…gimana sih?”

“Bohong kali biar Ardhi cepat pulang….he..he…” ujarku tetap sok polos

“Dosa lu, Ni…ngibulin temen…” dalam hati ia maklum sepenuh hati

“Ya….Riris..maaf deh kalo gitu…”

“Apa sih yang enggak buat Nia…”

Begitulah kami, tiada pernah ada pertengkaran….

“Emangnya si Ardhi tadi ngapain ke sini? Say his love?”

“Diantaranya…..”

“Diantara apa? Ada lain hal?”

“Pinjem pe-er terus….”

“Terus apa? Jangan buat aku penasaran gitu dong, Ni!”

“Dia…nawarin bantuan buat ndeketin Krisna…”jawabku berat, masih memikirkan ucapan Ardhi tadi

“Ha?? Aneh bener! Tapi asyik juga kalau gitu….gue bakal koalisi ma Ardhi… santai aja lu Ni….” Ujar Riris sambil tersenyum jahil. Membuatku semakin memutar otak, memikirkan rencana kedua sobatku ini.

* * * * *

Hari baru setelah liburan akan dimulai hari ini. Tapi aku merasa enggan berangkat ke sekolah. Segala macam pikiran masih berkecamuk di otakku dan segala macam perasaan masih membuatku meragu.

“Bangun, sayang…sudah siang nih…” bisik Bunda di telingaku

“Pagi Bunda…” jawabku malas dan manja pada satu-satunya orang tercinta yang masih setia di sampingku

“Badan kamu panas, Nia… Sakit?” tanya Bunda khawatir

“Mungkin….”

“Sayang, istirahat ya…bunda buatkan surat ijin dulu, minum obat gih…!”

“Hmmm…” jawabku sambil mencoba tidur lagi

Sementara itu di tengah hiruk pikuk kelas yang tak jauh beda dari tahun ajaran baru…

“Waduh, Nia sakit apa? Perasaan kemarin sehat bugar deh, Ris…?” tanya Ardhi ke Riris

“Tak tahu lah….emangnya aku dokternya? Hayo….lu apain kemaren?”

“Aku tolak sih cintanya…”jawab Ardhi asal yang disambut pelototan Riris

Namun sejurus kemudian mereka sudah serius membicarakan rencana penyatuan Krisna dan Nia.

* * * * *

Bel pulang pun berbunyi. Mulai dari koridor hingga jalan menuju gerbang sekolah pun penuh dengan lautan siswa yang ingin segera sampai di rumah. Termasuk Riris, tidak untuk Krisna. Hatinya penuh tanda tanya kemana wanita yang diam-diam juga Ia harapkan untuk mengisi relung hatinya. Wanita yang seringkali bertabrakan dengannya, yang tanpa sengaja karena itu pulalah rasa diantara mereka bersemi.

“Ris, Nia sakit apa?” buru Krisna pada Riris

“Wah maaf ya, Kris, aku bukan dokternya…”

“Iya, tahu…tapi kan kamu sobatnya…mungkin saja kamu tahu…”

“Wah enggak tuh…ada apa nih kok jadi perhatian gitu ma Nia…?” selidik Riris

Nggak…nggak ada apa-apa…Cuma nanya…makasih, Ris…bye…” memerah muka Krisna

“Hei…nggak mau nelpon dia? Mungkin aja demi mendengar suaramu dia bisa cepat sembuh…” teriak Riris semangat

Krisna seolah tak mendengar teriakan itu. Tentu, Ia malu rasa hatinya akan terbongkar. Tapi segera setelah saran dari Riris terlontar Ia mencari tahu nomor telepon wanita pujaannya itu, tentu bukan dari Riris pun Ardhi.

* * * * *

Kriiiiiingggggg

“Siapa juga telpon siang-siang gini? Pasti Riris deh….!”sungutku sambil beranjak malas dari tempat tidur

“Halo…ada apa, Ris….?”

“Nia….ini Krisna…”

“Oh…Kris…na…maaf…tumben banget telpon, kirain Riris…Ada apa, Kris?”tanyaku dengan dada berdebar

“Kamu sakit apa? Tadi kok nggak masuk?”

“Eng….nggak apa-apa kok, hanya tak enak badan… Ah, besok juga sudah masuk”

“Cepet sembuh ya…..Eh, besok pulang sekolah bisa ngomong bentar?”

“Ya…aku usahain deh..”

“Sampai jumpa…” pamit Krisna

Ya….Tuhan…mimpi apa aku? Krisna nelpon terus ngajakin ketemu??!! Duh…senengnya…

* * * * *

“Riris………!!!!” teriakku girang demi melihat Riris melenggang masuk kelas

“Ya ampun…Nia…seneng banget sih ketemu aku, sudah kangen ya??”

“Huwe….thanks ya, Ris, sudah buat Krisna nelpon aku…ngajakin ketemu malah…” ucapku berseri

“Ha? Ya syukur deh kalau sudah ada kemajuan….Berarti kalian sudah bisa gerak sendiri…”

“Jadi…bukan kamu yang nyuruh dia nelpon aku?” tanyaku heran

“No…no…” jawab Riris sambil menggeleng lucu

Akhirnya kami terlibat dalam obrolan seru tentang Krisna, penuh dengan angan dan suka cita hingga teriakan Ardhi membuat kami berhenti.

“Ni, ada kabar buruk buat kamu……Kris…na…ke..ce..la…ka…an kemarin….” ujar Ardhi terbata

“Apa…??” tanyaku dan sekejap kemudian aku sudah tak sadarkan diri

Dalam benakku seketika itu aku melihat Krisna berbaju putih, tersenyum padaku dan pergi…..bersama eyang…..kemudian tanpa sadar air mataku menetes dan aku terbangun oleh bisikan lembut Riris di telingaku. Dan ketika aku membuka mata, aku sudah berada di tempat berbeda. Aku pun menangis sejadinya. Riris dan Ardhi menghiburku, menenangkanku.

“Ris…. Bagaimana keadaan Krisna?” tanyaku setelah aku bisa menguasai emosiku

“Dia…..ada di RS, nanti pulang sekolah kita jenguk dia, oke?”hibur Riris

“Hmmm…” jawabku dengan anggukan

Padahal aku ingin ke RS sekarang, berada di sisinya. Ingin aku mengingatkan janjinya untuk bertemu nanti selepas sekolah. Tentunya dalam suasana yang menyenangkan, tidak di RS seperti yang akan terjadi nanti.

* * * * *

Selama menunggu bel pulang berbunyi aku tak bisa tenang, pikiranku melayang ke mana-mana….. Ya Tuhan… Bagaimana keadaan Krisna……? Tak sadar aku menangis sesenggukan dan membuatku pingsan lagi……

“Ris….aku kenapa lagi?” tanyaku lemah setelah tersadar kembali

“Sayang, kamu pingsan lagi setelah menangis histeris, ada apa? khawatir sama Krisna?”

“Khawatir iya…tapi ada yang lebih dahsyat dari itu……..”

“Apa maksudmu?” tanya Riris dengan penuh rasa khawatir, Ia tahu benar apa yang ada dalam benakku

“Aku telah dapat firasat dari Tuhan… Ris, aku ngerasa Tuhan akan ambil Krisna….” ucapku nanar

“SSStttt…. jangan ngomong gitu ah, yuk kita doakan semoga Krisna lekas baik…” hibur Riris

“Tentu, tapi….” sangsiku

Riris tak mau mendengarkan kesangsianku dan memilih menyudahi obrolan kami dan segera pamit ke kelas untuk bersiap pergi karena bel pulang tak terasa telah berbunyi.

Ardhi datang mendampingi Riris dengan tampang yang tak jauh lebih kusut dariku. Kami pun pergi dengan mobil Ardhi. Dalam perjalanan tak ada satu pun dari kami yang angkat bicara. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Episode masa laluku satu per satu bermain dalam angan. Kepergian ayah meninggalkan aku dan Bunda dengan penuh amarah, kematian eyang, kematian Raka adikku, pengkhianatan sahabatku Firza yang kawin lari dengan kekasihku Robby, dan Krisna….? Aku bahkan tak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk yang akan menimpanya. Tuhan, tak bolehkah sejenak saja aku merasa bahagia?

* * * * *

Krisna terbujur lemah di ranjangnya ditemani Ardhi. Akupun menangis sesenggukan demi melihat keadaannya yang tak berdaya itu….

“Dhi, gimana sih kejadian sebenarnya?” tanyaku

“Kejadian ini sore hari, sepulangnya dari rumahku. Dia mungkin belum menguasai mobil barunya itu…….hingga ada truk melintas dia gasak aja…Setelah mendapat kabar aku langsung ke RS. Maaf ya, Ni, aku tak segera memberitahumu sebab dia tak ingin kamu khawatir”

Terdiam aku sesaat dan kuberanikan diri mendekati Krisna…..

“Kris, ini aku…A..ku sudah menepati janjiku…menemuimu…sepulang sekolah…” kucoba bicara, walau terbata. Tak kuasa aku menahan air mataku……Ardhi dan Riris memegang pundakku sesaat, menguatkanku dan meninggalkanku……

“Kris….kenapa malah kau yang ingkar janji? Krisna….bangun……..” pintaku menghiba

“Ni……..” tiba-tiba Krisna bergumam, “Ni……..aku……dimana? Apa yang terjadi padaku?” tanyanya sungguh lemah

“Di rumah sakit……. Ka…kamu kecelakaan, tapi yakinlah kamu akan baik saja”

“Hhh……”desahnya kesakitan

“Sudahlah, kau istirahat dulu….” nasehatku yang serta merta dia abaikan

“Ni……a..ku….sa…yang ka..mu…..” ucapnya susah payah sembari menggenggam erat tanganku. Aku tersenyum padanya dan membalas genggamnya. Lambat laun kusadari genggamnya semakin longgar dan sedetik kemudian kuyakini ia telah pergi…….untuk selamanya……………

Bahkan aku belum sempat mengatakan padanya kalau aku juga sangat menyayanginya…..

* * * * *

Previous Older Entries