Sakaratul Maut…
19 Nov 2011 Leave a Comment
in religi
Pernahkah pembaca semua mendampingi orang yang sakaratul maut (detik-detik kematian, red)? Atau sekedar tahu tentang sakaratul maut? Atau malah mengalami sakaratul maut..? (uppz ngga mungkin lah ya…. hehe…). Kabarnya, sakaratul maut merupakan detik-detik yang menengangkan lagi menyakitkan lho… Percaya atau tidak percaya….
Tidak hanya sekali aku dalam profesiku mendampingi sakaratul maut, awalnya takut dan enggan, tapi tanggung jawab profesi harus berada di samping mereka yang hendak “pergi” atau dalam bahasa awamnya sekarat. Sepertinya pun artikel seperti ini sudah sering ditulis oleh teman-teman sejawat lain di blog-nya karena hal ini memang cukup menarik dan sedikit kontroversial dari sisi medis dan agama. Dan akupun ingin sekali menuliskannya. Aku yakin, tiap dokter akan berpandangan yang berbeda tentang proses sakaratul maut ini. Ada yang mengejar nyawa itu tetap ada dengan menggunakan obat-obatan semisal dopamin untuk mengembalikan perfusi, pasang ventilator, dan lainnya. Ada pula yang berusaha memudahkan proses “pergi”nya dengan menuntun mengingat asma Allah (talqin, red). Ada pula yang cuek bebek, aah biarkan saja. Semua kembali ke diri masing-masing. Toh, hidup mati seseorang bukan di tangan dokter, tetapi di tangan Allah SWT. Apa salahnya jika mengkombinasikan pandangan pertama dan kedua, berusaha menolong yang bisa ditolong dan menuntun supaya semua lebih mudah, mudah untuk sembuh dan terlebih lagi mudah jika benar akan pergi meninggalkan dunia.
Sebelumnya, aku sangat ragu dengan pasien yang nafasnya satu-satu, ia seperti tercekik dan bahunya bergerak naik turun, matanya membuka dan mulutnya menganga. Tidak hanya sekali pula aku perjuangkan dengan dopamin dan oksigenasi dan nyatanya nihil. Dan dari situ aku belajar tentang arti “nafas di kerongkongan….” – baca lebih lanjut di bawah –
Baiklah, kita awali dari hukum yang pasti yaitu bahwa kematian akan menghampiri semua manusia dan proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik yang disebut sakaratul maut. Dulu, aku pernah mendengar cerita bahwa proses ini malah sudah dimulai sejak H-40… malaikat pencabut nyawa sudah selalu mendampingi “sang tercabut”. Kemudian aku berfikir apakah benar visualisasi bayangan hitam yang bisa dilihat para pemilik indra ke-enam mengikuti di belakang target?? Sehingga kadangkala firasat atau feeling dari dirinya sendiri atau orang terdekat tentang kematiannya sudah bisa terbaca. Misalkan, tiba-tiba pamit, tiba-tiba nulis wasiat, tiba-tiba perilaku berubah, dll. Wallahua’lam.
Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya” Ayat yang menjelaskan tentang proses sakaratul maut adalah demikian, “Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”. [Al Qiyamah: 26-30]
Tafsirnya…. Syaikh Sa’di menjelaskan: “Allah mengingatkan para hamba-Nya dengan keadan orang yang akan tercabut nyawanya, bahwa ketika ruh sampai pada taraqi yaitu tulang-tulang yang meliputi ujung leher (kerongkongan), maka pada saat itulah penderitaan mulai berat, (ia) mencari segala sarana yang dianggap menyebabkan kesembuhan atau kenyamanan. Karena itu Allah berfiman: “Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang akan menyembuhkan?” artinya siapa yang akan meruqyahnya dari kata ruqyah. Pasalnya, mereka telah kehilangan segala terapi umum yang mereka pikirkan, sehingga mereka bergantung sekali pada terapi ilahi. Namun qada dan qadar jika datang dan tiba, maka tidak dapat ditolak. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan dunia. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), maksudnya kesengsaraan jadi satu dan berkumpul. Urusan menjadi berbahaya, penderitaan semakin sulit, nyawa diharapkan keluar dari badan yang telah ia huni dan masih bersamanya. Maka dihalau menuju Allah Ta’ala untuk dibalasi amalannya, dan mengakui perbuatannya. Peringatan yang Allah sebutkan ini akan dapat mendorong hati-hati untuk bergegas menuju keselamatannya, dan menahannya dari perkara yang menjadi kebinasaannya. Tetapi, orang yang menantang, orang yang tidak mendapat manfaat dari ayat-ayat, senantiasa berbuat sesat dan kekufuran dan penentangan”. Dan penderitaan yang terjadi selama pencabutan nyawa akan dialami setiap makhluk. Dalil penguatnya, keumuman firman Allah: “Setiap jiwa akan merasakan mati”. (Ali ‘Imran: 185). Dan sabda Nabi: “Sesungguhnya kematian ada kepedihannya”. Namun tingkat kepedihan setiap orang berbeda-beda.
Orang yang beriman, ruhnya akan lepas dengan mudah dan ringan. Malaikat yang mendatangi orang yang beriman untuk mengambil nyawanya dengan kesan yang baik lagi menggembirakan. Dalilnya, hadits Al Bara` bin ‘Azib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang proses kematian seorang mukmin: “Seorang hamba mukmin, jika telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat akan mendatanginya dari langit, dengan wajah yang putih. Rona muka mereka layaknya sinar matahari. Mereka membawa kafan dari syurga, serta hanuth (wewangian) dari syurga. Mereka duduk di sampingnya sejauh mata memandang. Berikutnya, malaikat maut hadir dan duduk di dekat kepalanya sembari berkata: “Wahai jiwa yang baik –dalam riwayat- jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaannya”. Ruhnya keluar bagaikan aliran cucuran air dari mulut kantong kulit. Setelah keluar ruhnya, maka setiap malaikat maut mengambilnya. Jika telah diambil, para malaikat lainnya tidak membiarkannya di tangannya (malaikat maut) sejenak saja, untuk mereka ambil dan diletakkan di kafan dan hanuth tadi. Dari jenazah, semerbak aroma misk terwangi yang ada di bumi..”[al hadits].
Malaikat memberi kabar gembira kepada insan mukmin dengan ampunan dengan ridla Allah untuknya. Secara tegas dalam kitab-Nya, Allah menyatakan bahwa para malaikat menghampiri orang-orang yang beriman, dengan mengatakan janganlah takut dan sedih serta membawa berita gembira tentang syurga. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Allah kemudian mereka beristiqomah, maka para malaikat turun kepada mereka (sembari berkata):” Janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Fushshilat: 30]
Tafsirnya… Ibnu Katsir mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas dalam amalannya untuk Allah semata dan mengamalkan ketaatan-Nya berdasarkan syariat Allah niscaya para malaikat akan menghampiri mereka tatkala kematian menyongsong mereka dengan berkata “janganlah kalian takut atas amalan yang kalian persembahkan untuk akhirat dan jangan bersedih atas perkara dunia yang akan kalian tinggalkan, baik itu anak, istri, harta atau agama sebab kami akan mewakili kalian dalam perkara itu. Mereka (para malaikat) memberi kabar gembira berupa sirnanya kejelekan dan turunnya kebaikan”. Kemudian Ibnu Katsir menukil perkataan Zaid bin Aslam: “Kabar gembira akan terjadi pada saat kematian, di alam kubur, dan pada hari Kebangkitan”. Dan mengomentarinya dengan: “Tafsiran ini menghimpun seluruh tafsiran, sebuah tafsiran yang bagus sekali dan memang demikian kenyataannya”. Firman-Nya: “Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat maksudnya para malaikat berkata kepada orang-orang beriman ketika akan tercabut nyawanya, kami adalah kawan-kawan kalian di dunia, dengan meluruskan, memberi kemudahan dan menjaga kalian atas perintah Allah, demikian juga kami bersama kalian di akhirat, dengan menenangkan keterasinganmu di alam kubur, di tiupan sangkakala dan kami akan mengamankan kalian pada hari Kebangkitan, Penghimpunan, kami akan membalasi kalian dengan shirathal mustaqim dan mengantarkan kalian menuju kenikmatan syurga”.
Dalam ayat lain, Allah mengabarkan kondisi kematian orang mukmin dalam keadaan baik dengan firman-Nya: “(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum (keselamatan sejahtera bagimu)”, masuklah ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. [An Nahl: 32]
Tafsirnya….. Syaikh Asy Syinqithi mengatakan: “Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa orang yang bertakwa, yang melaksanakan perintah Rabb mereka dan menjauhi larangan-Nya akan diwafatkan para malaikat yaitu dengan mencabut nyawa-nyawa mereka dalam keadaan thayyibin (baik), yakni bersih dari syirik dan maksiat, (ini) menurut tafsiran yang paling shahih, (juga) memberi kabar gembira berupa syurga dan menyambangi mereka mereka dengan salam… Kondisi umum proses pencabutan nyawa seorang mukmin mudah lagi ringan. Namun kadang-kadang derita sakarul maut juga mendera sebagian orang sholeh. Tujuannya untuk menghapus dosa-dosa dan juga mengangkat kedudukannya. Sebagaimana yang dialami Rasulullah. Beliau Shallallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan pedihnya sakaratul maut . Ibnu Hajar mengatakan: “Dalam hadits tersebut, kesengsaran (dalam) sakaratul maut bukan petunjuk atas kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman bisa untuk menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya” Menurut Al Qurthubi dahsyatnya kematian dan sakaratul maut yang menimpa para nabi, maka mengandung manfaat :
Pertama : Supaya orang-orang mengetahui kadar sakitnya kematian dan ia (sakaratul maut) tidak kasat mata. Kadang ada seseorang melihat orang lain yang akan meninggal. Tidak ada gerakan atau keguncangan. Terlihat ruh keluar dengan mudah. Sehingga ia berfikir, perkara ini (sakaratul maut) ringan. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi pada mayat (sebenarnya). Tatkala para nabi, mengabarkan tentang dahsyatnya penderitaan dalam kematian, kendati mereka mulia di sisi Allah, dan kemudahannya untuk sebagian mereka, maka orang akan yakin dengan kepedihan kematian yang akan ia rasakan dan dihadapi mayit secara mutlak, berdasarkan kabar dari para nabi yang jujur kecuali orang yang mati syahid.
Kedua : Mungkin akan terbetik di benak sebagian orang, mereka adalah para kekasih Allah dan para nabi dan rasul-Nya, mengapa mengalami kesengsaraan yang berat ini?. Padahal Allah mampu meringankannya bagi mereka?. Jawabnya, bahwa orang yang paling berat ujiannya di dunia adalah para nabi kemudian orang yang menyerupai mereka dan orang yang semakin mirip dengan mereka seperti dikatakan Nabi kita. Hadits ini dikeluarkan Bukhari dan lainnya. Allah ingin menguji mereka untuk melengkapi keutamaan dan peningkatan derajat mereka di sisi-Nya. Ini bukan sebuah aib bagi mereka juga bukan bentuk siksaan. Allah menginginkan menutup hidup mereka dengan penderitaan ini meski mampu meringankan dan mengurangi (kadar penderitaan) mereka dengan tujuan mengangkat kedudukan mereka dan memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal. Tapi bukan berarti Allah mempersulit proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang bermaksiat. Sebab (kepedihan) ini adalah hukuman bagi mereka dan sanksi untuk kejahatan mereka. Maka tidak bisa disamakan”.
Sedangkan orang kafir, maka ruhnya akan keluar dengan susah payah, ia tersiksa dengannya. Nabi menceritakan kondisi sakaratul maut orang kafir atau orang yang jahat dengan sabdanya: “Sesungguhnya hamba yang kafir -dalam riwayat lain- yang jahat jika akan telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat-malaikat yang kasar akan dari langit dengan wajah yang buruk dengan membawa dari neraka. Mereka duduk sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut hadir dan duduk di atas kepalanya dan berkata: “Wahai jiwa yang keji keluarlah engkau menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya”. Maka ia mencabut (ruhnya) layaknya mencabut saffud (penggerek yang) banyak mata besinya dari bulu wol yang basah. Secara ekspilisit, Al Quran telah menjelaskan bahwa para malaikat akan memberi kabar buruk kepada orang kafir dengan siksa. Allah berfirman: ” “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat mumukul dengan tangannya, (Sambil berkata): “Keluarkan nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya”. [Al An'am: 93]
Tafsirnya…. Maksudnya, para malaikat membentangkan tangan-tangannya untuk memukuli dan menyiksa sampai nyawa mereka keluar dari badan. Karena itu, para malaikat mengatakan: “Keluarkan nyawamu”. Pasalnya, orang kafir yang sudah datang ajalnya, malaikat akan memberi kabar buruk kepadanya yang berbentuk azab, siksa, belenggu, dan rantai, neraka jahim, air mendidih dan kemurkaan Ar Rahman (Allah). Maka nyawanya bercerai-berai dalam jasadnya, tidak mau taat dan enggan untuk keluar. Para malaikat memukulimya supaya nyawanya keluar dari tubuhnya. Seketika itu, malaikat mengatakan: “Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya”.. artinya pada hari ini, kalian akan dihinakan dengan penghinaan yang tidak terukur karena mendustakan Allah dan (lantaran) kecongkakan kalian dalam mengikuti ayat-ayat-Nya dan tunduk kepaada para rasul-Nya. Saat detik-detik kematian datang, orang kafir minta dikembalikan agar bisa masuk Islam. Sedangkan orang yang jahat mohon dikembalikan ke dunia untuk bertaubat, dan beramal sholeh. Namun sudah tentu, permintaan permohonan mereka tidak akan terkabulkan. Allah berfirman: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Rabbi kembalikan aku ke dunia. Agar aku berbuat amal sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. [Al Mukminun: 99-100]
[Informasi diambil dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VIII/1426H/2005]
***
Bagaimana pembaca sekalian? Semoga bacaan ini memberikan pelajaran yang berharga bagi kita. Setiap orang yang teledor di dunia ini, baik dengan kekufuran maupun perbuatan maksiat lainnya akan dilanda gulungan penyesalan, dan akan meminta dikembalikan ke dunia meski sejenak saja, untuk menjadi orang yang insan muslim yang sholeh. Namun kesempatan untuk itu sudah hilang, tidak mungkin disusul lagi. Jadi, persiapan harus dilakukan sejak dini dengan tetap memohon agar kita semua diwafatkan dalam keadaan memegang agama Allah. Marilah selalu bertaubat dan istiqomah. Allahumma ainni dzikrika wasyukrika wa husni ibadatika. Amiiin. Wallahu a’lamu bishshawab.
The Last Afternoon….
28 Oct 2011 Leave a Comment
Sore yang cerah, angin sepoi-sepoi membelai lembut wajahku… Sembari menunggu seluruh anggota Persit batalyon tempat suamiku ditugaskan selesai bermain volly pulang ke rumah masing-masing, aku duduk menemani ibu ketua cabang, istri komandan batalyon. Beliau yang memulai pembicaraan, sepertinya tahu bahwa aku masih kaku dan kikuk untuk berucap dan beramah tamah. Terhitung baru hari ke-6 aku mengikuti kegiatan Persit yang cukup padat di sini, sejatinya sesuai rencana adalah 12 hari karena perubahan jadwal mendadak dari kerja suami, aku harus turut serta dan sekalian pulang. Pulang? Iya… Aku masih tinggal berjauhan dengan suami akibat kontrak kerja yang sudah kutandatangani. Sedih rasanya, tapi aku harus kuat..
***
Meskipun terhitung dari tanggal 15 Juni 2011, saat surat izin menikah alias SIM yang dikeluarkan oleh DanRem Lilawangsa Lhokseumawe maka saat itu pula aku diizinkan masuk menjadi anggota Persit Kartika Chandra Kirana dengan segala tugas dan tanggungjawabnya, namun aku belum sepenuhnya bisa melaksanakan.
Aku harap, organisasi besar ini mampu menjadi pengayom anggotanya, istri-istri tentara, yang notabene ‘merana’. Kekeluargaan yang dijadikan asas utama semoga mampu membuat seluruh anggotanya merasakan hikmah kekeluargaan itu, menjadikan hubungan kakak-adik dan ibu-anak yang menenteramkan, membuat nyaman untuk bergerak bersama, bersatu demi kemajuan bersama bukan mengedepankan junior-senior yang lebih merujuk pada feodalisme, bukan mengada-ada namun benar-benar menjunjung tinggi etika ketimuran. Masalah etika seperti halnya etika profesi kedokteran yang masuk dalam Kodeki (kode etik kedokteran Indonesia) mengatur hubungan person to person dalam suatu organisasi, sifatnya tertulis dan hukuman minimalnya teguran demi perbaikan. Hal ini absurd karena penetapannya selalu mengalami evaluasi dan revisi. Kode etik organisasi ini aku belum tahu dengan jelas, masih meraba-raba dan berusaha menerima hal yang asing dalam keseharianku. Ya, belajar dan belajar, adaptasi terhadap segala aturan baru yang ternyata tidak mutlak, tidak tertulis tapi harus dipahami semua anggota. Hukumannya sanksi sosial. Aku dan segala idealismeku berharap semoga semuanya bisa lebih baik lagi. Ya… Semoga…
“Selalu biasakan yang benar, jangan membenarkan yang biasa….”
***
Tak terasa, kegiatan volly sore ini, menjadi kegiatan terakhir yang kuikuti selama kunjungan triwulan pertama.
“Lama-lama juga bisa, Dek, main volly…” ucap bu ketua dengan senyum ramah dan menenangkan setelah melihatku main volly bersama tim yang baru saja kukenal dan tiada bola yang berhasil kukembalikan… Yaah maklum, pengalaman pertama…
“siap, Bu…” ucapku masih malu dan ragu
“di sini banyak belajar ya, Dek…. Belajar ngomong juga… Nggak gampang lho ngomong ke anggota, banyak yang tidak mengerti juga… Mereka bukan tentara yang benar-benar bisa “siap”, kita harus bisa mengarahkan mereka… Kegiatan kita ya seperti ini saja (senam, volly, tennis, di samping rapat-rapat Persit beserta kegiatan rutin lainnya) fungsinya ya sebenarnya cuma satu, agar kita bisa berbaur… Saling berbagi…,” aku hanya bisa mendengarkan dengam seksama dan merekamnya dalam hati…
“besok jadi berangkat jam berapa..?” kembali ucap beliau penuh perhatian…
“insyaAllah selepas Dhuhur, Ibu…”
“ya.. Sampai bertemu lagi suatu saat nanti, rencana kapan lagi ke sini…?” masih dengan perhatian yang penuh,
“izin Ibu, rencana tiap 3 bulan, tapi nanti menyesuaikan…” masih… Kujawab dengan patah-patah dan terbata… Dan sepertinya beliau merasakan auraku…
“orang baru itu ya kegiatannya hanya mengamati, belajar… Bersosialisasi dan berorganisasi..” tutup beliau kemudian memanggil istri perwira yang lain untuk berkumpul dan membahas kegiatan-kegiatan esok hari.
Rasanya, ingin terus di sini bersama mereka dan tentunya bersama suamiku tercinta…
Hari mulai semakin gelap, matahari sudah terbenam hampir seluruh, adzan Maghrib akan segera berkumandang, setelah pamit pada semua dan janji akan kesini lagi, khusus pada ibu ketua janji untuk membelikan krupuk upil (krupuk khas yang digoreng dengan pasir) akupun melangkahkan kaki pulang ke rumah dinas yang akan kusinggahi terakhir kali pada kesempatan ini. Segera masak makan malam dengan persediaan bahan masak penghabisan dan menyantapnya habis berdua… Aah tidak, bertiga dengan kucing kelaparan…
**eN**
ToUr dE bAL!
27 Sep 2011 Leave a Comment
Tidak ada rencana jauh hari sebelumnya… Kurang dari 1 bulan rencana berangkat, baru diajak mertua. Ini acara piknik semacam perpisahan karena sudah pensiun bersama anggota 1 kantor. Dan, tidak seperti biasanya aku menyambut antusias. Belum pernah menginjakkan kaki ke pulau dewata ini. Semacam impian yang terwujud…
Empat hari perjalanan dijadwalkan. Berangkat pukul 3 sore awal bulan, sedangkan pagi sampai siang tidak istirahat ada acara halal bihalal di rumah mertua, sibuk masak dari pagi dan menemui tamu.
Sepanjang perjalanan, berhenti dari pom ke pom… Buang air kecil bersama-sama (ups bukan bersama dalam satu toilet tapi hasratnya barengan..:-D)…. Atau sholat… Jadi tahu fasilitas masing-masing pom… Malah ada pom yang memenangkan golden award di daerah Grati…. Tersedia toilet harga 1000 sampai 5000 (toilet vip bo… Ada air panasnya…), ada restaurant, rest area, dan penginapan lengkap dengan fasilitas lahan parkir luas. Ckckck…
Sayang sekali aku melewatkan pemandangan kerlip lampu yang dikatakan indah di Paiton karena keasikan tidur. Heum…. Semoga waktu pulang bisa terjaga…
Pukul 02.45 sampai pelabuhan Ketapang, penyeberangan perdanaku ke pulau dewata dimulai… Antusias, aku naik ke deck paling atas yang bisa dinaiki, di deck nahkoda kapal. Angin dingin berhembus dan membuatku menggigil, ditemani adik iparku menikmati laut di malam hari lengkap dengan dinginnya angin laut dan hawa malam.
Pukul 04.00 kapal ferry merapat dan kami bersegera kembali ke bus. Bus yang mengangkut kami pun bergerak turun, tidak bisa tidur sepanjang perjalanan, menikmati suasana Bali yang asing. Keluar dari gerbang pelabuhan ada pemeriksaan KTP, seharusnya diperiksa KTP per orang tetapi dengan lobi perwakilan kami bisa keluar dengan mudah. Perjalanan berlanjut, di setiap rumah ada pura kecil tempat sembahyang dan anjing-anjing berkeliaran. Hemm.. Belum lagi kera-kera bertebaran mencari mangsa di tepian hutan.
Perjalanan pertama ke pantai Lovina, awalnya mau menikmati sunrise disana, tapi sayang jam 7 WIB baru sampai, sedangkan di Bali sudah jam 8 WITA. Walhasil hanya sarapan, mandi, dan foto-foto saja. Pantai yang termasuk dalam deretan pantai utara dengan pasir putih ini cukup sepi dan tenang.
Banyak kapal nelayan berlabuh di tepian, dan tidak lupa banyak anjing-anjing kudisan berjalan malas mencari makan.
Kami sarapan di bawah rimbunnya pohon kelapa, memakan bekal dari rumah yang pastinya sudah dipersiapkan. Tidak ketinggalan sambel pecel yang belum dihancurkan. Hemm… Apapun nikmat rasanya kalau dimakan bersama-sama saat kelaparan dan sedang menikmati pemandangan alam. Subhanallah…
Selesai sarapan, ada kejadian aneh. Seorang dari rombongan kami sedang dipijat oleh penduduk lokal, seharusnya paket yang pemijat tawarkan 15 menit saja. Berbekal minyak zaitun, kacamata hitam, dan alat pijat dari kayu serupa cerutu ia beraksi. Ditambah ngobrol sana ngobrol sini, bercerita bahwa ia tidak punya saudara dan yatim piatu, kasian juga ya… Gurauan-gurauan yang diharapkan bisa menyemarakkan suasana pun terlontar. Tak terasa hampir satu jam, si pemijat pamit, saat akan diberi uang ia terjatuh dan seolah kejang. Semua mata tertuju padaku seakan bertanya meminta penjelasan. Lhoooh… Blank mode.on…. Ini orang kenapa ya (kata batinku), beberapa menanyakan apakah ayan dan apakah harus ditolong? Saat itu kujawab biarkan saja, ia tidak kejang dan sepertinya bukan ayan. Aku malah mengiyakan pendapat bahwa si pemijat ini terkena imbas ilmu hitam yang ia pelajari dan ia tidak kuat (OMG….. Helloo Ayu…. ~~”). Sekarang baru aku sadar orang itu memang ayan… Serangan yang bernama tonic-clonic seizure DDx complex partial seizure (merujuk pada mulut komat-kamitnya dan bingung post kejadian…)
setelah kejadian itu kami beringsut membereskan perbekalan dan tikar tempat duduk. Saatnya meneruskan perjalanan ke Bedugul, sebuah dataran tinggi, jadi ingat Dieng-Wonosobo… Hawa dingin namun hangat matahari mewarnai siang itu. Hemm… Tidak menikmati liku-liku perjalanan karena tidur pulas. Bangun-bangun sudah hampir sampai. Melihat banyak yang muntah-muntah bisa dipastikan jalanan sungguh mengocok perut. Alhamdulillah aku tertidur jadi nggak ikut mabuk.
Bedugul, danau dengan pura-pura di tepinya. Sempat melihat para warga desa yang sedang sembahyang dalam Pura terdekat dengan danau. Entah itu kenapa banyak pura yang pastinya lengkap dengan sarung kotak hitam putih. Ada yang berkomentar, bebatuan di Bali itu punya malu, semua pakai sarung. He he he…
Setelah puas foto-foto dan menikmati pemandangan nan elok, kami beranjak pergi, sebelumnya mencari makan dulu. Alhamdulillah di depan lokasi ada warung muslim yang menjual masakan khas Jawa-Lombok. Cukup banyak pengunjungnya, semua dipastikan dari Jawa.
Perjalanan dilanjutkan, sejatinya mau ke alas Kedaton, tapi karena petunjuk jalannya tidak jelas tidak jadi deh. Turun ke Denpasar, mencari penginapan.
Setelah bersih diri dan istirahat sejenak, kami makan malam dan foto-foto di lingkungan hotel. Lagi-lagi, banyak pura, dan di sini bahkan ada bangunan megah, hanya untuk menyimpan abu pembakaran pemilik hotel dan terpajang foto keduanya. Sungguh, banyak lahan yang sayang sekali terbuang untuk tempat-tempat seperti ini. Yah, kita hormati saja.
Pulang ke hotel, diajak pergi lagi bersama rombongan kecil melihat lokasi bom Bali 1 di Legian. Jalanan kecil padat kendaraan. Itulah kotanya Bali. Pusat hedonisme di Bali. Sepanjang jalan bernama Legian ini, banyak toko-toko serupa boutique menjual produk kelas internasional seperi rip curl, roxy, planet surf dan lain-lain, tiap brand mendirikan satu toko, jalan terus ada deretan cafe, bar, lounge, pub, menawarkan produk-produk haram dan mayoritas pengunjung adalah WNA. Hemm… Seperti berada tidak di Indonesia. Sampailah di depan lokasi bom Bali 1, di depannya banyak yang sedang menikmati beer, menari-nari dalam mabuknya. Astaghfirullah, pantas saja ada yang gemas meledakkan bom di sini. Ini seperti bukan Indonesia… Jalan terus ke pantai Kuta, di depannya ada hard rock cafe yang mentereng dengan gitar raksasa andalannya, tidak tertarik, aku lebih tertarik pada Pizza Hut di sebelahnya. Belum sempat mampir, hanya sempat ambil foto dan kamipun masuk ke pantai Kuta yang konon katanya indah di malam hari…. Singgghhh biasa saja, rasi bintang bahkan tertutup awan, banyak pengunjung berdua-duaan di bibir pantai. Huaah… Rasanya ingin segera kembali ke hotel dan tidur saja… Alhasil, sepanjang perjalanan pulang ke hotel aku terlelap. Huwee jadi tidak melihat Denpasar di malam hari (aah biarlah, paling juga gitu-gitu aja…).
Hari telah berganti, masih lelah badan ini tapi semangat untuk melanjutkan perjalanan membakar motivasi bangkit dari tempat tidur meski pilek sudah menyerang dan menstruasi beserta dismenore melanda. Minum obat deh… Semoga cepat teratasi dan bisa menikmati perjalanan.
Etape pertama, belanja di pasar sukawati. Hemm… Ditraktir serba-serbi daster untuk honeymoon kedua sama suami bulan depan… Hwaahwaa…
Etape kedua, naik gunung ke uluwatu… Semacam kaliurang di Jogja, tapi entah kenapa hutan ini gersang (ya iyalah kemarau…), banyak monyet nggak sopan tapi pinter lho.. Masak cuma mau makan makanan enak, dikasi kacang udah nggak mau dia, kita coba cicip kacang yang dijual di sana notabene “untuk ngasi makan monyet” seharga 5000 (kalau di Jawa kena tuh 500 perak), melempem… Mana iya manusia ngga mau dikasi ke monyet? Ya ngga mau juga lah… (tuuh gaya banget kan si monyet), terus masalah kacamata nih, sudah diberi peringatan ngga boleh pakai kacamata, masih juga ada yang nekat pakai. Bisa ditebak, kacamatanya diambil, dipatah-patahin. Dengan menyesal si pemilik menyatakan harga. Sejuta.
Etape ketiga, pantai sanur. Pantai nan panas dan gersang. Asyiknya di sini naik perahu boat ke pulau terdekat, tapi karena ombak lagi tinggi nggak jadi deh. Walhasil hanya menikmati degan di rimbunnya pohon seharga 8000 rupiah saja. Sebelumnya menyisir pantai mencari kerang yang bisa membentuk namaku dan suami. (Hemm… Jadi kado ultah suamiku ah…
)
Etape keempat, belanja ke Joger, toko kaos pabrik kata-kata nan terkenal itu. Serupa pasar, berdesak-desakan dan semrawut. Produk ini sepertinya serupa Dagadu di Jogja. Puas belanja, terjebak kemacetan lalu lintas Denpasar akhir pekan. Akhirnya, sampai di hotel sudah cukup malam, jam 21.00 WITA. Lelah, tidur pulas untuk menyambut perjalanan terakhir esok pagi dan langsung pulang. Rencananya, belanja di pusat oleh-oleh Bali, museum perjuangan Bali serupa monumen jogja kembali di jogjakarta, lanjut ke Sangeh, Kuta dan terakhir ke tanah lot, tapi karena waktu terlalu singkat akhirnya hanya ke pusat oleh-oleh, museum, dan tanah lot. Hemm… Dipikir-pikir perjalanan kali ini didominasi sama belanja-belanji ibu-ibu… Hohoo… (menghabiskan uang.com).
Oke, di pusat oleh-oleh, serupa mirota batik di Jogja (walah… Dari kemarin membandingkan dengan Jogja melulu ya… Jogja minded forever, menunjukkan bahwa tiap kota wisata seperti itu ya?) tidak banyak menilik, malah mengincar ke luar, mencari waralaba penjual makanan kecil. Dan tidak ketinggalan foto-foto di lokasi semi etnis dan herannya dominan ke ornamen Jawa.
Selanjutnya, museum perjuangan rakyat Bali yang bangunannya mirip Pura atau semacam kerajaan Bali, namun dalamnya cukup modern. Keunikan bangunan ini memiliki 4 pintu di 4 sisi, di bagian tengahnya ada kolam dengan ikan hias besar-besar lengkap dengan penjual makanan ikan. Kolam ini mengelilingi sebuah tangga ulir menjulang ke atas, ke puncak bangunan berbahan kayu jati kokoh. Barangsiapa sedang menstruasi dilarang naik ke atas. Entah kenapa. Agak mistis mungkin. Padahal menurut yang sudah naik hanya menara, bisa melihat kota Denpasar serupa monas yang bisa digunakan melihat Jakarta dengan hiruk pikuknya. Kemudian di ruang-ruang antara pintu-pintu terdapat museum dan penjual karya seni lukisan. Di salah satu sudut ruang, dengan susunan memutar 2 saf terdapat diorama perjuangan rakyat Bali semenjak jaman Pithecanthropus erectus hingga mengisi kemerdekaan. Bisa ditebak, diorama ini sudah tidak berbunyi, serupa diorama di museum dirgantara ataupun monumen Jogja kembali Jogjakarta. Puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan selama 1,5 jam ke pantai selatan, Tanah Lot. Agak mabuk, aku memilih minum dimenhydrinat dan tidur.
Tanah lot, di sepanjang pintu masuk berdiri banyak toko penjual cindera mata bahkan toko-toko merk terkenal seperti Ralph Lauren dan Crocs. Maklum, pengunjungnya banyak WNA… Dan harga cinderamata pun tertular harga mahal. Ada satu baju yang kutaksir seharga 5O-75ribu ditawarkan dengan harga 300ribu pas 200ribu. MasyaAllah. Dan banyak contoh lainnya.
Puas berfoto-foto di pantai nan indah berombak sedang dengan pulau kecil yang dibangun 2 meter dari bibir pantai, lengkap dengan pura-pura serta balairung di tepian pantai. Sejatinya indah kalau melihat sunset di sini, tapi karena waktu kami harus segera kembali ke Jawa. Menurutku, pantai-pantai selatan di Bali tidak jauh beda dengan pantai selatan gunung kidul Jogja macam Kukup, Krakal, Ngrenehan, Ngobaran, dan lain-lain. Aah… Jogja… Selalu ku merindukannya. Seperti hatiku masih tertinggal di sana dan selalu ada tempat untuk kembali. Love Jogja so much…
Baiklah, perjalanan pulang dimulai dengan sisa-sisa tenaga yang ada ditambah perut sakit karena belum terisi makanan ‘berat’ bertambah perih karena banyak makan makanan kemasan.
Tertidur sampai di pelabuhan. Penyeberangan kali ini cukup ramai, harus rela merogoh kocek lebih biar bisa menyeberang lebih dulu. Alhamdulillah ada bakso+lontong di atas kapal, jadi itulah menu makan soreku. Semoga bisa mengganjal perut hingga esok hari. Nyatanya, demikian adanya, tertidur terus di perjalanan pulang, bangun sebentar karena dibangunkan di Paiton dengan keindahan kerlip lampunya. Subhanallah, ribuan lampu entah fungsinya apa membuat indah pemandangan malam.
Namun, dalam sekejap kemudian aku tertidur kembali hingga sampai rumah kembali. Heum… Belum tuntas juga rasanya, setelah mandi mengangkat selimut menutupi badan membayar sisa lelah sampai tengah hari.
Dan aku tersadar… Kulitku kelihatan sedikit lebih gelap… Tanning nih di Bali… Ckckck… Padahal cuma 3 hari di sana….
-eN-
Shaf dan Sajadah
25 Aug 2011 Leave a Comment
in religi
Entah sudah shalat Jamaah keberapa… Kalau di desa (kadang juga di kota besar…. intinya….pada kebanyakan masjid atau musholla) seringkali begini kasusnya. ..
“Maaf mbak (sesekali, Bu atau Dik), geser sini ya, biar rapat…” ucapku sambil tersenyum,
“Oh… Iya…” geser sedikit…. menepi di ujung sajadah mendekat ke arahku, Alhamdulillah batinku… tetapi ternyata sajadah si mbak/adik/ibu itu terlalu lebar sehingga tetap saja tidak rapat… kalaupun rapat kepadaku tidak kepada jamaah sebelah lainnya…
***
Hukum meluruskan shaf dalam sholat berjamaah
Diantara hal yang menyempurnakan sholat berjamaah adalah lurus dan rapatnya shaff (barisan) karena ia merupakan kewajiban meskipun jika para jamaah tidak memenuhinya atau shaff mereka tidaklah rata maka sholat mereka tetap dikatakan sah, sebagaimana pengingkaran Anas bin Malik terhadap perbuatan penduduk Madinah dalam hal shaff sholat ini. Dari Busyair bin Yasar al Anshori dari Anas bin Malik bahwa dia datang ke Madinah dan dikatakan kepadanya,”Apakah yang engkau ingkari pada kami sejak engkau bersama Rasulullah saw ? dia menjawab,’Aku tidak mengingkari sesuatu kecuali bahwa kalian tidak meratakan shaf-shaf.” (HR. Bukhori)
Bentuk shaf didalam sholat berjamaah seharusnya :
- Mengisi celah-celah dalam shaf, artinya jangan dibiarkan ada bagian dari shaf tersebut yang tidak terisi (kosong)
Dari Nu’man bin Basyar berkata bahwa Nabi saw bersabda,”Ratakanlah shaff (barisan) kalian atau Allah menjadikan berselisih antara wajah kalian.” (HR. Bukhori) - Shaf tersebut haruslah rata tidak belok-belok atau tidak boleh sebagian agak lebih maju atau lebih mundur dari sebagian yang lainnya dan juga harus rapat.
Dari Anas bin Malik berkata,”Iqomat untuk sholat telah dilakukan kemudian Rasulullah saw menghadap kepada kami dengan wajahnya seraya bersabda,”Ratakanlah shaf dan rapatkanlah, sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku.” (HR. Bukhori) - Menempelkan bahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki dalam shaf tersebut.
Dari Anas bin Malik dari Nabi saw berkata,”Luruskanlah shaf-shaf kalian, sesungguhnya aku menyaksikan kalian dari belakang punggungku. Dan salah seorang dari kami menempelkan bahunya kepada bahu temannya dan kakinya kepada kaki temannya.” (HR. Bukhori)
Dari Abil Qosim al Judaliy berkata,”Aku mendengar anNu’man bin Basyir berkata,’Rasulullah saw menghadapkan wajahnya kehadapan manusia dan bersabda,’Luruskanlah shaf-shaf kalian (3X). Demi Allah hendaklah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menjadikan hati kalian berselisih.” Ia (an Nu’man bin Basyir) berkata,’Sungguh aku melihat orang diantara kami menempelkan pundaknya kepada pundak temannya dan mata kakinya kepada mata kaki temannya.”(HR. Abu Daud)
***
Hemm… aku bingung harus bagaimana cara menegurnya… padahal begitu hukumnya…. kadang sajadah “kebesaran” menjadi kambing hitam dari ketidakrapatan shaf…kadang memang tidak tahu….kadang tidak mau tahu….bahkan terakhir kali hal aneh yang kulihat berdiri di belakang shaf jamaah wanita, beberapa gelintir bapak-bapak…. *gedubraaaak….Astaghfirullah….*
Ironisnya, sang imam yang berdiri di depan, sudah meminta “rapatkan shaf” sesekali ada yang benar-benar melihat barisan shaf dan mengaturnya demi sempurnanya shalat, tetapi… hanya untuk jamaah pria… bagaimana dengan yang wanita…? siapa yang berkewajiban mengatur…? padahal shaf paling berantakan seringkali shaf ibu-ibu (beserta putri-putrinya…) kebanyakan karena SAJADAH TERLALU LEBAAAARRR….. ~~”
Bagaimana komentar anda…?
Wallahu A’lam
Source: http://www.eramuslim.com/
Autisme, bisa dikendalikan dengan DIET
25 Jul 2011 Leave a Comment
in medizh
Autisme adalah gangguan neurologis pada anak, yaitu suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang:
- interaksi sosial,
- komunikasi (bahasa dan bicara),
- perilaku-emosi,
- pola bermain,
- gangguan sensorik dan motorik
- perkembangan terlambat atau tidak normal.
Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.
Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Pervasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:
- Autistic Disorder (Autism) Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
- Asperger’s Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
- Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
- Rett’s Syndrome Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
- Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.
Diagnosa Autisme Sesuai DSM IV
A. Interaksi Sosial (minimal 2):
- Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
- Kesulitan bermain dengan teman sebaya
- Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
- Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
- Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
- Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
- Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip
- Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):
- Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
- Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
- Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda
Gejala autisme dapat sangat ringan (mild), sedang (moderate) hingga parah (severe), sehingga masyarakat mungkin tidak menyadari seluruh keberadaannya. Parah atau ringannya gangguan autisme sering kemudian di-paralel-kan dengan keberfungsian. Dikatakan oleh para ahli bahwa anak-anak dengan autisme dengan tingkat intelegensi dan kognitif yang rendah, tidak berbicara (nonverbal), memiliki perilaku menyakiti diri sendiri, serta menunjukkan sangat terbatasnya minat dan rutinitas yang dilakukan maka mereka diklasifikasikan sebagai low functioning autism. Sementara mereka yang menunjukkan fungsi kognitif dan intelegensi yang tinggi, mampu menggunakan bahasa dan bicaranya secara efektif serta menunjukkan kemampuan mengikuti rutinitas yang umum diklasifikasikan sebagai high functioning autism. Dua dikotomi dari karakteristik gangguan sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada implikasi pendidikan maupun model-model treatment yang diberikan pada para penyandang autisme. Kiranya melalui media ini penulis menghimbau kepada para ahli dan paktisi di bidang autisme untuk semakin mengembangkan strategi-strategi dan teknik-teknik pengajaran yang tepat bagi mereka. Apalagi mengingat fakta dari hasil-hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa 80% anak dengan autisme memiliki intelegensi yang rendah dan tidak berbicara atau nonverbal. Namun sekali lagi, apapun diagnosa maupun label yang diberikan prioritasnya adalah segera diberikannya intervensi yang tepat dan sungguh-sungguh sesuai dengan kebutuhan mereka.
Referensi baku yang digunakan secara universal dalam mengenali jenis-jenis gangguan perkembangan pada anak adalah ICD (International Classification of Diseases) Revisi ke-10 tahun 1993 dan DSM (Diagnostic And Statistical Manual) Revisi IV tahun 1994 yang keduanya sama isinya. Secara khusus dalam kategori Gangguan Perkembangan Perpasiv (Pervasive Developmental Disorder/PDD): Autisme ditunjukkan bila ditemukan 6 atau lebih dari 12 gejala yang mengacu pada 3 bidang utama gangguan, yaitu: Interaksi Sosial – Komunikasi – Perilaku.
Penyebabnya macam-macam. Mulai dari faktor genetis hingga faktor pemicu lainnya, antara lain polutan, pencemaran udara oleh logam berat, asap pabrik, asap kendaraan bermotor, hingga bahan pengawet. Namun yang paling banyak adalah gangguan pencernaan (hasil pencernaan yang tidak sempurna dari gluten — terigu dan kasein — susu sapi). Jika mencerna gluten dan kasein mengalami kondisi morphine-like peptides sehingga timbul efek perlawanan, berputar-putar, dan aktivitas yang tak terkendali.
Terapi Bagi Individu dengan Autisme
Bila ada pertanyaan mengenai terapi apa yang efektif? Maka jawaban atas pertanyaan ini sangat kompleks, bahkan para orang tua dari anak-anak dengan autisme pun merasa bingung ketika dihadapkan dengan banyaknya treatment dan proses pendidikan yang ditawarkan bagi anak mereka. Beberapa jenis terapi bersifat tradisional dan telah teruji dari waktu ke waktu sementara terapi lainnya mungkin baru saja muncul. Tidak seperti gangguan perkembangan lainnya, tidak banyak petunjuk treatment yang telah dipublikasikan apalagi prosedur yang standar dalam menangani autisme. Bagaimanapun juga para ahli sependapat bahwa terapi harus dimulai sejak awal dan harus diarahkan pada hambatan maupun keterlambatan yang secara umum dimiliki oleh setiap anak autis, misalnya; komunikasi dan persoalan-persolan perilaku. Treatment yang komprehensif umumnya meliputi; Terapi Wicara (Speech Therapy), Okupasi Terapi (Occupational Therapy) dan Applied Behavior Analisis (ABA) untuk mengubah serta memodifikasi perilaku.
Berikut ini adalah suatu uraian sederhana dari berbagai literatur yang ada dan ringkasan penjelasan yang tidak menyeluruh dari beberapa treatment yang diakui saat ini. Menjadi keharusan bagi orang tua untuk mencari tahu dan mengenali treatment yang dipilihnya langsung kepada orang-orang yang profesional dibidangnya. Sebagian dari teknik ini adalah program menyeluruh, sedang yang lain dirancang menuju target tertentu yang menjadi hambatan atau kesulitan para penyandangnya.
- Educational Treatment, meliputi tetapi tidak terbatas pada: Applied Behavior Analysis (ABA) yang prinsip-prinsipnya digunakan dalam penelitian Lovaas sehingga sering disamakan dengan Discrete Trial Training atau Intervensi Perilaku Intensif.
- Pendekatan developmental yang dikaitkan dengan pendidikan yang dikenal sebagai Floortime.
- TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication – Handicapped Children).
- Biological Treatment, meliputi tetapi tidak terbatas pada: diet, pemberian vitamin dan pemberian obat-obatan untuk mengurangi perilaku-perilaku tertentu (agresivitas, hiperaktif, melukai diri sendiri, dsb.).
- Speech – Language Therapy (Terapi Wicara), meliputi tetapi tidak terbatas pada usaha penanganan gangguan asosiasi dan gangguan proses auditory/pendengaran.
- Komunikasi, peningkatan kemampuan komunikasi, seperti PECS (Picture Exchange Communication System), bahasa isyarat, strategi visual menggunakan gambar dalam berkomunikasi dan pendukung-pendukung komunikasi lainnya.
- Pelayanan Autisme Intensif, meliputi kerja team dari berbagai disiplin ilmu yang memberikan intervensi baik di rumah, sekolah maupun lngkungan sosial lainnya.
- Terapi yang bersifat Sensoris, meliputi tetapi tidak terbatas pada Occupational Therapy (OT), Sensory Integration Therapy (SI) dan Auditory Integration Training (AIT).
Dengan adanya berbagai jenis terapi yang dapat dipilih oleh orang tua, maka sangat penting bagi mereka untuk memilih salah satu jenis terapi yang dapat meningkatkan fungsionalitas anak dan mengurangi gangguan serta hambatan autisme. Sangat disayangkan masih minim data ilmiah yang mampu mendukung berbagai jenis terapi yang dapat dipilih orang tua di Indonesia saat ini. Fakta menyebutkan bahwa sangat sulit membuat suatu penelitian mengenai autisme. Sangat banyak variabel-variabel yang dimiliki anak, dari tingkat keparahan gangguannya hingga lingkungan sekitarnya dan belum lagi etika yang ada didalamnya untuk membuat suatu penelitian itu sungguh-sungguh terkontrol. Sangat tidak mungkin mengontrol semua variabel yang ada sehingga data yang dihasilkan dari penelitian-penelitian sebelumnya mungkin secara statistik tidak akurat.
Tidak ada satupun jenis terapi yang berhasil bagi semua anak. Terapi harus disesuaikan dengan kebutuhan anak, berdasarkan pada potensinya, kekurangannya dan tentu saja sesuai dengan minat anak sendiri. Terapi harus dilakukan secara multidisiplin ilmu, misalnya menggunakan; okupasi terapi, terapi wicara dan terapi perilaku sebagai basisnya. Tenaga ahli yang menangani anak harus mampu mengarahkan pilihan-pilihan anda terhadap berbagai jenis terapi yang ada saat ini. Tidak ada jaminan apakah terapi yang dipilih oleh orang tua maupun keluarga sungguh-sungguh akan berjalan efektif. Namun demikian, tentukan salah satu jenis terapi dan laksanakan secara konsisten, bila tidak terlihat perubahan atau kemajuan yang nyata selama 3 bulan dapat melakukan perubahan terapi. Bimbingan dan arahan yang diberikan harus dilaksanakan oleh orang tua secara konsisten. Bila terlihat kemajuan yang signifikan selama 3 bulan maka bentuk intervensi lainnya dapat ditambahkan. Tetap bersikap obyektif dan tanyakan kepada para ahli bila terjadi perubahan-perubahan perilaku lainnya.
Terapi yang diberikan juga bisa dengan pengelolaan diet yaitu kurangi konsumsi 2 bahan pencetus (gluten dan kasein), tappering (kurangi secara perlahan) selama 3 bulan baru benar-benar stop, memakai masker saat berkendara juga dapat mencegah mengingat polusi kendaraan bermotor juga sering menyebabkan autisme di samping terapi yang telah disebutkan di atas.
Obat-obatan yang diberikan antara lain: obat untuk meningkatkan metabolisme glukosa dan aliran darah sedangkan obat penenang bisa diberikan untuk meredam “gejolak”.
******
Notes:
Referensi untuk terapi diet bisa dibaca pada pengalaman pribadi Karyn Seriousi dalam menangani putranya yang terkena autis pada buku Untukmu Segalanya.
Safaqah islamiyah: Makna sabar
10 May 2011 Leave a Comment
in religi
Sabar merupakan istilah dari bahasa Arab dan sudah menjadi istilah bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “sabara”. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah.
Ulama membagi kesabaran menjadi tiga;
- Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah membutuhkan kesabaran karena secara tabiatnya jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat 3 hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah. Kedua, karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infak. Ketiga, karena keduanya (malas dan kikir) seperti haji dan jihad
- Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan seperti gibah (ngerumpi), dusta dan memandang sesuatu yang haram
- Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi maupun nonmateri, misalnya kehilangan harta dan kehilangan orang yang dicintai.
Kiat-kiat untuk meningkatkan kesabaran
- Mengikhlaskan niat kepada Allah SWT
- Memperbanyak tilawah (membaca Al-Quran) baik pada pagi, siang, sore, maupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan penadaburan
- Memperbanyak puasa sunnah. Puasa merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran
- Mujahadatun nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan yang berusaha secara giat mengalahkan nafsu yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, dan kikir
- Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna
- Perlu mengadakan latihan-latihan sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah daripada melihat acara televisi, misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rejeki untuk infak fi sabilillah.
- Membaca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi’in, maupun tokoh-tokoh Islam lainnya.
Safaqah Islamiyah: Makna Basmalah
10 May 2011 Leave a Comment
in religi
Seorang ulama terkemuka berkata, “Kalimat bismillahirrahmanirrahim adalah sumpah dari Allah yang Dia turunkan pada pembukaan setiap surah. Dia bersumpah kepada hamba-hambaNya seraya berfirman, “Wahai hamba-hambaKu! Sesungguhnya apa-apa yang Aku letakkan di dalam surat ini adalah benar dan Aku akan memenuhi untuk kalian apa-apa yang Aku jamin di dalam surat ini, termasuk janji baik-Ku, kelembutan-Ku, dan kebaikan-Ku.”
Ada juga ulama yang mengatakan bahwa makna basmalah adalah meminta pertolongan, yakni, “Aku meminta pertolongan atas bacaanku dan semisalnya dengan Bismillahirrahmanirrahiim.” Sebagian yang lain mengatakan bahwa ia diucapkan untuk meminta berkah saat seseorang mulai melakukan sesuatu, yakni, “Saya memulai pekerjaan ini dengan harapan mudah-mudahan aku mendapatkan berkah dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahiim…”
Bismillahirrahmanirrahiim… semoga Allah berkenan memenuhi hajat kami…amiin yaa Rabb….



